Home / Urban / Gairah Sopir dan Majikan / Bab 222 Keringat Penebusan Dosa

Share

Bab 222 Keringat Penebusan Dosa

Author: Irbapiko
last update Huling Na-update: 2026-03-02 08:10:14

Bau sisa cat semprot yang menyengat di tembok gerbang masih tertinggal di udara pagi Kemang, beradu dengan aroma amis darah binatang yang belum sepenuhnya menguap meski Slamet sudah menyikatnya hingga punggungnya pegal. Di paviliun, Pak Baskoro duduk terdiam, jemarinya yang mulai berkerut memutar-mutar cangkir teh porselen yang sudah mendingin. Pikirannya tidak sedang di sini; ia teringat kunci kedua di dalam kotak kayu hitam yang semalam diletakkan orang misterius di gerbang belakang—k

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 273 Rahasia di Balik Foto

    "Met, cepet! Jangan sampe ketauan satpam komplek kalau kita bongkar-bongkar malem begini!"Suara Arya terdengar tertahan, nyaris menyerupai desisan di tengah keheningan ruang kerja Rumah Kemang. Slamet tidak menyahut; ia sibuk mengatur napasnya yang menderu pelan. Jemarinya yang kasar menyentuh permukaan meja jati besar milik mendiang Pak Baskoro, merasakan dinginnya kayu yang seolah membawa hawa dari masa lalu. Ia sempat terhenti sejenak, menatap debu yang menari-nari di sorot lampu senter ponselnya, sementara hatinya masih terasa remuk mengingat bunyi datar mesin EKG di rumah sakit tadi. Ada distraksi psikologis yang aneh; Slamet mendadak merasa gatal di ujung hidungnya, namun ia mengabaikannya demi fokus pada laci meja yang terkunci rapat."Sabar, Den. Kuncinya pasti ada di sekitar sini," bisik Slamet. Ia merogoh laci paling bawah, tangannya gemetar hebat hingga terdengar bunyi gesekan kayu yang nyaring di ruangan sunyi itu."Gue nggak tenang, Met. Bayangin k

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 272 Genggaman Terakhir Sang Majikan

    "Mas Arya, Slamet... masuk sekarang, Bapak sudah nunggu."Suara Tante Lina yang bergetar di depan pintu ICU itu nyaris tenggelam oleh desis mesin ventilator, tapi bagi Slamet, kalimat itu seperti lonceng yang memanggilnya ke tepi jurang. Ia sempat terhenti sejenak, menatap ubin putih rumah sakit yang memantulkan cahaya neon dengan dingin, sebelum akhirnya memberanikan diri melangkah masuk ke dalam ruangan yang pengap oleh bau obat dan maut yang mengintai. Slamet meraba saku celananya, mencari koin keberuntungannya yang tadi ia putar-putar dengan gelisah, namun jemarinya justru menemukan lipatan sapu tangan yang sudah basah oleh keringat dingin."Bapak... ini Slamet, Pak," bisik Slamet, ia mendekat ke sisi ranjang yang dipenuhi kabel-kabel monitor yang berkedip tanpa henti.Pak Baskoro terbaring sangat lemah. Masker oksigen menutupi sebagian wajahnya yang kuyu, namun matanya terbuka sedikit—redup, namun tetap memiliki sisa-sisa wibawa Macan Kemang yang dulu

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 271 Kepulangan ke Jakarta

    “Mas, koper yang isi oleh-oleh bakpia sudah masuk bagasi taksi, kan?"Cindy bertanya sembari merapikan anak rambutnya yang berantakan terkena angin pagi bandara YIA yang kencang. Slamet hanya mengangguk pelan, jemarinya masih sibuk memainkan kunci motor yang ia simpan di saku jaket—sebuah distraksi kecil yang selalu ia lakukan saat merasa gelisah. Ia sempat terhenti sejenak, menatap aspal landasan pacu yang mulai berkilau tertimpa matahari pagi, lalu menghela napas panjang. Ada rasa berat yang menggelayut di pundaknya, seolah-olah meninggalkan Jogja berarti meninggalkan sebagian beban, namun ia tahu Jakarta sudah menyiapkan badai yang lebih besar."Sampun, Cin. Semua sudah aman," jawab Slamet pendek. Ia meraih tangan Cindy, merasakan jemari istrinya yang sedikit dingin. "Kamu capek? Kalau di pesawat nanti mau tidur, tidur aja. Biar Mas yang bangunin pas mendarat.""Nggak tahu, Mas. Rasanya malah nggak bisa merem. Kepikiran Papa terus," Cindy menggigi

