MasukBab 4
Irina membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kasar. Kamar hotel mewah ini adalah kamar yang sengaja ia booked untuk kemarin malam saja sebagai tempat transit, sebelum ia berencana memberikan kejutan dengan langsung pulang ke apartemen Irish. Namun takdir berkata lain. Ranjang ini justru menjadi tempat pelariannya setelah melarikan diri bagai buronan dari kamar suite mewah beberapa jam yang lalu.
Ia merasakan tubuhnya remuk. Setiap persendiannya seolah protes, rasa perih dan lelah yang luar biasa di pangkal pahanya.
Pandangannya menatap kosong langit-langit kamar hotel. Perlahan, cuplikan memori kejadian semalam bagai puzzle yang mulai tersusun satu demi satu di otaknya. Sentuhan tangan yang besar, ciuman panas yang menuntut, desahan liar, hingga rasa sakit yang luar biasa saat pria itu menabrak dinding tipis pertahanannya.
Irina meremas selimut hotel dengan erat, lalu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. “KAU GILA, IRINA!” umpatnya pada diri sendiri.
Suaranya menggema di dalam kamar yang sunyi. Meski ia tahu semua itu terjadi karena pengaruh obat perangsang yang membakar kesadarannya, ia tetap tidak menyangka akan melakukan hal gila itu sepanjang malam bersama pria yang baru saja ia temui.
Selama 29 tahun hidup di dunia glamor sebagai artis dan desainer papan atas, ia selalu menjaga keperawanannya dengan ketat di tengah liarnya pergaulan. Namun tadi malam, mahkota berharga itu hilang begitu saja dengan seorang pria asing di sebuah kota kecil ini.
“Damn!” Irina memukul kasur dengan frustrasi. Matanya menyala penuh amarah. “Semua salah mereka!”
Napasnya memburu saat rasa geram membakar dadanya. Irina mengingat kembali bagaimana semua hal mengerikan itu berawal. Ini semua terjadi karena ia dijebak oleh para pria paruh baya bau tanah rekan bisnisnya dan beberapa rekan sesama desainer yang iri dengan pencapaiannya. Mereka sengaja memasukkan sesuatu ke dalam sampanyenya.
“Aku harus cari tahu siapa yang berani bermain-main denganku! Kalian pikir aku wanita murahan yang bisa kalian gilir setelah kalian beri obat? Kurang ajar!” desisnya penuh ancaman.
Irina kemudian menutup mata erat-erat, mencoba memutar kembali memori samar di otaknya. Di antara semua kabut gairah semalam, ada satu hal yang ia cari. “Tapi… siapa nama pria semalam?”
Irina memijat pelipisnya yang berdenyut. Suara berat pria itu terngiang samar. “Yan? Lan?”
Tiba-tiba, ingatan saat bibir pria itu menjilati telinganya dan membisikkan sebuah nama membuat matanya membelalak. Irina membekap mulutnya sendiri. “I-ian?”
Nama itu terasa begitu asing sekaligus akrab di lidahnya. Irina mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak menggila. “Inhale… exhale…”
Ia meraba dadanya yang berdegup kencang. Setidaknya, jika ia harus kehilangan kesuciannya dalam kondisi tidak berdaya, itu terjadi dengan pria yang luar biasa tampan, bertubuh atletis, dan semalam benar-benar memberikan kesan yang begitu mendalam meski ia hanya mengingatnya samar-samar. Tato gagak abstrak di dada pria bernama Ian itu bahkan masih terbayang jelas di pelupuk matanya.
Namun, fokus Irina tidak boleh teralih oleh pria misterius itu. Ada hal mendesak yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
“Kalian… yang sudah mencari masalah denganku! Tunggu saja!”
Irina bangkit dari tidurnya dengan sentakan kasar, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di tubuh bagian bawahnya. Dengan tatapan mata yang dingin, ia melangkah tegas menuju kamar mandi.
