로그인Kricik..
Kricik...
William memainkan kakinya didalam kolam renang, dia menendang-nendang air yang semula tenang itu hingga menjadi bergelombang. Matanya menatap pantulan bayangan tubuhnya di permukaan air, wajah tampan itu terlihat tenang seperti tak memiliki beban apapun.
Kepala William perlahan mendongak menatap langit malam yang gelap, tak ada satupun bintang yang menghiasi langit yang hitam itu seolah mendukung perasaannya yang mulai menggelap dan tak ada seberkas cah
Leon duduk di sofa ruang tamu, dia menoleh saat mendengar suara heels beradu dengan lantai yang suaranya terdengar nyaring. Dia sedikit terpaku pada calon tunagnanya yang terlihat sangat cantik, dia pun segera berdiri dari duduknya.Tatapan Leon tak beralih sedikit pun dari Clarie yang memakai mini dress berwarna hitam dengan heels berwarna merah menyala. Wajahnya terlihat imut dengan poninya yang sedikit menutupi keningnya, namun kesan seksi masih melekat pada Clarie yang kini sudah semakin dekat dengannya."Ayo, aku udah siap." ajak Clarie sambil tersenyum manis.Leon menangguk, dia pun mengambil alih kado yang dibawa Clarie untuk sepupunya."Ayo."Clarie segera meraih lengan Leon kemudian merangkulnya, mereka berdua pun segera keluar dari rumah Clarie. Sampai di luar, Leon membukakan pintu mobil untuk Clarie dia kemudian membuka pintu belakang dan meletakkan kado untuk Drake ke kursi belakang. Leon pun lekas masuk ke dalam mobil kemu
"Fela, tolong tata minumannya disebelah sana.""Baik pak."Fela membantu beberapa temannya yang sedang memindahkan minuman ke rak bartender, sejak petang dia bersama beberapa pelayan yang dipilih untuk membantu acara ulang tahun Drake tampak sibuk dengan pekerjaan mereka.Dia menatap dekorasi pesta ulang tahun Drake yang sangat mewah, hidangan dan juga minuman beralkohol yang ada pun semuanya berkualitas premium. Namun dalam hati Fela, dia merasa gelisah. Belum juga acaranya dimulai namun dia sudah takut lebih dulu.Selesai menata minuman itu ke rak, seluruh pelayan dikumpulkan untuk briefing. Fela berdiri paling belakang sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok, dia menatap kedua tangannya yang mulai tremor."Untuk semua pelayan maupun bartender, ponsel kalian saya sita selama acara ini berlangsung. Setelah acara selesai, kalian bisa mengambil ponsel kalian di ruangan saya."Deg!"Apa? Ponselnya disita?" batin Thalia.Beberapa
"Mau pake yang mana ya?"Nozela menatap beberapa dress yang bernuansa gelap, dia sempat melihat dress code diundangan bahwa harus menggunakan pakaian bernuansa gelap. Nozela mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagu, dia kemudian menghela nafas pelan karena tak ada dress yang menurutnya cocok.Gadis cantik itu kembali masuk ke ruang walk-in closet, dia membuka lemari berisi tumpukan rok-rok miliknya. Tatapannya jatuh pada ruffled skirt berwarna hitam, dia pun segera mengambilnya dan beralih mencari atasan yang cocok."Gue pakai yang mana ya?" gumam Nozela.Dia mulai memilih-milih atasan dan mengambilnya satu persatu."Pakai ini kayanya cocok."Pilihan Nozela jatuh pada halte top berwarna senada, dia juga mengambil cardigan untuk dipakainya nanti. Setelah selesai menentukan pilihannya, Nozela segera pergi merias wajahnya. Dia akan tampil semaksimal mungkin, dia tak ingin mengecewakan Drake.Drrtt..drr
William mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia mencegkeram setir mobilnya dengan erat, tatapannya tajam meatap jalanan didepannya. Sejak pagi pikirannya mulai kacau saat mendengar Nozela hendak pergi ke pesta ulang tahun Drake yang diadakan di sebuah Club malam.Dia sangat khawatir dengan sahabatnya pasalnya Nozela belum terlalu dekat dengan Drake apa lagi Drake merupakan sepupu dari Leon. Melihat sikap Leon selama ini yang masih mengejar-ngejar Nozela membuatnya takut jika Leon bekerja sama dengan Drake untuk mencelakai Nozela."Sial, kalau ini nggak sama pentingnya gue lebih milih mantau Ojel dari pada harus ke Bandung."William memukul setir mobilnya dengan kencang, dia sangat kesal dan marah saat ini. Jika bukan permintaan papanya untuk menemui pamannya di Bandung dan mengambil berkas pekerjaan, dia tak akan mau melakukan ini.Sepulang dari kuliah William bergegas pergi menuju Bandung, dia tak ingin sampai Jakarta larut malam karena m
Drrtt...ddrrrtt.Nozela menatap ponsel disebelahnya yang bergetar, dia mendapati nama sahabatnya yang menghubunginya. Nozela segera menyelesaikan ikatan tali pada sepatunya lalu mengangkat panggilan itu."Halo Liam.""Lo udah berangkat?""Belum, masih di rumah. Ada apa?""Nanti lo sibuk nggak, temenin gue ke Bandung."Nozlea teringat jika hari ini dia harus menghadiri birthday party Drake, jika dia menemani William ke Bandung maka di akan telat menghadiri acara Drake atau bahkan mungkin tak bisa datang."Jel, kok lo diem sih?""E-Em, emang Clarissa kemana?""Nanti malem dia acara sama keluarganya jadi nggak bisa nemenin."Nozela menggaruk kepalanya yang tak gatal, entah kebetulan dari mana Clarissa dan dirinya memiliki acara yang sama. Dia tak bisa menemani William pergi ke Bandung, semua sudah terencana untuk pergi ke ulang tahun Drake."Liam, sorry banget gue j
"Dor."Nozela terkejut saat dikejutkan suara dari belakang tubuhnya, dia menoleh dan mendapati Thalia sedang tertawa sambil menatapnya."Ngangetin aja sih Tha."Thalia segera duduk disebelah Nozela, dia meletakkan jusnya dimeja kemudian menatap sahabtanya yang terlihat sedang bengong."Ada masalah apa lagi?" tanya Thalia.Nozela menghela nafas pelan, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya kemudian memberikannya pada Thalia."Apa nih?" tanya Thalia menerima sebuah undangan kecil berwarna hitam."Birthday party Drake." ucap Thalia membaca tulisan yang ada dikartu undangan.Thalia menatap Nozela. "Undangan ulang tahunnya Drake?"Nozela menanggukkan kepalanya. "Iya, besok di Club.""Apa? Club malam?" ucap Thalia terkejut.Nozela kembali mengangguk. "Iya Tha, besok jam delapan malam.""Lo mau dateng Jel?"Nozela hanya mengedikkan bahunya, dia sebenarnya ragu untuk datang ke acara itu. Apa
"Gimana, diangkat nggak?" tanya Lego.Archen menghela nafas pelan, dia menjauhkan teleponnya dari telinga lalu menggeleng pelan. Lego ikut menghela nafas kasar, mereka sudah beberapa kali mencba menghubungi sahabatnya namun William tak mengangkat panggilan mereka.Archen menyimpan p
"Lo jangan asal ngomong Tha." ucap Nozela sambil melirik ke kanan kiri takut ada yang mendengar ucapan Thalia barusan.Thalia menghela nafas panjang. "Terus apa dong? Gue jadi makin penasaran tahu nggak.""Mending lo cerita sekarang aja." sambung Thalia."Tck, takut ada yan d
Nozela berlari menaiki anak tangga menuju lantai empat, meski nafasnyasedikit ngos-ngosan namun tak menghentikan langkah kakinya menuju kelas. Dia mengusap keningnya yang mengeluarkan butiran keringat kecil, dengan rasa penasaran yang tinggi dia terus berlari hingga sampai pada sebuah kelas yang
"Jel."Nozela membelakan matanya ketika mendengar suara yang sangat familiar memanggilnya, padahal dia sudah sengaja lewat koridor yang jarang dia lewati karena jaraknya lebih jauh menuju kelasnya. Tak lama terdengar suara sepatu yang mendekat ke arahnya, dia pun bingung harus bagaimana.







