مشاركة

Bab 5 | Mendesak

مؤلف: MAMAZAN
last update تاريخ النشر: 2026-07-13 17:53:20

Bab 5

“Di mana Dokter Irish?”

Pertanyaan dingin yang keluar dari bibir Killian membuat suasana lobi rumah sakit yang semula sibuk mendadak senyap seketika. Dua orang residen yang tadi menyapanya langsung menunduk dalam, tidak berani menatap sepasang mata elang di balik kacamata pria itu. Aura intimidasi yang dipancarkan sang dokter spesialis penyakit dalam pagi ini terasa berkali-kali lipat lebih mencekam dari biasanya.

Amelie yang kebetulan baru saja keluar dari ruang administrasi setelah mengantar berkas, tersentak mendengar nama seniornya disebut dengan nada sekeras itu. Ia buru-buru melangkah mendekat, mencoba menekan rasa takutnya.

“M-maaf, Dokter Killian,” ucap Amelie dengan suara agak bergetar. “Dokter Irish baru saja masuk ke ruang operasi jam tujuh tadi. Beliau sedang menangani operasi bypass jantung darurat untuk Tuan Weber.”

Killian tidak menjawab. Rahangnya mengeras, menyamarkan geraman gusar yang tertahan di tenggorokannya. Ia melirik jam tangan Vacheron Constantin di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul 07.15. Operasi baru berjalan lima belas menit, yang artinya wanita itu akan berada di dalam ruang steril setidaknya selama tiga hingga empat jam ke depan.

“Sengaja menghindariku dengan jadwal operasi, hmm?” batin Killian sinis.

Di mata Killian saat ini, Irish sengaja mengambil jadwal operasi sepagi mungkin agar tidak perlu berhadapan dengannya setelah surat sialan yang ditinggalkannya di atas bantal kamar suite hotel tadi pagi.

“Berapa lama estimasi operasinya?” tanya Killian datar, matanya menatap lurus ke arah lorong menuju ruang operasi utama.

“Kemungkinan besar tiga sampai empat jam, Dok. Kondisi pasien cukup rumit karena faktor usia,” jawab Amelie jujur, sama sekali tidak menyadari badai kesalahpahaman yang sedang terjadi di kepala atasannya.

Killian membetulkan posisi kacamatanya dengan jari tengah. Sebuah senyum tipis yang sarat akan ancaman terukir samar di sudut bibirnya.

“Baik. Begitu dia keluar dari ruang operasi, katakan padanya untuk segera datang ke ruanganku. Jangan ke mana-mana sebelum menemuiku,” perintah Killian mutlak. Tanpa menunggu jawaban dari Amelie, pria bertubuh atletis itu berbalik dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya yang berada di lantai atas.

Amelie hanya bisa memandangi punggung tegap Killian yang menjauh dengan perasaan bingung sekaligus cemas. Ada apa sebenarnya? Kenapa Dokter Killian yang terkenal acuh dan tak tersentuh itu mendadak mencari Dokter Irish dengan aura seperti ingin menguliti orang hidup-hidup?

Di dalam ruangan operasi yang bersuhu dingin, Irish merasakan bulu kuduknya kembali meremang secara tiba-tiba. Ada sensasi aneh yang menggelitik tengkuknya, namun ia segera menepis perasaan itu.

“Fokus… Fokus!” serunya tegas dalam hati. Di atas meja operasi ini, nyawa seorang pasien sedang dipertaruhkan di bawah tangannya.

“Dok?” panggil perawat instrumen, menyerahkan pisau bedah dengan sigap.

Irish mengangguk dan tersenyum lembut, gurat keramahannya tercetak jelas di sudut matanya yang menyipit meski sebagian wajahnya tertutup rapat oleh masker medis. “Ya. Kita mulai.”

Dengan gerakan tangan yang sangat tenang dan teratur, Irish mulai melakukan sayatan pertama di dada pasien untuk membuka jalur ke jantung. Suara hemofiltrasi dan bunyi konstan dari monitor jantung memenuhi ruangan steril tersebut.

“Amelie, pasang retractor untuk membuka rongga dada,” perintah Irish dengan suara lembut namun sarat akan otoritas seorang dokter utama. “Tim anestesi, tolong pantau terus tekanan darah Tuan Weber. Kondisi pembuluh darahnya cukup rapuh.”

“Siap, Dok. Tekanan darah masih stabil di angka 120/80,” sahut dokter anestesi.