Ia adalah Irina Harold. Dia bukan wanita lemah. Ia memiliki karakter yang mirip dengan sang Ayah—Austin Harold. Seorang pria bangsawan dan pebisnis handal di Kota Berlin. Tidak ada yang tidak mengenal sosok sang Ayah. Pria dingin dan tak kenal ampun.
Irina bersumpah akan memberikan bayaran yang setimpal, bahkan jauh lebih menyakitkan untuk orang-orang yang sudah berani mengusik dan menjebaknya tadi malam.
Dan di sinilah Irina saat ini. Setelah berganti pakaian yang lebih kasual namun tetap memancarkan aura mahal, ia berjalan tegas menuju area office club Der Hirsch. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang menuntut.
“Saya ingin bertemu manajer kalian,” ucap Irina langsung tanpa basa-basi begitu tiba di depan meja administrasi kantor.
Staf wanita yang berjaga di sana menatap Irina dengan pandangan menilai sebelum menjawab formal, “Maaf Nona, manajer kami sedang tidak berada di tempat.”
Irina berdecak kesal. Waktunya terlalu berharga untuk dihabiskan dengan alasan klise seperti ini. “Kalau begitu di mana area CCTV? Ada yang harus saya cek.”
“Maaf Nona, kami tidak bisa memberikannya. Yang dapat melihat rekaman CCTV hanya petugas keamanan dan pihak kepolisian jika ada kasus—”
Sebelum staf itu menyelesaikan kalimat penolakannya, Irina dengan gerakan elegan mengeluarkan sebuah kartu prioritas hitam metalik dari dalam dompetnya. Kartu VVIP Platinum eksklusif yang hanya dimiliki oleh segelintir kaum elite dan berlaku untuk semua klub serta tempat hiburan kelas atas di seluruh dunia.
Staf tersebut mengernyitkan kening, membolak-balik kartu tersebut dengan bingung. “Ini... kartu apa?” tanyanya polos. Tentu saja dia tidak tahu, karena hanya petinggi dan pemilik saham industri hiburan papan atas sajalah yang mengenali kekuatan di balik kartu metalik itu.
Irina benar-benar kesal melihat kebodohan staf di depannya. Ia berdecak kasar, merebut kembali kartunya, lalu berbalik pergi. Berdebat dengan bawahan yang tidak tahu apa-apa hanya akan membuang energinya.
Akhirnya ia keluar dari area kantor. Cuma satu orang yang bisa dia andalkan dalam situasi mendesak seperti ini. Sambil berjalan menuju pintu keluar klub, Irina merogoh ponselnya dan dengan cepat mengetik pesan singkat ke sahabatnya yang merupakan seorang hacker handal sekaligus pemilik jaringan bisnis legal.
“Bantu aku cek dan retas CCTV di klub Der Hirsch, Monschau.”
Pesan balasan masuk hanya dalam hitungan detik. “Kau ada masalah?”
“Nanti aku ceritakan. Kirimkan salinannya secepatnya,” balas Irina tak sabaran.
“Ok. Tanggal dan jam?”
Setelah Irina mengirimkan detail waktu gala dinner hingga saat ia tak sadarkan diri semalam, ia memutuskan untuk menunggu di lobi hotelnya yang berada tidak jauh dari lokasi klub.
Tidak sampai beberapa menit setelah ia duduk di sofa lobi hotel, ponsel Irina berdenting. Sebuah file video terenkripsi masuk ke surelnya. Irina tersenyum sumringah. Sahabatnya memang tidak pernah mengecewakan. Ia sudah berhasil mendapatkan salinan penuh rekaman CCTV tentang kejadian semalam.
Ia langsung membuka hasil rekaman tersebut di layar ponselnya. Matanya yang tajam melacak setiap pergerakan di sudut bar VIP. Begitu melihat siluet dua rekan bisnis paruh bayanya yang dengan licik memasukkan sesuatu ke dalam gelas sampanyenya, tangan Irina mengepal kuat.
