Home / Rumah Tangga / Gairah Saudara Ipar / Jangan Berpikiran Mesum

Share

Jangan Berpikiran Mesum

Author: Nona Lee
last update Huling Na-update: 2022-11-08 18:15:10

"Apa di rumah Kakak tidak ada siapa-siapa?" Tanya Andri.

"Tidak, memangnya kenapa? Kau sedang memikirkan sesuatu yang mesum ya?"

Wajah lelaki itu langsung memerah, dia merasa malu sendiri dengan ucapannya. Padahal maksud Andri adalah, dia ingin tahu ada siapa dirumahnya. Namun sang kakak ipar malah berpikiran ke arah yang berbeda. Hal ini membuat Andri terlihat seperti lelaki mesum. Padahal Mona sendiri tahu, jika adik iparnya bukan lelaki yang seperti itu.

"Jangan salah paham Kak, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya memastikan jika nanti para tetangga tidak akan berpikiran macam-macam kepada kita," ucap Andri kepada wanita itu.

Mona menepuk pundak adik iparnya itu, "Kenapa harus berpikiran macam-macam? Lagi pula kita ini kan saudara ipar, bukan siapa-siapa."

Yang dikatakan kakak iparnya itu benar. Mereka hanya saudara ipar, tapi tetap saja beberapa orang pasti akan berpikiran berbeda. Mereka mungkin akan mulai menyebarkan gosip baru, bahkan lebih parah dari yang keduanya pikirkan.

"Tapi Kak bagaimana jika mereka berpikiran macam-macam?" Tanya Andri dengan wajah takutnya.

"Ah, kau itu cemen sekali. Jangan pikirkan omongan orang-orang, kita ya kita!" Tegas wanita itu kenapa adik iparnya.

"Iya kalau begitu aku mampir dulu Kak, kebetulan Andri juga lapar," jawab lelaki itu.

Setelah keduanya selesai berkompromi, Andri pun segera mengajak Mona untuk pulang. Lagi pula mereka sudah selesai menonton, tidak ada kegiatan lain yang akan keduanya lakukan.

Mona langsung naik ke atas motor itu. Seperti biasa, dia berpegang sangat erat kepada adik iparnya. Kesabaran Andri sedang di uji sekarang, dia harus kembali merasakan gairah yang tak tertahankan. Apalagi ketika dua gunung milik kakak iparnya itu menempel di punggungnya, perasaan aneh kian Andri rasakan.

"Ndri, tidak bisakah kita pergi jalan-jalan dulu? Atau mungkin membeli makanan untuk di rumah?" Tanya Mona kepada adik iparnya.

"Memangnya Kak Mona gak masak di rumah?" Tanya balik Andri.

"Masak, tapi aku takut kau tidak menyukai masakan ku. Jadi lebih baik kau beli saja di luar, atau mungkin pesan secara online."

Mona tidak terlalu pandai dalam memasak, jadi dia khawatir jika Andri tidak akan menyukai masakannya. Padahal lelaki itu tidak pernah pilih-pilih dalam makanan, dia akan sangat menghargai jika itu masakan buatan rumah.

"Kakak ini bicara apa? Lebih baik makan masakan Kakak saja di rumah," ucap Andri.

Lelaki itu mencoba menutup pembicaraan. Karena dia pikir itu lebih baik. Mona pun tidak menjawab apapun lagi. Selama adik iparnya mau, iya sudah. Makan di rumah dengan masakan buatannya hari ini.

"Kau mau nasi yang banyak?"

Wanita cantik itu mengambil piring milik Andri, dia juga menuangkan nasi ke piring adik iparnya. Setelah itu Mona memilih beberapa lauk yang mungkin dia sukai oleh Andri.

"Kak, jangan terlalu banyak. Bulan ini aku sedang diet," ucap lelaki itu dengan senyum indahnya.

Mona tertawa kecil, "Apa lagi yang ingin kau kecilkan? Badanmu itu sudah sangat bagus Ndri, jadi berhentilah menyiksa diri sendiri."

