MasukPikiran Selina masih menebak-nebak maksud pesan terakhir Dusan di restoran tadi. Bahkan ketika sampai di rumah, bayangan kalimat itu belum juga lepas dari benaknya.
Hingga sebuah getar notifikasi membuyarkan lamunannya. Ketika mengangkat ponsel, sebuah pesan dari Giovanni terpampang di layar.
[Sayang, maaf aku harus lembur hari ini. Aku akan pulang ke apartemen supaya lebih dekat. Jangan tunggu aku makan malam.]
Selina menghela napas panjang. Baru dua hari cincin perkawinan itu melingkar di jarinya, tetapi sosok Giovanni sudah tenggelam pada dunianya sendiri.
Namun, bukankah pernikahan ini memang sekadar tiket untuk masuk ke keluarga Mathias? Ya, tetapi bagaimanapun sisi dirinya yang lain tak bisa memungkiri jika ia membutuhkan sepasang bahu yang menemaninya setiap malam.
Selina lantas membawa laptop ke tepi kolam renang, mencoba menyibukkan diri dengan merancang desain baru untuk perhiasan galerinya.
Tepat saat Selina melepas earphone-nya, ia mendengar suara dari ruang makan.
“Pa, ini Mama baru saja buatkan jus strawberry. Pasti segar sekali setelah olahraga,” suara Marissa terdengar lembut, penuh perhatian.
Selina mengintip dari balik kaca. Marissa sedang menuang jus untuk Dusan yang bertelanjang dada. Cahaya lampu makan memantul di kulit kuning langsat pria itu, menonjolkan otot-otot dada dan lengan yang masih basah keringat olahraga.
Sialnya, bayangan saat ia duduk di pangkuan Dusan pagi tadi kembali menyerbu. Jantungnya berdegup cepat, dan jemarinya refleks mencengkeram tepi laptop saat sensasi panas tiba-tiba menjalari tubuhnya
Sementara di sisi lain Dusan menerima gelas itu dan meneguknya perlahan. Sesaat kemudian, ia menatap istrinya sambil berkata, “Mama terlihat lebih cantik hari ini, apa ini efek perawatan ratusan juta yang kamu lakukan itu?”
Mendengar itu, Marissa tersipu kecil. “Oh ya? Mungkin ini hasil treatment rutin yang Mama lakukan. Sepertinya sudah kelihatan hasilnya, ya?”
“Hm.” Dusan mengangguk, lalu menaruh gelas yang telah setengah tandas ke meja. “Kalau hasilnya begini, mau dapat tagihan miliaran pun Papa nggak keberatan.”
“Papa bisa aja!” Marissa tersipu kembali dan menepuk pelan lengan suaminya. Beberapa saat kemudian, pandangan Marissa langsung tertumbuk pada cincin hitam yang melingkar di jari manis Dusan. “Eh, Papa beli cincin baru lagi?”
"Ini … papa nggak beli, Ma. Selina yang kasih tadi pagi," katanya seraya menunjukkan ukiran QA pada bagian bawah cincin itu.
Begitu melihat dua huruf itu Marissa melebarkan matanya bibirnya hampir membulat. "Pa, kamu tahu? Cincin ini edisi terbatas dari galeri Selina. Mama lihat di katalog galeri, harganya bisa tembus puluhan miliar! Papa nggak kasih apa-apa untuk menantu kita?"
Dusan terlihat menelan ludah sejenak. "Papa sudah kasih cek tadi, tapi dia nggak mau," ujarnya, karena memang itu yang terjadi.
Selina tersenyum saja mendengar itu, ia segera menutup laptop dan melangkah menuju ruang makan. Tak lupa ia membawa sebuah kantong paper bag berwarna hitam berisi kotak perhiasan dan beberapa kotak teh mawar yang sempat dijanjikan Selina.
"Astaga, Papa, jelaslah Selina nggak mau. Dia pasti sungkan kalau seperti itu," ucap Marissa lalu membuang napas panjang. "Nanti deh, biar mama yang kasih dia hadiah tanda terima kasih."
