Share

5. Sleep anxiety

Penulis: Tari suhendri
last update Tanggal publikasi: 2023-11-30 14:26:59

James menyambut diatas kasur. Dengan sedikit enggan aku ikut bersamanya. Menutupi rasa bersemangat karena bisa berduaan dengannya semalaman.

"Kau sudah gila!" gerutuku setelah naik ke atas kasur. James memelukku.

"Mereka juga butuh istirahat," sergah James seolah sudah melakukan hal yang baik.

"Apa kau akan menginap malam ini?" aku bertanya dengan acuh.

"Tentu saja sayang, untuk apa obat tidur itu?" sergah James mengerling nakal padaku.

"Baiklah," kataku pasrah.

"Boleh aku katakan sesuatu?" tanya James sedikit serius. Aku bersiap.

"Boleh, katakan saja,"

"Apakah kau sudah tau kalau temanmu, Cici sudah memanipulasi keuangan toko kalian?" James bertanya lagi dengan kaku.

"Oh, aku sudah tau," jawabku santai dan singkat.

"Kenapa kau tidak menegurnya?"

"Entahlah James, aku takut dia tersinggung dan hubungan kami renggang,"

"Hei," James mengambil daguku, "dalam bisnis, tidak mengenal teman atau keluarga. Uang itu bersifat objektif,"

Aku berpikir sebentar, lalu menatap James heran, "dari mana kau tau kalau Cici korupsi?"

James mengabaikan pertanyaan ku, "dengarkan aku! Jika kau memang sahabat yang baik. Cici harus di tegur. Demi kebaikannya, sayang. Kalau kau diam saja, dia akan terjerumus lebih dalam,"

"Kau benar," gumamku sambil menggigiti buku jariku.

"Lakukanlah saat kau siap. Jangan biarkan dia mengendalikan semuanya. Bisnis bukan hanya tentang kepercayaan. Tapi juga kerjasama tim."

Aku mengangguk paham. Yang dikatakan James ada benarnya.

Malam semakin larut saat kami asyik berbincang. James tidak melepaskan pelukannya selama itu pula. Setelah aku menguap-nguap, James memutuskan kami harus segera tidur.

Tidak!

Jangan lakukan itu! Aaaa sakiitt...

Tolong aku ibu...

Aku terbangun, melihat jam menunjukkan pukul 02.00. Suara gumaman dengan teriakan tertahan membuatku terjaga.

James mengigau. Keningnya basah karena keringat, kepalanya menoleh kekanan dan ke kiri dengan gelisah. Sesekali tubuhnya terlonjak seperti ditusuk sesuatu yang menyakitinya.

Aku memeluk James yang bertelanjang dada. Menyentuh pipinya dengan ujung jariku.

"James," panggilku lembut. Aku takut dia terkejut dan itu akan membuat kepalanya pusing.

James belum bangun juga, aku mencoba memanggilnya hingga tiga kali dan dia pun terbangun.

"Alice!" James cukup terkejut saat wajahku tepat diatas wajahnya.

Aku menempelkan hidungku di pipinya, "kau mengigau, James."

"Itu sudah biasa sayang. Mimpi itu selalu datang," kata James santai, dia sudah bisa menguasai diri.

"Bagaimana kalau aku memelukmu sepanjang malam. Apakah itu akan membantu?" ujarku menawarkan diri.

"Terima kasih sayang, tapi kau harus melakukannya karena kau mau. Bukan karena aku,"

"Tentu, memelukmu seperti ini nyaman sekali," gumamku menelusup kedalam pelukannya.

James terkekeh senang, "baiklah kalau begitu. Semoga saja aku masih bisa menahan diri,"

Aku memukul dadanya, "jangan macam-macam!" geramku mengancamnya.

Entah sudah berapa tarikan nafas berlalu, kami tertidur pulas kembali. Perasaan nyaman saat kulitku menyentuh kulit James, membuatku terlelap dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

***

07.00

"Alice!"

Tubuhku berguncang keras dengan suara cempreng memekakkan gendang telinga. Ketika membuka mata, hal pertama yang aku lihat adalah hidung lebar kembang kempis milik Sinta.

Aku mengeluh sebentar, menutupi wajahku dengan bantal. Kemudian teringat kenapa Sinta sudah marah pagi hari begini. Jangan-jangan?

