Share

Gairah Liar Tante Silvi
Gairah Liar Tante Silvi
Author: Queen Mylea

Tutor Hot

Author: Queen Mylea
last update Last Updated: 2025-10-02 19:40:55

Ketukan sepatu hak tinggi terdengar menggema di lantai marmer rumah mewah keluarga Wijaya. 

Seorang wanita dengan dress ketat berwarna merah marun melangkah anggun melewati para pelayan yang spontan menunduk sopan.

Dialah Silvi Kimberly, guru les baru yang direkrut oleh kepala keluarga Wijaya. Setidaknya, itulah identitas yang ia tunjukkan pada keluarga kaya raya ini.

Di balik kacamata hitamnya, Silvi menahan senyum sinis. 'Akhirnya, aku masuk juga ke rumah ini.'

Pelayan membawanya menuju ruang belajar yang sudah disiapkan. Dari balik pintu kayu yang sedikit terbuka, Silvi melihat seorang pemuda duduk dengan kaki terangkat di atas meja. Seragam putih-abu itu tidak rapi, kancing kemeja terbuka dua, memperlihatkan dada bidangnya. Sebatang rokok elektrik terselip di tangannya.

“Oh, jadi ini bocah tengil yang diceritakan Robert,” bisik Silvi lirih, sebelum mengetuk pintu. “Baiklah... mari kita mulai!”

Tok, tok, tok!

“Siapa? Jangan ganggu, gue lagi mabar!" Suara pemuda itu terdengar cuek. Matanya tak lepas dari ponselnya.

Silvi membuka pintu dan melangkah masuk. Aroma parfum mahalnya langsung memenuhi ruangan. Leon—pemuda itu—mendongak, lalu matanya membesar. Bibirnya bahkan sedikit terbuka ketika melihat sosok wanita dewasa dengan tubuh semampai dan lekuk yang menantang berdiri di ambang pintu.

“Lo siapa? Ani-ani baru bokap gue, ya? Lo salah ruangan! Bokap gue ada di lantai tiga!” ucapnya dengan nada remeh, namun matanya terus tertuju pada belahan dada wanita cantik yang kini berdiri di hadapannya itu.

Ukuran yang menantang, kulit putih mulus dan leher yang jenjang, siapa yang tidak akan tergoda? Bahkan Leon yang tadinya sibuk dengan game online-nya itu, kini tak mampu mengalihkan pandangannya pada tubuh aduhai seperti gitar Spanyol itu.

Silvi menurunkan kacamata hitamnya, menatap Leon dengan sorot tajam yang bercampur senyum genit. “Kamu Leon, kan? Aku di sini buat kamu.”

Leon mengangkat sebelah alis. “Hah? Maksud lo apaan?”

Wanita itu melangkah makin mendekat, hak tingginya berderap mantap. Ia berhenti tepat di hadapan Leon, lalu menepuk meja dengan ujung jarinya. 

“Perkenalkan. Silvi Kimberly. Guru les barumu.”

“Hahaha!” Leon tertawa terbahak. Ia menepuk meja keras, seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. “Guru les? Serius, nih? Astaga, ini yang paling gokil! Papi sudah gak waras apa? Yang genius aja gak bertahan lama, apalagi spek ani-ani kayak lo.”

Tatapannya nakal, menelusuri tubuh Silvi dari atas hingga bawah. Pemuda itu benar-benar tidak punya sopan santun. 

“Penampilan lo kayak model majalah dewasa. Mana mungkin bisa ngajarin gue. Dari pada jadi guru privat, mending layanin gue aja. Sama-sama dibayar, 'kan?” tanyanya sambil menjilat bibirnya sendiri, gayanya benar-benar songong dan kurang ajar.

Alih-alih tersinggung, Silvi justru tersenyum misterius. Ia mendekat, menunduk, hingga wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Leon. Helaan napasnya yang hangat terasa di kulit pemuda itu. 

“Sayangnya, Tuan Roberto membayarku mahal. Aku bisa menjadi guru, motivator… atau bahkan mimpi burukmu, Tuan Muda. Aku juga bisa melayanimu. Tergantung situasi,” ucapnya sambil menyeringai.

Leon menelan ludah, namun berusaha tetap tenang. Ia menyandarkan tubuh di kursi dengan gaya sok santai. “Oke, kalau lo memang guru, buktikan. Coba bikin gue tertarik belajar.”

Silvi melangkah ke papan tulis putih di dinding, tapi bukannya menuliskan rumus, ia justru mengambil spidol merah dan menuliskan kata besar: ‘Gift’.

"Gift? Apa maksudnya?" Leon mengernyit.

Wanita cantik dan seksi itu menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. "Sebuah hadiah yang akan kau terima jika lulus tahun ini."