Saat itu juga Selina masuk dari pintu samping. "Nggak perlu, Ma. Selina berikan ini bukan untuk minta hadiah," sahutnya seraya tersenyum lebar.
“Cincin itu memang Selina pilih khusus untuk Papa,” lanjut Selina dengan senyum hangat. “Sebagai salah satu tokoh besar di ibu kota, sekaligus pemimpin Mathias Group yang menguasai hampir tujuh puluh persen pasar nasional, Selina merasa hanya Papa yang benar-benar pantas mengenakannya. Aura wibawa Papa membuat cincin itu jadi lebih hidup.”
Sementara itu Marissa segera menghampiri Selina. Wanita paruh baya itu langsung memeluk lengan menantunya dengan ekspresi antusias.
“Selina juga punya hadiah untuk Mama,” katanya seraya menyerahkan paper bag hitam. “Ini ada beberapa kotak teh mawar seperti yang semalam Selina janjikan, dan satu cincin edisi sama dengan milik Papa. Kalau Mama yang pakai, pasti serasi sekali. Semoga Mama suka.”
“Selina, kamu memang luar biasa. Mama sampai malu sendiri rasanya, baru beberapa hari jadi bagian keluarga kita, tapi perhatianmu sudah sebesar ini,” ucap Marissa penuh syukur, matanya berbinar.
Selina tersenyum lembut, membiarkan dirinya dirangkul erat. “Selina hanya ingin yang terbaik untuk Papa dan Mama. Toh, sekarang Selina juga sudah menjadi bagian dari keluarga Mathias, kan?”
Ucapan itu membuat Marissa makin terharu. Ia menoleh sebentar pada Dusan, seakan ingin menunjukkan betapa beruntungnya mereka mendapatkan menantu seperti Selina. “Akhir minggu nanti, temani Mama ya. Kita belanja bersama. Anggap saja Mama balas kebaikanmu hari ini.”
“Dengan senang hati, Ma,” jawab Selina sambil mengangguk manis.
Tatapannya sekilas melirik Dusan yang masih duduk diam di kursinya. Pria itu hanya menyesap kembali jus yang tersisa, wajahnya tampak datar. Pria ini liar ketika di luar, tapi diam saja ketika di rumah.
“Oh iya, Ma. Selina izin ya, nanti malam nggak ikut makan bersama. Ada meeting online dengan klien luar kota. Lagi pula, Selina tadi sudah makan di kantor sebelum pulang,” tutur Selina lembut.
Mendengar itu Marissa menoleh, sedikit kecewa tetapi tetap mengangguk. “Oh begitu… ya sudah, Nak. Tapi kalau nanti tiba-tiba kamu lapar langsung turun dan makan ya.”
Selina tersenyum kecil. “Iya, Ma. Lagi pula Giovanni juga nggak pulang malam ini. Katanya ada pekerjaan mendadak, jadi dia akan langsung menginap di apartemen.”
Kening Marissa semakin berkerut. Tatapannya lantas berpindah ke arah suaminya. “Pa, kenapa sih Gio kamu biarkan lembur? Mereka kan baru menikah. Kalau begini terus, kasihan Selina.”
Dusan menghela napas panjang, bahunya terangkat santai. “Kamu tahu sendiri sifat Gio. Kalau sudah menyangkut pekerjaan, dia bisa mengorbankan apapun.”
Marissa mendengus pelan, lalu meremas lengan Selina, seolah memberi dukungan padanya. “Maafkan Gio ya, Nak. Nanti kalau adiknya sudah pulang nanti, beban pekerjaan Gio pasti nggak seberat sekarang dan waktu kalian berdua akan lebih banyak.”
Selina hanya mengangguk dan membalas senyuman mertuanya. Namun, tatapannya sempat tertahan pada ekspresi Dusan, dan hatinya tak bisa menahan rasa ingin tahu.
Apakah benar hanya pekerjaan yang membuat Gio tidak pulang hari ini… atau ada sesuatu yang lain yang disembunyikan oleh Dusan?
Akan tetapi, Selina tidak mengambil pusing hal itu. Ia lantas berpamitan pada kedua mertuanya untuk pergi ke dalam kamar.
