เข้าสู่ระบบCepatnya degupan di jantung Sandra. Selepas membulatkan kedua matanya sempurna, namun kini harus dibuat memberingsut mundur oleh nyalangnya tatapan tajam milik Sean yang telah menegakkan kepala.
"Ke-kenapa saya harus membuka kancing kemeja Anda?" tanya Sandra terbata. Memberanikan diri demi untuk sebuah harga diri yang harus dia jaga. Bagaimana bisa ia dititahkan oleh Bos galaknya ini membuka kemeja?
Bukankah itu artinya ia akan melihat Sean bertelanjang dada? terhenyak sudah hatinya Sandra. Antara takut dan juga tak terima, bercampur menjadi satu hingga menciptakan sebuah gejolak rasa di dalam dada.
"Kamu menolaknya?" sengit Sean.
"Saya bukan istri Anda. Jadi saya nggak pantas membuka kancing kemeja Anda," Berusaha untuk tetap bisa berdiri tegak di atas kakinya yang gemetar. Namun malah dibuat ketakutan oleh senyuman seringai yang tercipta di bibir Sean. Seram sekali.
"Klausul nomor sepuluh. Pihak kedua tidak diperbolehkan membantah apapun perintah dari Pihak pertama." Ucap Sean mengingatkan.
Pihak pertama adalah dirinya, sedangkan pihak kedua merupakan Sandra sang asisten pribadinya. Telah menghapal poin poin penting di dalam klausul buatannya sendiri, di surat perjanjian kontrak pekerjaan. Kian mempercepat degupan di jantung Sandra yang terdiam. "Kamu melupakannya?" kian menajamkan tatapannya, menyudutkan asisten pribadinya yang semakin dia buat ketakutan mundur ke belakang.
Seiring dengan ayunan langkah Sean maju ke depan, selepas berdiri dari duduknya lebih mendekati Asisten pribadinya. "Buka sekarang," lirihnya suara Sean namun menekankan.
Membuat Sandra menelan salivanya pelan. Lebih memilih untuk segera memejamkan kedua matanya dalam, demi untuk bisa meraih ketenangan yang begitu sangat dia butuhkan.
"Hanya diam? tetap bersikekeh untuk melawan?" lanjut Sean cenderung mengancam.
Menggelengkan cepat kepala Sandra. Dirinya terpojok, sudah terjebur ke dalam jurang tanpa ada kesempatan lagi untuk ia bisa berlari, didalam menghidari sikap semena mena dari Sean.
"I-iya," masih saja terbata."Sa-saya akan membantu melepaskan kancing kemeja Anda," Benar benar tak bisa mengontrol kencangnya ritme jatungnya sendiri, membernikan diri tetap bersitatap dengan Sean yang tampak terdiam, menatapnya dingin.
"Lakukan," titah Sean mengedikkan kepala.
Dan tak lagi membuat Sandra bersuara. Hanya bisa berusaha untuk mengangkat kaki kanannya agar mau melangkah, lebih mendekati Sean yang tampak begitu gagah namun begitu sangat menyeramkan.
Gemetar.
Jemari tangan Sandra gemetar. Untuk pertama kalinya ia membuka pakaian pria. Melihat tubuh telanjang pria tepat di depan mata kepala, membuatnya harus berkali kali menelan salivanya pelan.
Satu kancing bagian atas terbuka. Seiring dengan mengalihnya pandangan Sandra, beradu pandangan dengan Sean yang membisu, sedari tadi menundukan kepala memperhatikannya lekat.
"Bisa Anda arahkan tatapan Anda lurus ke depan?" batin Sandra. Ingin sekali mengatakan hal itu kepada Sean yang tak kunjung membuang pandangan. Tapi nyali tak ada, sama sekali tak berani sedikitpun membuka suara.
Kancing ketiga pun akhinya terbuka. Sudah mulai menampakkan dada bidang milik Sean yang terlihat begitu sangat sempurnanya. Dengan tonjolan otot yang tampak begitu menggairahkan di pandangan semua wanita. Tak terkecuali pandangan Sandra yang harus menahan napasnya segera.
"Fokus Sandra! fokus!" batin Sandra. Tak boleh terlena dengan pandangan yang tersaji di depannya, segera menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu menyukainya?" beratnya suara Sean terdengar. Mengulaskan senyuman tipisnya, cenderung mencibir.
Mendongakkan kepala Sandra yang tak berani menjawab, lebih memilih untuk segera mempercepat gerakan tangannnya di dalam membuka semua kancing kemeja Bosnya.
"Su-sudah, Bos." Sandra memundurkan langkahnya. Masih bertemankan degupan kencang di dalam dada.
"Lepaskan," ucap Sean.
"Apanya?" kusut sudah pikiran Sandra. Seiring dengan membentangnya kedua tangan Sean ke samping kanan dan juga kiri, menitahkan asisten pribadinya itu agar segera melepaskan kemeja yang dia pakai secara sempurna.
