Mag-log in
"Lebih baik kau menjadi janda, dari pada terus ditinggal seperti ini Mona."
Mona, wanita cantik bertubuh seksi itu hanya bisa tersenyum. Sudah menjadi makanan sehari-hari, ketika para tetangga itu menggunjingnya. Dengan penuh kesabaran, Mona selalu menahan amarahnya."Suamiku itu bukan pergi tanpa alasan yang jelas. Dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami setiap harinya," ucap wanita cantik itu, dengan senyum indahnya."Ah itu cuma alasan, bagaimana jika dia menemukan wanita idaman lain di luar sana?"Mona sudah sangat lelah mendengar semua ocehan tetangganya itu. Dia berpikir, lebih baik pergi daripada bertengkar dengan mereka."Maaf ya Ibu, saya masih ada urusan di rumah. Permisi.."Sebuah alasan yang membuat Mona bisa pergi dari kerumunan ibu-ibu tukang gosip itu. Walaupun mungkin nantinya dia akan digosipkan lebih parah dari pada ini. Itu tidak masalah, asalkan semua gunjingan itu tidak dia dengar lagi.Mona, dia hidup sendiri di sebuah rumah mewah. Wanita cantik itu memiliki seorang suami yang baik dan juga kaya raya bernama Raka. Namun lelaki itu bekerja di luar negeri, sehingga tidak bisa selalu melihat sang istri setiap saat. Situasi ini membuat Mona merasa begitu kesepian, dia tidak bisa merasakan kehangatan seorang suami yang begitu dirindukannya. Hanya sebuah telpon dan pesan singkat yang Mona terima setiap saatnya, tidak ada kemesraan atau pun hubungan ranjang yang panas.Sebagai seorang yang sangat sibuk, Raka hanya bisa memanjakan sang istri dengan uang yang berlimpah. Satu bulan sekali dia mungkin pulang, namun setelahnya pergi untuk waktu yang lebih lama lagi. Semua itu membuat Mona tidak merasa bahagia. Namun demi sebuah perasaan yang ada di dalam hatinya, dia tetap bertahan.Uang dan keduniaan memanglah penting, namun jika waktu yang di miliki kurang, apa gunanya semua itu? Mona hanya ingin perhatian, dia hanya ingin sebuah kasih sayang dari sang suami. Semua itu masih belum dia dapatkan, bahkan sebuah kabar saja rasanya sulit sekali.Terkadang Mona sempat berfikir, apakah hubungan rumah tangganya akan berakhir seperti ini?"Kakak? Kak Mona?"Suara seorang lelaki membuat wanita cantik itu menatap ke belakang. Dia melihat sang adik ipar dengan sebuah kantong kresek yang ada di tangan kanannya. Andri, itulah namanya.Seperti biasa, Andri selalu mengantarkan makanan yang dibuatkan oleh mertuanya dari rumah. Sebuah perhatian kecil agar Mona tidak terlalu merasa kesepian di rumah, terlebih karena wanita itu masih belum memiliki seorang keturunan. Sebagai seorang adik ipar yang baik, Andri hanya berusaha untuk menuruti apa yang di perintahkan oleh Raka sang kakak. Setidaknya untuk sering mengunjungi Mona di rumah."Andri, sejak kapan kau di sana?"Mona tersenyum sembari menghampiri sang adik ipar yang berdiri di ambang pintu, dia menepuk bahunya pelan untuk bergurau."Kenapa diam di sana? Apa kau seorang pengantar paket? Masuklah Andri, ini bukan rumah orang lain. Ini adalah rumah kakakmu," ucap Mona kepada lelaki itu.Andri tersenyum kecil, "Bukan begitu. Kakak kan tinggal di sini sendirian, jadi tidak enak juga jika langsung masuk seperti yang Kakak pinta.""Kau ini bicara apa? Cepat masuklah! Aku akan membuatkan kau kopi atau teh."Mona menarik lengan adik iparnya itu, mau tidak mau