分享

Bab 7. Dor!

作者: Menook We
last update publish date: 2023-01-10 13:17:21

"Sandra!"

"Sa-saya, Bos." Menegakkan kepalanya cepat, menurunkan tangannya tak kalah cepat.

"Buatkan aku secangkir kopi,"

"Baik Bos."

Seiring dengan ayunan langkah kaki Sean, masuk ke dalam kamar mandi.

Kembali menciptakan helaan napas lega di bibir Sandra yang terdiam,  sudah mulai bisa mengendalikan degupan di jantungnya yang telah berangsur normal. Meluruhkan tubuhnya perlahan, akan duduk berjongkok di atas dinginnya lantai kamar.

Sedangkan Sean yang terdiam. Tampak menghela napasnya pelan tepat di samping bathup marmer hitam mengkilat. Tak kunjung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalamnya, sedikit menggerakkan bahunya perlahan, menikmati tiap tarikan di ototnya.

"Lucu." Gumam Sean tersenyum tipis. Sambil memegangi salah satu lengannya yang tak nyaman. Entah kenapa tak bisa melupakan gurat wajah polos Sandra yang memucat dan tampak ketakutan. Hanya karena sentakan, juga ketegasannya di dalam berbicara. Membuatnya tak sengaja mengulaskan senyuman di bibirnya.

"Shit!" umpatnya lirih, menyadari senyuman yang mengembang, segera dia hilangkan cepat.

Lebih memilih untuk segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam bathup. Bersiap untuk menikmati hangatnya air di dalamnya. Selepas menanggalkan celana dan juga boxernya secara sempurna. Agar bisa sedikit merilekskan kondisi tubuhnya yang terasa begitu lelah.

"Assst," desis Lirih Sean. Sesaat setelah membenamkan tubuhnya ke dalam air, karena sensasi rasa perih, membuatnya harus menahan rasa sakit di area luka bekas sabetan pisau dinggungnya yang belum kering sempurna. Mengacuhkan peringatan Dokter agar tak membasai dulu lukanya menggunakan air.

Kemudian memejamkan kedua matanya dalam, seiring dengan memejamnya kedua mata Sean yang telah menyandarkan kepala.

Sama sekali tak mengetahui mengenai keberadaan lelaki berbaju abu abu. Mengenakan tutup kepala Abu abu menyembunyikan wajah, tampak melopat dengan lihainya menaiki pagar balkon di lantai dua.  Tepatnya di balkon kamar Sean, selepas berhasil menyelinap masuk tanpa diketahui oleh beberapa penjaga rumah, anak buah Sean yang kini masih memejamkan mata, menikmati waktu sendirinya.

"Ais," decak kesal Sean. Membuka matanya cepat akibat bayangan Sandra yang kembali terngiang di pelupuk. "Kenapa dia jadi menghantuiku begini?" kesal sendiri. Mengingat bagaimana gemetarnya jemari tangan asisten pribadinya itu di depan tubuh hampir telanjangnya. Hanya sebatas membuka kancing kemeja saja sudah membuat wajah cantik asisten pribadinya  pucat pasi?

Sungguh berhasil menciptakan kekehan tipis di bibir Sean yang menggeleng pelan. Hatinya tergelitik, seiring dengan terciptanya imajinasi liar yang bergerilya, traveling kemana mana.

Bersamaan dengan mengayunnya langkah pria berpenutup kepala mengendap endap, tampak begitu hati hati sambil mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, agar tak sampai ketahuan oleh Sean yang harus segera dia lumpuhkan.

Kemudian dibuat terdiam, menolehkan kepalanya cepat ke arah suara gemericiknya air di dalam kamar mandi.

Sean yang telah menegadahkan kepalanya di bawah guyuran air shower. Menikmati timpaan hangatnya air shower di wajah tampannya, masih berendam di dalam hangatnya air bathup.

"Mandi dulu sebelum mati," batin laki laki berpenutup kepala. Menyeringai seram diantara gerakan tangannya akan mengeluarkan pistol glock di pinggang. Menatap nyalang ke arah kamar mandi yang tertutup, segera mengayunkan langkahnya cepat melewati pintu.

Demi untuk bisa mencari area terbaik agar bisa dengan mudah mengeksekusi Sean yang telah  membuka matanya cepat, merasakan bayangan lewat di depan pintu kamar mandinya yang transparan dari sisi dalam.

"Shit!" umpat Sean. Sikap waspada tiba tiba tiba saja tercipta, menghancurkan kerilex an tubuh yang tak lagi bisa direngkuhnya. Seiring dengan menegaknya kepala, menatap nyalang ke arah pintu kamar mandinya.

"Berani sekali tikus masuk kesini," gumam Sean tersenyum setengah. Sudah bisa menerka hal apa yang kini sedang mengintai dan menargetkannya, memancing amarahnya di dalam dada. "Kita kembali bermain, Sean." Sean menggumam, sama sekali tak menguraikan ketajaman di kedua sorot mata elangnya, sudah mengarahkan tangan kanannya untuk membuka salah satu laci yang tersedia di samping bathup.

