MasukPegawai itu tergagap dan salah tingkah. Ia buru-buru menunduk, seolah takut menatap Dusan dan Selina lebih lama.
Dusan hanya tersenyum tipis, lalu meraih kotak hitam di tangannya. “Terima kasih cincinnya. Papa berangkat dulu.”
Selina melambaikan tangan manis, senyumnya terpelihara seolah tak ada yang terjadi barusan. “Hati-hati di jalan, Pa.”
Begitu pria itu pergi, Selina menoleh pada pegawai yang masih berdiri kikuk di ambang pintu. “Ada apa?” tanyanya datar, sambil merapikan lipatan gaunnya.
“Maaf, Bu,” jawab si pegawai gugup. “Saya hanya ingin mengambil laporan bulanan di meja Ibu. Tidak tahu kalau Ibu sedang ada… tamu.”
Selina terkekeh kecil, raut wajahnya berbinar seperti biasa. “Tidak apa-apa. Papa mertua cuma datang ambil hadiah saja, bukan hal penting.”
Pegawai itu langsung mendongak, matanya membesar. “Ha–hadiah?”
“Ya.” Selina mengangguk ringan sambil melangkah menuju meja kerjanya. “Cincin yang kemarin belum ada modelnya. Saya putuskan untuk memberikannya pada Papa. Sangat cocok di tangannya.”
Sambil memindai tumpukan dokumen, Selina menyerahkan map biru berisi laporan bulanan yang dicari pegawainya. “Oh ya,” lanjutnya kemudian, kini dengan suara lebih serius, “tolong ambilkan satu cincin wanita dari black series. Saya mau berikan untuk Ibu mertua.”
Pegawai itu cepat mengangguk. “Baik, Bu. Saya segera ambilkan.” Ia menerima map dari Selina dan buru-buru meninggalkan ruangan.
Selina menatap sekilas pintu yang baru saja tertutup. Jemari halusnya menyentuh bibir yang tadi direbut Dusan, dan sudut bibirnya terangkat sempurna.
***
Menjelang siang, Selina menerima telepon dari Giovanni. Sang suami memintanya menyusul ke Restoran Peony, sebuah restoran mewah di hotel bintang lima. Tanpa banyak pertimbangan, Selina menyetujui permintaan itu dan segera melajukan mobilnya menuju pusat kota.
Sesampainya di hotel, ia disambut pelayan yang menunduk sopan lalu menuntunnya ke ruang privat restoran.
Begitu pintu geser dibuka, Selina sempat tertegun. Meja bundar itu ditata elegan dengan taplak putih, vas berisi bunga peony segar, dan beberapa hidangan yang sudah terhidang. Giovanni duduk dengan senyum hangat.
Namun langkah Selina sontak terhenti saat matanya menangkap sosok lain yang duduk berhadapan dengan suaminya.
Dusan.
Tatapan pria itu singkat, datar, namun cukup membuat dada Selina bergetar. Terlebih, pagi tadi mereka baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi. Lamunannya segera buyar ketika Giovanni bangkit menyambutnya dengan pelukan ringan.
“Sayang, akhirnya kamu datang juga. Maaf, ya, aku nggak sempat jemput kamu,” ucap Giovanni.
Selina membalas dengan senyum manis. “Nggak apa-apa, Sayang, lagipula dekat juga dari kantor.” Ia kemudian duduk di samping suaminya, tetapi sempat menoleh sekilas pada Dusan yang justru membalas tatapannya, seraya mengusap cincin di jari manisnya.
Sepanjang makan siang, Giovanni banyak bicara dengan ayahnya.
Selina lebih sering menunduk, pisaunya berulang kali mengiris daging yang sama tanpa benar-benar dimakan. Sesekali ia melirik Dusan, lalu cepat-cepat menunduk lagi, seperti tak sanggup menatap lebih lama.
“Pa, sudah ada kabar dari adik? Kapan dia pulang?” tanya Giovanni sambil menyuap makanannya.
“Dia masih harus mengurus pengunduran diri di perusahaannya. Jadi, paling cepat akhir bulan,” jawab Dusan singkat.
Giovanni mengangguk. “Kalau begitu, Gio akan kosongkan jadwal di akhir bulan supaya bisa jemput adik di bandara.”
“Begitu juga baik.” Dusan menanggapi datar, lalu kembali makan dengan tenang.