"Bagus apa Kak? Badanku jauh sekali jika di bandingkan dengan kak Raka. Dia itu sudah tampan, tinggi, belum lagi dengan badan yang penuh dengan otot. Hm, idaman semua wanita. Pantas saja kak Mona sampai jatuh hati padanya," goda Andri kepada kakak iparnya itu.

"Kau ini bicara apa? Tidak ada gunanya memiliki semua kesempurnaan itu, jika dia tidak pernah bisa menghargai hati perempuan."

Wajah Mona langsung berubah, terlihat sekali kesedihan dari raut wajahnya. Andri merasa menyesal karena sudah mengatakan hal itu kepada kakak iparnya. Sebuah candaan yang mungkin membuat Mona merasakan kembali kesedihan. Sang kakak memang selalu sibuk dengan bisnis keluarga, sampai lupa untuk pulang. Terkadang Andri juga merasa bersalah dalam hal ini, karena dia yang tidak pernah mau membantu bisnis keluarga. Andri menyerahkan semuanya kepada sang kakak, padahal dia sendiri tahu jika lelaki itu baru saja menikah dan memiliki keluarga sendiri.

"Maaf ya Kak, jika kata-kataku membuat Kakak sedih," ucap Andri dengan penuh penyesalan.

"Tidak apa, hari-hariku memang selalu penuh kesedihan Ndri. Jadi jangan meminta maaf seperti itu. Oh iya, aku dengar kau bekerja sebagai model. Kenapa memilih bidang seperti itu?" Tanya Mona pada lelaki itu.

Andri tersenyum, "Iya karena aku memang lebih menyukai pekerjaan yang bebas Kak. Belum lagi jika di sana, begitu banyak wanita cantik hahaha.."

"Oh jadi begitu, pantas saja kau memikirkan sekali penampilanmu. Jadi kau ingin menarik perhatian mereka? Dasar lelaki."

Mona langsung duduk setelah menggoda adik iparnya itu. Namun sebuah pemandangan hampir membuat Andri tersedak nasi yang baru saja dia kunyah. Wanita itu tanpa sengaja memperlihatkan sedikit dari bagian dadanya tepat dihadapan sang adik ipar.

Sialan! Godaan apa lagi ini? Please kak Mona, kau bisa membuat kesabaran ini habis.

Andri langsung melahap nasi untuk memenuhi mulutnya, dia tidak ingin sampai berpikiran jorok. Namun entah mengapa wanita itu seolah terus saja memancingnya, walaupun mungkin tidak disengaja.

Mereka makan dengan lahap, bahkan tanpa ada pembicaraan sedikitpun. Obrolan demi obrolan terus Andri dan Mona lakukan. Bahkan untuk menemani sang kakak ipar di sana, Andri mengajak Mona untuk berkebun. Mereka membersihkan taman belakang, lalu menanam ulang bunga yang tidak terawat.

Waktu terus berjalan, tidak terasa jika malam telah tiba. Andri yang kelelahan tertidur di sofa, sedangkan Mona sibuk di dapur untuk memasak makan malam. Ketika wanita itu hendak mengajak Andri makan, dia melihatnya sudah tertidur di tengah rumah.

Entah mengapa, wajah lelaki itu terlihat sangat menggemaskan. Wajahnya yang putih, bibirnya yang tebal namun seksi, membuat Mona ingin sekali mencubitnya. Andai saja jika sang suami yang berada di posisi seperti ini, mungkin dia akan mencium lalu memeluknya. Mereka akan menghabiskan waktu bersama hingga pagi. Menghidupkan malam yang dingin ini dengan kehangatan di atas ranjang.

"Astaga Mona, kenapa pikiranmu kotor seperti itu? Dia ini adik iparmu, bukan suami. Tapi jika dipikir-pikir, bagus juga jika dia jadi selingkuhan ku. Arghh sudahlah, pikiranmu sudah sangat kotor!"

Ketika wanita itu hendak kembali ke dapur, suara Andri membuatnya kembali terdiam. Lelaki itu tengah mengigau, bahkan menyebut-nyebut nama kakak iparnya. Seketika Mona bingung, apa yang sedang lelaki itu mimpikan?

"Mona... Terus seperti itu iya.."

"Mona..."

"Cantik sekali wajahmu malam ini..."