Irish bekerja dengan konsentrasi penuh, menjahit saluran pembuluh darah baru untuk melewati bagian yang tersumbat pada jantung pasien. Setiap jahitan mikro dilakukannya dengan sangat teliti, tanpa terburu-buru, memastikan tidak ada kebocoran sekecil apa pun.

Tanpa sadar, waktu berputar begitu cepat hingga operasi rumit itu sudah berlangsung selama 2 jam.

Sementara itu di luar ruang steril, Killian yang pagi ini tidak memiliki jadwal operasi besar hanya berjalan keliling ke beberapa bangsal pasien untuk mengecek kondisi pasca-bedah. Pria itu tampak tidak fokus.

Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Langkah kakinya yang lebar secara kebetulan membawanya melewati koridor sepi di mana Irish sedang melakukan operasi.

“Sudah dua jam?” gumam Killian rendah saat melihat lampu indikator di atas pintu tebal itu masih berwarna merah menyala, menandakan proses pembedahan di dalam masih berlanjut.

Entah dorongan dari mana, ego angkuh Killian mendadak melunak. Tanpa sadar kakinya melangkah mendekati pintu ruang operasi, sedikit menjinjit, dan mengintip aktivitas di dalam melalui kaca kecil yang tertanam di pintu steril tersebut. Matanya langsung terkunci pada sosok dokter wanita berambut hitam legam yang sedang menunduk fokus di depan meja operasi.

“Sejak kapan dia mewarnai rambutnya?” gumamnya pelan.

Melihat wanita itu mengenakan baju operasi hijau longgar, Killian langsung teringat bagaimana tubuh polos itu terlihat sangat erotis saat menggeliat di bawah kungkungannya semalam.

Jantung Killian berdegup kencang secara tidak wajar. “Hah! Apa yang aku lakukan!” batinnya berdecak kesal pada diri sendiri. Ia segera menarik tubuhnya mundur dengan wajah mengeras, merasa bodoh.

Namun, pergerakan Killian di balik kaca luar ternyata sempat tertangkap oleh sudut mata Irish. Karena operasi sudah memasuki tahap akhir pencucian rongga dada, Irish sempat mengangkat wajahnya yang lelah dan menoleh ke arah pintu.

Melihat sosok tegap berkacamata baca yang baru saja sekelabat lewat dan menghilang dari balik kaca, Irish tertegun di balik maskernya.

“Dokter Killian?” batin Irish bingung. “Apa yang dia lakukan disini?”

Irish tidak punya waktu untuk melamun. Ia segera menggelengkan kepalanya pelan, mengusir rasa penasaran, dan kembali fokus dengan operasinya yang tinggal menyisakan tahap akhir.

Hingga semua selesai dengan sempurna. Denyut jantung Tuan Weber di layar monitor kini terdengar konstan dan kuat.

“Kerja bagus, Semuanya,” ucap Irish lega, mengembuskan napas panjang di balik maskernya.

Tersisa bagian penutupan lapisan dinding dada dan penjahitan kulit terluar yang diserahkan dan dilakukan oleh dokter residen di bawah pengawasan Amelie. Sebagai dokter utama, Irish melangkah mundur dari meja operasi, membiarkan timnya menyelesaikan proses estetika medis tersebut dengan terampil dan cekatan.

Irish berjalan menuju area wastafel steril di luar ruangan. Ia melepas sarung tangan karet dan masker medisnya, lalu mulai mencuci tangan dan membasuh wajahnya yang sedikit lelah dengan air mengalir. Rambut hitam legamnya yang terikat rapi tampak sedikit basah di bagian pelipis.

Tepat setelah ia mengeringkan tangannya dengan handuk bersih, Amelie keluar dari ruang operasi dan langsung menghampiri Irish.

“Dok, Dokter Killian menunggu Anda di ruangannya,” lapor Amelie dengan suara setengah berbisik, seolah takut dinding rumah sakit bisa mendengar ucapannya.

Alis Irish bertaut dalam di balik kacamata bergagang rose gold-nya. “Dokter Killian?” ulangnya memastikan.

Ia memiringkan kepala, mencoba mengingat-ingat agenda kerjanya minggu ini. Ia merasa jika hari ini tidak ada jadwal atau rekam medis pasien yang harus membuatnya harus berdiskusi dengan pria dingin itu. “Ada apa, Amelie? Apa ada pasien konsulan dari departemennya yang membutuhkan tindakan bedah jantung darurat?”

“Uhm, aku pun kurang tahu, Dok,” jawab Amelie ragu-ragu. Ia mengedarkan pandangan sekilas ke koridor sebelum melanjutkan, “Tapi Dokter Killian terlihat.. Uhm…”

“Terlihat apa?” desak Irish, merasa aneh dengan kegugupan asistennya.

