“Apa kamu tidak berniat pergi ke luar negeri untuk mengajak anak kita ke sini?” tanya Bima.Pertanyaan itu membuat Maria terdiam lama. Pandangannya jatuh pada meja kaca di depan sofa. Bayangan wajah kecil yang pernah ia lahirkan kembali muncul jelas di kepalanya. Hatinya terasa diremas tangan tak kasat mata hingga membuat dadanya sesak. Nasibnya begitu malang. Sejak awal, ia memang terpaksa menyerahkan buah hatinya kepada keluarga besarnya. Keputusan itu bukan lahir dari kerelaan, melainkan Ia tak bisa mengajak buah hatinya hidup di dalam penjara.Bima memandangi perempuan itu dengan saksama. Wajah Maria tampak pucat, matanya berkaca-kaca. Bima tahu luka itu belum pernah sembuh. Maria menarik napas berat, seolah setiap kata yang hendak ia ucapkan adalah sebuah beban yang begitu berat untuk ia pikul. Andai saja dulu dirinya tidak kabur dan mengikuti permintaan Maria. Mungkin sekarang dia dan Darren sudah hidup bahagia. Bukan Nayla yang di samping pria itu. Semua yang terjadi dalam h
Di sisi lain, tepatnya di sebuah apartemen mewah dengan dinding kaca tinggi yang langsung menghadap ke jalan utama kota, Bima dan Maria duduk berhadap-hadapan di ruang tamu. Suasana ruangan tampak dingin meski lampu temaram berwarna kuning menyala, menimbulkan bayangan samar di wajah keduanya.“Apa dia mengenalmu?” tanya Bima, menatap Maria tajam. Suaranya terdengar sangat pelan tapi jelas kalau dia benar-benar penasaran menunggu jawaban Maria.Yang dimaksud Bima tentu saja Mbak Siti, pengasuh Raja, yang tadi ditemui Maria di sekolah.Maria bersandar santai, meski matanya menyimpan sorot licik. “Kayaknya tidak. Aku menyamar menggunakan rambut palsu. Aku juga pakai kacamata, bahkan aku menambahkan tahi lalat di pipiku. Aku sangat yakin dia tidak mengenal suaraku. Mungkin karena dulu kami hanya pernah bertemu sekali, itu pun hanya sebentar,” jawabnya dengan santai.Bima menghela napas berat, lalu menyeringai tipis. “Lalu menurutmu, apa kita bisa segera menjalankan aksi kita kali ini? Ja
“Dandi sampai heran, karena Raja makannya hanya roti di sekolah, Bu,” ucap Mbak Siti saat makan siang bersama majikannya di meja makan keluarga Atmaja.Awalnya Mbak Siti sempat canggung duduk di meja yang sama dengan Darren dan Nayla. Tapi sejak pindah ke rumah itu, Nayla selalu meyakinkan bahwa dia sudah dianggap keluarga. Darren pun kerap menegaskan hal yang sama. Walaupun di awal sempat menolak karena merasa posisinya hanya sebagai pembantu rumah tangga, lama-lama Mbak Siti mulai terbiasa. Hanya saja, sesekali rasa kikuk itu masih muncul.“Oh ya? Dia bawa bekal sendiri apa belanja di kantin, Mbak?” tanya Nayla penasaran. Dia menyandarkan punggung di kursi, menatap Mbak Siti dengan raut wajah antusias.Jujur saja, Nayla makin tertarik ingin tahu soal teman putranya itu. Nama Dandi mulai sering terdengar di telinganya. Apalagi setelah Darren sempat cerita kalau Dandi sebenarnya hanya ingin dekat dengan Raja. Sayangnya Raja justru mengabaikan, membuat Dandi mencari cara lain untuk men
“Lagi nunggu anak majikan,” jawab Mbak Siti.Wanita berambut pirang dengan penampilan glamour dan kacamata yang membingkai wajahnya itu hanya mengangguk setelah mendengar jawaban Mbak Siti. Dia terlihat tidak banyak bicara, hanya berdiri sambil sesekali melirik ke arah halaman sekolah.“Pulang jam berapa anak-anak ini?” tanyanya lagi.“Kalau yang kelas satu sampai kelas tiga pulang setengah satu siang. Yang kelas empat sampai kelas enam pulang jam setengah tiga,” jelas Mbak Siti dengan tenang.Wanita itu kembali mengangguk. Gerak-geriknya seperti sedang memperhatikan sesuatu, seolah mengawasi. Namun tak lama kemudian, dia melangkah pergi keluar dari area sekolah.“Siapa ya orang itu?” gumam Mbak Siti dalam hati. Rasanya aneh. Kalau dia benar orang tua murid, mestinya sudah tahu jadwal pulang sekolah anak-anak di sini. Tapi kalau bukan orang tua murid, lalu siapa? Apa mungkin penjahat? Pikiran itu langsung melintas cepat di kepala Mbak Siti.“Ya Tuhan, jangan sampai ada penjahat masuk
Saat jam istirahat siang tiba, Raja bersiap keluar kelas menemui sang pengasuh. Dandi, yang duduk di sebelahnya sejak tadi sudah gelisah, langsung ikut mengekor. Dia membawa tas makannya sendiri, menjepit erat dengan kedua tangan. Demi apapun, perutnya benar-benar sudah keroncongan. Dari tadi dia hanya pura-pura kuat, padahal isi perutnya sudah konser. Mungkin Raja juga sudah mendengar kalau perut dan di terus keroncongan.Sayangnya, Dandi tidak berani menyentuh kotak makannya lagi di kelas. Ucapan Raja sebelumnya masih terngiang. Dia takut kalau makan terus-terusan, Raja makin sebal lalu benar-benar menyuruhnya pindah duduk ke belakang. Jadi sekarang, begitu jam istirahat tiba, kesempatan besar baginya untuk makan sepuasnya.“Sini, Nak,” panggil Mbak Siti ketika melihat Raja dan temannya datang. Pengasuh Raja itu sudah menyiapkan tempat duduk. Tangannya menepuk kursi kayu panjang di sisi taman sekolah. “Duduk sini, makan yang nyaman.”Dandi langsung sumringah. Begitu dengar suara ram
“Jadi menurutmu aku harus diet, tapi bagaimana kalau cacing-cacingku di dalam perut jadi kurus. Kata ibuku tubuhku gembul dan lucu, tapi kamu malah bilang aku kayak gentong. CK,” ucap Dandi diakhiri dengan decak kesal.Anak itu menutup kotak makannya dengan gerakan cepat. Kotak bekal berwarna biru dengan stiker karakter kartun itu langsung dimasukkan lagi ke dalam tas yang ibunya siapkan setiap pagi. Bekal itu masih tersisa cukup banyak, padahal biasanya Dandi akan menghabiskan sampai butir terakhir. Kali ini ucapan Raja membuatnya kehilangan selera.Setelah itu, Dandi meraih botol minum. Air di dalamnya tinggal separuh, langsung diteguk dalam beberapa kali. Sesudahnya dia menutup rapat kembali tutup botol itu dan meletakkannya di tempat minuman. Tangannya yang sedikit basah segera dilap dengan tisu, lalu ia mengusap mulutnya perlahan. Selesai membereskan semua, tatapannya kembali mengarah ke Raja yang duduk di hadapannya.“Kamu memang kayak gentong. Coba aja ngaca. Mana ada gembul lu