LOGINSelesai Hari Karir, sebuah pengumuman besar ditempel di mading sekolah. Tiga bulan lagi, akan diadakan Olimpiade Matematika Antar-Sekolah Dasar (OMSD) tingkat nasional. Guru matematika mereka, Pak Budi, menatap kelas dengan antusias. "Sekolah kita boleh mengirimkan dua wakil terbaik dari kelas satu untuk kategori pemula. Ini adalah lomba yang sangat bergengsi. Siapa yang berminat?" Seluruh kelas menoleh ke arah Kevin, yang memang dikenal sebagai anak terpintar dalam berhitung. Namun, Pak Budi justru menatap Leo. "Leo, hasil latihanmu belakangan ini sangat konsisten. Kamu hampir tidak pernah salah dalam soal logika. Apa kamu mau mencoba?" Leo membeku. Ini adalah dilema besar. Di satu sisi, ia ingin tetap menjadi "normal". Di sisi lain, darah Arkana di tubuhnya selalu haus akan tantangan. Ia melirik Hana yang sedang asyik menggambar di sudut kertasnya, lalu melirik Toby yang sedang berjuang menghitung dengan jarinya. "Aku... aku pikir-pikir dulu ya, Pak," jawab Leo
"Cuma beruntung, Toby. Aku pernah lihat kakak sepupuku melakukan itu kalau HP-nya mogok."Sejak saat itu, ketiganya menjadi tidak terpisahkan. Leo menyadari bahwa berteman dengan anak seusianya memberikan kepuasan yang berbeda. Bersama Toby dan Hana, ia tidak perlu memikirkan tentang protokol keamanan atau ancaman The Vulture. Ia belajar cara bertukar bekal—menukar nugget ayamnya dengan jeruk milik Hana—dan belajar bahwa kalah dalam permainan petak umpet bisa terasa sangat seru jika dilakukan bersama teman-teman.Di kelas, Leo terus menjalankan perannya sebagai murid rata-rata. Saat pelajaran matematika, ketika guru memberikan soal penambahan dua digit, Leo sudah menghitung hasilnya secara mental bahkan sebelum soal itu selesai ditulis di papan tulis. Namun, ia akan menunggu sekitar tiga puluh detik, melihat sekeliling, lalu mengangkat tangan dengan ragu-ragu."Satu menit itu terlalu lama untuk menghitung 25 + 17," gumamnya dalam hati. "Tapi kalau aku langsung jawab dala
Insiden di Jam IstirahatMasalah sebenarnya muncul saat jam istirahat. Leo sedang duduk di pinggir lapangan basket, mencoba menikmati kotak bekalnya yang berisi nasi goreng, ketika ia melihat segerombolan anak kelas lima sedang mengerumuni seorang anak perempuan yang tampak menangis.Rupanya, salah satu anak kelas lima yang bertubuh besar telah mengambil tablet milik anak perempuan itu dan mengganti password-nya sebagai lelucon."Kalau kamu tidak bisa membukanya dalam sepuluh menit, aku akan menghapus semua foto liburanmu!" seru anak kelas lima itu sambil tertawa.Anak perempuan itu menangis tersedu-sedu. Leo menghentikan kunyahannya. Sisi "Arkana" dalam dirinya mulai bangkit. Ia tidak suka ketidakadilan, terutama yang melibatkan penyalahgunaan teknologi.Ia berdiri dan mendekat. "Ehm, permisi," kata Leo kecil.Si perundung menoleh ke bawah. "Apa kamu, anak kelas satu? Mau ikut campur?""Aku... aku tadi lihat di YouTube cara buka kunci kalau lupa," bohong
Penerbangan dari Zurich ke Jakarta memakan waktu belasan jam, namun bagi keluarga Arkana, waktu terasa melambat. Di dalam kabin kelas bisnis yang sunyi, mereka tidak banyak bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikiran tentang apa yang telah mereka lalui.Daniel menatap ke luar jendela pesawat yang terbang di atas hamparan awan. Ia memikirkan tentang tabung logam yang kini telah hancur, isinya telah menyebar ke ribuan server kemanusiaan di seluruh dunia. Ia merasa beban besar di pundaknya telah terangkat, namun ia tahu, sebagai seorang kepala keluarga dengan nama belakang Arkana, kewaspadaan adalah napasnya.Alya tertidur di bahu Daniel, kelelahan fisik dan emosional akhirnya mengambil alih. Sementara Leo, sang remaja jenius, tampak sibuk menulis barisan kode baru—kali ini bukan untuk meretas bank, melainkan sistem automasi rumah mereka di Jakarta agar "Bunda Laura bisa merasa hadir" lewat suara dan pengaturan suhu saat mereka tiba nanti.Ketika roda pesawat menyentuh as
Layar monitor di ruang kerja kakek Leo seketika berubah menjadi medan tempur digital. Barisan kode berwarna hijau zamrud mengalir deras, bertabrakan dengan dinding api (firewall) berwarna merah darah milik The Vulture."Mereka tahu kita di sini!" seru Leo, jemarinya bergerak secepat kilat. "Begitu drive optik ini terhubung ke jaringan Swiss, mereka melacak lonjakan energinya. Mereka menggunakan superkomputer dari pangkalan di Mediterania untuk membobol pertahanan kita!"Alya berdiri di samping Leo, matanya memindai enkripsi yang lewat. "Leo, jangan lawan mereka secara frontal. Gunakan protokol 'Kuda Troya' yang kita pelajari di Jakarta. Biarkan mereka merasa berhasil masuk, lalu kunci mereka di dalam sandbox."Pertahanan PerimeterSementara itu, Daniel mengikuti Laura ke sebuah panel rahasia di balik rak buku. Laura menekan ibu jarinya pada pemindai tersembunyi. Sebuah layar muncul, menampilkan denah 3D rumah mereka yang dikelilingi oleh hutan pinus yang gelap."Rumah ini memiliki sis
"Ingat, kita punya waktu kurang dari lima belas menit di dalam ruang brankas," ujar Daniel sambil merapikan jas wolnya. Ia memeriksa jam tangannya. "Leo, kau tetap di van. Monitor semua frekuensi radio polisi dan The Vulture. Jika kau melihat satu saja anomali di umpan kamera kota, kau beri kode 'Hujan'."Leo mengangguk, jari-jarinya sudah menari di atas keyboard laptop. "Aku sudah meretas akses masuk tamu untuk kalian. Papa dan Mama masuk sebagai 'Mr. and Mrs. Sterling' dari firma hukum di London. Biometrik Papa sudah disinkronkan dengan data kakek, tapi sistem mereka akan melakukan pemindaian retina ganda."Alya menghela napas panjang. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra, tampak seperti sosialita Eropa pada umumnya. "Ayo, Daniel. Mari kita lihat apa yang ayahmu sembunyikan selama ini."Lantai marmer bank itu mengkilap sempurna, memantulkan bayangan lampu gantung kristal yang megah. Seorang pria dengan setelan jas seharga ribuan dolar menyambut mereka deng