“I got you!” desis Irina tajam. Senyum kemenangan yang dingin terukir di bibirnya. Wajah-wajah pria brengsek itu tertangkap dengan sangat jelas oleh kamera beserta dua rekan yang tidak ia duga telah mengkhianatinya. “Sampah!”
Setelah selesai dengan urusan utamanya, seharusnya Irina menutup ponsel dan langsung menyusun rencana untuk menghampiri serta menghancurkan orang-orang yang sudah berniat jahat dengannya itu. Tapi, rasa penasaran yang teramat besar mendadak menyelimuti dirinya.
Bayangan pria yang memeluknya semalam kembali terngiang.
“Sekalian saja kuperiksa,” gumamnya lirih.
Irina menggeser timeline video tersebut, mempercepat rekaman hingga ke detik-detik di mana ia berjalan terhuyung-huyung ke koridor privat yang sepi. Di layar ponselnya, ia bisa melihat dirinya sendiri yang hampir ambruk, sebelum akhirnya ditangkap oleh seorang pria bertubuh tegap dan tinggi.
Namun, saat video itu menampilkan momen di mana pria itu membopong tubuhnya masuk ke dalam kamar suite, napas Irina mendadak tercekat.
“Dia…?” Matanya membelalak lebar.
Ciuman itu terkesan liar, menuntut, dan penuh keterdesakan. Killian menyesap dan memagut bibir Irina tanpa memberi celah sedikit pun untuk bernapas. Irina yang semula hendak memberontak, mendadak kelabakan. Sentuhan intens dan napas hangat Killian yang membakar perlahan mengikis akal sehatnya, memancing Irina untuk ikut terhanyut ke dalam pusaran gairah yang menggelap.Tanpa melepaskan pagutannya yang makin dalam, jemari Killian yang lapar bergerak cepat meraih tuas di samping jok pengemudi, memundurkan kursi kemudinya ke belakang untuk memberi ruang lebih. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Irina dengan mudah, memindahkan dan memangku wanita itu tepat di atas tubuhnya.Dengan napas memburu dan tatapan mata yang gelap oleh gairah, tangan Killian menyusup cepat ke dalam kaos yang dikenakan Irina. Ia menaikkannya ke atas, meraup dan meremas payudara kenyal wanita itu dengan rakus dan tidak sabaran."Oh, shit ... Ian ..." desah Irina tertahan saat rasa sensual yang menyengat menyapu s
Mau tidak mau, Killian akhirnya menyebutkan lokasi keberadaannya saat ini. Begitu mendengar alamat jalan yang dimaksud, Irina langsung memutuskan panggilan secara sepihak.Di dalam kamar hotelnya, Irina panik luar biasa. Ia menyambar blazer hitam seadanya dari atas tempat tidur, mengenakannya terburu-buru di atas pakaian santainya, lalu meraih kunci mobil. Ia keluar kamar tanpa memedulikan penampilannya lagi.Irina menyetir dengan gila-gilaan menembus kegelapan malam Kota Monschau. Pikirannya melayang pada ingatan kelam malam itu—saat ia menyaksikan sendiri bagaimana rapuh dan tersiksanya Killian ketika serangan anxiety menghantam pria itu.Dua puluh menit membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mata tajam Irina akhirnya menangkap bayangan mobil sport milik Killian yang terparkir di bahu jalan yang sepi.Irina menginjak rem mendadak, menghentikan mobilnya tepat di belakang kendaraan Killian. Ia bergegas keluar, berlari menghampiri mobil pria itu. Irina membuka pintu pengemudi lal
Plak!Cassian menghentakkan telapak tangannya keras ke atas meja kerja mahogani, membuat dokumen di atasnya bergetar. "Killian! Jaga ucapanmu!""Aku sudah cukup diam dan mengikuti semua aturan mainmu, Ayah!" potong Killian dengan nada suara yang meninggi, kehilangan seluruh ketenangan yang selama ini ia jaga. "Aku membiarkanmu mengatur hidupku, karierku, bahkan identitasku di rumah sakit! Tapi kalau Ayah pikir bisa terus menyembunyikan kebusukan dan ancaman di balik nama besar keluarga ini ... Ayah salah besar."Cassian menatap tajam putra sulungnya, matanya menyipit berbahaya. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau lawan, Killian. Jangan kekanak-kanakan!""Justru karena aku tahu bahayanya, aku tidak bisa tinggal diam!" tukas Killian dingin. Pria itu memperbaiki posisi jasnya, mengambil satu langkah mundur menjarahi tatapan mengintimidasi sang ayah. "Jika Ayah tidak mau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, aku akan mencarinya sendiri. Dengan atau tanpa izin darimu.""Killian!"
