MasukInsiden di Jam Istirahat
Masalah sebenarnya muncul saat jam istirahat. Leo sedang duduk di pinggir lapangan basket, mencoba menikmati kotak bekalnya yang berisi nasi goreng, ketika ia melihat segerombolan anak kelas lima sedang mengerumuni seorang anak perempuan yang tampak menangis.Rupanya, salah satu anak kelas lima yang bertubuh besar telah mengambil tablet milik anak perempuan itu dan mengganti password-nya sebagai lelucon."Kalau kamu tidak bisa membukanya dalam sepuluh menit, aku akan menghapus semua foto liburanmu!" seru anak kelas lima itu sambil tertawa.Anak perempuan itu menangis tersedu-sedu. Leo menghentikan kunyahannya. Sisi "Arkana" dalam dirinya mulai bangkit. Ia tidak suka ketidakadilan, terutama yang melibatkan penyalahgunaan teknologi.Ia berdiri dan mendekat. "Ehm, permisi," kata Leo kecil.Si perundung menoleh ke bawah. "Apa kamu, anak kelas satu? Mau ikut campur?""Aku... aku tadi lihat di YouTube cara buka kunci kalau lupa," bohongAula besar Balai Kartini mendadak sunyi senyap, hanya menyisakan suara goresan pensil di atas kertas dan detak jam dinding raksasa yang seakan berdentum di telinga para peserta. Di hadapan Leo, lembar soal olimpiade itu terbentang. Baginya, tingkat kesulitan soal ini memang di atas rata-rata sekolah dasar, namun masih jauh di bawah algoritma enkripsi yang biasa ia pecahkan di server pribadi ayahnya.Leo mengerjakan soal-soal itu dengan ritme yang terjaga. Ia sengaja tidak langsung menghabiskan semuanya dalam sepuluh menit. Ia berhenti sejenak, menghapus satu jawaban, lalu menulisnya kembali—sebuah akting untuk menunjukkan bahwa ia "berpikir keras" seperti anak normal lainnya.Namun, ketenangannya terusik oleh sebuah suara. Bukan suara teriakan, melainkan suara napas yang pendek dan tersedak.Leo melirik ke meja di sebelah kanannya. Kevin.Wajah sahabatnya itu kembali memucat, lebih parah dari sebelumnya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya hingga menetes k
Pagi itu, Balai Kartini Jakarta disulap menjadi lautan seragam putih-merah dari berbagai penjuru Indonesia. Udara di dalam aula besar itu terasa dingin karena pendingin ruangan yang dipasang maksimal, namun suasana di ruang tunggu peserta kategori pemula justru terasa panas oleh ketegangan.Ratusan anak berbakat duduk dengan buku catatan di tangan, beberapa komat-kamit menghafal rumus, sementara yang lain tampak pucat ditemani orang tua mereka yang tak henti-hentinya memberikan instruksi terakhir.Di sudut ruangan yang agak tenang, Leo duduk di bangku kayu panjang. Ia tampak sangat santai, bahkan terlalu santai untuk ukuran anak berusia tujuh tahun yang akan menghadapi kompetisi nasional. Di sampingnya, Kevin adalah pemandangan yang kontras. Kakinya bergoyang tak terkendali, dan tangannya yang memegang botol minum terus gemetar."Kevin, kalau kamu minum sebanyak itu, kamu akan bolak-balik ke kamar mandi saat lomba dimulai," tegur Leo lembut tanpa melepaskan pandangannya