Matanya sempat bertemu dengan pandangan Dusan. Dan, tanpa sepengetahuan Marissa, Selina menerbitkan senyum manis, sebelum melangkah menuju tangga, seolah memberi sebuah isyarat bahwa malam ini, apa yang ingin dilakukan oleh Dusan, Selina akan menunggunya.
***
Saat tengah malam, Selina terbangun karena merasakan sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Dalam ruangan yang remang, Selina tidak bisa melihat jelas wajah pria di sampingnya.
Namun, indera penciumannya mengatakan hal lain. Wangi oud dan leather itu bukan ciri khas Giovanni.
“Gio? Kamu pulang?” tanyanya seraya menyentuh lampu meja yang otomatis menyala ketika ada gerakan.
Ketika membalikkan badan sepasang mata Selina membelalak ketika mendapati pria berhidung tinggi telah terbaring di sampingnya dengan setelan piyama hitam yang kontras dengan kulitnya.
Pria itu memiringkan badan dan tersenyum ke arah Selina.
“Papa?”
“Dengan cara apa aku membuat mereka berantakan, biarlah jadi urusanku.”Raven yang duduk di kursi kemudi memiringkan kepala, lalu kembali menatap Selina. Pandangannya menyusuri sepasang bulu mata lentik itu sesaat sebelum ia menyeringai tipis. “Sungguh, nggak butuh bantuanku?”Selina memajukan tubuhnya beberapa senti. Jarak di antara mereka menyempit, membuat suaranya terdengar lebih rendah. Tatapannya mengunci Raven, dalam dan penuh perhitungan. “Tentu aku perlu bantuanmu,” ujarnya pelan, “buatlah Giovanni lebih sibuk beberapa waktu ke depan.”"Dari kata-katamu ini kamu mau main rahasia denganku?" ulang Raven penuh tatapan menyelidik. "Selina, bukannya kita sepakat untuk kerjasama?"Hela napas pelan meluncur dari bibirnya sebelum Selina menerbitkan senyum. "Raven ... Gimana kali ini, aku ingin kasih kamu kejutan besar?""Oh, ya? Aku harap kejutan kamu memuaskan buatku." Selina semakin melebarkan senyumnya, lalu menambahkan dengan nada lebih tegas, “Kamu tenang saja ... Kalau sudah t
Raven menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Tatapannya sempat beralih ke arah lain sebelum kembali pada Gracie.“Mm, bukan begitu,” ujarnya pelan. “Aku hanya tidak ingin menebak-nebak keinginan kakakmu. Dan kalau tahu sedikit tentang masa lalunya, mungkin aku bisa lebih memahaminya sebagai bawahan.”Gracie terkekeh kecil, lalu menepuk lengan Raven dengan santai. Senyum tipis mengembang di wajahnya saat ia menatap pria bermasker hitam itu.“Aku cuma bercanda, Kakak. Lagipula soal itu aku juga tidak tahu. Kakakku lama tinggal di Norvast. Tidak menutup kemungkinan dia pernah punya kekasih di sana.”Raven mengangguk pelan. Rahangnya sedikit mengeras, seolah ia sedang menimbang sesuatu, tetapi pada akhirnya ia memilih diam. Tidak ada jawaban yang keluar darinya.Gracie kembali membuka suara, kali ini dengan nada yang lebih tenang.“Soal memahami kakakku… dia tidak pernah kekurangan uang. Dia bisa melakukan apa pun dengan uangnya.” Gracie menarik napas sejenak. “Dia terbi
“Dia….” Bibir Selina kelu. Ia menoleh sekilas ke arah pria di sampingnya, lalu kembali menatap Gracie. Kepalanya sibuk menimbang kata yang tepat untuk menjelaskan keberadaan Raven pada adik tercintanya. Jantungnya berdegup tidak beraturan, seolah waktu sengaja melambat hanya untuk mempermalukannya. Namun sebelum Selina sempat membuka suara, Raven sudah lebih dulu melangkah setengah langkah ke depan. Suaranya terdengar tenang saat ia berkata, “Bodyguard baru kakakmu.” Ucapan itu membuat suasana mendadak hening. Gracie terdiam dengan sorot mata penuh ragu, sementara Selina menyipitkan mata tajam ke arah Raven, seolah ingin menegurnya tanpa suara. Alasan macam apa itu? Selina bahkan tidak pernah memikirkan jawaban semacam itu sebelumnya. Namun, setelah dipikirkan kembali, penjelasan Raven terdengar masuk akal. Gracie menaikkan alisnya beberapa detik. Ia lalu mengalihkan pandangan kembali pada Selina. “Untuk apa kakak sewa bodyguard? Kakak tidak lagi menghadapi bahaya, kan?” Se