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 270 Malam Terakhir di Jogja

    "Mas, kancingnya copot satu, ya?"Cindy bergumam pelan sembari jemarinya sibuk mengutak-atik ujung kemeja Slamet. Mereka sedang duduk bersila di atas ambal tipis di sudut kamar hotel, sementara di luar jendela, kerlap-kerlip lampu Yogyakarta tampak seperti butiran permata yang tumpah di atas kain beludru hitam. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap bayangan mereka di kaca jendela yang sedikit buram karena embun AC. Ia baru saja hendak menyesap sisa kopi tubruknya yang sudah mendingin dan menyisakan ampas tebal di dasar gelas, namun urung karena perhatian istrinya."Halah, paling gara-gara ditarik preman di Kotagede tadi pagi, Cin," jawab Slamet santai. Ia meletakkan gelasnya, lalu mengusap tengkuknya yang mendadak terasa gatal. "Nggak apa-apa, besok kan kita sudah balik ke Jakarta. Biar nanti aku benerin di rumah Tebet."Cindy mendongak. Matanya yang jernih tampak sedikit sembab, sisa dari tangisnya setelah mendengar pengakuan jujur Pak Broto beberapa jam lalu

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 269 Pengakuan Pak Broto

    "Ngapain kamu bawa map kusam itu ke sini, Met?"Suara Pak Broto terdengar berat, memecah kesunyian ruang kerja yang hanya ditemani detak jam dinding tua bermerek Seiko. Slamet masih berdiri di ambang pintu, jari-jarinya merasakan tekstur kasar map cokelat yang terasa panas di genggamannya. Di luar, suara hujan sisa semalam yang membasahi aspal jalanan Tebet mulai menguap, meninggalkan bau lembap yang khas dan menusuk hidung. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap debu-debu yang menari di bawah lampu meja, sementara pikirannya sibuk merangkai kata agar tak salah ucap."Ini... ini titipan dari Jogja, Bapak," jawab Slamet pelan. Ia melangkah maju, meletakkan dokumen itu di atas meja kayu jati yang kokoh.Pak Broto melepas kacamata bacanya. Jemarinya yang mulai keriput tampak gemetar saat menyentuh ujung map tersebut. "Pramono? Kamu sudah ketemu dia?""Sampun, Bapak. Mas Arya dan Mas Brian juga ikut. Masalah Pramono sudah beres, dia nggak bakal ganggu keluar

  • Gairah Sopir dan Majikan   Bab 268 Jebakan di Titik Nol

    Gelas kopi plastik di atas meja bundar itu sudah mulai mendingin, meninggalkan lingkaran cokelat lengket di permukaan marmer yang kusam. Slamet mengusap sudut bibirnya yang masih berdenyut nyeri, sisa dari perkelahian di gang Kotagede tadi pagi. Ia menatap kerumunan orang di kawasan Titik Nol Yogyakarta yang mulai memadat; suara musisi jalanan beradu dengan bising knalpot kendaraan, menciptakan hiruk-pikuk yang seolah berusaha menelan kegelisahan di dadanya. Slamet sempat terhenti sejenak, meraba saku jaketnya, memastikan sebuah alat penyadap kecil yang dipasang Brian masih menempel dengan aman di balik lipatan kain."Met, lo yakin dia bakal dateng sendiri?" bisik Brian lewat earpiece yang tersamar. Brian sedang mendekam di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi, memantau layar laptop dengan jemari yang terus bergerak lincah.Slamet menarik napas panjang, menatap lampu merkuri yang mulai menyala redup. "Wong kemaruk kayak gitu nggak bakal mau bagi has

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status