LOGINSelesai makan malam, Luna mengganti lampu kamar dengan lampu tidur yang lebih gelap. Azzura akhirnya tertidur setelah cukup lama bermain lagi di atas tempat tidur. Napas kecilnya terdengar teratur, dan wajah mungilnya tampak damai. Luna mengelus kepala putrinya sebelum berdiri. Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.Tubuhnya terasa lelah. Hari ini cukup panjang, jadi ia berniat mandi sebentar untuk merilekskan diri.Namun, baru saja ia tiba di dalam kamar mereka, dua tangan tiba-tiba melingkar dari belakang melingkupi pinggangnya.Luna tersentak dan tubuhnya sempat menegang. “Rion?!” ucapnya kaget.Napas hangat menyentuh lehernya. “Hemm.”Suara rendah itu langsung membuat tubuh Luna melemas. “Kamu ini,” gumamnya, tangannya menyentuh lengan Rion yang masih memeluknya erat.Rion semakin mendekat. Wajahnya bersandar di bahu istrinya. Ia benar-benar lelah.“Kapan pulang?” tanya Luna. “Dari tadi.”Luna tersenyum kecil. “Kenapa tidak bila
Beberapa bulan kemudian…Suasana terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Rion membawa Luna dan anaknya untuk tinggal kembali di mansion karena Serena terus memohon, dan Rion tidak tega melihat ibunya. Tawa kecil bercampur teriakan riang memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang ada di sana sulit untuk tidak ikut tersenyum.Di tengah ruang keluarga, seorang bocah kecil dengan langkah belum sempurna berlari ke sana kemari.“Azzura, pelan-pelan!” seru Leo yang sudah mulai kewalahan.Namun bocah perempuan itu sama sekali tidak berhenti.nKakinya yang mungil terus melangkah cepat, sesekali hampir tersandung karpet, lalu.. Bruk!Ia terjatuh.Semua orang refleks menoleh.Luna yang duduk di sofa langsung menegakkan tubuhnya, tapi belum sempat berdiri, Serena sudah lebih dulu menahan tangannya.“Biarkan saja,” ujar Serena lembut. “Tidak apa-apa.”Luna menggigit bibirnya menahan diri.Sementara itu, Azzura hanya diam satu detik lalu tertawa. Ia bangkit lagi, lalu kembali berlari.“Lihat kan?” gu
Ruangan VIP yang ditempati Luna mulai di penuhi aroma makanan yang baru datang. Luna tengah bersandar lemah di ranjang dengan wajah pucat, tapi jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.Serena duduk di samping ranjang, memegang mangkuk sup. Dengan penuh perhatian, ia meniupnya sebelum menyuapkan ke arah Luna. “Pelan-pelan, saja,” ucapnya. Luna sempat ragu, matanya melirik ke arah Rion sekilas, seolah meminta izin. Rion yang berdiri tak jauh dari sana hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. Bukannya apa, ia masih bingung harus bagaimana setelah status barunya di akui ibu mertuanya. “Buka mulutmu,” kata Serena.Luna akhirnya mengikuti, menerima suapan itu. “Terima kasih… Bu,” ucapnya malu-malu.“Kamu tidak perlu sungkan. Mulai sekarang, kamu bagian dari keluarga ini,” ujar Serena. Ucapan itu membuat dada Luna terasa hangat. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, hampir membuatnya ingin menangis.Di sisi lain ruangan, Rion berdiri
Rion berdiri di dekat jendela ruangan VIP, menatap sejenak ke luar sebelum kembali mengalihkan perhatiannya ke arah ranjang.Luna masih terbaring lemah, matanya terpejam, dan napasnya perlahan mulai teratur setelah proses panjang yang menguras tenaga.Ia duduk di kursi di samping ranjang, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.Tangannya terulur, menyentuh punggung tangan Luna.“Masih sakit?” tanyanya. Luna membuka matanya sedikit.Lelah masih jelas terlihat, tapi ada senyum kecil di sana. “Lumayan…” jawabnya lirih.Rion langsung mengernyit. “Di mana?” tanyanya lagi cepat. “Perut? Pinggang? Aku panggil dokter sekarang.”Tangannya sudah hampir menjauh, namun jari Luna menahannya. “Rion,” bisiknya.Rion langsung diam.“Aku tidak apa-apa. Ini normal,” lanjut Luna. Rion tetap tidak terlihat sepenuhnya tenang.“Kalau sakit, katakan.”“Iya.”“Kalau butuh apa-apa, katakan.”“Iya…”“Air? Mau minum?”Luna tersenyum tipis. “Kamu dari tadi bertanya terus.”Rion terdiam sejenak. Lalu menunduk