Andri pun duduk di sana. Lelaki itu sempat malu karena merasa tidak enak jika harus seperti ini, iya mungkin karena sebuah hal."Ibu memasakkan Kakak sup iga, dan aku juga membeli Boba tadi ketika di perjalanan."Andri menyodorkan apa yang dia bawa dalam kantong kresek itu, Mona pun langsung tersenyum ketika melihat apa yang ada dihadapannya. Sebuah minuman yang sangat dia suka."Baik sekali, kalau begitu aku tidak jadi membuat minum. Lebih baik duduk manis di sini saja bersamamu."Mona duduk tepat di hadapan Andri, namun lelaki itu malah memalingkan pandangannya. Bukan tanpa sebab, tapi karena Mona duduk dengan kaki terbuka sehingga dalaman wanita itu sampai terlihat oleh Andri. Entah sadar atau tidak, yang jelas hal itu membuat Andri malu sendiri.Apa dia sengaja? Astaga miliknya terlihat jelas seperti itu. Kak Mona, apa kau sedang menguji kesabaran ku lagi? Batin Andri resah.Lelaki tampan itu berpura-pura untuk menatap ponselnya, sedangkan Mona masih santai menyantap makanan dan juga minuman yang dibawa oleh Andri."Kau tidak makan? Hey Andri?" Tanya Mona kepada lelaki di hadapannya."Tidak, aku sudah makan di rumah tadi. Oh iya Kak, ngomong-ngomong kak Raka kapan pulang? Rasanya bulan ini dia jarang sekali membalas pesan dariku," ucap Andri kepada sang Kakak ipar."Entahlah Andri, Kakakmu itu selalu mengatakan sibuk dan sibuk. Entah apalagi yang ingin dia kejar, padahal sebagai seorang istri aku tidak terlalu meminta apapun. Aku hanya ingin jika Raka berada di Indonesia lebih lama."Wajah Mona terlihat sangat sedih sekarang, apalagi ketika Andri membicarakan tentang suaminya. Raka, dia selalu fokus dengan pekerjaannya. Mungkin hanya uang dan juga posisi yang dia cari saat ini, padahal Mona juga membutuhkan kasih sayang dari suaminya itu. Dia sudah cukup menderita dengan rasa kesepian ini, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menelannya sendiri.Andri, mungkin hanya dia yang sering mengunjungi Mona di sini. Karena kedua orang tuanya sudah meninggal, belum lagi dengan sang mertua yang selalu sibuk. Jadi spa yang bisa Mona lakukan? Tidak ada.Mona hidup sendiri di rumah mewah ini, tanpa ada anak ataupun orang yang bisa mengerti dirinya. Jika boleh memilih, kenapa dia harus mau menikah dengan Raka? Jika pada akhirnya hanya kesepian yang dia dapatkan."Kak? Apa Kakak baik-baik saja? Maaf jika pertanyaan ku membuat Kakak merasa sedih."Lelaki tampan itu pindah ke tempat sang kakak ipar duduk, dia mengusap lengannya agar Mona tidak merasa sedih lagi. Namun apa yang dirasakan oleh wanita itu? Dia malah merasakan sensasi yang berbeda. Sebuah sentuhan itu membuat si wanita kesepian terangsang dibuatnya. Andri, kau sudah salah langkah sekarang!Mona sadarlah! Dia bukan siapa-siapa kecuali adik ipar mu sendiri. Jangan berpikir macam-macam! Sadarlah Mona! Batin wanita itu.Mona bangun dari tempatnya duduk, "Tidak ada Ndri, oh iya maaf Kakak ingin ke belakang dulu. Kau ingin dibuatkan sesuatu?""Tidak, oh iya Kak kalau begitu aku pamit pulang saja. Maaf untuk yang tadi, jika Kakak mau besok kita pergi keluar. Iya setidaknya agar Kakak tidak merasa terus kesepian di rumah."Andri tersenyum manis, dia juga langsung mengambil kunci motor yang ada di atas meja itu lalu pulang. Mona hanya bisa menatapnya dari jauh, bahkan ajakan