Leon nampak tidak tertarik. "Hadiah? Kau pikir aku ini anak kecil? Ya Tuhan, papi benar-benar nggak waras. Usahanya bakal sia-sia."

Silvi tersenyum tipis sambil melangkah lagi ke arahnya. Kali ini ia duduk di tepi meja, hanya sejengkal dari Leon. Wanita itu menyilangkan kaki, rok mininya tersingkap sedikit, cukup untuk membuat Leon menoleh cepat dan mengalihkan pandangan.

Leon melotot. Jakunnya naik turun. Ia laki-laki normal. Bahkan di usianya yang belum matang, ia sering melakukan hubungan yang tidak seharusnya dengan para cegil di sekolahnya. 

Memiliki wajah tampan, membuatnya menjadi seorang playboy. Wanita manapun bisa dia dapatkan dengan mudah. Tapi kali ini, pesona guru les barunya itu benar-benar membuatnya tegang.

Silvi tersenyum miring, seolah bisa membaca pikiran kotor pemuda di hadapannya itu. “Aku akan memberikan hadiah yang tidak pernah kau duga, Leon. Umurmu bahkan hampir menginjak 20 saat ini. Kau seharusnya sudah duduk di bangku kuliah. Aku akan memastikan kau lulus tahun ini. Dan jika kau berhasil, aku akan memberikan sesuatu yang paling berharga dalam diriku. Bagaimana?"

Glek!

Leon terbelalak. Matanya terus menatap ke arah belahan dada yang begitu menantang dari dress ketat yang dipakai Silvi.

“Gue gak bisa percaya sama cewek kayak lo. Gue yakin, jika pun nanti lulus, lo bakal ingkar. Ck, kalau cuman mau nikmatin tubuh seperti punya lo, gue bisa dapetin dengan mudah. So, gue gak tertarik," ucap Leon seraya membuang pandangannya, menyembunyikan rasa gugup yang membuat si Junior di bawah sana juga tegang.

Silvi mendekat sedikit lagi, kali ini berbisik di telinganya. Bisikan yang membuat Leon makin tak bisa menahan diri. 

“Aku berbeda dari wanita lain, Leon. Kau bakal ketagihan. Tak sulit untuk mendapatkan aku, cukup belajar dan berikan hasil terbaikmu. Aku tidak akan ingkar.”

Bulu kuduk Leon meremang. Ada aura dominan dalam suara Silvi yang tak pernah ia rasakan dari wanita manapun sebelumnya. Silvi benar-benar dewasa dan menantang.

Leon mendengus, mencoba menutupi kegugupannya. “Oke, gue terima tantangan lo, Tante. Tapi gara-gara lo terus menggoda, gue jadi gak tahan. Gue mau sekarang ju—"

Sssttt!

Silvi menghentikan kata-kata pemuda itu dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir merah muda Leon. 

"Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu, Leon. Aku bisa saja memberikan apa yang kamu mau sekarang, tapi dengan satu syarat," ucap Silvi yang membuat Leon penasaran sekaligus bersemangat.

Dengan senyum lebar, Leon bertanya dengan nada angkuh, "Syarat apa? Mau duit tambahan dari gue, mobil atau apa? Katakan saja!" Remaja tengil itu kembali menunjukkan keangkuhannya. Mentang-mentang ia lahir dari keluarga konglomerat, dia pikir bisa mendapatkan apapun dengan uang.

Silvi menggelengkan kepalanya, ia berjalan menuju tas miliknya kemudian mengeluarkan beberapa kertas berisi materi pembelajaran serta LJK dan bolpoin.

"Biasanya aku tak melakukan ini di sesi pertama pembelajaran. Apalagi kita baru berkenalan. Tapi khusus buatmu, aku akan lakukan sebagai hadiah jika kau berhasil. Jadi hari ini, aku akan berikan materi awal, setelah itu kau isi 10 pertanyaan yang nanti aku berikan. Dan jika jawabannya benar, kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan," ucap Silvi yang membuat Leon mulai tertarik.

"Termasuk tidur denganmu?" Leon memastikan.

Silvi tersenyum menggoda. Anggap saja ini sebuah tantangan dan cara supaya membuat remaja nakal itu semangat untuk belajar. Meskipun caranya tidak mendidik, tapi ia yakin ini adalah cara ampuh. Terlebih dia yakin, Leon tidak akan mampu menjawab soal-soal itu.

"Tentu. Jika kau bisa mendapatkan nilai 100 dari 10 soal yang aku berikan, maka malam ini juga aku akan melayanimu."

Leon tersenyum lebar. Baru kali ini ada guru modelan seperti ini. Tutor hot ini tentu membuatnya sangat bersemangat.