Ingin sekali Mona tertawa, mendengar celotehan Andri ketika sedang mengigau. Mungkin dia sedang memimpikan hal yang lucu, tapi Mona tidak tahu itu apa.

Wanita itu kembali berjalan menghampiri sang adik ipar, menyentuh kepalanya. Bahkan tanpa sadar Mona mengusap rambut yang halus itu.

"Lucu sekali kau Andri.." gumam wanita itu pelan.

Karena meras ada sesuatu yang menggerayami kepalanya, lelaki itu pun terbangun. Dia terkejut karena melihat sang kakak ipar sudah duduk di sampingnya, bahkan Mona dengan santai mengusap kepalanya.

"Eh.. sudah bangun rupanya. Mimpi apa kau ini Ndri? Lucu sekali, karena sampai menyebut namaku."

"Hah, aku menyebut nama Kakak?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gairah Saudara Ipar   Perjuangan Terakhir Mona

    Hari itu langit mendung, seakan tahu bahwa hari itu akan jadi akhir dari segalanya. Ruang sidang terasa sesak. Setiap kata dari hakim terdengar seperti hantaman palu di dada Mona."Hak asuh anak jatuh kepada pihak suami, Raka Wijaya, mengingat tergugat terbukti berselingkuh dan dinilai tidak stabil secara emosional." Kata-kata itu menamparnya keras. Tubuh Mona bergetar. Matanya berair, tapi dia berusaha menahan diri agar tidak terlihat rapuh. Di seberang meja, Raka menunduk. Tatapannya dingin, tapi di baliknya ada luka yang sama dalamnya. Di barisan belakang, Andri duduk dengan wajah pucat. Baru beberapa minggu dia bebas dari tahanan, namun luka batinnya jauh lebih dalam dari tembok penjara mana pun. Ketika palu sidang diketuk terakhir kali, Mona merasa seluruh dunianya runtuh. Anaknya, satu-satunya alasan dia bertahan hidup akan diambil darinya."Aku tidak akan membiarkan anakku diambil... tidak akan." Setelah kehilangan semua kebahagiaan dalam hidupnya. Mona bertekad, jika dia

  • Gairah Saudara Ipar   Sisa Nafas Seorang Ibu

    Hujan pagi itu masih turun lembut, seolah langit ikut berduka bersama seorang perempuan yang berjalan dengan langkah gontai di bawah payung kecil yang sudah sobek di ujungnya. Tubuh Mona masih lemah, bekas operasi di perutnya kadang terasa nyeri setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Namun, rasa sakit itu tak seberapa dibanding perih yang terus mencabik jiwanya. Matanya sembab, wajahnya pucat, dan langkahnya seperti tak lagi tahu arah. Tapi ada satu tujuan yang tertanam di pikirannya, Andri. Satu-satunya orang yang mungkin masih bisa mengerti, satu-satunya yang dulu pernah memperjuangkannya, meski dengan cara yang salah. Di kantor polisi, udara terasa pengap. Ruangan itu berbau lembap dan sedikit amis, sisa dari malam sebelumnya yang diguyur hujan. Seorang petugas menatap Mona yang berdiri di depan meja, mencoba menenangkan dirinya sebelum berbicara."Permisi… saya ingin menemui Andri Wijaya," suaranya lirih, hampir tenggelam oleh suara hujan di luar. Petugas itu sempat mena

  • Gairah Saudara Ipar   Kita Bercerai

    Suasana rumah malam itu mencekam. Hujan turun pelan, mengguyur halaman besar kediaman Raka. Petir menyambar di kejauhan, menimbulkan pantulan cahaya di kaca besar ruang tengah. Mona berdiri di sana, menggendong bayinya dengan erat seolah takut kehilangan. Wajahnya pucat, matanya sembab karena menangis sejak diseret paksa oleh suaminya. Dari arah pintu, suara langkah kaki berat terdengar. Raka baru pulang dari kantor polisi, wajahnya dingin dan lelah, namun sorot matanya begitu tajam menatap Mona dan bayi yang berada di pelukannya. Di belakangnya, Kania berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap menantunya dengan ekspresi penuh penghakiman."Raka," ucap Mona pelan, suaranya serak. "Kenapa kau membawaku lagi ke sini?" Raka tidak menjawab. Dia hanya berjalan mendekat, menatap bayi mungil itu lama, lalu mengulurkan tangan. "Berikan anak itu padaku." Mona segera mundur satu langkah, memeluk bayinya lebih erat lagi. "Tidak, jangan! Dia butuh aku. Aku ibunya, Raka!""Mona…" nada su