Oh syukurlah

James sudah tidak ada di sebelahku. Aku bisa bernafas lega. Sementara Sinta, masih berdiri berkacak pinggang sambil menatap tajam kearahku.

"Apa?" tanyaku polos.

"Kita sudah berjanji akan membereskan rumah ini, dan kau masih ngorok!" gerutu Sinta kesal.

"Aku tidak ngorok!" Sergahku menyangkal.

Sinta menaikkan sebelah alisnya dengan skeptis. Dua menunjukkan rekaman aku sedang ngorok dengan mulut terbuka. Itu sangat memalukan.

"Baiklah," aku akhirnya percaya. Sinta tertawa saat mengulang rekaman itu.

Kami mulai membersihkan rumah Oliv yang sebenarnya tidak terlalu berantakan. Karena asisten rumah tangganya sedang pulang kampung. Dan rumah ini sudah kosong selama Oliv berada di rumah sakit.

Oliv cinta kebersihan. Selain mengidap Leukimia, dia juga pengidap OCD. Dan dia dilarang keras banyak pikiran. Itu akan menggangu proses pemulihannya.

Mencuci baju hal yang mudah, karena sudah dikerjakan oleh mesin. Satu-satunya masalah kami adalah menyapu dan mengelap secara manual. Karena mesin vakum Cleaner Oliv sedang rewel. Dan rumah Oliv besar layaknya istana presiden.

Butuh waktu setengah hari untuk menyelesaikan semua kekacauan di dalam rumah Oliv. Setelah itu, aku dan Cici berencana akan berbelanja untuk kebutuhan dapur Oliv yang kosong melompong.

Sinta bertugas menjaga Oliv dirumah, meskipun sebenarnya sudah ada perawat khusus yang di pekerjakan oleh ayahnya Oliv.

Tapi tugas perawat itu tidak termasuk menghibur Oliv. Sedangkan Sinta, adalah ahli menghibur. Meskipun hanya dengan bergosip ria.

"Ci, boleh aku bicara sesuatu?" tanyaku ragu saat kami dalam perjalanan ke pasar.

"Tentu, katakan saja,"

"Apa kau punya masalah?" pertanyaan simpati adalah hal bagus untuk memahami kenapa seseorang berbuat curang.

"Bagaimana kau tau?" tanya Cici terkejut. Aku hanya menunggu jawaban.

"Sebenarnya, papa sedang dalam ambang ke bangkrutan. Dan dia sedang berusaha mencari pinjaman,"

"Apa itu alasanmu memanipulasi keuangan toko kita?"

Cici langsung menepikan mobilnya. Dia masih melihat lurus kedepan. Aku bisa melihat bibirnya sedikit bergetar. Dia tidak tau mau mengatakan apa.

"Maafkan aku, Alice," katanya menunduk malu.

"Hei, aku bukan ingin menghakimi mu. Aku hanya ingin tau alasannya dan mungkin aku bisa membantu?" tukasku mengelus pundak Cici yang bergetar, dia sedang menangis.

Akhirnya, Cici tidak tahan lagi lalu memelukku sambil tersedu.

"Aku kalut, dan kau tau saat-saat seperti itu pelarian ku hanyalah berbelanja. Tapi keuangan keluargaku sedang kacau. Terpaksa aku melakukannya. Maafkan aku."

Aku Menepuk-nepuk pundaknya, "aku tau Cici. Tapi kau tidak bisa terus seperti ini."

Cici melepas pelukannya dan menunduk kembali, dia terlalu malu hanya untuk melihat mataku. Aku pun memegang pundaknya untuk melihat kedalam matanya.

"Seharusnya ini menjadi pelajaran. Bahwa menghamburkan uang untuk suatu hal yang tidak terlalu penting itu tidak bagus. Akhirnya kau terjerumus kedalam perilaku tidak baik bukan?" kataku menghindari kata korupsi.

Cici hanya mampu menunduk sambil menangis. Tapi aku terus meyakinkannya kalau semuanya baik-baik saja setelah kejadian itu. Kami bisa memulai lagi dan belajar mengelola keuangan lebih baik. Dia setuju dan sedikit bisa mengulas senyumnya.

Acara berbelanja ke pasar tidak cukup menyenangkan. Karena Cici heboh dan terus menggerutu tentang pasar yang lengket, basah, licin dan tidak higienis. Aku hanya bisa menanggapinya dengan tertawa.

