LOGINLantai teras belakang rumah keluarga Broto terasa dingin menusuk pori-pori kaki Slamet, meski ia sudah memakai kaus kaki. Di kejauhan, suara knalpot motor yang menderu di jalanan Tebet terdengar samar, beradu dengan suara jangkrik yang seolah menertawakan kegelisahannya. Slamet menatap nanar pada ujung sepatunya yang sedikit berdebu. Ia sempat terhenti, memikirkan apakah tadi ia sudah mengunci pagar mess dengan benar, sebuah distraksi konyol di tengah jantungnya yang berdegup seperti dihantam
Butiran debu halus berterbangan di bawah lampu merkuri pangkalan bus yang berkedip-kedip kusam. Slamet menghentikan motornya, membiarkan mesinnya berderak sesaat sebelum benar-benar mati. Ia menatap aspal yang retak di bawah kakinya, meraba saku jaket kulitnya untuk memastikan korek api dan rokoknya masih di sana. Ia sempat terhenti sejenak, memperhatikan seorang tukang asongan yang tertidur pulas di atas tumpukan koran bekas, lalu menghela napas panjang. Pikirannya melayang pada wajah cemas Cindy di hotel tadi, sebuah bayangan yang membuatnya merasa seperti sedang memikul seluruh beban Kota Jogja di pundaknya.Ia melangkah menuju sebuah warung kopi kecil di pojok pangkalan, tempat para supir bus antarkota biasa berkumpul jika fajar belum benar-benar menyingsing."Kopi siji, Lek. Sing pait," ucap Slamet sambil duduk di bangku kayu yang sudah reyot."Lho, Mas Slamet? Sing wingi ning tipi kae toh?" sapa pemilik warung, seorang pria tua dengan handuk kecil melilit
Lantai semen yang baru saja dipoles di area gudang itu terasa dingin di telapak kaki, meskipun matahari Yogyakarta mulai memanjat tinggi. Slamet berdiri di depan gerbang lipat besi yang masih kaku, menatap sebuah truk logistik berlogo Sonya Fast yang terparkir gagah di tengah halaman. Ia sempat terhenti sejenak, mengusap debu putih sisa konstruksi yang menempel di lengannya, lalu merogoh saku untuk memastikan kunci kantor pusat logistik itu masih di sana. Ada getaran halus di dadanya—rasa bangga yang campur aduk dengan sedikit rasa getir setiap kali ia teringat bahwa tanah tempatnya berdiri sekarang memiliki sejarah yang panjang dan gelap."Met! Gunting pitanya sudah siap, belum?" teriak Brian dari lantai dua. Ia tampak sibuk merapikan kemeja birunya yang mulai berkeringat. "Sini sebentar, liat papan namanya. Kayaknya miring dikit, deh."Slamet mendongak, menyipitkan mata karena silau. "Nggak miring, Mas Brian. Perasaan situ aja yang lagi pusing karena M
Suara gemericik air dari pancuran taman di pelataran hotel daerah Malioboro ini terdengar seperti ritme musik yang menenangkan saraf-saraf Slamet yang baru saja mengendur. Ia duduk di kursi kayu jati yang kokoh, menatap uap yang mengepul tipis dari secangkir kopi hitam tanpa gula. Ia sempat terhenti sejenak, memperhatikan jemarinya yang masih memiliki bekas lecet tipis—jejak perlawanan terakhir di gudang Tebet tempo hari. Ia memutar gelasnya, merasakan hawa hangat yang merambat ke telapak tangan, sebuah sensasi nyata yang meyakinkannya bahwa ia bukan lagi sekadar ajudan yang diburu, melainkan seorang suami yang sah."Mas... kok sudah bangun? Ini masih jam enam lewat, lho," suara Cindy terdengar serak khas orang baru bangun tidur.Slamet menoleh, mendapati Cindy berdiri di ambang pintu geser kamar mereka, masih mengenakan daster sutra warna krem yang merupakan kado dari Sonya. Rambutnya sedikit acak-acakan, namun di mata Slamet, ia tidak pernah terlihat secantik i
Denting sendok yang beradu dengan piring porselen di ruang makan keluarga Pak Broto terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur waktu. Slamet menatap butiran nasi di piringnya, namun pikirannya melayang jauh ke lembaran kertas kusam yang kini ia simpan di balik saku beskap putihnya. Ia sempat terhenti sejenak, memutar-mutar gelas air putih di tangannya, memperhatikan bagaimana gelembung udara kecil naik ke permukaan—sebuah distraksi yang ia perlukan agar tangannya tidak gemetar di depan calon mertuanya."Met? Kok cuma diaduk-aduk nasinya? Ayo dimakan, bentar lagi rombongan kita jalan ke masjid," suara Pak Broto memecah kesunyian. Beliau tampak gagah dengan beskap senada, wajahnya memancarkan kelegaan yang tulus.Slamet mendongak, mencoba memaksakan senyum. "Nggih, Bapak. Sedikit mulas ini, mungkin karena tegang mau ijab kabul.""Hahaha! Biasa itu, Met. Dulu waktu saya mau nikahin Ibunya Cindy, saya malah hampir salah nyebut maskawin. Santai saja, se
Embun pagi masih menempel tebal di jok motor Supra tua milik Slamet saat ia memacu kendaraannya menembus jalanan Depok. Ia sempat terhenti sejenak di perempatan lampu merah, jemarinya yang agak kaku tanpa sadar mengetuk-ngetuk tangki bensin. Matanya terpaku pada seorang penjual koran yang sedang mengusap keringat, sebuah distraksi psikologis yang ia gunakan untuk mengalihkan rasa sesak di dadanya. Di dalam tas selempangnya, dokumen kusam dari Sita seolah mengeluarkan hawa panas yang membakar punggungnya."Sabar, Met... sabar," gumamnya pelan.Tujuannya bukan gudang, melainkan kediaman Darmawangsa. Ia butuh jawaban dari satu-satunya orang yang mungkin pernah mendengar pengakuan jujur dari bibir Pak Baskoro sendiri.Sesampainya di sana, Slamet melihat Tante Lina sedang duduk di teras belakang, menatap kolam ikan koi dengan pandangan kosong. Di sampingnya, segelas teh hangat yang sudah dingin dibiarkan begitu saja."Assalamualaikum, Tante," sapa Slamet lirih
Lantai koridor ruang tahanan itu terasa lembap, menyisakan jejak uap dingin yang merayap dari sela-sela ubin semen yang mulai retak. Slamet berdiri mematung di depan pintu besi berat yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Ia sempat terhenti sejenak, menatap bayangannya sendiri pada kaca kusam di pintu—wajahnya tampak lebih tirus dengan sorot mata yang sarat akan beban. Tangannya yang kasar tanpa sadar meraba kancing kemeja batiknya, memastikan penampilannya rapi untuk menghadapi sidang keluarga Tebet nanti sore. Di sampingnya, Arya berdiri dengan rahang yang mengeras, sesekali memperbaiki letak jam tangannya, sebuah gestur gelisah yang jarang ia tunjukkan."Met... kalau nanti dia mulai ngaco soal Yayasan, kita langsung keluar aja," bisik Arya, suaranya parau tertahan gema ruangan.Slamet hanya mengangguk pelan. "Nggih, Mas. Saya cuma mau tahu kenapa dia bersikeras mau ketemu saya sebelum saya nikah sama Cindy."Petugas penjaga membukakan pintu dengan b






