로그인William melajukan mobilnya menuju rumah Nozela, dia menatap beberapa makanan dari mamanya dan juga dari dirinya. Dia tersenyum tipis karena tak sabat bertemu dengan Nozela. Beberapa menit kemudian William sampai di rumah Nozela, dia lekas keluar dari mobil sambil membawa makanan ditangannya. William berjalan masuk ke teras rumah Nozela kemudian membunyikan belnya.
Ceklek.
"Den Liam, malam den." sapa Bik Jum.
"Malam bik, Ojel ada?"
"Kebetulan non Ojel lagi keluar sa
William mengendarai mobilnya dengan tenang, sejak dia dan Clarissa keluar dari apartemen, tak ada satu pun dari mereka yang memulai obrolan. Clarissa masih kesal dengan kejadian dimana dia tak jadi melepaskan kerinduan dengan sang kekasih, dia merasa William sengaja menghindarinya.Clarissa melirik William yang terlihat fokus mengemudikan mobilnya, kedua tangannya terkepal erat saat William sama sekali tak membujuk atau mengajaknya bicara."Liam kenapa saih? Nggak biasanya dia kaya gini." batin Clarissa kesal.Dia lebih memilih menatap keluar jendela dari pada harus melihat William yang akhirnya hanya membuatnya kesal sendiri.Disebelah Clarissa, William sejak tadi menyadari jika kekasihnya kerap kali melirik dirinya. Namu dia bingung harus bagaimana menyikapi situasi canggung ini. Dia yakin pasti Clarissa kecewa padanya, tapi dia sendiri juga tak bisa melakukan itu. Entah apa yang membuatnya seperti ini dia juga bingung.Dua puluh menit kemudian m
Nozela melajukan mobilnya menuju rumah, setelah pulang dari kafe dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu sebelum ke rumah William. Sampai di rumah Nozela segera masuk lalu naik ke kamarnya, dia meletakkan tasnya ke atas meja lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang."Huft." Nozela menghela nafas pelan.Ting.Nozela mengambil ponselnya yang terdapat sebuah pesan, dia menatap nomor baru dari layar pop up ponselnya."Nomor siapa nih?" gumamnya.Ting.Ponselnya kembali berdenting, dia melihat pesan dari nomor yang sama."Drake?"Nozela membuka pesan itu yang ternyata dari Drake, dia lekas menyimpan nomor Drake.Drake: udah sampai rumah?"Nozela memutuskan membalas pesan dari Drake, dia masih merasa tak enak pada Draka karena tidak diperolehkan membayar makanannya.Me: udah, belum lama.Ting.Drake: (send pict) menu baru di kafe, aku harap kamu datang buat coba menu barunya.
"Segini cukup?" Tanya Nozela sambil mengambil beberapa kertas lipat.Thalia menghitung kertas lipat ditangan Nozela kemudian mengangguk. "Cukup.""Kita mau beli apa lagi?" tanya Nozela sambil meletakkan kertas lipat ke dalam keranjang belanjaan.Thalia menatap barang-barang yang ada di `toko itu, dia juga bingung hendak membeli apa agi untuk bahan proyeknya bersama anak-anak yang dia ajar."Gimana kalo lo kasih hadiah buat mereka Tha? Itung-itung reward buat mereka. Lo tenang aja, kali ini hadiahnya biar gue yang beli.""Eh, nggak usah Jel. Gue masih punya uang kok.""Udah nggak papa, gue juga pengen berbagi sama mereka. Kita ke sana yuk." ajak Nozela.Thalia mengangguk, dia mengikuti Nozela pergi ke etalase berisi buku notes dan beberapa alat tulis lainnya."Ini lucu banget." ucap Nozela mengambil buku kecil bergambar boneka."Itu pasti mahal Jel, beli yang lain aja."Thalia merasa tak enak pada sahabatnya, Nozel