"Setuju! Aku setuju untuk melakukan sesi belajar pertama denganmu. Ayo, cepat dimulai!" seru Leon tidak sabar. Ia terlihat sangat antusias. Pria itu begitu percaya diri. Hal tersebut membuat Silvi menahan tawa sambil geleng-geleng kepala.

"Dasar. Kau benar-benar anak nakal," ucapnya kemudian bergegas untuk mempersiapkan pembelajaran.

Leon sangat yakin, ia bisa menjawab semua pertanyaan itu. Jadi tidak perlu menunggu lama untuk bisa menikmati tubuh guru cantik dan seksi barunya ini.

"Papi benar-benar terbaik. Seperti memberi makanan lezat buat gue malam ini. Kalau cara belajarnya gini sih, gue bakal semangat," batin Leon, penuh percaya diri.

Silvi melirik sekilas Leon yang masih menatapnya sambil tersenyum genit. Ia tahu apa yang ada dalam pikiran bocah tengil itu. Namun bukannya takut, ia malah semakin tertantang. Perlu cara ekstrim dan nyeleneh untuk menghadapi murid tengil seperti Leon ini.

Di saat Leon sudah mulai mengerjakan soal-soal yang dia berikan, Silvi dengan gerakan lembut membuka tas miliknya. Mengeluarkan sebuah foto yang selalu ia bawa ke mana-mana. 

Wanita itu tersenyum menatap foto tersebut, dalam hatinya membatin, "Akhirnya aku ada di sini. Aku akan pastikan, semua berjalan sesuai rencana!"

***

Bersambung …

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Liar Tante Silvi   80. TAMAT

    Keesokan hari.Roberto sedang duduk membaca koran pagi, sementara Emily, wanita bar-bar yang kini lebih lembut, keibuan dan sebentar lagi akan menjadi istrinya itu sedang menata bunga. Cheryl, adik tiri Leon yang ceria, bermain boneka Barbie di ruang keluarga.Suasana rumah hangat, damai… kontras dengan dulu, ketika Leon selalu menjaga jarak dan tidak mau terlibat dengan siapa pun di keluarganya, termasuk pada ayahnya sendiri.Hari ini berbeda.Hari ini, Leon mengetuk pintu dan masuk sambil menggandeng Silvi. Wajahnya tidak sedingin dulu. Ia tampak… bahagia. Yah, meskipun senyum itu terkesan dipaksakan ketika melihat kebersamaan Roberto dengan calon ibu sambungnya itu.Roberto tersenyum. “Leon. Silvi. Akhirnya kalian datang."Leon menarik napas panjang. Silvi menggenggam tangannya, memberikan isyarat agar Leon bersikap ramah. "Ya, kan kau yang suruh. Jika tidak, mungkin kita masih liburan bulan madu."Silvi menyenggol lengannya. "Leon...""Ya, ya, Sorry. Heum, baiklah... Pah, dan kau

  • Gairah Liar Tante Silvi   79. Kabar Gembira

    Pagi hari berjalan kacau balau tapi juga romantis setelah insiden mie instan es krim vanilla yang membuat Leon hampir menyerah pada dunia kuliner.Setelah mandi, Leon kembali ke kamar, rambutnya masih basah, wajahnya segar… tapi matanya sedikit trauma ketika melihat piring bekas mie instan di meja.Silvi menatapnya sambil tersenyum bersalah.“Kamu masih mual?”Leon menjauh satu langkah dari piring itu. “Kita… jangan bahas mie itu lagi.”Silvi tergelak kecil. “Maaf, calon papa.”Leon memutar mata. “Aku lebih takut ngidam berikutnya daripada menghadapi rapat direksi.”Silvi menepuk lengannya. “Nanti aku belajar menahan diri.”Leon menatapnya penuh curiga. “Jangan janji palsu, Sayang.”Silvi mencibir, lalu meraih tangannya. Ia ingin bermanja-manja dengan suaminya, namun Leon tiba-tiba menariknya pelan dan membawanya berdiri.“Ayo jalan-jalan sebentar. Udara pagi bagus buat ibu hamil."Silvi mengangguk. Sementara Leon langsung bergerak seperti bodyguard pribadi. Ia mengambilkan sandal Sil