Akan mengambil salah  satu senjata yang tersimpan di dalamnya. Pistol revolver buatan Amerika.

Sungguh hati Sean telah  berubah menjadi tak nyaman. Kepekaannya terhadap bahaya pun meningkat, seiring dengan bergeraknya tubuh Sean akan kembali keluar dari bathup. Selepas memastikan adanya amunisi di dalam silinder Revolver yang telah dipegangnya. Kini akan meraih jubah handuk yang tersedia untuk dia pakai cepat.

Clek

Suara pistol Sean kokang. Seiring dengan ayunan langkahnya lebih mendekati pintu kamar mandi. Sama sekali tak menunjukkan ketakutan, secara tenang mengayunkan langkahnya perlahan maju tak gentar.

Bersamaan dengan bergeraknya tangan kanan pria berpenutup kepala yang semakin siaga. Ia pun juga siap dengan pistol glocknya yang telah dia kokang, sedikit mampir di telinga peka Sean meskipun diantara suara guyuran air shower.

Penyusup menyipitkan pandangannya, mencoba untuk menerka dari suara gemericiknya air yang tak berubah, bukankah itu artinya korbannya masih  menikmati guyuran air di dalam sana?

Sama sekali tak mengatahui mengenai dinginnya gurat wajah Sean yang telah berdiri tegap, di depan pintu kamar mandi yang akan dia buka cepat.

DOR!

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 39. Sangat Posesif

    .​"Bos... lepas," cicit Sandra, mencoba menarik tangannya, namun Sean justru mempererat genggamannya, lalu menarik tubuh Sandra hingga bergeser lebih rapat di atas ranjang. ​"Biarkan seperti ini sebentar," bisik Sean rendah. Ia memejamkan matanya, lalu menyandarkan keningnya yang panas pada bahu kecil Sandra. Bobot tubuh tegapnya yang sedang melemah akibat demam bersandar sepenuhnya pada gadis itu. ​Ketegangan malam itu berlalu dengan menyisakan riak baru yang jauh lebih mencekik bagi Sandra. Alih-alih melunak setelah mendapatkan perawatan dan ketenangan dari asisten pribadinya, Sean justru bangun di pagi hari dengan insting kegelapan yang semakin meradang. Ketakutannya akan kehilangan kendali atas Sandra berubah wujud menjadi sebuah obsesi pertahanan yang agresif. ​Tanpa persetujuan, bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya, Sean memerintahkan Aga untuk memindahkan seluruh barang milik Sandra dari kamar lamanya ke dalam kamar utama sang mafia. Ketika Sandra kembali dari dapur denga

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 38. Bos, lepas!

    Pria yang biasanya angkuh, kuat, dan menolak menunjukkan kelemahan di depan siapa pun ini, mendadak ingin mencicipi lebih banyak perhatian dari asisten pribadinya. ​Sean sengaja memejamkan matanya perlahan. Ia melepaskan ketegangan di bahunya, lalu membuat tubuh tegapnya limbung ke arah depan, berlagak seolah-olah kepalanya mendadak pusing hebat dan ia akan jatuh pingsan dari tepi ranjang. Dalam benaknya, Sean membayangkan tubuh mungil Sandra akan panik, melompat maju, dan menangkap tubuh besarnya ke dalam pelukan gadis itu. ​"Bos?!" suara anak buahnya terdengar cemas. ​Kalkulasi taktis Sean meleset total akibat kepatuhan anak buahnya yang terlalu sigap. ​Sebelum tubuh Sean sempat menyentuh jarak jangkauan tangan Sandra, dua orang pengawal bertubuh raksasa di dekatnya malah melompat maju dengan kecepatan kilat, akibat panik melihat sang bos besar akan tumbang. ​Grep! ​Dua pasang tangan kekar berotot milik anak buahnya langsung mencengkeram bahu dan pinggang Sean dengan ku

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 37. Demam

    "Sandra!" suara Sean menggelegar, memecah keheningan pagi di dalam mansion. ​Pria itu menyentak selimutnya dengan kasar, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Kepalanya terasa pening luar biasa, dan seluruh persendiannya mendadak terasa ngilu. Efek dari luka sayatan sedalam sepuluh sentimeter di lengan kirinya ditambah aksi nekat menjahit sendiri di dalam mobil kemarin sore rupanya mulai menagih bayaran. Tubuh tegap itu kini diserang demam tinggi.​Namun, alih-alih memedulikan rasa sakit di tubuhnya, netra elang Sean justru bergerak liar mengitari setiap sudut kamar. Sofa kulit panjang di sudut ruangan tampak rapi, kosong tanpa tanda-tanda keberadaan sang asisten pribadi.​"Sandra!" panggil Sean sekali lagi, kali ini suaranya naik satu oktav, sarat akan nada frustrasi dan amarah yang tertahan. Sialan. Ke mana gadis itu? Apakah dia melarikan diri saat ia tertidur lelap semalam? Mengingat usapan menenangkan Sandra di lengannya, Sean merasa tidak rela jika semua itu hanya bagian dari t