"Cepat," Kembali Sean mengedikkan kepala.
Benar benar tak aman untuk jantung Sandra. Ada apasih dengan Bosnya ini? menyuruhnya membantu melepaskan pakaian layaknya bantuan istri kepada suami. Masih dengan gemetarnya rasa di tangan,mencoba untuk mengayunkan langkahnya perlahan membelakangi Sean.
"Ma-aaf, Bos." lirih Sandra. Entah minta maaf untuk apa, berusaha bersiap untuk mengarahkan kedua tangannya kearah depan, akan menaanggalkan kemeja hitam milik Bosnya.
"Su-sudah, Bos." Sandra masih saja terbata, sudah membuang pandangannya ke arah samping sambil membawa kemeja Sean di kedua tangannya, memberingsut mundur.
Dan tak lagi membuat Sean bersuara. Lebih memilih untuk segera mengayunkan langkahnya akan masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan asisten pribadinya yang terdiam menundukkan kepala.
Memejamkan kedua mata Sandra dalam, menghela napas leganya pelan. "Jantung jantung. Sehat sehat ya kamu. Kita harus kuat," batin Sandra mengelus dadanya sendiri. Kemudian kembali dibuat berjingkat oleh panggilan Sean.
"Sandra!"
"Sa-saya, Bos."
."Bos... lepas," cicit Sandra, mencoba menarik tangannya, namun Sean justru mempererat genggamannya, lalu menarik tubuh Sandra hingga bergeser lebih rapat di atas ranjang. "Biarkan seperti ini sebentar," bisik Sean rendah. Ia memejamkan matanya, lalu menyandarkan keningnya yang panas pada bahu kecil Sandra. Bobot tubuh tegapnya yang sedang melemah akibat demam bersandar sepenuhnya pada gadis itu. Ketegangan malam itu berlalu dengan menyisakan riak baru yang jauh lebih mencekik bagi Sandra. Alih-alih melunak setelah mendapatkan perawatan dan ketenangan dari asisten pribadinya, Sean justru bangun di pagi hari dengan insting kegelapan yang semakin meradang. Ketakutannya akan kehilangan kendali atas Sandra berubah wujud menjadi sebuah obsesi pertahanan yang agresif. Tanpa persetujuan, bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya, Sean memerintahkan Aga untuk memindahkan seluruh barang milik Sandra dari kamar lamanya ke dalam kamar utama sang mafia. Ketika Sandra kembali dari dapur denga
Pria yang biasanya angkuh, kuat, dan menolak menunjukkan kelemahan di depan siapa pun ini, mendadak ingin mencicipi lebih banyak perhatian dari asisten pribadinya. Sean sengaja memejamkan matanya perlahan. Ia melepaskan ketegangan di bahunya, lalu membuat tubuh tegapnya limbung ke arah depan, berlagak seolah-olah kepalanya mendadak pusing hebat dan ia akan jatuh pingsan dari tepi ranjang. Dalam benaknya, Sean membayangkan tubuh mungil Sandra akan panik, melompat maju, dan menangkap tubuh besarnya ke dalam pelukan gadis itu. "Bos?!" suara anak buahnya terdengar cemas. Kalkulasi taktis Sean meleset total akibat kepatuhan anak buahnya yang terlalu sigap. Sebelum tubuh Sean sempat menyentuh jarak jangkauan tangan Sandra, dua orang pengawal bertubuh raksasa di dekatnya malah melompat maju dengan kecepatan kilat, akibat panik melihat sang bos besar akan tumbang. Grep! Dua pasang tangan kekar berotot milik anak buahnya langsung mencengkeram bahu dan pinggang Sean dengan ku
"Sandra!" suara Sean menggelegar, memecah keheningan pagi di dalam mansion. Pria itu menyentak selimutnya dengan kasar, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Kepalanya terasa pening luar biasa, dan seluruh persendiannya mendadak terasa ngilu. Efek dari luka sayatan sedalam sepuluh sentimeter di lengan kirinya ditambah aksi nekat menjahit sendiri di dalam mobil kemarin sore rupanya mulai menagih bayaran. Tubuh tegap itu kini diserang demam tinggi.Namun, alih-alih memedulikan rasa sakit di tubuhnya, netra elang Sean justru bergerak liar mengitari setiap sudut kamar. Sofa kulit panjang di sudut ruangan tampak rapi, kosong tanpa tanda-tanda keberadaan sang asisten pribadi."Sandra!" panggil Sean sekali lagi, kali ini suaranya naik satu oktav, sarat akan nada frustrasi dan amarah yang tertahan. Sialan. Ke mana gadis itu? Apakah dia melarikan diri saat ia tertidur lelap semalam? Mengingat usapan menenangkan Sandra di lengannya, Sean merasa tidak rela jika semua itu hanya bagian dari t
