LOGINGemerincing gantungan kunci di saku celana Arya terasa seperti beban seberat satu ton saat ia melangkah menyusuri lorong ruko di Kuningan. Di luar, langit Jakarta sedang menggantungkan warna abu-abu yang suram, sementara suara klakson kendaraan yang terjebak macet terdengar samar dari kejauhan. Arya sempat terhenti di depan sebuah pintu kaca dengan stiker estetik bertuliskan "Sita’s Herbal & Massage". Jantungnya berdegup tak keruan. Ia merogoh saku, menyentuh kertas kecil d
"Mas, kancingnya copot satu, ya?"Cindy bergumam pelan sembari jemarinya sibuk mengutak-atik ujung kemeja Slamet. Mereka sedang duduk bersila di atas ambal tipis di sudut kamar hotel, sementara di luar jendela, kerlap-kerlip lampu Yogyakarta tampak seperti butiran permata yang tumpah di atas kain beludru hitam. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap bayangan mereka di kaca jendela yang sedikit buram karena embun AC. Ia baru saja hendak menyesap sisa kopi tubruknya yang sudah mendingin dan menyisakan ampas tebal di dasar gelas, namun urung karena perhatian istrinya."Halah, paling gara-gara ditarik preman di Kotagede tadi pagi, Cin," jawab Slamet santai. Ia meletakkan gelasnya, lalu mengusap tengkuknya yang mendadak terasa gatal. "Nggak apa-apa, besok kan kita sudah balik ke Jakarta. Biar nanti aku benerin di rumah Tebet."Cindy mendongak. Matanya yang jernih tampak sedikit sembab, sisa dari tangisnya setelah mendengar pengakuan jujur Pak Broto beberapa jam lalu
"Ngapain kamu bawa map kusam itu ke sini, Met?"Suara Pak Broto terdengar berat, memecah kesunyian ruang kerja yang hanya ditemani detak jam dinding tua bermerek Seiko. Slamet masih berdiri di ambang pintu, jari-jarinya merasakan tekstur kasar map cokelat yang terasa panas di genggamannya. Di luar, suara hujan sisa semalam yang membasahi aspal jalanan Tebet mulai menguap, meninggalkan bau lembap yang khas dan menusuk hidung. Slamet sempat terhenti sejenak, menatap debu-debu yang menari di bawah lampu meja, sementara pikirannya sibuk merangkai kata agar tak salah ucap."Ini... ini titipan dari Jogja, Bapak," jawab Slamet pelan. Ia melangkah maju, meletakkan dokumen itu di atas meja kayu jati yang kokoh.Pak Broto melepas kacamata bacanya. Jemarinya yang mulai keriput tampak gemetar saat menyentuh ujung map tersebut. "Pramono? Kamu sudah ketemu dia?""Sampun, Bapak. Mas Arya dan Mas Brian juga ikut. Masalah Pramono sudah beres, dia nggak bakal ganggu keluar
Gelas kopi plastik di atas meja bundar itu sudah mulai mendingin, meninggalkan lingkaran cokelat lengket di permukaan marmer yang kusam. Slamet mengusap sudut bibirnya yang masih berdenyut nyeri, sisa dari perkelahian di gang Kotagede tadi pagi. Ia menatap kerumunan orang di kawasan Titik Nol Yogyakarta yang mulai memadat; suara musisi jalanan beradu dengan bising knalpot kendaraan, menciptakan hiruk-pikuk yang seolah berusaha menelan kegelisahan di dadanya. Slamet sempat terhenti sejenak, meraba saku jaketnya, memastikan sebuah alat penyadap kecil yang dipasang Brian masih menempel dengan aman di balik lipatan kain."Met, lo yakin dia bakal dateng sendiri?" bisik Brian lewat earpiece yang tersamar. Brian sedang mendekam di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi, memantau layar laptop dengan jemari yang terus bergerak lincah.Slamet menarik napas panjang, menatap lampu merkuri yang mulai menyala redup. "Wong kemaruk kayak gitu nggak bakal mau bagi has
Butiran debu halus berterbangan di bawah lampu merkuri pangkalan bus yang berkedip-kedip kusam. Slamet menghentikan motornya, membiarkan mesinnya berderak sesaat sebelum benar-benar mati. Ia menatap aspal yang retak di bawah kakinya, meraba saku jaket kulitnya untuk memastikan korek api dan rokoknya masih di sana. Ia sempat terhenti sejenak, memperhatikan seorang tukang asongan yang tertidur pulas di atas tumpukan koran bekas, lalu menghela napas panjang. Pikirannya melayang pada wajah cemas Cindy di hotel tadi, sebuah bayangan yang membuatnya merasa seperti sedang memikul seluruh beban Kota Jogja di pundaknya.Ia melangkah menuju sebuah warung kopi kecil di pojok pangkalan, tempat para supir bus antarkota biasa berkumpul jika fajar belum benar-benar menyingsing."Kopi siji, Lek. Sing pait," ucap Slamet sambil duduk di bangku kayu yang sudah reyot."Lho, Mas Slamet? Sing wingi ning tipi kae toh?" sapa pemilik warung, seorang pria tua dengan handuk kecil melilit
Lantai semen yang baru saja dipoles di area gudang itu terasa dingin di telapak kaki, meskipun matahari Yogyakarta mulai memanjat tinggi. Slamet berdiri di depan gerbang lipat besi yang masih kaku, menatap sebuah truk logistik berlogo Sonya Fast yang terparkir gagah di tengah halaman. Ia sempat terhenti sejenak, mengusap debu putih sisa konstruksi yang menempel di lengannya, lalu merogoh saku untuk memastikan kunci kantor pusat logistik itu masih di sana. Ada getaran halus di dadanya—rasa bangga yang campur aduk dengan sedikit rasa getir setiap kali ia teringat bahwa tanah tempatnya berdiri sekarang memiliki sejarah yang panjang dan gelap."Met! Gunting pitanya sudah siap, belum?" teriak Brian dari lantai dua. Ia tampak sibuk merapikan kemeja birunya yang mulai berkeringat. "Sini sebentar, liat papan namanya. Kayaknya miring dikit, deh."Slamet mendongak, menyipitkan mata karena silau. "Nggak miring, Mas Brian. Perasaan situ aja yang lagi pusing karena M
Suara gemericik air dari pancuran taman di pelataran hotel daerah Malioboro ini terdengar seperti ritme musik yang menenangkan saraf-saraf Slamet yang baru saja mengendur. Ia duduk di kursi kayu jati yang kokoh, menatap uap yang mengepul tipis dari secangkir kopi hitam tanpa gula. Ia sempat terhenti sejenak, memperhatikan jemarinya yang masih memiliki bekas lecet tipis—jejak perlawanan terakhir di gudang Tebet tempo hari. Ia memutar gelasnya, merasakan hawa hangat yang merambat ke telapak tangan, sebuah sensasi nyata yang meyakinkannya bahwa ia bukan lagi sekadar ajudan yang diburu, melainkan seorang suami yang sah."Mas... kok sudah bangun? Ini masih jam enam lewat, lho," suara Cindy terdengar serak khas orang baru bangun tidur.Slamet menoleh, mendapati Cindy berdiri di ambang pintu geser kamar mereka, masih mengenakan daster sutra warna krem yang merupakan kado dari Sonya. Rambutnya sedikit acak-acakan, namun di mata Slamet, ia tidak pernah terlihat secantik i