"File apa yang sampai membuat Ayah begitu murka? Apa ada hal yang seharusnya tidak kami ketahui?" tanya Killian tajam, melangkah maju satu tapak dengan sorot mata menuntut setelah mendengar penuturan sang ayah.Cassian menatap nyalang pada Killian, napasnya masih terengah oleh amarah yang membakar dada. "Belum waktunya kau mengetahui hal ini, Killian!" bentaknya dingin. Pria paruh baya itu lalu menoleh, menancapkan tatapan membunuhnya pada Kane. "Kembalikan file tersebut, Kane!"Kane mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan, lalu terkekeh pelan. "Aku bahkan tidak tahu sepenting apa file yang hilang itu. Sekalipun Anda membunuhku malam ini, file itu tidak akan pernah Anda temukan. Karena sepertinya ... Anda salah tangkap, Tuan Cassian yang terhormat."Kane memutar tubuhnya sedikit, melemparkan tatapan sinis yang penuh provokasi tepat ke arah Killian. "Kenapa Anda tidak menaruh curiga sedikit pun pada putra sulung Anda yang sempurna ini? Bukannya dia yang paling m
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu, Sayang," ucap Killian seraya menatap lembut Irish sebelum ia menutup pintu mobil kekasihnya itu."Hmm, tidak masalah," sahut Irish singkat dari balik kemudi, memberikan senyuman tipis yang tak tersentuh."Kamu hati-hati di jalan ya."Irish mengangguk paham, lalu jemarinya menyalakan mesin kendaraan mewahnya yang berdesung halus. Tanpa sepatah kata tambahan, mobil dokter cantik itu bergerak meninggalkan pelataran hotel.Begitu kendaraan Irish melaju dan menghilang di belokan jalan, raut wajah Killian seketika mengeras kaku. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar menuju mobil sport miliknya. Pria itu masuk, menghidupkan mesin, dan langsung menancap gas dalam-dalam menembus kegelapan malam menuju kediaman utama keluarga Cassian Russo.Begitu tiba di rumah megah bak benteng itu, Killian melangkah terburu-buru masuk ke dalam. Sepatunya menghentak lantai marmer dengan irama kuat saat ia berjalan menuju ruang kerja sang ayah di lantai dua.Pintu gand
"Tidak seperti itu, Sayang. Kamu terlihat cantik bukan karena gaunnya milik siapa, tapi karena kamu yang memakainya," ujar Killian jujur. Suara beratnya terdengar begitu lembut, berusaha menenangkan badai terselubung di dalam mata kekasihnya.Irish tersenyum tipis, mengusap pelan rahang tegas Killian. "Terima kasih, Sayang."Ringtone bernada standar mendadak memecah ketegangan halus di antara mereka. Killian merogoh saku jasnya dan melihat layar ponsel. Nama Lucas—asisten pribadinya—terpampang di sana. Jika pria kepercayaan itu menelepon di jam seperti ini, artinya ada hal yang sangat krusial.Irina yang duduk di atas kasur sontak menoleh, menatap Killian dengan kening berkerut penasaran."Aku izin angkat telepon sebentar ya, Sayang," pamit Killian pelan.Irish mengangguk anggun. "Iya, angkat saja."Pria bertubuh jangkung itu segera berdiri, melangkah cepat menuju pintu balkon kamar. Ia menggeser pintu kaca tersebut, berdiri di ambang batas ruangan sembari jemarinya memegang tir







