MasukSetelah melalui malam yang sulit, Serena akhirnya bisa bernapas lega kembali. Setelah Steave menepati janjinya untuk melanjutkan biaya pengobatan, pihak rumah sakit langsung memindahkan ibu Serena ke ruang intensif.
Ibunya tertidur tenang di ranjang rumah sakit. Napasnya kini stabil, alat bantu sudah dilepas, dan dokter mengatakan kondisinya mulai membaik. Serena duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan ibunya erat-erat. “Ibu, maafkan Serena yang sudah gegabah. Terima kasih Ibu sudah bertahan,” ucapnya lirih, senyum lemah terukir di bibirnya. “Terima kasih, Tuhan…” Hatinya terasa tenang, tapi bersamaan dengan itu, muncul sesak yang sulit dijelaskan. Setiap detik yang berlalu mengingatkannya pada kenyataan pahit, semua biaya rumah sakit, obat-obatan, hingga kamar VIP ini dibayar oleh Steave. Dan sekarang, ia harus menepati syarat pria itu. Serena menatap wajah ibunya sekali lagi sebelum berdiri. Ia mengusap air matanya, lalu keluar dari ruangan dengan langkah gontai. Di depan rumah sakit, ia menunggu taksi dengan tatapan kosong. Rambutnya ditiup angin, mata lelahnya menatap jalanan yang ramai tanpa benar-benar melihat apa pun. “Tidak ada yang gratis di dunia ini,” gumamnya pelan. Saat taksi datang, Serena masuk dan menyandarkan kepala ke jendela. Jalanan yang berkelok dan suara mesin menjadi pengiring pikirannya yang penuh keraguan. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca jendela mobil, mencoba mencari keberanian di mata sendiri.Ibu tiri - tertera di layar ponsel.
“Kenapa dia menghubungiku?” Tanya Serena hanya melihat, setelah tiga kali berdering, barulah ia mengangkatnya.
“Serena!” Claudia sedikit berteriak di seberang sana.
“Aku bisa dengar, tidak perlu tinggikan suaramu Ibu tiri,” balas Serena.
“Ethan mengatakan pada Ayah, kalau dia tidak bisa menghubung atau pun menemuimu. Kamu tidak buat masalah kan?”
Aku mulai jengah dengan nada bicaranya, batin Serena.
“Aku sibuk."
“Sibuk? Kamu sesibuk apa sampai tidak memperhatikan tunanganmu sendiri?”
“Aku sangat sibuk Ibu, aku harus bolak-balik rumah sakit untuk menemui ibu kandungku.”
“Jangan mencari alasan, segera temui Ethan dan perbaiki kesalahanmu karena sudah mengabaikannya–”
Tuutt..
Serena mematikan sepihak pembicaraan mereka, ia sudah muak diperintah terus.
Belum selesai menyusun perasaan jengkel terhadap ibu tirinya, ponselnya bergetar lagi. Nama yang muncul di layar membuat dadanya semakin menegang. Ethan. Serena menarik napas dalam, lalu mengangkat panggilan itu. “Halo,” suaranya terdengar datar. “Serena, kamu di mana? Kamu beberapa hari ini tidak pulang ke rumah. Apa terjadi sesuatu? Katakan kamu di mana sekarang, aku akan ke sana,” ucap Ethan di seberang sana terdengar lembut, tapi entah kenapa membuat Serena semakin muak. “Tidak usah, Ethan. Semuanya baik-baik saja.” “Kamu yakin? Aku khawatir, Ren. Aku…” Serena memotong cepat. “Aku sibuk, Ethan. Aku harus mengerjakan sesuatu. Nanti aku kabari lagi.” Sebelum Ethan sempat menambah kata, Serena sudah menekan tombol merah. Ia menatap layar ponselnya sebentar sebelum memejamkan mata.Rasa amarah yang bertubi-tubi menghantam dadanya. Ia sungguh tidak ingin disuguhi perangai palsu Ethan. Serena sudah tahu semuanya.
