LOGINSekembalinya dari arah toilet, langkah Serena terasa jauh lebih goyah. Kakinya seperti tidak sepenuhnya menapak lantai dan epalanya kembali berdenyut karena pikirannya dipenuhi pertanyaan yang berputar tanpa henti. Apa benar yang dikatakan Clarine? Bukankah Steave bilang semuanya sudah selesai? Bukankah wanita itu sudah diurus, dijauhkan dari mereka? Lalu kenapa Clarine muncul lagi? Atau… Dada Serena semakin sesak. Atau semua itu hanya alasan Steave? Alasan untuk menyembunyikan Clarine. Untuk memindahkannya dari mansion agar mereka bisa tetap berhubungan… diam-diam, di belakangnya. Pikiran itu menusuk jauh lebih tajam daripada gosip mana pun. Kepalanya semakin sakit, seolah ada tekanan kuat dari dalam. Suara musik di aula terdengar mendengung, wajah-wajah tamu menjadi kabur. Dan ruangan itu terus berputar tanpa henti. Serena mencoba mencari Steave di antara kerumunan. Namun langkahnya tidak kuat lahi, pandangannya jadi menghitam. ‘Tidak… aku tidak apa-apa…’ Ia mengulurk
Sepanjang acara berlangsung, tangan Steave tidak sekali pun melepaskan genggaman Serena. Seolah ia ingin memastikan istrinya benar-benar ada di sisinya.Setiap kali Serena melangkah, Steave menyesuaikan ritmenya. Saat Serena tampak melamun, jemari pria itu mengencang sedikit, memberi isyarat tanpa kata.Aula utama perusahaan Whitmore malam itu dipenuhi para tamu dari kalangan elite bisnis, mitra internasional, hingga petinggi keluarga besar Whitmore berbaur dalam percakapan forml sekedar basa-basi. Bagi Serena, acara ini tidak lagi menyenangkan. “Minumlah sedikit,” bisik Steave sambil menyodorkan gelas. “Kamu tampak pucat, Sayang.”Serena mengangguk dan menerima gelas itu. Ia menyesap perlahan, berusaha menenangkan dirinya. Tak lama kemudian, seorang pria mendekat. “Paman Steave,” sapa Ethan. “Acara ini sangat mengesankan.” Steave menoleh. “Ternyata kau menyempatkan diri untuk datang.”“Tentu saja. Aku harus tahu seluk beluk perushaan utama kan?” goda Ethan dengan maksud tertent.
Suara itu seperti cambuk.Dalam sekejap, Serena dan Adrian membeku. Keduanya menoleh bersamaan.Steave berdiri beberapa meter dari mereka, terlihat rahangnya mengeras. Memancarkan aura gelap yang siap. Menghabisi siapa pun. Matanya tajam pada tangan Adrian yang masih menggenggam pergelangan Serena.Waktu seolah berhenti.“Steave…” bisik Serena. Ia langsung menarik tangannya dengan panik. Begitu Adrian melepaskan, Serena berdiri dan melangkah cepat menjauh, tepat ke arah suaminya. Namun Steave sudah lebih dulu bergerak.Dalam dua langkah panjang, Steave sampai di hadapan Serena dan menariknya ke belakang tubuhnya, satu tangannya mencengkeram pergelangan Serena dengan kuat dan posesif. Sementara tubuhnya menjadi penghalang penuh antara Serena dan Adrian.“Jangan sentuh istriku,” ucap Steave dingin, setiap katanya ditekan kuat.Adrian mengepalkan tangan. “Anda salah paham.”“Diam,” potong Steave tanpa menoleh. Tatapannya menusuk lurus ke arah Adrian. “Aku melihatnya dengan jelas.”Seren
Serena berdiri di depan cermin besar di kamarnya, merapikan ujung gaun yang melekat anggun di tubuhnya. Ia memastikan riasan dan rambutnya sudah rapi. Malam ini ia harus tampak baik-baik saja.Tiba-tiba, ada sensasi hangat yang melingkar di kakinya. Serena terkejut kecil dan refleks menunduk.“Rion?” gumamnya.Anak itu memeluk kakinya erat-erat, pipinya menempel pada betis Serena seolah takut ditinggal. Mata bulatnya menatap ke atas, bening dan polos, lalu bibir mungilnya membentuk senyum kecil.“Ibu cantik,” ucap Rion dengan suara cadel yang langsung meluluhkan hati.Serena tersenyum, berjongkok perlahan meski gaunnya sedikit membatasi gerak. Ia mengusap rambut halus putranya. “Kamu belum tidur?”Rion menggeleng. “Sama Ibu.”Serena memeluk Rion, mencium keningnya cukup lama. Untuk sesaat, semua kegaduhan di kepalanya mereda. “Kamu tidur dengan suster dulu, ya?” Rion tampak berpikir, lalu mengangguk kecil meski tangannya masih mencengkeram gaun Serena. “Ibu mau pergi?”“Iya,” jawab S
Malam semakin larut ketika Serena akhirnya berbaring di atas ranjang. Lampu kamar sudah dipadamkan, hanya cahaya temaram dari lampu meja yang ia biarkan menyala redup. Ia memejamkan mata, memaksa pikirannya untuk berhenti dari segala yang terjadi meski otaknya tak pernah benar-benar tenang.Beberapa menit berlalu atau mungkin lebih lama sampai suara langkah terdengar dari balik pintu. Pintu kamar terbuka.Serena menahan napasnya sejenak. Ia segera memiringkan tubuh, membelakangi sisi ranjang yang kosong, lalu berpura-pura terlelap. Bulu matanya bergetar sesaat sebelum akhirnya ia memaksakan diri untuk diam.Steave masuk tanpa menyalakan lampu utama. Ia meletakkan jasnya di kursi, melepas jam tangan, lalu berdiri beberapa detik memandangi punggung Serena. Tatapannya menyelidik seolah memastikan wanita itu benar-benar tidur.Kasur sedikit mengempis saat Steave naik ke ranjang. Serena bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu mendekat. Gerakannya sangat hati-hati, seperti takut membangu
Beberapa hari kemudian. Berita tentang Serena semakin menjadi.Bukan lagi satu dua akun, ratusan, bahkan ribuan. Komentar-komentar jahat berhamburan, menuduh, menghakimi, memelintir masa lalunya tanpa ampun.Hanya untuk sekadar menarik napas pun terasa berat.Serena menatap layar ponsel dengan mata lelah, jari-jarinya gemetar saat menggulir deretan kata kejam itu. Dadanya terasa sesak.Cukup.Dengan gerakan frustasi, ia melempar ponselnya ke sembarang arah. Benda itu membentur karpet tebal dan terdiam. Serena lalu menjatuhkan dirinya duduk di sisi kasur, kedua tangannya menutup wajah.Ia harus berpikir dan berusaha tenang.Masalah ini tidak akan selesai hanya dengan menangis.Di antara kekacauan pikirannya, satu nama tiba-tiba muncul.Vivian.Alis Serena berkerut.Bagaimana jika wanita itu belum benar-benar menyerah? Bagaimana jika semua ini memang ulahnya?Lagi pula, Vivian hanya dikabarkan berpisah dengan Steave, bukan menghilang sepenuhnya. “Apa yang kamu pikirkan, Sayang?” Steav





![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

