Beranda / Urban / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 162 Gejolak dan Hasrat di Rumah Jessy

Share

Bab 162 Gejolak dan Hasrat di Rumah Jessy

Penulis: Irbapiko
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-15 08:10:08

Pagi itu, Jessy sudah berdiri di depan cermin besar kamarnya di Kemang dengan perasaan yang meledak-ledak. Ada kombinasi antara kegembiraan, kecemasan, dan gairah yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia memilih pakaian santai—kaos tanpa lengan yang sedikit ketat dan celana pendek—namun di dalam tas jinjingnya, ia sudah menyiapkan senjata rahasia: sebuah pakaian renang two-piece berwarna merah marun yang ia beli di Singapura tahun lalu namun belum sempat ia pakai.

Saat

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 167 Puncak Penyatuan dan Janji Suci

    Suasana di kamar utama rumah Ampera itu telah mencapai titik didih yang paling maksimal. Suara hujan yang tadinya menderu di luar seolah tenggelam oleh suara aktivitas yang terjadi di atas ranjang besar tersebut. Jessy masih dalam posisi menungging, membelakangi Brian, memperlihatkan lengkungan punggung yang indah dan pantat yang putih kenyal tepat di depan mata Brian. Brian, dengan napas yang memburu dan keringat yang mengucur deras di dahi serta dada bidangnya, memegang pinggul Jessy dengan mantap.Tanpa menunggu lebih lama, Brian kembali menghujamkan torpedonya yang besar dan panjang ke dalam liang syurgawi Jessy dari arah belakang."OHHH! MASSS! DALEM BANGET!" teriak Jessy, wajahnya terbenam sebentar di bantal sebelum ia mendongak dengan mata terpejam rapat.Brian mulai menggenjot dengan irama yang beringas. Setiap genjotannya masuk hingga mencapai pangkal, menciptakan suara benturan kulit yang khas—plok... plok... plok...—yang menggema

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 166 Pembuktian Cinta di Atas Ranjang

    Suara gerimis di luar rumah Ampera semakin menderu, menciptakan simfoni alam yang seolah menutup dunia luar dari apa yang terjadi di dalam kamar utama itu. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan rona keemasan pada kulit mereka yang bersentuhan. Brian kini berada di posisi yang sangat menentukan, bertumpu pada kedua tangannya di sisi kepala Jessy, menatap tajam ke dalam manik mata wanita cantik itu yang sudah sayu, berkabut oleh gairah yang sudah meluap-luap."Mas... tolong, sekarang..." bisik Jessy, suaranya hampir hilang, tercekik oleh rasa ingin yang luar biasa.Brian menatap Jessy dengan cinta yang mendalam, namun ada sedikit kilat kenakalan di matanya. Meski tangannya agak gemetar karena menahan beban birahinya sendiri, ia tidak langsung menuruti permintaan Jessy. Ia memegang pinggul Jessy yang sintal, menariknya sedikit lebih dekat, lalu perlahan ia hanya menggesek-gesekkan kepala torpedonya yang besar dan panas itu ke bibir lubang kenikmatan Jessy yang sudah

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 165 Penyatuan Dua Jiwa

    Suasana kamar tidur di rumah Ampera itu telah berubah menjadi medan magnet gairah yang tak terbendung. Alunan musik jazz yang tadinya terdengar santai, kini seolah-olah berdenyut mengikuti irama jantung dua insan yang tengah terbakar asmara. Brian, dengan tubuh perkasanya yang masih basah oleh sisa air mandi, perlahan merebahkan dirinya di atas tubuh bugil Jessy yang sudah menantinya di atas sprei satin yang dingin.Kontak kulit ke kulit itu mengirimkan sengatan listrik yang dahsyat. Jessy bisa merasakan beban tubuh Brian yang maskulin, sebuah beban yang tidak menghimpit, melainkan memberikan rasa aman yang luar biasa. Di bawah sana, ia merasakan keperkasaan Brian yang tegang sempurna bersentuhan langsung dengan area sensitifnya. Ujung kejantanan Brian yang berurat itu menempel di atas bulu-bulu halus di atas liang kenikmatan Jessy yang sudah sangat basah sejak mereka masih di kamar mandi tadi."Mas Brian... akhirnya," bisik Jessy, suaranya parau, penuh dengan kerindua