Leo mengacak rambutnya frustasi. “Sebentar, Kak! Aku cari bantuan.” Ia hampir membuka pintu. TOK! TOK! TOK!Suara ketukan keras dan terburu-buru menghantam kaca mobil bagian belakang.Leo langsung menoleh kaget. “Buka pintunya!” teriak Rion dari luar.Leo membeku sesaat. “Kak Rion?!”“CEPAT, LEO!” bentaknya, kali ini lebih keras.Tanpa berpikir panjang, Leo langsung membuka kunci pintu dari dalam.Rion masuk setengah tubuh, dan tangannya segera meraih Luna. Perasaannya terus tidak enak saat mengurus pengiriman, ketika melihat panggilan tidak terjawab berkali-kali dari Leo, ia tidak menunggu lagi dan segera datang setelah menghubungi karyawan lain. “Luna.” suaranya berubah panik. Luna membuka matanya yang sudah basah oleh air mata. “Rion.” Begitu melihat suaminya,air matanya langsung jatuh semakin deras.“Aku di sini,” ucap Rion cepat, tangannya memegang wajah Luna dengan hati-hati. “Aku di sini.”“Sa-sakit…” Luna menggigit bibir, menahan jeritan.Rion segera menilai situasi, dan
“Masalahnya tidak bisa diselesaikan dari sini,” lanjut Theodor, suaranya lebih rendah. “Kita harus datang langsung. Kalau terlambat, bisa berantakan semuanya.”Rion terdiam sejenak. Pikirannya langsung terbagi dua. Pekerjaan dan Luna. Ia menoleh ke arah meja tadi dan tidak menemukan sang istri. “Luna ke mana?” tanyanya pada sang adik yang berada di sana. “Aku lihat tadi ke toilet,” jawab Leo dari balik tumpukan paket.Rion ingin menunggu dan memastikan sendiri kondisi istrinya. Namun situasi di luar tidak bisa ditunda. “Kita harus ke sana sekarang,” ucapnya pada Theodor.Theodor hanya mengangguk. “Mobil sudah siap.”Sebelum benar-benar pergi, Rion berjalan cepat mendekati adiknya. “Leo.”“Iya, Kak?”Rion menatapnya serius. “Kamu perhatikan Luna dengan baik.”Leo langsung berdiri tegak. “Siap.”“Pastikan dia tidak jalan sendiri terlalu jauh. Kalau terjadi sesuatu, panggil aku.”Leo mengangguk cepat. “Iya, Kak. Tenang saja.”Rion masih diam, seolah belum benar-benar tenang. “Jangan
Serena berdiri di sana dengan raut kemarahan."Serena? Apa kamu lakukan di sini?" tanya Evelyn dengan sedikit terkejut, tidak menyangka wanita itu akan datang tepat pada saat ini.Serena melangkah ke tengah ruangan, langsung menghampiri Alessia yang masih berdiri kaku dengan menundukkan kepala. Ia
Di ruang tamu yang dihiasi dengan dekorasi klasik ala Inggris, sofa besar berlapis kain merah tua, meja bundar bertutup alas putih, dan bunga-bunga segar di setiap sudut.Evelyn sudah duduk bersama beberapa teman sosialita sebayanya yang juga berasal dari kalangan konglomerat. Mereka sedang berbinc
Serena duduk di kursi penumpang dengan wajah menghadap jendela, lampu-lampu kota memantul di matanya yang kosong. Sejak meninggalkan mansion, ia tak sekalipun menoleh pada Steave. Bibirnya terkatup rapat, seolah setiap kata sudah habis ia keluarkan sore tadi. Steave beberapa kali meliriknya dari b
Steave mengendurkan tali dasi dengan cepat saat mobil melaju kencang menuju mansion.Ia sudah menghubungi tim keamanan untuk memperketat pengawasan di semua pintu masuk dan area sekitar mansion. "Pastikan tidak ada satu pun orang yang tidak dikenal masuk ke dalam area, dan pantau setiap kendaraan