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 36

    Sean terdiam menatap siluet mungil Sandra yang sedang meringkuk ketakutan di lantai kamarnya. Keheningan malam kembali mencekik ruangan itu, hanya menyisakan sisa-sisa kepanikan yang belum reda sepenuhnya. ​Melihat tangisan Sandra yang kali ini murni karena perbuatannya sendiri, ada rasa bersalah yang asing dan sangat tajam menusuk ulu hati Sean. Debaran jantungnya yang berpacu liar sejak terbangun dari mimpi buruk tadi kini terasa berbeda, debaran ini terasa kaku, tidak nyaman, dan dipenuhi oleh rasa tidak rela ketika melihat gadis itu terluka karena tangannya sendiri. Sisi gelap mafianya yang biasa mengabaikan nyawa manusia mendadak lumpuh menghadapi air mata asisten pribadinya. ​Sean menghela napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan lampion berdarah dari kepalanya. Dengan gerakan perlahan agar tidak kembali mengejutkan Sandra, Sean ikut duduk di atas lantai marmer, tepat di hadapan Sandra. Bingung harus memulai kata darimana, saat ia tak mengetahui cara berbicara y

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 35. Dicekik

    Sandra membuka matanya perlahan, di dalam kegelapan kamar utama yang luas dan hanya menyisakan bias cahaya rembulan yang menerobos masuk melalui celah gorden yang tinggi. Ia bangun dari tidur lelapnya ketika samar-samar mendengar sebuah suara asing memecah keheningan malam. ​Suara erangan rendah yang sarat akan siksaan batin. Sebuah suara yang penuh keputusasaan, datang dari arah tempat tidur king-size di seberangnya. ​Itu suara Sean. ​Sandra menolehkan kepalanya. Di atas ranjang mewah di seberangnya, siluet kepala Sean tampak bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Napas pria itu pun terdengar memburu, pendek-pendek, dan terputus-putus seperti orang yang sedang kehabisan udara di tengah kepungan lumpur hisap. ​Sean sedang bermimpi buruk. Seorang mafia kejam, berdarah dingin, dan tak kenal takut yang siang tadi menjahit lukanya sendiri tanpa mengedipkan mata, malam ini tampak begitu rapuh dan tersiksa di balik selimutnya. ​Di dalam tidurnya yang kelam, kesadaran Sean terkun

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 34. Duduk dan Layani Aku

    Malam pun semakin larut, melingkupi mansion mewah itu dalam keheningan yang kaku. Di dalam kamar utama, lampu-lampu temaram dinyalakan, memantulkan bayangan di dinding marmer. ​Sean masih bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada, menampilkan balutan perban putih di lengan kirinya yang kontras dengan warna kulitnya. Tatapannya yang tajam tertuju pada Sandra yang baru saja masuk dari dapur lantai bawah, membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih. ​"duduk di sini," titah Sean, menepuk sisi ranjang di dekatnya. "Dan layani aku makan." ​Sandra menarik napas pendek, mencoba menekan egonya dalam-dalam. Dengan langkah anggun yang kaku, ia mendekat dan duduk di tepi kasur, menaruh nampan itu di atas pangkuannya. Ia menyendok bubur perlahan, meniupnya sedikit sebelum mengarahkannya ke depan bibir Sean. ​Ada yang aneh dari sikap Sean malam ini. Pria yang biasanya memancarkan aura predator yang dominan dan tak kenal takut, kini tampak melepaskan topeng be

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 15. Semakin Takut, Semakin Suka

    Sandra membulatkan mata, tubuhnya menegang di kursi penumpang mobil hitam itu. “A-apa maksudnya, Bos?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar di antara dentuman pelan musik jazz yang mengalun dari speaker.Sean menoleh dengan senyum tipis,, senyum yang lebih mirip ancaman daripada ramah. “Kamu ngg

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 14. Mata Dibalas Mata

    "Berhenti kamu! jangan lagi mundur atau aku patahkan kaki kamu!" ancam Sean.Tubuh Sandra membeku, dibuat tercekat dan terpaku, ia tidak lagi berani bergerak. "Saya sudah berhenti Bos." Sandra terbata, berusaha untuk tenang meskipun kondisi tubuh menegang, karena dipandang oleh Sean dengan sangat d

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 12. Cepat Bersiap1

    Membulatnya kedua mata Sandra. Sambil membekap mulutnya segera, bagaimana bisa ia tetap banyak tanya setelah diancam oleh Sean?"Mak-maksud saya."Tiga menit.Waktu kamu untuk bersiap siap nggak boleh lebih dari tiga menit." dinginnya ucapan Sean.Kian menghenyakkan hati Sandra yang semakin dia buat ter

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 11. Sumpah Demi Nyawa?

    Tersentaknya hati Sean, tertutup rapi di balik gurat wajah datarnya. Ia mengangkat tangan kanannya segera dan tak jadi menyentuh rok asisten pribadinya. "Bo-bos mau ngapain saya?" kembali Sandra bertanya. Diantara gemuruhnya rasa. degupan di jantungnya pun sudah bertalu talu tak karuan. "Aku? ngapai

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status