Satu minggu sebelum hari besar itu tiba, suasana di sekolah terasa semakin mencekam bagi para peserta olimpiade. Bagi Leo, matematika adalah harmoni, tetapi bagi Kevin, matematika telah berubah menjadi monster yang siap menelannya hidup-hidup.Sore itu, hujan turun deras membasahi Jakarta. Latihan tambahan di sekolah baru saja usai. Leo sedang merapikan tasnya ketika ia mendengar suara bentakan dari arah parkiran bawah tanah yang sepi. Ia mengenali suara itu—suara Pak Baskoro, ayah Kevin, yang dikenal sebagai pengusaha ambisius.Leo melangkah pelan, bersembunyi di balik pilar beton yang dingin. Di sana, ia melihat Kevin berdiri tertunduk di samping mobil mewah ayahnya. Di tangan Pak Baskoro, ada selembar kertas hasil simulasi terakhir yang diberikan Pak Budi."Peringkat dua lagi? Kamu kalah dari Leo lagi?!" suara Pak Baskoro menggema, memantul di dinding-dinding parkiran. "Papah sudah bayar guru privat termahal, membelikanmu semua buku latihan, dan kamu masih membiarkan anak Daniel Ar
Selesai Hari Karir, sebuah pengumuman besar ditempel di mading sekolah. Tiga bulan lagi, akan diadakan Olimpiade Matematika Antar-Sekolah Dasar (OMSD) tingkat nasional. Guru matematika mereka, Pak Budi, menatap kelas dengan antusias. "Sekolah kita boleh mengirimkan dua wakil terbaik dari kelas satu untuk kategori pemula. Ini adalah lomba yang sangat bergengsi. Siapa yang berminat?" Seluruh kelas menoleh ke arah Kevin, yang memang dikenal sebagai anak terpintar dalam berhitung. Namun, Pak Budi justru menatap Leo. "Leo, hasil latihanmu belakangan ini sangat konsisten. Kamu hampir tidak pernah salah dalam soal logika. Apa kamu mau mencoba?" Leo membeku. Ini adalah dilema besar. Di satu sisi, ia ingin tetap menjadi "normal". Di sisi lain, darah Arkana di tubuhnya selalu haus akan tantangan. Ia melirik Hana yang sedang asyik menggambar di sudut kertasnya, lalu melirik Toby yang sedang berjuang menghitung dengan jarinya. "Aku... aku pikir-pikir dulu ya, Pak," jawab Leo
"Cuma beruntung, Toby. Aku pernah lihat kakak sepupuku melakukan itu kalau HP-nya mogok."Sejak saat itu, ketiganya menjadi tidak terpisahkan. Leo menyadari bahwa berteman dengan anak seusianya memberikan kepuasan yang berbeda. Bersama Toby dan Hana, ia tidak perlu memikirkan tentang protokol keamanan atau ancaman The Vulture. Ia belajar cara bertukar bekal—menukar nugget ayamnya dengan jeruk milik Hana—dan belajar bahwa kalah dalam permainan petak umpet bisa terasa sangat seru jika dilakukan bersama teman-teman.Di kelas, Leo terus menjalankan perannya sebagai murid rata-rata. Saat pelajaran matematika, ketika guru memberikan soal penambahan dua digit, Leo sudah menghitung hasilnya secara mental bahkan sebelum soal itu selesai ditulis di papan tulis. Namun, ia akan menunggu sekitar tiga puluh detik, melihat sekeliling, lalu mengangkat tangan dengan ragu-ragu."Satu menit itu terlalu lama untuk menghitung 25 + 17," gumamnya dalam hati. "Tapi kalau aku langsung jawab dala
Insiden di Jam IstirahatMasalah sebenarnya muncul saat jam istirahat. Leo sedang duduk di pinggir lapangan basket, mencoba menikmati kotak bekalnya yang berisi nasi goreng, ketika ia melihat segerombolan anak kelas lima sedang mengerumuni seorang anak perempuan yang tampak menangis.Rupanya, salah satu anak kelas lima yang bertubuh besar telah mengambil tablet milik anak perempuan itu dan mengganti password-nya sebagai lelucon."Kalau kamu tidak bisa membukanya dalam sepuluh menit, aku akan menghapus semua foto liburanmu!" seru anak kelas lima itu sambil tertawa.Anak perempuan itu menangis tersedu-sedu. Leo menghentikan kunyahannya. Sisi "Arkana" dalam dirinya mulai bangkit. Ia tidak suka ketidakadilan, terutama yang melibatkan penyalahgunaan teknologi.Ia berdiri dan mendekat. "Ehm, permisi," kata Leo kecil.Si perundung menoleh ke bawah. "Apa kamu, anak kelas satu? Mau ikut campur?""Aku... aku tadi lihat di YouTube cara buka kunci kalau lupa," bohong