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 164 Gelombang Gairah yang Siap Meledak

    Suasana di dalam kamar utama rumah Jessy di Ampera seolah membeku sesaat, meski alunan smooth jazz masih mengalun rendah dari sudut ruangan. Brian masih mematung di tepi ranjang, telapak tangannya yang hangat masih menempel di kulit punggung Jessy yang halus. Ia bisa merasakan degup jantungnya sendiri yang berdegup kencang, seolah-olah guncangannya bisa terdengar oleh siapa pun yang ada di rumah itu. Jessy, yang merasakan keraguan dan getaran di tangan pria di atasnya, memutuskan bahwa sudah saatnya ia mengambil kendali penuh atas permainan ini.Jessy membalikkan tubuhnya perlahan, membuat handuk tipis yang ia kenakan sedikit melonggar di bagian dada. Ia menatap mata Brian yang tampak gelap, penuh dengan gairah yang tertahan luar biasa."Mas Brian," bisik Jessy, suaranya terdengar sangat dalam dan menggoda. "Mas badannya keringetan banget setelah beresin gudang tadi. Bau debunya nggak enak, Mas. Mandi dulu yuk? Mandi di dalam sini saja, air hangatnya sudah nya

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 163 Awal Keruntuhan Benteng Pertahanan

    Matahari baru saja melewati puncaknya saat Brian dan Jessy kembali ke rumah di kawasan Ampera. Sesuai rencana kemarin, agenda hari ini adalah menuntaskan area yang paling sulit: gudang belakang dan kamar utama. Udara terasa lebih lembap dan gerah, khas cuaca Jakarta yang sebentar lagi akan diguyur hujan sore."Siap untuk ronde kedua, Jess?" tanya Brian sambil menurunkan kotak peralatan dari bagasi mobilnya. Ia tampak gagah hanya dengan mengenakan singlet hitam yang melekat ketat pada tubuhnya yang berkeringat, memperlihatkan definisi otot punggung dan lengannya yang sempurna."Siap banget, Mas. Malah aku sudah nggak sabar dari semalam," jawab Jessy dengan nada bicara yang sengaja ia buat sedikit serak. Ia mengenakan celana gemes yang sangat pendek dan kaos putih tipis yang agak menerawang karena keringat tipis mulai membasahi tubuhnya.***Mereka memulai dari gudang belakang yang penuh dengan tumpukan kardus tua dan rak besi. Ruangannya

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 162 Gejolak dan Hasrat di Rumah Jessy

    Pagi itu, Jessy sudah berdiri di depan cermin besar kamarnya di Kemang dengan perasaan yang meledak-ledak. Ada kombinasi antara kegembiraan, kecemasan, dan gairah yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia memilih pakaian santai—kaos tanpa lengan yang sedikit ketat dan celana pendek—namun di dalam tas jinjingnya, ia sudah menyiapkan senjata rahasia: sebuah pakaian renang two-piece berwarna merah marun yang ia beli di Singapura tahun lalu namun belum sempat ia pakai.Saat menuruni tangga, ia melihat Brian sudah berbincang akrab dengan Pak Baskoro. Brian tampak maskulin dengan kaos oblong putih yang menonjolkan bentuk dadanya dan celana kargo pendek."Sudah siap, Jess?" tanya Brian sambil berdiri, tatapannya menyapu penampilan Jessy dengan sopan namun ada kilat kekaguman yang tak bisa disembunyikan."Sudah, Mas. Ayo, nanti keburu siang, udaranya pasti makin panas," jawab Jessy sambil tersenyum manis.***Rumah pribadi Jessy di kawasan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status