  • Gairah Saudara Ipar   Malam Penangkapan Andri

    Hujan turun semakin deras. Langit seperti meratap bersama mereka. Petir menyambar di kejauhan, menyinari ladang kosong yang kini menjadi saksi pelarian dua orang berdosa Andri dan Mona. Andri menyalakan mesin mobilnya dengan terburu-buru, tangannya bergetar saat mencoba menyalakan wiper yang tak mau bekerja sempurna. Mona duduk di kursi belakang, memeluk bayinya erat-erat dengan kain selimut tebal. Bayinya merengek kecil, mungkin karena udara dingin yang menusuk tulang."Andri, jangan terlalu cepat," pinta Mona dengan napas terengah. "Kita harus hati-hati. Bayinya-" "Aku tahu," potong Andri cepat, matanya tajam menatap jalan gelap di depan. "Tapi kalau kita tidak segera keluar dari sini, mereka akan menemukan kita." Namun belum sempat dia melangkah jauh, cahaya lampu menembus kegelapan dari arah berlawanan. Satu mobil, dua, tiga hingga akhirnya lebih dari lima kendaraan berhenti di sekitar mereka. Sorotan lampu menembus kaca depan mobil mereka, membuat mata Andri silau. Lalu suara

  • Gairah Saudara Ipar   Pengejaran

    Angin malam berhembus tajam, menusuk kulit. Di dalam mobil yang melaju kencang di jalan luar kota, Mona duduk di kursi belakang sambil mendekap bayinya erat-erat. Wajahnya pucat, matanya sembab karena tangis yang tak henti sejak mereka meninggalkan rumah sakit. Bayinya tidur tenang di pelukannya, tak tahu badai besar yang kini tengah mengancam. Andri, di balik kemudi, menatap jalanan dengan fokus penuh. Tangan kirinya menggenggam setir, sementara tangan kanannya sesekali mengecek kaca spion, memastikan tidak ada mobil yang mengikuti mereka. Wajahnya tegang, rahang terkunci rapat. "Pegang bayinya baik-baik, Mona. Kita hampir sampai," ucapnya pelan, suaranya bergetar tapi berusaha tenang. Mona menatapnya melalui pantulan kaca depan. "Andri… apa yang kita lakukan ini benar?" Matanya memohon, seolah berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk. Andri menarik napas panjang. "Aku tidak tahu apa yang benar, Mona. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak akan membiarkan mereka mengam

  • Gairah Saudara Ipar   Pelarian Mona Dan Andri

    Suasana rumah sakit malam itu terasa ganjil, terlalu tenang untuk hati yang sedang bergejolak. Lampu-lampu lorong berpendar lembut, menciptakan bayangan panjang di dinding putih yang dingin. Aroma antiseptik menyeruak kuat di udara, bercampur dengan hawa tegang yang menggelayuti setiap langkah dua orang yang baru saja tiba di sana. Raka berjalan cepat di samping Kania, wajahnya keras dan rahangnya mengatup rapat. Dia tidak bisa tdour nyenyak sejak dua hari terakhir, dan malam ini, dia datang dengan satu keputusan pasti. Mengakhiri segalanya. Kania di sampingnya menatap lurus ke depan, tatapannya tegas, penuh amarah yang sudah dipendam terlalu lama."Setelah ini, tidak ada lagi keraguan," kata Kania dingin, suaranya pelan tapi menusuk. "Kau akan menceraikannya, Raka. Itu keputusan yang paling benar." Raka tidak menjawab. Tangannya terkepal. Hatinya sudah terlalu hancur untuk bisa membantah.Langkah mereka semakin cepat, mendekati ruangan tempat Mona dan bayi itu dirawat. Raka menah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status