Entahlah. Saat ini bukan waktunya menerka terlalu jauh. Selina menahan rasa ingin tahunya, menyingkirkan berbagai kemungkinan yang berkelebat di benaknya. Mungkin lain kali ia akan mencari tahu tentang Raven lebih jauh. Yang jelas, bila Raven benar memiliki pengaruh besar di Sylan, fakta itu bisa menjadi kartu penting. Sebuah keuntungan yang kelak dapat ia manfaatkan, entah untuk melindungi diri atau mencapai tujuan yang belum tercapai. Menyadari dirinya sudah terlalu lama berdiri di sana, Selina menarik napas perlahan. Ia menata kembali ekspresinya, memastikan tak ada kegugupan yang tersisa. Lalu, dengan langkah ringan dan hati-hati, ia menjauh dari tempat itu, memastikan Raven tidak menyadari keberadaannya yang sempat menguping. *** Siang itu, tepat ketika sesi pemotretan terakhir selesai, seluruh kru telah meninggalkan lokasi. Ruangan yang sebelumnya riuh kini berubah lengang. Lampu-lampu studio mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan suasana sunyi yang terasa canggung.
Selina melongo mendengar jawaban Raven. Dari sekian banyak pertanyaan yang ia ulang dan lontarkan pada lelaki itu, dan dari sekian banyak jawaban kabur yang selalu diterimanya, kali ini Raven justru menjawab tanpa berkelit. Terlalu jelas sampai membuat Selina menelan ludahnya kasar. Benarkah demikian? Entahlah tapi Selina merasa tatapan Yang diberikan Raven tadi bukanlah sebuah candaan apalagi main-main. Manik hitam pria itu seolah telah berbalut kabut dendam yang tebal. “Tapi kenapa?” Selina akhirnya bertanya cepat. Alisnya berkerut, jemarinya mencengkeram tepi kursi tanpa sadar. “Mereka orang tuamu sendiri, bukan?” Sudut senyum Raven bergerak tipis. Pria itu lantas membuang napas panjang sebelum mendekat. Lelaki berkaos polo itu memiringkan tubuhnya, mencondongkan wajah hingga jarak mereka hanya terpaut sedikit. Tatapannya gelap, suaranya rendah namun tenang, seolah sudah lama menyimpan semua itu. “Karena mereka lebih memilih anak angkat daripada keturunan keluarga Mathias,
“Aku terima telepon sebentar,” ujar Selina sambil mendorong kursinya dan bersiap berdiri.Namun, sebelum ia benar-benar beranjak, tangan Raven lebih dulu menangkap lengannya. Cengkeramannya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Selina kembali duduk. Dengan tangan yang lain, Raven memberi isyarat singkat ke arah Shifa agar kembali ke ruangan bersama Rani.Shifa mengangguk pelan, lalu berbalik dan meninggalkan ruang makan tanpa berkata apa-apa.Selina menoleh tajam ke arah Raven. Dahinya berkerut, jelas tidak setuju dengan sikap pria itu. Ia menarik lengannya, tetapi Raven belum juga melepaskan.“Raven,” ucapnya memperingatkan pria itu.Namun, Raven justru menatapnya lurus, sorot matanya tenang tetapi penuh tekanan. “Kita sudah sepakat untuk saling mendukung,” katanya pelan. “Lalu kenapa sekarang kamu memilih bermain rahasia denganku, Cantik?”Ditatap sedemikian rupa membuat Selina waspada. Tidak biasanya Raven bersikap seserius ini. Kali ini, aura yang ia pancarkan bahkan terasa lebi