Beberapa menit kemudian, taksi berhenti di depan gedung tinggi berlapis kaca. Tempat yang sama seperti semalam. Petugas keamanan langsung mempersilakan masuk setelah menyebutkan namanya. Lift yang menuju lantai paling atas terbuka, dan Serena masuk. Musik lembut terdengar di dalam lift, tapi bukannya menenangkan, malah membuat jantungnya berdetak semakin kencang. Angka di layar lift naik perlahan. 21... 22... 23... Penthouse. Pintu terbuka. Paul, asisten Steave, sudah berdiri tegak di depan pintu apartemen.“Selamat datang, Nona Serena,” ucapnya sopan sambil menunduk kecil.
Serena hanya mengangguk tanpa suara. Tangannya terasa dingin saat Paul membukakan pintu. Apartemen itu sunyi seperti malam terakhir. Serena melangkah masuk, lalu matanya menangkap sosok pria yang berdiri di dekat jendela besar, menatap kota dari ketinggian. Steave mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku. Cahaya sore menyorot siluet tubuhnya yang tegap dan berwibawa. Ia tidak menoleh, hanya berbicara penuh tekanan. “Akhirnya kamu datang.” Suara itu terdengar dingin, seperti perintah tak terbantahkan. Serena menggigit bibir bawahnya, melangkah pelan ke arah pria itu. “Tuan Steave...” panggilnya ragu. Pria itu akhirnya berbalik, tatapannya tajam dan sulit ditebak. Ada ketenangan berbahaya di matanya, seperti singa yang sedang menunggu mangsanya datang dengan sukarela. “Jadi kamu sudah siap menepati janji?” tanyanya datar. Serena menelan ludah. “Aku... aku sudah pikirkan semuanya. Aku hanya ingin kamu tahu, aku melakukan ini bukan karena aku mau, tapi karena aku tidak punya pilihan lain.” Steave berjalan perlahan mendekat, langkah kakinya terdengar jelas di lantai. “Itu memang sudah konsekuensinya.” Steave berhenti tepat di hadapannya. Ujung jarinya mengangkat dagu Serena dengan lembut tapi tegas, memaksa gadis itu menatap ke arahnya. Serena terdiam. Suara napasnya terdengar lebih cepat. Aura dingin yang terpancar dari pria di depannya membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Ia bisa mencium aroma cologne mahal di pakaian Steave. “Kalau kamu ingin menepati janji,” lanjut Steave, “lakukan dengan cara yang benar. Seperti yang sudah kamu setujui.” “Tuan Steave–” “Tidak perlu menjelaskan.” Suaranya turun satu oktaf, lembut tapi mengintimidasi. “Aku sudah memberi apa yang kamu butuhkan. Sekarang giliranmu memberi apa yang aku inginkan.” Serena memundurkan langkah, tapi Steave menahan pergelangan tangannya. Sentuhan itu membuatnya membeku. Pandangan mereka bertemu, dan dalam tatapan mata pria itu, Serena tak menemukan belas kasihan, hanya kekuasaan dan kendali mutlak. Tangannya bergetar, tapi ia mencoba menegakkan bahu. “Baik. Aku akan menepati janjiku.” Steave tersenyum tipis. “Bagus.” Ia melepaskan pergelangan tangan Serena dan berjalan ke sofa besar di ruang tamu, duduk santai sambil menatap gadis itu. “Tutup pintunya.” Serena menatap pria itu beberapa detik sebelum akhirnya menuruti perintah. Pintu pembatas tertutup dengan bunyi klik yang bergema di ruangan luas itu. Serena berdiri kaku di tempat. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana.” Steave bangkit dari duduknya. “Tidak usah berpikir terlalu banyak. Aku akan memandumu.” Serena terdiam. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, cepat dan keras. Ketika pria itu berhenti tepat di hadapannya, bayangan mereka menyatu di bawah cahaya lampu. Tatapan Steave menelusuri wajahnya perlahan, seolah menimbang sesuatu. Serena menggenggam ujung blazernya erat, mencoba tetap berdiri tegak. Steave menatapnya lama, lalu membisikkan satu kalimat yang membuat tubuh Serena kaku seketika. “Mulai sekarang, kamu milikku, Serena.”Sudah tiga hari sejak bayi perempuan itu lahir. Dan rumah Ethan benar-benar berubah. Botol susu berserakan di meja. Selimut bayi tergantung di sandaran kursi. Tas perlengkapan terbuka di lantai. Aroma minyak telon bercampur dengan kopi.Di tengah semua itu, Ethan duduk di sofa dengan rambut acak-acakan dan mata panda yang jelas terlihat. Ia tampak seperti pria yang baru kalah perang.Serena berdiri memperhatikannya dengan kedua tangan terlipat di dada. Sementara Steave berdiri di samping istrinya, ekspresinya datar seperti biasa, meski sudut bibirnya hampir bergerak.“Serena…” suara Ethan terdengar berat. “Tolong tinggal di sini beberapa hari.”Serena mengangkat alis. Ini bukan Ethan yang biasanya. Tidak ada nada percaya diri, atau kesan pongah.Hanya seorang ayah baru yang kelelahan.“Kau baru tiga hari jadi ayah dan sudah menyerah?” ujar Steave dingin.“Aku tidak menyerah,” sahut Ethan cepat. “Aku cuma… tidak tahu harus bagaimana.” Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Tatapannya sekil
Malam itu hujan turun cukup lebat ketika ponsel Steave bergetar.Nama Ethan muncul di layar.Steave mengangkatnya dengan tenang. “Ya.”“Paman… rumah sakit. Istriku kontraksi, tolong aku!” Nada suara Ethan terdengar benar-benar panik.Serena sudah berdiri sebelum Steave menutup telepon. “Alessia?”Steave mengangguk singkat. “Ya, kita ke sana.”***Di rumah sakit, Serena dan Steave berdiri di balik kaca ruang bersalin. Dan pemandangan di dalam sana jauh dari kata dramatis romantis.Alessia yang biasanya lembut berubah menjadi badai kecil.“ETHAAAAN!” teriaknya saat kontraksi datang.“Aku di sini, Sayang!” jawab Ethan setengah gemetar.Namun tangan Alessia sudah lebih dulu mencengkeram rambutnya.Dan bukan sekadar mencengkeram.Menjambak sekuat mungkin. “INI SALAHMU!” pekiknya lagi.“AKU TAHU! AKU AKUI!” Ethan hampir tertekuk.Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berdiri ke segala arah. Kemejanya bahkan sudah tidak beraturan. Perawat mencoba menenangkan. “Bu, jangan tarik rambut
Di taman mansion sore itu, di bangku putih dekat kolam kecil, Serena dan Steave duduk berdampingan.Serena menyandarkan kepalanya di bahu Steave, sementara tangan pria itu menggenggam jemarinya dengan erat. Di depan mereka, dua bocah laki-laki berlarian tanpa beban.“Rion! Jangan lari terlalu jauh!” teriak Serena refleks.Rion yang sudah berusia sepuluh tahun menoleh sekilas. Wajahnya mulai memperlihatkan garis tegas seperti ayahnya, tapi senyumnya, jelas milik Serena.“Iya, Bu!” jawabnya, lalu menarik tangan adiknya. “Leo, sini!”Leo yang baru empat tahun tertawa lepas, suaranya cempreng menggemaskan. Rambutnya sedikit berantakan, sepatu kecilnya penuh rumput, tapi ia terlihat paling bahagia.Steave tersenyum kecil melihat mereka. “Rion mulai mirip aku.”Serena mendengkus. “Sayangnya, iya.”“Sayangnya?” Steave pura-pura tersinggung.“Iya. Dia mulai menyebalkan sepertimu,apa lagi sikap dinginnya mulai terlihat.” Serena menoleh menatap suaminya penuh arti.Steave terkekeh. “Itu prinsi