Ikan dipasar justru lebih segar dari pada ikan dalam freezer. Kebanyakan pedagang menjual ikan hidup, kecuali ikan laut. Lagi pula, kami bisa menghemat hingga setengah harga super market.

Jika bukan karena iming-iming uang lebih yang bisa kami pakai untuk membeli camilan, Cici tidak mau ikut bersamaku ke pasar. Maklum saja, dia sudah kaya sejak lahir. Sedangkan aku? Sudah terbiasa hidup sederhana.

Saat sampai di rumah Oliv. Kami harus mengendap-endap berjalan ke halaman belakang. Karena di depan terdapat beberapa mobil mewah terparkir rapi. Jadi kami putus kan langsung masuk ke dapur.

Aku terlalu memperhatikan langkahku, dan ketika mendongak jantungku benar-benar melompat kaget. Aku hanya sempat melihat kaki yang dibalut sepatu hitam. Selanjutnya mulutku dibekap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gairah Paman Sahabatku   124. Awal mula

    Hari-hari berlalu, Renee hampir melupakan wajah August yang terus membayanginya. Setiap hari saat ke kantor, Antonio akan menanyakan perkembangan hubungan bisnisnya bersama August. Berharap mendapatkan respon secepat kilat dari August jika memanfaatkan Renee sebagai perantara. "Aku hampir bosan menjawab pertanyaan mu, " gerutu Renee saat tiba dirumah, dia sudah tidak tahan lagi. "Sayang, August menguasai sektor bisnis di inggris selatan. Jika kau bisa mempererat hubungan dengan perusahannya, kita punya posisi yang cukup kuat""Kau ini sudah tidak waras, Antonio!" geram Renee marah, "hubungan bisnis tidak dapat dibangun hanya oleh dua orang yang saling kenal saja!" "Tapi kau bisa menjadi lebih dari sekadar kenalan bukan?" Wajah Renee merah padam. Kemarahannya sudah tertahan sejak beberapa hari yang lalu dan sekarang Antonio memaksanya untuk meledak. "Kau mau aku jadi apa? Jadi rekan bisnis seperti wanita-wanita yang kau jadikan pacar dan mendapatkan beberapa persen saham mereka?"

  • Gairah Paman Sahabatku   123. August Beufort

    Saat masuk kedalam acara pesta, Antonio tak henti-hentinya memperkenalkan istrinya yang menawan kepada semua orang. Tapi Renee sudah terbiasa. Dia hanya perlu bersikap profesional. Di perusahaan milik Antonio, Brown enterprises inc, Renee memiliki jabatan penting. Itulah sebabnya dia harus selalu tampil percaya diri disetiap kesempatan. Lalu disana, di podium kehormatan. Berdirilah seorang pria bermata elang sedang tersenyum menyapa para hadirin. Augustin Beufort, seorang enterpreneur terkenal yang dipuja banyak wanita. Dari cara bicaranya, August sangat berwibawa, kharisma yang dipancarkannya membuat semua orang selalu tertarik mendengarkan apapun yang dia katakan. Renee melihatnya sebagai pria mapan berpengalaman dengan jam terbang bisnis yang tinggi. Antonio melihat ketertikan Renee. "Bagaimana? Kau sudah bertemu dengan tujuanmu?" Antonio berbisik ditelinga istrinya. Renee sedikit gugup, tapi dia mampu menjaga nada suaranya, "apa maksudmu?" Alih-alih terkejut, Renee memberik

  • Gairah Paman Sahabatku   122. Kolase masalalu

    "Hallo manisku, williamku" Wajah seorang wanita cantik sedang tersenyum sambil menyuapi James. Sesendok bubur hendak mendarat di mulutnya, membuat James tertawa. Tak sempat bubur itu menyentuh bibirnya, sendok sudah melayang jatuh ke lantai. Wanita itu memasang wajah marah, tapi itu malah membuat james merasa senang. Lalu seorang pria paruh baya yang berwajah kejam dan dingin datang. Menarik tangan wanita itu dengan kasar "Ayo, biarkan William bersama Gea", titahnya dingin, tak ingin ditolak. "Tidak, aku masih ingin bersama William", ucap wanita itu dengan nada yang tak kalah kasar. Dia menolak, dan melanjutkan menyuapi William. Pria itu menggeran kesal, "Gea! Cepat ambil alih Williammu ini" "Apa? Dia Williamku! Dasar pria tak berperasaan!" "Sudahlah, itu hanya ungkapan" "Tidak, aku tidak rela" "Renee, ayolah kota sudah terlambat" "Aku ingin bersama putraku saja, kau pergilah dengan wanita-wanita itu" Renee membuang muka.Dia berdecak sebal, tapi tetap duduk di depan Willia

  • Gairah Paman Sahabatku   121.

