LOGINBab 5
“Di mana Dokter Irish?”
Pertanyaan dingin yang keluar dari bibir Killian membuat suasana lobi rumah sakit yang semula sibuk mendadak senyap seketika. Dua orang residen yang tadi menyapanya langsung menunduk dalam, tidak berani menatap sepasang mata elang di balik kacamata pria itu. Aura intimidasi yang dipancarkan sang dokter spesialis penyakit dalam pagi ini terasa berkali-kali lipat lebih mencekam dari biasanya.
Amelie yang kebetulan baru saja keluar dari ruang administrasi setelah mengantar berkas, tersentak mendengar nama seniornya disebut dengan nada sekeras itu. Ia buru-buru melangkah mendekat, mencoba menekan rasa takutnya.
“M-maaf, Dokter Killian,” ucap Amelie dengan suara agak bergetar. “Dokter Irish baru saja masuk ke ruang operasi jam tujuh tadi. Beliau sedang menangani operasi bypass jantung darurat untuk Tuan Weber.”
Killian tidak menjawab. Rahangnya mengeras, menyamarkan geraman gusar yang tertahan di tenggorokannya. Ia melirik jam tangan Vacheron Constantin di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul 07.15. Operasi baru berjalan lima belas menit, yang artinya wanita itu akan berada di dalam ruang steril setidaknya selama tiga hingga empat jam ke depan.
“Sengaja menghindariku dengan jadwal operasi, hmm?” batin Killian sinis.
Di mata Killian saat ini, Irish sengaja mengambil jadwal operasi sepagi mungkin agar tidak perlu berhadapan dengannya setelah surat sialan yang ditinggalkannya di atas bantal kamar suite hotel tadi pagi.
“Berapa lama estimasi operasinya?” tanya Killian datar, matanya menatap lurus ke arah lorong menuju ruang operasi utama.
“Kemungkinan besar tiga sampai empat jam, Dok. Kondisi pasien cukup rumit karena faktor usia,” jawab Amelie jujur, sama sekali tidak menyadari badai kesalahpahaman yang sedang terjadi di kepala atasannya.
Killian membetulkan posisi kacamatanya dengan jari tengah. Sebuah senyum tipis yang sarat akan ancaman terukir samar di sudut bibirnya.
“Baik. Begitu dia keluar dari ruang operasi, katakan padanya untuk segera datang ke ruanganku. Jangan ke mana-mana sebelum menemuiku,” perintah Killian mutlak. Tanpa menunggu jawaban dari Amelie, pria bertubuh atletis itu berbalik dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya yang berada di lantai atas.
Amelie hanya bisa memandangi punggung tegap Killian yang menjauh dengan perasaan bingung sekaligus cemas. Ada apa sebenarnya? Kenapa Dokter Killian yang terkenal acuh dan tak tersentuh itu mendadak mencari Dokter Irish dengan aura seperti ingin menguliti orang hidup-hidup?
Di dalam ruangan operasi yang bersuhu dingin, Irish merasakan bulu kuduknya kembali meremang secara tiba-tiba. Ada sensasi aneh yang menggelitik tengkuknya, namun ia segera menepis perasaan itu.
“Fokus… Fokus!” serunya tegas dalam hati. Di atas meja operasi ini, nyawa seorang pasien sedang dipertaruhkan di bawah tangannya.
“Dok?” panggil perawat instrumen, menyerahkan pisau bedah dengan sigap.
Irish mengangguk dan tersenyum lembut, gurat keramahannya tercetak jelas di sudut matanya yang menyipit meski sebagian wajahnya tertutup rapat oleh masker medis. “Ya. Kita mulai.”
Dengan gerakan tangan yang sangat tenang dan teratur, Irish mulai melakukan sayatan pertama di dada pasien untuk membuka jalur ke jantung. Suara hemofiltrasi dan bunyi konstan dari monitor jantung memenuhi ruangan steril tersebut.
“Amelie, pasang retractor untuk membuka rongga dada,” perintah Irish dengan suara lembut namun sarat akan otoritas seorang dokter utama. “Tim anestesi, tolong pantau terus tekanan darah Tuan Weber. Kondisi pembuluh darahnya cukup rapuh.”
“Siap, Dok. Tekanan darah masih stabil di angka 120/80,” sahut dokter anestesi.