Ting.Clarissa: hari ini kamu jemput aku kan?William menatap pesan pada layar ponselnya yang memperlihatkan room chatnya dengan Clarissa, dia menghela nafas pelan sebelum membalas pesn dari kekasihnya. Meski sudah berusaha mencoba memaafkan Clarissa namun masih ada sedikit rasa kesal dan kecewa di hati William.Apa lagi Clarissa menolak untuk meminta maaf pada Nozela, hal itu semakin membuatnya marah pada kekasihnya. Namun karena rasa sayang yang dia miliki pada Clarissa membuat perasaan itu bisa ditekannya, dia akan kembali menerima Clarissa asal kekasihnya itu tidak melakukan hal yang membuatnya kembali kecewa.Jemari tangan William lekas membalas pesan itu, dia tak ingin membuat Clarissa terlalu lama menunggu balasan darinya. Dia memutuskan untuk menjemput Clarissa seperti biasa dan memperbaiki hubungan mereka yang sempat merenggang.Setelah selesai membalas pesan dari kekasihnya, William bangkit dari ranjang kemudian bersiap
Thalia duduk didepan meja rias Nozela, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya lalu meletakkannya ke atas meja. Dia mengambil masker miliknya kemudian mengaplikasikan ke seluruh wajahnya dengan telaten, masker berwarna putih itu seketika memenuhi wajahnya."Sambil nunggu kering tiduran dulu deh."Thalia bangkit dari duduknya lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang sambil memainkan ponselnya. Sepuluh menit kemudian dia meoleh ke arah pintu yang masih terbuka, Nozela tak kunjung kembali masuk ke kamar. Thalia bangkit dari tidurnya kemudian berjalan keluar."Apa Ojel masih makan?" gumamnya.Thalia menuruni anak tangga menuju dapur, lampu ruang utama sudah dipadamkan hingga kini hanya cahaya remang-remang yang menyinari ruangan luas itu.Thalia masuk ke dapur namun sudah tak ada tanda-tanda sahabatnya disana, Thalia kembali keluar dari dapur dan berjalan kembali ke ruang tamu. Dia celingukan sendirian di ruang tamu, tiba-tiba sekujur tubuhnya tera
Thalia menatap ke arah tangga dimana kedua sahabatnya sudah pergi selama kurang lebih dua puluh menit, dia yang sudah selesai makan dan sedang memakan snack yang dibawa William tadi merasa penasaran dengan papa yang sedang mereka lakukan hingga selama itu."Mereka nggak lanjut berantem di kamar kan?"Thalia meletakkan bungkus snack itu ke atas meja, dia membereskan sampahnya kemudian berdiri dari duduknya."Gue harus susulin mereka."Thalia segera berlari dan menaiki anak tangga, sampai didepan kamar Nozela dia menempelkan telinganya ke pintu. Namun dia tak bisa mendengar suara apapun dari luar."Kok nggak kedengeran?"Thalia menangkat tangannya kemudian mulai menarik handel pintu kamar Nozela, dia memasukkan kepalanya ke dalam namun tak melihat keberadaan Nozela dan William."Mereka kok nggak ada? Apa di balkon ya?"Thalia kemudian masuk perlahan ke dalam kamar, dia menutup pintu amat pelan suapaya tak mengeluarkan bunyi. Dia
Drrtt Drrtt Drrtt Clarissa yang tengah bersantai di tepi kolam renang merasa terganggu dengan getaran ponselnya. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja sebelahnya. Dia mengerutkan kening saat melihat nomor baru terus menelponnya.
Drrtt. Drrtt. "Siapa sih pagi-pagi nelpon." Masih dengan mata terpejam, Nozela meraba nakasnya. Setelah menemukan ponselnya, Nozela mengangkat panggilan entah dari siapa. "Haloo." Ucap Nozela lemah. "Sayang, kamu belum ban
Leon menghentikan mobilnya didepan sebuah kafe yang lokasinya tak jauh dari dari rumah sakit. Dia turun dari mobil lebih dulu kemudian membukakan pintu untuk Nozela. Nozela keluar dari mobil dengan wajah datarnya, meski tadi sudah sepakat untuk berbaikan dengan Leon dia masih sedikit kesal apa la
"Mau kemana pah?" Tanya Nozela pada papanya yang sudah berpakaian rapi. "Loh, kamu belum siap-siap Jel?" Nozela menggelengkan kepalanya lalu duduk di sebelah Andito. "Emang mau kemana pah?" "Kita kan mau makan malam sama Om Jimy dan Tante Mona, emang m