“Oh ya, Pa. Dengar-dengar akan ada Global Crown Expo dalam waktu dekat ini. Menurutku bagaimana kalau perusahaan ikut berpartisipasi?” Giovanni mencoba memancing diskusi, sementara Selina mulai bosan dengan topik pekerjaan itu.
Apakah tidak ada hal lain selain pekerjaan? pikirnya kesal.
“Global Crown Expo ini sudah diadakan tahun ke tahun, dulu perusahaan kita pernah maju tapi hanya sampai sepuluh besar,” ujar Dusan ringan.
Selina yang mulai bosan dengan obrolan pekerjaan, memperbaiki posisi duduknya. Ujung sepatunya tanpa sengaja menyentuh betis Dusan di bawah meja.
Mendapatkan tatapan datar dari Dusan, Selina cepat menunduk lagi, pura-pura sibuk memotong makanan, seolah tak sadar apa yang baru terjadi. Namun beberapa detik kemudian, gerakan kecilnya kembali membuat kaki mereka bersentuhan, kali ini lebih lama.
Dan, tanpa disangka, Dusan justru menahan kakinya dengan cekatan. Selina yang tidak mengira Dusan akan bereaksi demikian sedikit terkejut. Ia sempat berusaha menarik diri, tapi genggaman itu terlalu kuat.
Meski wajah Dusan tetap datar, satu tangannya lihai memijat kaki Selina, sementara tangannya masih luwes mengangkat garpu, seolah tak ada yang terjadi.
Di sisi lain Giovanni tidak menyadari apa pun. Suami Selina itu masih asyik bercerita soal Global Crown Expo.
Selina lantas meraih ponselnya. [Lepaskan kaki Selina, Pa, bagaimana kalau Gio lihat?] tulisnya cepat dan mengirim pesan itu kepada Dusan.
Dusan yang sedang mengangkat gelas sempat melirik layar ponselnya ketika getar pendek terdengar. Ia mengetik balasan singkat. [Diam saja dan nikmati.]
Dengan wajah tenang, Dusan menggerakkan tangannya, lalu memijat kaki Selina. Awalnya gerakan itu ringan, seperti sekadar menekan otot betisnya, namun perlahan berubah lebih dalam, lebih berani, hingga membuat Selina hampir kehilangan konsentrasi memotong steak di piringnya.
Pijatan itu kini tidak hanya menekan otot, tapi mengalir perlahan ke lengkungan kaki Selina, menyentuh setiap titik sensitif yang membuat tubuhnya menegang tanpa disadari.
Genggaman garpu di tangan Selina sedikit gemetar. Ia menggigit bibir bawah, pura-pura tersenyum menanggapi obrolan Giovanni, padahal tiap sentuhan Dusan membuat tubuhnya panas dingin.
Selina buru-buru meraih ponselnya di pangkuan, jari-jarinya mengetik cepat. [Papa mau jadi tukang pijat beneran, ya? Nanti Selina kasih tip.]
Dusan menatap Selina sebentar, bibirnya melengkung tipis, lalu kembali menekan titik pijat dengan lebih perlahan. [Bagaimana rasanya?] tanyanya dalam pesan.
[Lumayan. Sepertinya Selina tidak perlu ke salon lagi.] Selina membalas dengan cepat. Lalu hanya selang beberapa detik sebuah notifikasi kembali masuk.
[Apa itu artinya kamu suka pijatan Papa?]
Bersamaan dengan itu, Giovanni justru menoleh penuh semangat. “Selina, menurut kamu, Expo tadi bisa jadi kesempatan bagus, kan?”
“Aku suka,” jawab Selina spontan. Tetapi detik berikutnya ia melipat bibir.
Hal itu membuat Giovanni sempat mengernyit heran. “Maksudnya … kamu suka apa?”
Selina berdeham sekali sebelum menjawab. “Maksudnya, aku suka pendapatmu, kalau Mathias Group bisa tembus Global Crown Expo. Itu bisa menambah kredibilitas perusahaan,” katanya seraya menerbitkan senyum di bibirnya.
“Kalau begitu kita sepemikiran, tapi nanti aku cari informasi lebih dalam dulu soal global crown expo ini, siapa tahu dengan Mathias Group yang sekarang kita bisa bersaing dengan perusahaan lainnya. Kamu juga bantu aku ya, jaringan kamu kan juga luas.”
Selina mengangguk menanggapi suaminya, tetapi saat ia membuka bibir untuk menjawab, Dusan seperti dengan sengaja memperlambat gerakan jarinya. Hal itu membuat Selina tidak sengaja melepaskan sendoknya. “Ya, tentu saja, aku pasti bantu cari informasi itu, Ahh—!”