Irish bekerja dengan konsentrasi penuh, menjahit saluran pembuluh darah baru untuk melewati bagian yang tersumbat pada jantung pasien. Setiap jahitan mikro dilakukannya dengan sangat teliti, tanpa terburu-buru, memastikan tidak ada kebocoran sekecil apa pun.
Tanpa sadar, waktu berputar begitu cepat hingga operasi rumit itu sudah berlangsung selama 2 jam.
Sementara itu di luar ruang steril, Killian yang pagi ini tidak memiliki jadwal operasi besar hanya berjalan keliling ke beberapa bangsal pasien untuk mengecek kondisi pasca-bedah. Pria itu tampak tidak fokus.
Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Langkah kakinya yang lebar secara kebetulan membawanya melewati koridor sepi di mana Irish sedang melakukan operasi.
“Sudah dua jam?” gumam Killian rendah saat melihat lampu indikator di atas pintu tebal itu masih berwarna merah menyala, menandakan proses pembedahan di dalam masih berlanjut.
Entah dorongan dari mana, ego angkuh Killian mendadak melunak. Tanpa sadar kakinya melangkah mendekati pintu ruang operasi, sedikit menjinjit, dan mengintip aktivitas di dalam melalui kaca kecil yang tertanam di pintu steril tersebut. Matanya langsung terkunci pada sosok dokter wanita berambut hitam legam yang sedang menunduk fokus di depan meja operasi.
“Sejak kapan dia mewarnai rambutnya?” gumamnya pelan.
Melihat wanita itu mengenakan baju operasi hijau longgar, Killian langsung teringat bagaimana tubuh polos itu terlihat sangat erotis saat menggeliat di bawah kungkungannya semalam.
Jantung Killian berdegup kencang secara tidak wajar. “Hah! Apa yang aku lakukan!” batinnya berdecak kesal pada diri sendiri. Ia segera menarik tubuhnya mundur dengan wajah mengeras, merasa bodoh.
Namun, pergerakan Killian di balik kaca luar ternyata sempat tertangkap oleh sudut mata Irish. Karena operasi sudah memasuki tahap akhir pencucian rongga dada, Irish sempat mengangkat wajahnya yang lelah dan menoleh ke arah pintu.
Melihat sosok tegap berkacamata baca yang baru saja sekelabat lewat dan menghilang dari balik kaca, Irish tertegun di balik maskernya.
“Dokter Killian?” batin Irish bingung. “Apa yang dia lakukan disini?”
Irish tidak punya waktu untuk melamun. Ia segera menggelengkan kepalanya pelan, mengusir rasa penasaran, dan kembali fokus dengan operasinya yang tinggal menyisakan tahap akhir.
Hingga semua selesai dengan sempurna. Denyut jantung Tuan Weber di layar monitor kini terdengar konstan dan kuat.
“Kerja bagus, Semuanya,” ucap Irish lega, mengembuskan napas panjang di balik maskernya.
Tersisa bagian penutupan lapisan dinding dada dan penjahitan kulit terluar yang diserahkan dan dilakukan oleh dokter residen di bawah pengawasan Amelie. Sebagai dokter utama, Irish melangkah mundur dari meja operasi, membiarkan timnya menyelesaikan proses estetika medis tersebut dengan terampil dan cekatan.
Irish berjalan menuju area wastafel steril di luar ruangan. Ia melepas sarung tangan karet dan masker medisnya, lalu mulai mencuci tangan dan membasuh wajahnya yang sedikit lelah dengan air mengalir. Rambut hitam legamnya yang terikat rapi tampak sedikit basah di bagian pelipis.
Tepat setelah ia mengeringkan tangannya dengan handuk bersih, Amelie keluar dari ruang operasi dan langsung menghampiri Irish.
“Dok, Dokter Killian menunggu Anda di ruangannya,” lapor Amelie dengan suara setengah berbisik, seolah takut dinding rumah sakit bisa mendengar ucapannya.
Alis Irish bertaut dalam di balik kacamata bergagang rose gold-nya. “Dokter Killian?” ulangnya memastikan.
Ia memiringkan kepala, mencoba mengingat-ingat agenda kerjanya minggu ini. Ia merasa jika hari ini tidak ada jadwal atau rekam medis pasien yang harus membuatnya harus berdiskusi dengan pria dingin itu. “Ada apa, Amelie? Apa ada pasien konsulan dari departemennya yang membutuhkan tindakan bedah jantung darurat?”
