Mag-log inLangkah kaki Brian Baskoro mendadak terhenti di samping pintu Alphard miliknya di lantai parkiran basement VIP.Maya melangkah mendekat dengan senyuman terselubung, menyodorkan map berkas pertanggungjawaban hibah pendidikan lima puluh miliar rupiah.Wanita itu sengaja memiringkan bahunya, memamerkan kemeja ketatnya sambil mencoba menyentuh lengan jas Brian."Pak Brian... Tolong diperiksa sebentar draf pencairan dana hibah BUMN ini di dalam mobil," bisik Maya bersuara manja."Trik murahan begini tidak akan pernah berhasil di pangkalan atau yayasan kami!" gertak suara tegap dari balik pilar.Jessy melangkah cepat keluar dari arah lift VIP, didampingi oleh Slamet yang membawa berkas fisik cadangan.Maya seketika tersentak kaget, menarik tangannya kembali dengan raut wajah memucat dan keringat dingin membasahi pelipisnya.Brian mundur dua lan
Suasana di Gedung Grand Ballroom Kementerian BUMN Jakarta Selatan dipenuhi jajaran pejabat tinggi dan pengusaha logistik papan atas.Spanduk kain sutra berukuran besar terbentang megah di panggung utama, menampilkan judul proyek hibah pendidikan lima puluh miliar rupiah.Sang Ratu Besi Sonya Baskoro berdiri sangat anggun memancarkan aura Ratu Besi dengan gaun blazer bermotif batik emas yang sangat elegan.Di sampingnya, Arya Baswira sang mantan supir pribadinya pun sedang berdiri gagah mengenakan setelan jas hitam fitted yang mencetak dada tegap mantan supir pangkalan."Selamat atas pencapaian luar biasa ini, Bu Sonya, Pak Arya... Marunda Fast memang teladan korporasi bertanggung jawab," puji Pejabat BUMN."Terima kasih, Bapak... Komitmen kami adalah memajukan pendidikan keluarga supir pangkalan di seluruh Indonesia," balas Sonya tersenyum anggun.Suara tepuk
Deru raungan mesin mobil BMW M3 klasik menggelegar membelah keheningan jalanan Puncak yang berkabut tebal.Dua mobil sedan berperforma tinggi itu meluncur sejajar dari garis start di depan gerbang villa utama.Sonya Baskoro menancap gas lebih dulu, menyunggingkan senyuman bangga saat mobilnya melesat memimpin di trek lurus.Gaun malam tipisnya yang terbalut jaket kulit hitam memancarkan gaya penguasa jalanan yang sangat memesona.Arya Baswira yang mengemudikan mobil di belakangnya hanya menyunggingkan seringai Alpha penuh ketenangan.Tangan kapalan bekas supir pangkalan itu cekatan memindahkan tuas transmisi manual, memainkan pedal kopling dengan presisi tinggi."S-segitu saja kemampuan supir pribadiku malam ini?!" teriak Sonya menatap kaca spion tengah sambil tertawa renyah.Mendengar godaan majikannya, Arya langsung memutar lingkar kemu
Deretan tiga mobil mewah Marunda Fast meluncur mulus membelah kabut tipis kawasan Puncak Bogor.Konvoi keluarga besar dipimpin langsung oleh Alphard hitam yang dikemudikan dengan tenang oleh Arya Baswira.Di kabin tengah, Sonya Baskoro memangku Baswira Junior yang tertidur lelap, sementara Anya duduk riang di samping jendela.Mobil di belakangnya diisi oleh Brian Baskoro bersama Jessy dan Baskoro Junior, disusul SUV gagah milik Slamet dan Cindy.Tiba di pelataran villa mewah bergaya kolonial seluas dua hektar, pemandangan kebun teh hijau terhampar luas.Udara dingin pegunungan seketika menyapa hangat saat seluruh pintu kendaraan dibuka bersamaan.Anya melompat keluar kabin, berlari menghampiri sepupunya dengan gelak tawa riang memecah kesunyian villa."Anya! Lihat itu ada kolam renang besar sekali!" seru Jessy menuntun Baskoro Junior mela
Layar komputer di ruang audit lantai dua kantor pusat Marunda Fast menampilkan perbandingan grafik belanja solar mingguan.Arya Baswira berdiri tegap mengawasi dua auditor keuangan yang mengetik cepat memverifikasi kuitansi fisik pangkalan Bali.Mata tajam mantan supir pangkalan itu memindai barisan stempel pengisian BBM yang terbukti menggunakan kuitansi palsu."Coba zoom bagian nomor seri nota pengisian solar dari SPBU rute Denpasar itu!" komando Arya bersuara berat menggelegar."Siap, Pak Arya... Ini nomor serinya ganda dengan nota minggu lalu," lapor auditor senior menunjuk layar."Panggil Kepala Pangkalan Transit Bali lewat panggilan video sekarang juga!" tegas Arya melipat kedua tangan kekarnya di dada.Panggilan tersambung cepat, menampilkan wajah Kepala Pangkalan Bali bernama Bambang yang tampak gelisah dan memucat."P-pak Arya...
Suasana meja makan rumah mewah itu mendadak hening sejenak usai pertanyaan polos Anya meluncur.Sonya Baskoro menghentikan sendoknya, menatap Arya dengan rona merah halus yang merayapi pipi mewahnya.Arya Baswira menyunggingkan senyuman hangat, mengusap lembut rambut putri sulungnya dengan telapak tangan tegap."Om Slamet tidak bohong, Sayang... Dulu Papa memang supir pribadinya Mama," jawab Arya bersuara lembut."Waahhh! Beneran, Pa?! Terus kenapa Papa bisa jadi suaminya Mama?" tanya Anya lagi dengan mata berbinar penasaran."Sebab Papa itu supir paling jujur, paling setia, dan paling perkasa yang pernah Mama temui di pangkalan," tutur Sonya tersenyum anggun.Sonya meraih jemari tegap Arya di atas meja, menggenggamnya erat sambil memandangi putri kecilnya penuh kasih sayang."Papa selalu menjaga Mama di jalanan, melibas semua orang jahat