Giovanni yang menyadari ekspresi istrinya terlihat berubah lantas meletakkan sendoknya. “Kenapa, Selina? Kamu baik-baik saja?”
Selina ingin bicara tapi bibirnya seolah terasa kelu. Sementara Giovanni hampir melongok ke bawah meja tetapi Selina segera menahan lengan suaminya.
"A—aku tidak apa-apa, cuma kakiku rasanya kesemutan, sepertinya aku terlalu banyak duduk," ujar Selina, bibirnya melengkung lebar, berusaha meyakinkan sang suami bahwa dirinya baik-baik saja.
Dengan penuh kasih sayang, Giovanni lalu mengusap kepala Selina. “Hari ini, kamu pulang cepat, ya. Istirahat di rumah, jangan memaksa bekerja. Nanti aku transfer untuk pergi spa ke salon.”
Selina mengangguk. Sementara Gio melanjutkan obrolannya dengan Dusan. Hal itu dimanfaatkan Selina untuk membalas pesan Dusan.
[Dapat pijat gratis, tentu Selina suka.]
Tak lama kemudian, sebuah balasan muncul:
[Pijatannya belum seberapa. Malam nanti Papa tunjukkan yang sesungguhnya.]
Selina tertegun membaca pesan itu, sementara jemari halusnya refleks menggenggam ponsel lebih erat. Keningnya sedikit berkerut, bertanya-tanya apa yang akan Dusan lakukan nanti malam?
Selina menunduk beberapa saat sebelum melepas tangan Rani. “Aku hanya nggak ingin menghancurkan perasaannya lebih dalam. Aku nggak ingin memanfaatkan perasaannya. Sayangnya … entah dia mengerti maksudku atau tidak.”Rani menerbitkan senyum kecilnya. “Tuan tidak membahas hal ini dan tetap membantu Nyonya, artinya Tuan memiliki prioritas sendiri.”Selina mengangguk mengerti sambil menatap lantai beberapa detik. “Semoga saja dia memahaminya.”“Sekarang yang terpenting bagaimana Nyonya akan melakukan hal selanjutnya? Rekaman Nyonya Marissa berhubungan dengan pria lain sudah di tangan, kalau ada perintah Nyonya katakan saja.”Kata-kata itu membuat Selina menegakkan punggung. Ia menarik napas panjang dan mengusap pelipisnya. “Raven bilang Mathias Group mengerjakan proyek ini dengan teknologi 3d printing. Apa peserta expo lain juga memakai teknologi yang sama?”Rani mengangguk. “Teknologi ini menghemat waktu tapi biaya besar. Hanya dua perusahaan yang memakainya. Selain Mathias Group, Blacks
“Raven, kita sudah bahas ini berulang kali kan? Hubungan kita sebatas mutualisme aja, kita nggak mungkin buat—”“Tapi kenapa? Jangan terus nolak aku tapi kamu nggak sanggup kasih penjelasan!”Selina memejamkan matanya beberapa saat sebelum menegakkan tubuhnya. Selina memutar badannya hingga berhadapan dengan Raven. “Raven, menurutmu bagaimana bisa aku bersama dengan keturunan seseorang yang telah menghancurkan keluargaku? Yang ada setiap aku lihat wajah kamu yang ada di kepalaku cuma bayangan orang tuamu yang menyakiti orang tuaku,” jawab Selina lantang. Kali ini terlalu emosional sampai matanya berkaca-kaca.“Aku nggak seperti mereka, aku bahkan bantu kamu buat balas dendam. Aku bukan—”“Aku tahu. Kesalahan itu bukan tanggung jawabmu, tapi dalam darahmu tetap mengalir darah Dusan Mathias, dan itu orang yang paling aku benci!”Bibir Raven tersenyum getir. “Cuma itu alasannya?”“Ya!” Selina mengangguk tanpa ragu. Raven membuang napasnya. Tetapi beberapa saat kemudian pria itu mengang