dari adik iparnya itu masih belum dia jawab. Namun dia yakin jika Andri akan kembali datang besoknya."Apa yang harus aku lakukan? Apakah dia benar-benar ingin mengajakku keluar? Astaga, kenapa akhir-akhir ini aku dekat sekali dengan Andri?"Mona mungkin sadar, jika akhir-akhir ini dia sangat dekat dengan adik iparnya itu. Mungkin karena sang suami sendiri yang meminta Andri untuk sering mengunjungi istrinya di rumah. Padahal itu bukan ide yang bagus, terlebih karena di masa lalu, Andri sempat menyukai kakak iparnya itu.Hari itu langit mendung, seakan tahu bahwa hari itu akan jadi akhir dari segalanya. Ruang sidang terasa sesak. Setiap kata dari hakim terdengar seperti hantaman palu di dada Mona."Hak asuh anak jatuh kepada pihak suami, Raka Wijaya, mengingat tergugat terbukti berselingkuh dan dinilai tidak stabil secara emosional." Kata-kata itu menamparnya keras. Tubuh Mona bergetar. Matanya berair, tapi dia berusaha menahan diri agar tidak terlihat rapuh. Di seberang meja, Raka menunduk. Tatapannya dingin, tapi di baliknya ada luka yang sama dalamnya. Di barisan belakang, Andri duduk dengan wajah pucat. Baru beberapa minggu dia bebas dari tahanan, namun luka batinnya jauh lebih dalam dari tembok penjara mana pun. Ketika palu sidang diketuk terakhir kali, Mona merasa seluruh dunianya runtuh. Anaknya, satu-satunya alasan dia bertahan hidup akan diambil darinya."Aku tidak akan membiarkan anakku diambil... tidak akan." Setelah kehilangan semua kebahagiaan dalam hidupnya. Mona bertekad, jika dia
Hujan pagi itu masih turun lembut, seolah langit ikut berduka bersama seorang perempuan yang berjalan dengan langkah gontai di bawah payung kecil yang sudah sobek di ujungnya. Tubuh Mona masih lemah, bekas operasi di perutnya kadang terasa nyeri setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Namun, rasa sakit itu tak seberapa dibanding perih yang terus mencabik jiwanya. Matanya sembab, wajahnya pucat, dan langkahnya seperti tak lagi tahu arah. Tapi ada satu tujuan yang tertanam di pikirannya, Andri. Satu-satunya orang yang mungkin masih bisa mengerti, satu-satunya yang dulu pernah memperjuangkannya, meski dengan cara yang salah. Di kantor polisi, udara terasa pengap. Ruangan itu berbau lembap dan sedikit amis, sisa dari malam sebelumnya yang diguyur hujan. Seorang petugas menatap Mona yang berdiri di depan meja, mencoba menenangkan dirinya sebelum berbicara."Permisi… saya ingin menemui Andri Wijaya," suaranya lirih, hampir tenggelam oleh suara hujan di luar. Petugas itu sempat mena
Suasana rumah malam itu mencekam. Hujan turun pelan, mengguyur halaman besar kediaman Raka. Petir menyambar di kejauhan, menimbulkan pantulan cahaya di kaca besar ruang tengah. Mona berdiri di sana, menggendong bayinya dengan erat seolah takut kehilangan. Wajahnya pucat, matanya sembab karena menangis sejak diseret paksa oleh suaminya. Dari arah pintu, suara langkah kaki berat terdengar. Raka baru pulang dari kantor polisi, wajahnya dingin dan lelah, namun sorot matanya begitu tajam menatap Mona dan bayi yang berada di pelukannya. Di belakangnya, Kania berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap menantunya dengan ekspresi penuh penghakiman."Raka," ucap Mona pelan, suaranya serak. "Kenapa kau membawaku lagi ke sini?" Raka tidak menjawab. Dia hanya berjalan mendekat, menatap bayi mungil itu lama, lalu mengulurkan tangan. "Berikan anak itu padaku." Mona segera mundur satu langkah, memeluk bayinya lebih erat lagi. "Tidak, jangan! Dia butuh aku. Aku ibunya, Raka!""Mona…" nada su
