LOGINSore itu, udara terasa gerah saat Siren baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah pulang sekolah.Tanpa membuang waktu, ia bergegas mengganti seragamnya dengan pakaian rumahan yang lebih santai, lalu menghampiri Bi Sumi yang tampak sibuk menyiram deretan tanaman di halaman samping."Biar aku saja, Nek," ujar Siren lembut sambil mengambil alih selang air tersebut.Bi Sumi mengangguk, memberikan senyum tipis sebelum berjalan masuk untuk mengerjakan tugas rumah yang lain.Belum lama Siren menyiram tanaman, mobil Sean terlihat memasuki halaman rumah.Jantung Siren seketika berdegup kencang. Ia berpikir bahwa inilah saat yang tepat untuk ngomong.Meski ancaman Kenzi terus membayangi pikirannya, Siren merasa tidak sanggup lagi memikul rahasia itu sendirian.Baginya, Sean dan Elyssa wajib tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putri mereka, apa pun risikonya nanti.Siren pun mematikan air dan menyusul masuk ke dalam rumah.Ternyata Sean hanya mampir sebentar untuk mengambil dokumen yang te
Tak butuh waktu lama bagi Kenzi untuk menyempurnakan penampilannya.Begitu siap, ia bersama Siren langsung turun dan bergabung di meja makan.Sepanjang sarapan berlangsung, Siren yang duduk di ujung terus memperhatikan Elyssa dan Sean secara bergantian. Pikirannya berkecamuk.Setiap kali melihat wajah majikannya itu, Siren merasa beban rahasia di pundaknya makin berat. Tatapannya seolah-olah berteriak ingin membocorkan kelakuan Kenzi di club semalam.Kenzi, yang sedang memotong rotinya, menyadari tatapan gelisah Siren. Ia menangkap kegelisahan itu sebagai sebuah ancaman.Rasa panik mulai merayap di dada Kenzi. Ia takut jika Siren tiba-tiba kehilangan kontrol dan bicara jujur di depan orang tuanya.Kenzi akhirnya meletakkan garpunya dengan bunyi denting yang cukup keras dan buru-buru menyudahi sarapannya. "Ayo berangkat sekarang," ucapnya tiba-tiba.Elyssa menatap anak perempuannya dengan bingung. "Kok buru-buru, Zi? Masih ada waktu loh. Habiskan dulu sarapannya," tegur Elyssa lembut.
Pagi itu, Siren sudah sibuk di dapur membantu Bi Sumi menyiapkan sarapan. Walaupun begitu, matanya terus memperhatikan Sean yang sedang duduk di meja makan seraya perlahan menyesap kopi hitam miliknya.Tak lama kemudian, Elyssa pun muncul dengan pakaian ala wanita karir-nya, dan ikut bergabung di meja makan.Siren menghela napas panjang, tampak berpikir keras. ‘Aku harus melapor soal Non Kenzi. Mereka harus tau kalau tingkah anaknya sudah diluar batas. Tapi… aku ngomongnya gimana ya?’Setelah semua hidangan siap, Siren dan Bi Sumi mengantarkannya ke meja makan dengan gerakan cekatan."Siren, tolong panggilkan si kembar ya. Suruh turun sarapan," ujar Elyssa lembut tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya."Baik, Bu," jawab Siren sopan.Siren pun melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Jantungnya mulai berdegup tidak karuan saat kakinya sampai di depan pintu kamar Kenza.Kejadian semalam masih membekas jelas, membuatnya ragu untuk sekadar mengetuk pintu.Siren menarik napas panjan
Siren segera berbalik dengan langkah serampangan. Ia tidak peduli lagi ke mana kakinya melangkah, yang penting ia harus menjauh dari pintu kamar itu. Bayangan adegan di ranjang tadi terus berputar di kepalanya, membuat perutnya mual.Saat tiba di ujung lorong menuju lift, Siren berhenti mendadak. Ia bingung. Kalau ia turun ke bawah, ia harus melewati ruangan privat tadi, tempat pria-pria mabuk itu masih berkumpul. Tapi kalau ia diam di sini, Bagas dan Kenzi bisa keluar kapan saja dan memergokinya menguping.Siren akhirnya memilih masuk ke tangga darurat.Di sana ia duduk di salah satu anak tangga, memeluk lututnya yang masih gemetar hebat.Ia sendirian, dalam kondisi tidak pegang uang, tidak tahu jalan pulang, dan ponselnya pun tidak bisa digunakan untuk memesan ojek online."Gimana ini..." bisiknya sambil menahan tangis.Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu tangga darurat terbuka. Siren tersentak dan langsung berdiri dengan wajah pucat pasi.Ternyata itu Kenzi. Gadis itu sudah me
Gugup, bingung, dan takut langsung menyerang Siren sekaligus. Jantungnya berdegup liar. Ia tidak kenal siapa-siapa di sini. Orang-orang di ruangan itu mulai menatapnya dengan tatapan lapar dan merendahkan, seolah dia hanyalah mangsa yang ditinggalkan pemiliknya."Eh, tamengnya si Kenzi ditinggal tuh," celetuk salah satu pria sambil mendekat ke arah Siren. "Mumpung majikan lo lagi sibuk di atas, gimana kalau kita main juga?"Siren gemetar hebat, ia ingin lari tapi kakinya terasa seperti terpaku di lantai.****Sementara itu, di lantai atas klub tersebut, suasana jauh lebih sunyi namun mencekam. Bagas menarik Kenzi masuk ke dalam sebuah kamar hotel yang masih satu manajemen dengan klub malam itu.Tanpa menutup rapat pintu, Bagas langsung menyudutkan Kenzi ke dinding.Tanpa basa-basi, ia kembali mencium bibir Kenzi dengan kasar. Tangan laki-laki itu mulai bergerak liar, menyusup di balik crop top ketat yang dikenakan Kenzi."Gas
Tidak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah klub malam paling hits di Jakarta Selatan, milik ayahnya Bella.Begitu mereka turun, seorang pria dewasa sudah menunggu dan dengan mudahnya membawa mereka menerobos penjagaan ketat di pintu masuk tanpa harus menunjukkan identitas.Siren gemetar saat Kenzi menarik paksa tangannya untuk masuk ke dalam.Begitu pintu terbuka, suara dentuman musik langsung menghantam indra pendengarannya, terasa memekak di telinga. Cahaya lampu yang berkedip cepat membuat pandangan Siren sedikit pening.Tak sampai di situ, Kenzi kembali menarik Siren menyusuri lorong remang-remang menuju sebuah ruangan privat yang letaknya lebih tersembunyi.Begitu pintu yang berat itu terbuka, mereka langsung disambut aroma alkohol dan asap rokok yang menyeruak tajam. Ruangannya memang tidak terlalu besar, tapi terlihat sangat eksklusif dengan sofa kulit yang melingkar dan lampu neon redup yang memberikan kesan misterius.Di sana, hanya ada enam orang.Yang pertama,