    Hari hampir terang, saat kekacauan di luar rumah keluarga Adams di bereskan. Tersisa tiga penyerang dari pihak musuh yang sengaja hanya ditembak bagian kaki-nya oleh seorang sniper di atap. Hal yang mengejutkan, salah satu penyerang merupakan seorang perempuan. Dia bertubuh kecil, dengan wajah licik. Senyumannya merupakan maut bagi pria hidung belang. " Aku sudah mengambil racun di gigimu, jadi tidak ada pilihan lain selain mengaku" Argus berkata tanpa basa-basi. Entah darimana Argus dapat mengetahui racun-racun itu. Tapi itu membuat penyerang -penyerang itu tidak punya pilihan lain. 'ciiihhh' wanita itu meludahi kaki Argus. Dia masih punya sopan santun karena tidak meludahi wajah. Jika tidak, James sudah akan menamparnya. "Aku tau kalian juga terpaksa melakukan penyerangan ini" Argus mulai melakukan pendekatan. "Jangan sok tau, dasar pria tua bangka!" Damprat wanita itu . Argus hanya tertawa geli, membuat wanita yang tidak ingin menyebutkan namanya itu semakin berang. " Sa

  • Gairah Paman Sahabatku   120. PoV James

    James bergegas pergi ke Alaska, setelah mendapat kabar kurang mengenakkan dari sepupunya, Corner. Hal yang selama ini di takutkan oleh bibinya telah terjadi. Untung saja dia menyimpan semua berkas-berkas kepemilikan lahan juga rumah mereka di tempat yang sangat aman. James, sedikit mengurangi kepercayaannya pada Scott, adiknya. Meski selama beberapa tahun ini bersama, tapi James sudah menemukan bukti-bukti yang memperkuat dugaannya selama ini. Sekretaris James , Argus bekerja dengan sangat baik. Bahkan terlalu cepat menurut nya. Argus memiliki jaringan di berbagai sektor. Untuk mendapatkan tiket pesawat saja, dia hanya membutuhkan satu panggilan. Dan dia langsung mendapatkannya. "Bagaimana menurut pendapatmu, Argus?" tanya James gusar pada pria paruh baya yang sedang membaca di layar notebooknya. Argus tersenyum tipis, " Lawan kita hanya pemalak kampungan tuan, tapi ...""Tapi apa?""Orang-orang di balik merekalah yang harus kita waspadai" "Hmmmmm... Apa ada kemungkinan ini aka

  • Gairah Paman Sahabatku   119,

    Luna tidak tenang. Dia tidak dapat tidur memikirkan kengerian jika sampai Aldrick Beufort juga menyukai Alice. "Sejarah akan terulang", pikiran Luna dan Nut sama. Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, Luna berusaha mengalihkan panggilan Aldrick dari ponsel Alice. Ya, dia menyadapnya. "Maafkan aku Alice, tapi aku tidak ingin kau terlibat dalam perang dingin para mafia itu" Luna bersikap biasa saja. Tidak menghalangi Alice bertemu Aldrick. Tapi tetap mengawasi gerak gerik mereka. Meskipun Luna tau itu bagian dari rencana Alice. Mungkin bisa saja mereka mendapatkan petunjuk melalui Aldrick. Jadi Luna tidak bisa berbuat banyak kecuali membatasi komunikasi mereka. ***"Kau kenapa?" tanya Luna pada Alice yang terlihat gelisah. "James belum kembali dan aku tidak dapat menghubungi nya selama dua hari ini" wajah Alice sangat cemas. Luna menepuk bahu sahabatnya itu dan bersimpati. Bayangan dia dan James pernah menjalani hubungan palsu yang menjijikkan terlintas dibenaknya. Tidak d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status