“Mendesak.” Amelie menelan ludah pelan. “Auranya sangat menakutkan pagi ini, Dok. Beliau bahkan berpesan agar Anda langsung menemuinya begitu keluar dari ruang operasi, tanpa ke mana-mana dulu.”

Jantung Irish mendadak berdesir aneh. Kalimat 'mendesak' yang keluar dari mulut Amelie entah mengapa malah memicu debaran yang tidak wajar di dadanya. Pria angkuh, tak tersentuh, dan sedingin es itu mencarinya secara personal?

Irish merapikan jubah dokter putihnya yang semula agak kusut, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. “Baiklah, aku akan ke ruangannya sekarang. Tolong pantau Tuan Weber di ruang pemulihan ya, Amelie.”

“Siap, Dokter Irish.”

Irish masuk ke dalam lift, menuju ruangan Killian yang memang berada di lantai yang sama dengan kantornya sendiri dan para dokter yang lain. Sebagai dokter spesialis penyakit dalam biasa—setidaknya itu yang diketahui publik rumah sakit—ruangan Killian berjejer rapi di koridor departemen spesialis tanpa ada perbedaan mencolok.

Begitu tiba di depan pintu kayu bernomor ruangan pria itu, Irish menghentikan langkahnya sejenak untuk menetralkan kegugupannya. Ia mengepalkan tangan, lalu mengetuk pintu ruangan tersebut dengan sopan.

Tok... Tok...

“Masuk.”

Suara berat dan dalam terdengar dari arah dalam, mengirimkan getaran samar yang aneh ke sepanjang tulang belakang Irish. Ia kemudian menekan handle pintu.

“Dokter Irish.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 12 | Rasa Yang Pekat

    Bab 12Dengan langkah cepat dan napas yang naik turun tak beraturan, Irish berlari menyusuri lorong rumah sakit tanpa memedulikan tatapan heran dari beberapa perawat yang berselisih jalan dengannya.Begitu sampai di depan pintu kantornya, Irish langsung melangkah masuk dan memutar kunci pintunya rapat-rapat. Klek.Ia berjalan gontai menuju meja kerjanya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Irish membuang punggungnya ke sandaran kursi dengan lemas, menatap kosong langit-langit ruangannya yang serba putih."HAH!"Pengap di dadanya akhirnya terhempas bersamaan dengan helaan napas panjang yang terasa menyiksa.Ia melepaskan kacamatanya, lalu meletakkannya di atas meja dengan asal."KAU GILA, IRISH!" umpat wanita cantik itu pada dirinya sendiri. Ia memejamkan mata erat-erat, memijit kening dengan kedua tangannya.Bukan hanya Killian yang membuatnya marah, tapi juga dirinya sendiri! Bagaimana bisa ia sempat terbuai dan memejamkan mata menikmati ciuman menuntut dari pria itu? Seorang Killian—

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 11 | Kau Menikmatinya

    Bab 11Darah? Sprei?"Oh my!" gumam Irish pelan, namun suara cicitan halus itu terdengar begitu jelas oleh telinga Killian.Desahan halus yang sama persis seperti yang terus terngiang di telinganya sepanjang malam dari mulut wanita cantik di depannya ini.Irish menutup mulutnya tanpa sadar. Wajahnya seketika semerah tomat yang matang. Ingatannya mendadak berputar ke semalam—saat ia ketiduran sebentar di kamar istirahat dokter karena kelelahan pasca-operasi VIP. Irish menahan napas. Apakah jadwal haidnya maju? Apakah ia bocor dan menodai sprei tempat tidur itu dan Dokter Killian melihatnya?!Rasa malu yang luar biasa menghantam kesadaran Irish."An-Anda keterlaluan, Dokter Killian!" bisik Irish gagap, matanya bergetar hebat."Keterlaluan? Kau meninggalkan darahmu di atas ranjangku, Dokter Irish..." Killian semakin mengikis jarak di antara mereka, hingga napas hangat pria itu menyapu permukaan kulit leher Irish.Kalimat Killian benar-benar meruntuhkan sisa-sisa harga dirinya.Blush!Waj