“Uhm, aku pun kurang tahu, Dok,” jawab Amelie ragu-ragu. Ia mengedarkan pandangan sekilas ke koridor sebelum melanjutkan, “Tapi Dokter Killian terlihat.. Uhm…”
“Terlihat apa?” desak Irish, merasa aneh dengan kegugupan asistennya.
“Mendesak.” Amelie menelan ludah pelan. “Auranya sangat menakutkan pagi ini, Dok. Beliau bahkan berpesan agar Anda langsung menemuinya begitu keluar dari ruang operasi, tanpa ke mana-mana dulu.”
Jantung Irish mendadak berdesir aneh. Kalimat 'mendesak' yang keluar dari mulut Amelie entah mengapa malah memicu debaran yang tidak wajar di dadanya. Pria angkuh, tak tersentuh, dan sedingin es itu mencarinya secara personal?
Irish merapikan jubah dokter putihnya yang semula agak kusut, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. “Baiklah, aku akan ke ruangannya sekarang. Tolong pantau Tuan Weber di ruang pemulihan ya, Amelie.”
“Siap, Dokter Irish.”
Irish masuk ke dalam lift, menuju ruangan Killian yang memang berada di lantai yang sama dengan kantornya sendiri dan para dokter yang lain. Sebagai dokter spesialis penyakit dalam biasa—setidaknya itu yang diketahui publik rumah sakit—ruangan Killian berjejer rapi di koridor departemen spesialis tanpa ada perbedaan mencolok.
Begitu tiba di depan pintu kayu bernomor ruangan pria itu, Irish menghentikan langkahnya sejenak untuk menetralkan kegugupannya. Ia mengepalkan tangan, lalu mengetuk pintu ruangan tersebut dengan sopan.
Tok... Tok...
“Masuk.”
Suara berat dan dalam terdengar dari arah dalam, mengirimkan getaran samar yang aneh ke sepanjang tulang belakang Irish. Ia kemudian menekan handle pintu.
“Dokter Irish.”
Ciuman itu terkesan liar, menuntut, dan penuh keterdesakan. Killian menyesap dan memagut bibir Irina tanpa memberi celah sedikit pun untuk bernapas. Irina yang semula hendak memberontak, mendadak kelabakan. Sentuhan intens dan napas hangat Killian yang membakar perlahan mengikis akal sehatnya, memancing Irina untuk ikut terhanyut ke dalam pusaran gairah yang menggelap.Tanpa melepaskan pagutannya yang makin dalam, jemari Killian yang lapar bergerak cepat meraih tuas di samping jok pengemudi, memundurkan kursi kemudinya ke belakang untuk memberi ruang lebih. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Irina dengan mudah, memindahkan dan memangku wanita itu tepat di atas tubuhnya.Dengan napas memburu dan tatapan mata yang gelap oleh gairah, tangan Killian menyusup cepat ke dalam kaos yang dikenakan Irina. Ia menaikkannya ke atas, meraup dan meremas payudara kenyal wanita itu dengan rakus dan tidak sabaran."Oh, shit ... Ian ..." desah Irina tertahan saat rasa sensual yang menyengat menyapu s
Mau tidak mau, Killian akhirnya menyebutkan lokasi keberadaannya saat ini. Begitu mendengar alamat jalan yang dimaksud, Irina langsung memutuskan panggilan secara sepihak.Di dalam kamar hotelnya, Irina panik luar biasa. Ia menyambar blazer hitam seadanya dari atas tempat tidur, mengenakannya terburu-buru di atas pakaian santainya, lalu meraih kunci mobil. Ia keluar kamar tanpa memedulikan penampilannya lagi.Irina menyetir dengan gila-gilaan menembus kegelapan malam Kota Monschau. Pikirannya melayang pada ingatan kelam malam itu—saat ia menyaksikan sendiri bagaimana rapuh dan tersiksanya Killian ketika serangan anxiety menghantam pria itu.Dua puluh menit membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mata tajam Irina akhirnya menangkap bayangan mobil sport milik Killian yang terparkir di bahu jalan yang sepi.Irina menginjak rem mendadak, menghentikan mobilnya tepat di belakang kendaraan Killian. Ia bergegas keluar, berlari menghampiri mobil pria itu. Irina membuka pintu pengemudi lal
Plak!Cassian menghentakkan telapak tangannya keras ke atas meja kerja mahogani, membuat dokumen di atasnya bergetar. "Killian! Jaga ucapanmu!""Aku sudah cukup diam dan mengikuti semua aturan mainmu, Ayah!" potong Killian dengan nada suara yang meninggi, kehilangan seluruh ketenangan yang selama ini ia jaga. "Aku membiarkanmu mengatur hidupku, karierku, bahkan identitasku di rumah sakit! Tapi kalau Ayah pikir bisa terus menyembunyikan kebusukan dan ancaman di balik nama besar keluarga ini ... Ayah salah besar."Cassian menatap tajam putra sulungnya, matanya menyipit berbahaya. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau lawan, Killian. Jangan kekanak-kanakan!""Justru karena aku tahu bahayanya, aku tidak bisa tinggal diam!" tukas Killian dingin. Pria itu memperbaiki posisi jasnya, mengambil satu langkah mundur menjarahi tatapan mengintimidasi sang ayah. "Jika Ayah tidak mau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, aku akan mencarinya sendiri. Dengan atau tanpa izin darimu.""Killian!"