Mobil berhenti di depan gedung perusahaan saat langit mulai berubah jingga.Serena sempat singgah membeli beberapa makanan ringan dan kopi. Pekerjaannya masih banyak dan Ia ingin menyelesaikan beberapa berkas sebelum malam benar-benar tiba.Saat ia melewati lobi. Para karyawan memberi salam hormat seperti biasa. Dan Serena hanya membalas dengan anggukan seadanya. Semua tampak normal.Sampai ia tiba di depan pintu ruangannya.Ada yang aneh, pintu itu sedikit terbuka.Serena berhenti sesaat, ia ingat dengan jelas sebelum pergi sudah menutup pintu dengan rapat. Bahkan ia selalu memastikan tidak ada yang masuk tanpa izinnya.Mungkin Sekretarisnya?Atau staf?Ia menarik napas, lalu mendorong pintu itu perlahan.Dan tubuhnya kaku seketika.Apa benar yang ia lihat?Bukan halusinasi, kan?Di kursi besar di balik meja yang kini menjadi tempat kerjanya… duduk seorang pria dengan setelan rapi. Punggungnya tegap dan tangannya memegang sebuah dokumen yang sedang ia periksa dengan serius.Wajah it
Satu tahun berlalu… Serena memutuskan untuk melanjutkan hidup dengan mengambil alih milik Steave sepenuhnya. Ia berjanji pada diri sendiri, tidak akan ada yang bisa menyentuh hasil jerih payah suaminya dan memanfaatkan kosongnya kursi pimpinan. Seperti yang ia inginkan dulu, Serena tidak lagi berkutat hanya sebagai ibu rumah tangga. Ia disibukkan dengan rapat, kunjungan bisnis serta memeriksa data perusahaan setiap harinya. Tidak ada lagi gaun rumah atau pun tangisan yang ia tunjukkan seperti dulu. Serena telah berubah, selain menjadi ibu, ia juga seorang wanita karir. Setidaknya begitulah yang dilaluinya sekarang. Paginya menyiapkan Rion pergi sekolah lalu bermain dengan Leo. Setelahnya Serena bergegas untuk bekerja. Sedikit banyak ia paham, seperti inilah yang dilalui suaminya dulu. Sudah lelah bekerja seharian, di rumah pun harus meladeni mood Serena yang terus berubah. Para karyawan berdiri saat ia lewat.“Selamat pagi, Nyonya.”Ia hanya mengangguk singkat.Dulu, ia akan t
Serena duduk di kursi belakang mobil tanpa suara. Tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Kini, Jantungnya semakin berdetak lebih cepat. Sementara itu, Paul menyetir dengan wajah tegang, fokus menatap jalan. Mobil melaju cukup cepat. Beberapa menit pertama, Serena masih mencoba menenangkan diri. Namun ketika arah kendaraan berubah, ia mulai merasa tidak asing dengan jalur yang dilewati. Itu bukan jalan menuju rumah keluarga Whitmore. Tapi menuju pusat kota bagian timur. Menuju… Serena menegakkan tubuhnya. “Paul,” panggilnya. “Ya, Nyonya.” “Kenapa kita ke arah sini?” Paul tidak langsung menjawab. Serena melihat papan penunjuk jalan yang terlewati. Rumah sakit terbesar di London hanya beberapa kilometer lagi. “Paul,” suaranya mulai bergetar, “kenapa kita ke rumah sakit?” Paul menarik napas panjang. “Mohon bersabar, Nyonya.” Jawaban itu membuat perut Serena terasa mula. Keringat dingin mulai menjalar ke ujung jemarinya. Mobil akhirnya berbelok memasu