Sean terdiam menatap siluet mungil Sandra yang sedang meringkuk ketakutan di lantai kamarnya. Keheningan malam kembali mencekik ruangan itu, hanya menyisakan sisa-sisa kepanikan yang belum reda sepenuhnya. Melihat tangisan Sandra yang kali ini murni karena perbuatannya sendiri, ada rasa bersalah yang asing dan sangat tajam menusuk ulu hati Sean. Debaran jantungnya yang berpacu liar sejak terbangun dari mimpi buruk tadi kini terasa berbeda, debaran ini terasa kaku, tidak nyaman, dan dipenuhi oleh rasa tidak rela ketika melihat gadis itu terluka karena tangannya sendiri. Sisi gelap mafianya yang biasa mengabaikan nyawa manusia mendadak lumpuh menghadapi air mata asisten pribadinya. Sean menghela napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan lampion berdarah dari kepalanya. Dengan gerakan perlahan agar tidak kembali mengejutkan Sandra, Sean ikut duduk di atas lantai marmer, tepat di hadapan Sandra. Bingung harus memulai kata darimana, saat ia tak mengetahui cara berbicara y
Sandra membuka matanya perlahan, di dalam kegelapan kamar utama yang luas dan hanya menyisakan bias cahaya rembulan yang menerobos masuk melalui celah gorden yang tinggi. Ia bangun dari tidur lelapnya ketika samar-samar mendengar sebuah suara asing memecah keheningan malam. Suara erangan rendah yang sarat akan siksaan batin. Sebuah suara yang penuh keputusasaan, datang dari arah tempat tidur king-size di seberangnya. Itu suara Sean. Sandra menolehkan kepalanya. Di atas ranjang mewah di seberangnya, siluet kepala Sean tampak bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Napas pria itu pun terdengar memburu, pendek-pendek, dan terputus-putus seperti orang yang sedang kehabisan udara di tengah kepungan lumpur hisap. Sean sedang bermimpi buruk. Seorang mafia kejam, berdarah dingin, dan tak kenal takut yang siang tadi menjahit lukanya sendiri tanpa mengedipkan mata, malam ini tampak begitu rapuh dan tersiksa di balik selimutnya. Di dalam tidurnya yang kelam, kesadaran Sean terkun
Malam pun semakin larut, melingkupi mansion mewah itu dalam keheningan yang kaku. Di dalam kamar utama, lampu-lampu temaram dinyalakan, memantulkan bayangan di dinding marmer. Sean masih bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada, menampilkan balutan perban putih di lengan kirinya yang kontras dengan warna kulitnya. Tatapannya yang tajam tertuju pada Sandra yang baru saja masuk dari dapur lantai bawah, membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih. "duduk di sini," titah Sean, menepuk sisi ranjang di dekatnya. "Dan layani aku makan." Sandra menarik napas pendek, mencoba menekan egonya dalam-dalam. Dengan langkah anggun yang kaku, ia mendekat dan duduk di tepi kasur, menaruh nampan itu di atas pangkuannya. Ia menyendok bubur perlahan, meniupnya sedikit sebelum mengarahkannya ke depan bibir Sean. Ada yang aneh dari sikap Sean malam ini. Pria yang biasanya memancarkan aura predator yang dominan dan tak kenal takut, kini tampak melepaskan topeng be
"Jadi aku harus berangkat dan pulang jam berapa?" tanya Sandra. Sesaat sebelum dibuat terhenyak, ia tercekat, mendengar jawaban. "Menginap disini. Hari sabtu siang setelah memastikan keperluan Bos Sean tersedia kamu boleh pulang, dan harus kembali lagi di hari minggu sebelum pukul dua belas siang.
“Jangan menggerakkan bagian tubuh kamu sedikitpun, Sandra. “Oke? atau aku akan,” lanjutnya menggantung, kini mengulaskan senyuman seringainya, sedikit mencondongkan kepalanya ke telinga Sandra. “Atau kamu akan menyesalinya.” Sean kembali berbisik.Membiarkan harum napas hangatnya menerpa kulit teli
Dentuman keras di jantung Sandra. Sama sekali tak berani menggerakkan tubuhnya sedikitpun, berusaha untuk mempertahankan posisi badannya yang tak nyaman."Diam!"Kata itu seolah menghipnotis pikiran Sandra, bersamaan dengan kalimat Aga, sang bodygoard dari bos besarnya ini kembali terngiang di teli
Rasa lemas dan juga lunglai menguasai tubuh Sandra. Menghilangkan seketika rasa semangat yang tadinya sempat membara, disaat memiliki harapan yang begitu sangat besar. Bahwa ia akan mendapatkan penghasilan besar, yang akan bisa dia gunakan untuk biaya pengobatan sang ibu angkat. Namun kini menguap