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 10 | Berbagi Keringat

    Bab 10"Ikut aku. Sekarang," perintah Killian.Irish masih terdiam beberapa saat, namun suara Killian membuatnya langsung berdiri. “Atau kau ingin semua orang mendengar pembicaraan kita tentang semalam?”Deg!Irish terkesiap, bingung. Tanpa menjawab lagi, ia mengikuti langkah Killian sambil berpikir apa kesalahan yang sudah ia lakukan? Apa benar karena kejadian semalam membuat Killian semarah ini?Begitu memasuki ruang kerja Killian di lantai spesialis, pria itu mendorong pintu hingga tertutup rapat dan menekan selot kuncinya. Klek.Suara kunci yang berputar membuat Irish terlonjak kecil. Jantungnya berdebar kencang saat melihat Killian melepaskan jas dokternya, melemparnya ke sofa, lalu berbalik dan memutari meja untuk berdiri tepat di hadapan Irish. Pria itu menyandar santai di tepi meja, melipat lengan di dada dengan pandangan elang yang menguliti kepolosan Irish."Bisa jelaskan padaku, apa maksud semua ini, Dokter Irish?" tanya Killian, suaranya rendah tapi penuh penekanan.Irish m

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 9 | Bayangan Hitam

    Bab 9“Kamu di sini rupanya!”Irish yang sempat tersentak kaget hingga dadanya berdebar keras refleks mendorong laci mejanya dengan halus hingga terkunci rapat. Begitu mengalihkan pandangan ke arah pintu, ia mendapati sosok Dokter Clara yang berdiri dengan napas tersengal-sengal di ambang pintu.Irish menetralkan napasnya, lalu tersenyum tipis. "Clara?""Hah! Kamu aku cariin dari tadi," keluh Clara sambil mengusap dadanya, mencoba mengembalikan sisa-sisa tenaganya setelah berlari membelah lorong rumah sakit. Pintu ruangan itu memantul pelan setelah terdorong kuat oleh siku Clara yang kerepotan membawa papan rekam medis. "Makan yuk! Perutku sudah berbunyi sejak selesai tindakan di bangsal pediatrik tadi."Irish melirik jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu siang lewat sedikit. Rasa lelah pasca-operasi dua jam dan kepanikannya mencari Dokter Killian tadi mendadak membuat perutnya ikut bergejolak lapar."Aku masih harus cek satu

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 8 | Pria Yang Sama?

    Bab 8“Apa kutanyain aja ke Irish?”Irina menutup video rekaman CCTV di layar ponselnya, lalu tanpa ragu beralih memanggil nomor saudarinya. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya sambil mengetuk-ngetukkan jari kuku cantiknya ke armrest sofa hotel.Di tempat lain, Irish yang baru saja keluar dari ruangan Killian yang kosong sedang berjalan pelan menuju ruang kerjanya sendiri. Saat ponsel di saku jubah dokternya bergetar, ia merogohnya dan tersenyum melihat nama 'Irina' tertera di layar.Irish mengangkat panggilan itu, "Halo, Ir?""Sis, sibuk gak?" tanya Irina santai dari seberang telepon."Gak, ada apa, Ir?" sahut Irish sambil melangkah masuk ke ruangannya dan menyandarkan tubuhnya yang lelah ke kursi kerja."Nice!" Irina terkekeh senang. Ia sangat tahu betapa padatnya jadwal operasi saudarinya itu di jam-jam sibuk seperti ini. Tanpa membuang waktu, Irina langsung bertanya terus terang, "Aku ingat pernah lihat jam tangan Vacheron Constantin di meja kerja kamu waktu aku main ke aparte

  • Gairah Salah Sasaran   Bab 7 | Vacheron Constantin

    Bab 7“Mampus!”Dengan napas tersengal-sengal dan langkah kaki yang terburu-buru, Irish setengah berlari membelah koridor menuju lift. Rasa lelah pasca-operasi dua jam dan tindakan darurat di bangsal pediatrik menguap begitu saja, berganti dengan kepanikan luar biasa.“Bodoh! Bisa-bisanya aku melupakan Dokter Killian!” maki Irish pada dirinya sendiri.Begitu pintu lift terbuka di lantai spesialis, Irish bergegas menuju pintu kayu bernomor ruangan pria itu. Ia merapikan jubah dokternya yang agak berantakan, menetralkan napasnya yang berburu, lalu mengetuk pintu dengan penuh rasa bersalah.Tok... Tok...Satu detik... Tiga detik... Tidak ada jawaban.“Dokter Killian? Permisi…” bisik Irish pelan. Keraguan menyelimuti dirinya. Ia memberanikan diri menekan handle pintu dan mendorongnya perlahan.Kosong.Ruangan bertembok gelap itu tampak lengang. Meja marmer Killian tertata rapi, dan pemiliknya tidak terlihat di mana pun. Irish mengedipkan matanya bingung. Ke mana pria angkuh itu pergi? Pad

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status