"File apa yang sampai membuat Ayah begitu murka? Apa ada hal yang seharusnya tidak kami ketahui?" tanya Killian tajam, melangkah maju satu tapak dengan sorot mata menuntut setelah mendengar penuturan sang ayah.Cassian menatap nyalang pada Killian, napasnya masih terengah oleh amarah yang membakar dada. "Belum waktunya kau mengetahui hal ini, Killian!" bentaknya dingin. Pria paruh baya itu lalu menoleh, menancapkan tatapan membunuhnya pada Kane. "Kembalikan file tersebut, Kane!"Kane mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan, lalu terkekeh pelan. "Aku bahkan tidak tahu sepenting apa file yang hilang itu. Sekalipun Anda membunuhku malam ini, file itu tidak akan pernah Anda temukan. Karena sepertinya ... Anda salah tangkap, Tuan Cassian yang terhormat."Kane memutar tubuhnya sedikit, melemparkan tatapan sinis yang penuh provokasi tepat ke arah Killian. "Kenapa Anda tidak menaruh curiga sedikit pun pada putra sulung Anda yang sempurna ini? Bukannya dia yang paling m
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu, Sayang," ucap Killian seraya menatap lembut Irish sebelum ia menutup pintu mobil kekasihnya itu."Hmm, tidak masalah," sahut Irish singkat dari balik kemudi, memberikan senyuman tipis yang tak tersentuh."Kamu hati-hati di jalan ya."Irish mengangguk paham, lalu jemarinya menyalakan mesin kendaraan mewahnya yang berdesung halus. Tanpa sepatah kata tambahan, mobil dokter cantik itu bergerak meninggalkan pelataran hotel.Begitu kendaraan Irish melaju dan menghilang di belokan jalan, raut wajah Killian seketika mengeras kaku. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar menuju mobil sport miliknya. Pria itu masuk, menghidupkan mesin, dan langsung menancap gas dalam-dalam menembus kegelapan malam menuju kediaman utama keluarga Cassian Russo.Begitu tiba di rumah megah bak benteng itu, Killian melangkah terburu-buru masuk ke dalam. Sepatunya menghentak lantai marmer dengan irama kuat saat ia berjalan menuju ruang kerja sang ayah di lantai dua.Pintu gand
"Tidak seperti itu, Sayang. Kamu terlihat cantik bukan karena gaunnya milik siapa, tapi karena kamu yang memakainya," ujar Killian jujur. Suara beratnya terdengar begitu lembut, berusaha menenangkan badai terselubung di dalam mata kekasihnya.Irish tersenyum tipis, mengusap pelan rahang tegas Killian. "Terima kasih, Sayang."Ringtone bernada standar mendadak memecah ketegangan halus di antara mereka. Killian merogoh saku jasnya dan melihat layar ponsel. Nama Lucas—asisten pribadinya—terpampang di sana. Jika pria kepercayaan itu menelepon di jam seperti ini, artinya ada hal yang sangat krusial.Irina yang duduk di atas kasur sontak menoleh, menatap Killian dengan kening berkerut penasaran."Aku izin angkat telepon sebentar ya, Sayang," pamit Killian pelan.Irish mengangguk anggun. "Iya, angkat saja."Pria bertubuh jangkung itu segera berdiri, melangkah cepat menuju pintu balkon kamar. Ia menggeser pintu kaca tersebut, berdiri di ambang batas ruangan sembari jemarinya memegang tir







