Home / Romansa / Gairah Terlarang CEO / Bab 8. Scorpion

Share

Bab 8. Scorpion

Author: Menook We
last update publish date: 2023-03-12 01:18:22

Memejamnya kedua mata Sean. Menghindari muncratnya darah  merah segar dari dahi penyusup yang berhasil dia lumpuhkan. Roboh seketika.

"Aisss," gumamnya lirih. Memasang wajah jengahnya, sembari mengusap muncratan darah  di pipi dan juga hidungnya.  "Tikus satu ini ya," gumamnya kesal. "Apa kamu nggak tahu gimana perihnya punggungku ini kalau dibuat mandi?" sungguh  ingin sekali kembali menembak tepat di jantung pria pengganggunya yang telah kehilangan nyawa.

Namun dia urungkan. Lebih memilih untuk mempertahankan sisa empat peluru di dalam pistol revolvernya, daripada harus membuangnya begitu saja ke tubuh penyusup yang begitu sangat tak disukainya.

Sama sekali tak mengetahui tentang gemetarnya tubuh Sandra di dalam dapur. Ia masih  menutup telinganya takut, sembari duduk berjongkok di bawah meja tempat dia meletakkan kopi untuk Bosnya. Akibat terdengarnya suara tembakkan, memekakkan telinga.

"Apa itu tadi?" gumam Sandra. Masih belum berani menurunkan bekapan tangan di telinga, mengedarkan pandangannya ke arah luar dapur. "Kenapa suaranya begitu? apa tadi yang meledak?" masih menggumam sendiri. Membiarkan dentuman keras di jantungnya menguasai diri.

Bersamaan dengan terdengarnya suara banyaknya derap langkah kaki masuk ke dalam rumah. Menurunkan perlahan kedua telapak tangan Sandra yang dibuat penasaran. Lebih memilih untuk segera berdiri perlahan, akan mengayunkan langkahnya ragu cenderung takut, untuk mengintip dari pintu dapur yang terbuka.

Sungguh berhasil membulatkan kedua mata Sandra, secara spontan membekap mulutnya cepat. Akibat banyaknya anak buah Sean berjas hitam tampak berlari memasuki rumah.

"Ada apa ini? kenapa semua orang pada masuk semua ke rumah?" Sandra yang masih belum mengenal suara tembakan pistol. Seumur hidupnya selalu berada di sebuah  lingkungan yang begitu sangat aman, tentram dan juga nyaman.

Bukan lingkungan seperti ini. Penuh dengan tekanan bercampur dengan suara yang begitu sangat mengagetkan.

"Bos." panggil Aga tampak memburu. Sesat setelah memasuki pintu kamar Sean yang tak terkunci, tak menemukan keberadaan Bos besar yang sedang dicarinya. Sesaat sebelum dibuat tersentak. Menyipitkan pandangannya tepat ke arah mayat berdarah tak jauh  dari pintu kamar mandi yang tetutup, menangkap suara gemericiknya air di dalam kamar mandi.

"Bos Sean baik baik saja?" tanya seseorang, satu diantara anak buah Sean yang masih berdiri di depan pintu kamar. Sama sekali tak berani masuk ke dalam kamar Bosnya jika tak mendapatkan titah ataupun izin dari Sean.

"Baik baik saja," jawab Aga. Hatinya sudah sangat yakin dengan kondisi Sean yang tak papa. "Tunggu disini," Titahnya kepada anak buah yang dia pimpin.

Hanya mendapatkan anggukan pelan dari rekan rekannya. Seiring dengan melenggangnya kaki Aga, lebih memasuki area kamar, akan menuju ke pintu kamar mandi.

Aga tak lagi bersuara. Hanya meneliti penampilan pria terkapar tak bernyawa di atas lantai. Kemudian menjatuhkan pandangannya ke arah penutup kepala di sampingnya.

Bersamaan dengan membukanya kedua mata Sean yang telah menikmati kembali rendaman air hangat di dalam bathup. Sebelum ia tutup kembali kedua matanya, mengacuhkan keberadaan Aga di kamarnya.

"Scorpion, "Gumam lirih Aga. Memperhatikan tato kelajengking berwarna coklat tua di leher sebelah kanan penyusup. Segera mengarahkan tubuhnya duduk berjongkok, guna untuk mencari petunjuk ataupun pesan dari pimpinan dari Scopion untuk Bosnya.

Tapi tak ada.

Bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mandi. Menampilkan Sean yang tampak begitu tenangnya. Sudah mengenakan jubah handuk  membalut tubuh  tegapnya. Menolehkan kepala Aga.

"Anda baik baik saja, Bos?" Tanya Aga berdiri tegak.