Tanpa menjawab, Raven segera menarik tubuh Selina hingga ke pelukannya. Dengan gerakan cepat ia menutup pintu dan mengunci smart door itu dengan ibu jari Selina. Selina menatap sikap Raven dengan kerutan dahi. “Kamu ini …? Ngapain kamu datang? Bukannya harus ke Haras sama Giovanni?”Raven memiringkan kepalanya. “Kalau aku nggak datang kamu bakal beneran tidur sama tua bangka itu, hm?” “Aku bahkan udah pakai obatmu, gimana bisa lakukan hal itu?” Selina hampir tertawa dibuatnya. “Justru kamu yang aneh, kenapa Giovanni bisa berangkat sendiri? Gimana kalau Papa tahu kamu nggak ke sana?”Raven tidak menjawab, ia melepas dasinya dan menutup mata Selina dengan kain panjang itu. Sedetik kemudian menggendong Selina hingga membuat wanita itu terkejut. “Kerjaanku nggak penting, sekarang aku cuma pengen nunjukin sesuatu buat kamu.”Selina tidak sempat bertanya lagi karena membungkamnya dengan ciuman. Selina hanya bisa diam menikmati sentuhan itu sambil menerka kemana Raven akan membawanya menu
Semua yang dihadapi Selina, setiap untung dan rugi yang ia pertaruhkan, terasa begitu wajar. Namun, entah mengapa, ada perasaan yang selalu mengganjal di dalam dirinya. Seolah-olah ada sesuatu yang ia lewatkan, sesuatu yang penting, tapi ia tak mampu menebak apa. Meski segala sesuatunya berjalan lancar dan masalah-masalah yang muncul dapat diatasi, hatinya tetap tidak sepenuhnya tenang.Sebisa mungkin Selina menahan diri untuk tetap tersenyum. "Kalau begitu, maaf merepotkan kalian untuk mengurus itu," ucapnya dengan lembut.***Tanggal sepuluh bulan berikutnya …Perayaan anniversary itu dipersiapkan dengan sangat matang. Marissa rela duduk di salon selama empat jam, merapikan rambut dan riasannya. Wajahnya cerah dan penuh kegembiraan, matanya berbinar menantikan momen spesial hari ini bersama suaminya. Bagi Marissa, hari ini mungkin adalah puncak kebahagiaannya.Sementara itu, Selina memilih duduk di balkon rumah pemberian Dusan, menikmati secangkir teh mawar sambil menatap langit
Selina hanya mengangguk singkat. Ia berjalan ke luar ruangan diikuti dengan Ersa yang melangkah setelahnya.Koridor lengang di depan ruangan Raven menjadi pilihan terbaik untuk bicara berdua. Suasana terasa sunyi, seolah terisolasi dari hiruk-pikuk gedung Mathias Group. Tidak ada satupun orang yang berlalu-lalang. Hanya dinding kaca panjang yang memantulkan cahaya silau matahari dan menampilkan hamparan gedung metropolitan di kejauhan.Selina menyilangkan kedua tangannya di dada sebelum menatap serius wanita berseragam dokter di hadapannya. “Ada apa sampai kamu seserius ini? Apa dia cedera parah?”Ersa melirik kaki Selina dari ujung sepatu hingga betis, lalu kembali menatap wajahnya. “Mama mertuamu bilang semalam kamu jatuh, tapi sekarang ku lihat kakimu baik-baik aja? Kamu nggak jatuh sama sekali?”“Nggak usah bahas itu.” Selina langsung memotong. Nada suaranya cepat dan sedikit tergesa. “Itu cuma alasanku aja biar nggak ketahuan saat nguping mereka.”Dengan cepat menggeser posisi t
Secepat kilat Selina berlari masuk ke dalam gedung pencakar langit setinggi dua puluh lantai itu. Ia menaiki lift dan langsung menuju ruang rapat di lantai lima belas yang akan digunakan pagi ini.Begitu tiba, Selina mendapati beberapa anggota tim menunggu di luar ruangan. Wajah-wajah mereka tegang, sementara dari balik pintu kaca terdengar suara dua pria yang saling beradu argumen.Selina tak menangkap jelas apa yang mereka perdebatkan, hanya nada keras dan emosi yang nyaris meledak-ledak.“Kamu berani bicara seperti itu sama orang tuamu sendiri?!”“Aku bicara faktanya!”Sebelum masuk, Selina menoleh pada Clara. Wanita itu mengangguk singkat, memberi isyarat agar Selina segera masuk. “Silakan, Bu,” katanya seraya menggerakkan tangan.Pintu kaca terbuka.Sekejap, suara perdebatan mereka lenyap.Baik Dusan maupun Raven sama-sama terdiam, seolah kehilangan kata-kata saat melihat Selina berdiri di ambang pintu.Pemandangan pertama yang dilihat Selina adalah bibir Raven yang berdarah. Lalu