  • Gairah Liar Tante Silvi   78. Ngidam

    “Leon… turunin aku,” gumamnya, pipinya merah padam.Leon mengerutkan kening. “Kenapa? Kamu pusing? Mau muntah? Mau—”“Enggak! Aku… takut jatuh,” protesnya lirih. Leon langsung menghentikan putaran seakan mendapat teguran dari dokter kandungan. “Oke. Maaf! Langsung mode hati-hati.”Ia meletakkan Silvi perlahan di tepian bathtub, seperti menurunkan barang pecah belah paling mahal di seluruh dunia. Bahkan, cara Leon melepaskan tangannya pun pelan sekali, seakan Silvi bisa meledak kalau disentuh terlalu keras.Silvi menatapnya, geli sekaligus terharu."Sayang… aku itu manusia, bukan telur burung unta.”Leon mendesah panjang, meraih wajah Silvi dengan kedua tangannya. “Kamu itu istriku. Dan kemungkinan besar… ibu dari anakku. Kau pikir aku bisa santai setelah lihat dua garis itu?”Silvi tersenyum kecil. “Leon, baru lima menit yang lalu kamu hampir—”“—melakukan keganasan di malam pengantin kita, heum?” Leon mengangkat alis. “Sekarang aku akan hati-hati. Aku gak akan ganas-ganas, janji de

  • Gairah Liar Tante Silvi   74. Calon Pewaris

    Leon baru saja menutup pintu suite itu dengan kakinya ketika ia meletakkan Silvi di atas kasur king size yang penuh dengan kelopak mawar putih. Lampu-lampu temaram membuat mata Leon terlihat semakin dalam, gelap, dan penuh cinta. Silvi sendiri tampak bersemu merah, napasnya tidak beraturan setelah ciuman panjang barusan.“Leon…” bisik Silvi, suaranya lirih, manja, dan… sedikit bergetar. Leon membungkuk, menangkup wajahnya, “Jangan gugup. Kita lakukan pelan-pelan.” Silvi menahan tawa. Ini benar-benar lucu. padahal mereka sering melakukan dengan ganas, tapi malam ini seolah menjadi malam pertama untuk mereka. Tak ingin merusak suasana yang romantis itu, Silvi mengikuti permainan Leon. Jemarinya bergerak pelan ke dada Leon, lalu ia menarik napas dalam—sangat dalam—dan—“Leon… aku…”Dia tiba-tiba menegakkan tubuh. Matanya melebar. Rasa aneh itu tiba-tiba muncul. Merusak suasana penuh gairah yang sejak tadi menggebu-gebu.Leon mendekat, khawatir. “Kenapa? Sakit? Kamu takut?”Silvi mengg

  • Gairah Liar Tante Silvi   76. Malam Milik Kita

    Langit Bali sore itu seperti lukisan hidup. Sapuan jingga, merah muda, dan ungu bertumpuk lembut di cakrawala. Matahari perlahan turun menuju garis laut, memantulkan cahaya keemasan yang berkilau di permukaan air, sementara ombak kecil berkejaran ke bibir pantai, menciptakan irama alam yang menenangkan.Di sisi pantai pribadi milik Wijaya Group yang dikenal sebagai salah satu lokasi paling eksklusif di Bali, resepsi pernikahan Leon dan Silvi digelar.Tidak megah berlebihan. Tidak penuh glamor mencolok. Namun justru karena kesederhanaan elegan itulah, suasana resepsi ini terasa begitu hangat… intim… dan luar biasa berkesan.Deretan kursi putih dengan kain tule tipis tertata rapi menghadap laut. Meja-meja bundar dihiasi rangkaian bunga lily dan mawar putih berpadu dengan greenery eucalyptus, memberikan aroma segar yang menenangkan. Lampu-lampu bohemian berbentuk bola rotan menggantung rendah, siap menyala ketika senja benar-benar tenggelam.Dress code para tamu: putih.Gaun santai namun

  • Gairah Liar Tante Silvi   75. Janji Suci

    Di tengah kekacauan itu, Leon justru bergerak. Wajahnya nampak tenang, meskipun geram karena kedatangan Anya yang menggangu pernikahannya ini.Ia memeluk Silvi, mencoba menyenangkannya. Matanya menatap ke arah Anya yang berdiri di pintu utama gereja.Kemudian tatapannya beralih pada seluruh hadirin yang hadir. Ia begitu Tegas dan penuh enuh wibawa.Leon melepaskan pelukan dari Silvi hanya untuk berdiri lebih maju, tubuhnya melindungi Silvi di belakangnya. Matanya menatap lurus ke arah Anya dan barisan paparazi, sorot hitam tajam yang membuat banyak orang otomatis terdiam.Dengan suara yang rendah namun menggema ke seluruh sudut gereja, Leon berkata, “Cukup.” Para tamu membeku, paparazi ragu mengambil langkah, bahkan Anya tersentak sejenak.Leon melangkah lagi, naik satu tapak ke altar, lalu menatap seluruh ruangan. “Aku tidak peduli siapa yang mencoba menghentikan pernikahan ini,” ucap Leon. Suaranya tak bergetar, penuh keyakinan dan kekuatan. “Aku tidak peduli rumor. Tidak peduli m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status