Hujan turun semakin deras. Langit seperti meratap bersama mereka. Petir menyambar di kejauhan, menyinari ladang kosong yang kini menjadi saksi pelarian dua orang berdosa Andri dan Mona. Andri menyalakan mesin mobilnya dengan terburu-buru, tangannya bergetar saat mencoba menyalakan wiper yang tak mau bekerja sempurna. Mona duduk di kursi belakang, memeluk bayinya erat-erat dengan kain selimut tebal. Bayinya merengek kecil, mungkin karena udara dingin yang menusuk tulang."Andri, jangan terlalu cepat," pinta Mona dengan napas terengah. "Kita harus hati-hati. Bayinya-" "Aku tahu," potong Andri cepat, matanya tajam menatap jalan gelap di depan. "Tapi kalau kita tidak segera keluar dari sini, mereka akan menemukan kita." Namun belum sempat dia melangkah jauh, cahaya lampu menembus kegelapan dari arah berlawanan. Satu mobil, dua, tiga hingga akhirnya lebih dari lima kendaraan berhenti di sekitar mereka. Sorotan lampu menembus kaca depan mobil mereka, membuat mata Andri silau. Lalu suara
Angin malam berhembus tajam, menusuk kulit. Di dalam mobil yang melaju kencang di jalan luar kota, Mona duduk di kursi belakang sambil mendekap bayinya erat-erat. Wajahnya pucat, matanya sembab karena tangis yang tak henti sejak mereka meninggalkan rumah sakit. Bayinya tidur tenang di pelukannya, tak tahu badai besar yang kini tengah mengancam. Andri, di balik kemudi, menatap jalanan dengan fokus penuh. Tangan kirinya menggenggam setir, sementara tangan kanannya sesekali mengecek kaca spion, memastikan tidak ada mobil yang mengikuti mereka. Wajahnya tegang, rahang terkunci rapat. "Pegang bayinya baik-baik, Mona. Kita hampir sampai," ucapnya pelan, suaranya bergetar tapi berusaha tenang. Mona menatapnya melalui pantulan kaca depan. "Andri… apa yang kita lakukan ini benar?" Matanya memohon, seolah berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk. Andri menarik napas panjang. "Aku tidak tahu apa yang benar, Mona. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak akan membiarkan mereka mengam
Suasana rumah sakit malam itu terasa ganjil, terlalu tenang untuk hati yang sedang bergejolak. Lampu-lampu lorong berpendar lembut, menciptakan bayangan panjang di dinding putih yang dingin. Aroma antiseptik menyeruak kuat di udara, bercampur dengan hawa tegang yang menggelayuti setiap langkah dua orang yang baru saja tiba di sana. Raka berjalan cepat di samping Kania, wajahnya keras dan rahangnya mengatup rapat. Dia tidak bisa tdour nyenyak sejak dua hari terakhir, dan malam ini, dia datang dengan satu keputusan pasti. Mengakhiri segalanya. Kania di sampingnya menatap lurus ke depan, tatapannya tegas, penuh amarah yang sudah dipendam terlalu lama."Setelah ini, tidak ada lagi keraguan," kata Kania dingin, suaranya pelan tapi menusuk. "Kau akan menceraikannya, Raka. Itu keputusan yang paling benar." Raka tidak menjawab. Tangannya terkepal. Hatinya sudah terlalu hancur untuk bisa membantah.Langkah mereka semakin cepat, mendekati ruangan tempat Mona dan bayi itu dirawat. Raka menah