"Nggak ada alasan untukku nggak baik baik saja," Sembari mengayunkan langkahnya, sedang menahan gejolak amarahnya di dalam dada.

"Scorpion. Dia salah satu anak buah dari Scorpion." Ucap Aga. Ikut berjalan mengekori Bosnya, namun tak mendapatkan jawaban dari Sean yang akan duduk bersandar di atas sofa.

"Masuk semua!" Titah tegas Sean. Sambil menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Menatap dingin ke arah semua anak buahnya yang segera mengayunkan langkah mendekatinya.

"Kami Bos," Ucap salah satu dari mereka. Sudah berbaris rapi di depan Sean.

Bersamaan dengan mengayunnya langkah Aga, ikut masuk ke sisi barisan sebelah kanan.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu dilakukan Sandra. Sambil membawa secangkir kopi di atas nampan menolehkan kepala semua orang, menyela pembicaraan.

"Maaf Bos. Saya ingin mengantarkan kopi ini untuk Anda." Ucap Sandra. Sedang berusaha untuk memberanikan diri, namun tak bisa menunjukkan ketidak tenangan hatinya yang tampak begitu jelas dan kentaranya, dari gurat wajah tegangnya.

Jantung Sandra berdentum dentum keras. Nggak salah kan keputusannya masuk ke kamar Bosnya? melihat kilatan dikedua sorot mata Sean menyiratkan kemarahan, mengatupkan rapat bibir Sandra yang tak lagi berani untuk bersuara.

"Masuk," Sean mengedikkan kepala.

Menganggukkan pelan kepala Sandra. Ia hanya ingin bekerja dengan baik, tak lagi ingin disalahkan karena tak kunjung datang untuk memberikan minuman pesanan Sean.

Tapi kenapa hatinya jadi tak nyaman begini? semakin dibuat takut dan juga gemetar oleh tajamnya kedua sorot mata Sean. Seolah  menghujamnya ditiap langkah yang dia lenggangkan. Sungguh membuatnya tak bisa tenang.

"Apa saya mengganggu?" ragu Sandra. Mengedarkan pandangannya ke arah anak buah  Sean yang tampak tegang.

"Menurutmu?" datar Sean.

"Sepertinya iya." Lirih  Sandra. Lebih memilih  untuk segera membalikkan badannya, "Kalau begitu saya izin keluar dulu." Pamitnya cepat. Akan mengayunkan langkahnya kembali keluar dari kamar, melupakan secangkir kopi buatannya yang belum dia letakkan di atas meja.

"Tunggu!" sergah Sean.

Menghentikan seketika langkah Sandra, kembali membalikkan badannya cepat. "Ah!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 39. Sangat Posesif

    .​"Bos... lepas," cicit Sandra, mencoba menarik tangannya, namun Sean justru mempererat genggamannya, lalu menarik tubuh Sandra hingga bergeser lebih rapat di atas ranjang. ​"Biarkan seperti ini sebentar," bisik Sean rendah. Ia memejamkan matanya, lalu menyandarkan keningnya yang panas pada bahu kecil Sandra. Bobot tubuh tegapnya yang sedang melemah akibat demam bersandar sepenuhnya pada gadis itu. ​Ketegangan malam itu berlalu dengan menyisakan riak baru yang jauh lebih mencekik bagi Sandra. Alih-alih melunak setelah mendapatkan perawatan dan ketenangan dari asisten pribadinya, Sean justru bangun di pagi hari dengan insting kegelapan yang semakin meradang. Ketakutannya akan kehilangan kendali atas Sandra berubah wujud menjadi sebuah obsesi pertahanan yang agresif. ​Tanpa persetujuan, bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya, Sean memerintahkan Aga untuk memindahkan seluruh barang milik Sandra dari kamar lamanya ke dalam kamar utama sang mafia. Ketika Sandra kembali dari dapur denga

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 38. Bos, lepas!

    Pria yang biasanya angkuh, kuat, dan menolak menunjukkan kelemahan di depan siapa pun ini, mendadak ingin mencicipi lebih banyak perhatian dari asisten pribadinya. ​Sean sengaja memejamkan matanya perlahan. Ia melepaskan ketegangan di bahunya, lalu membuat tubuh tegapnya limbung ke arah depan, berlagak seolah-olah kepalanya mendadak pusing hebat dan ia akan jatuh pingsan dari tepi ranjang. Dalam benaknya, Sean membayangkan tubuh mungil Sandra akan panik, melompat maju, dan menangkap tubuh besarnya ke dalam pelukan gadis itu. ​"Bos?!" suara anak buahnya terdengar cemas. ​Kalkulasi taktis Sean meleset total akibat kepatuhan anak buahnya yang terlalu sigap. ​Sebelum tubuh Sean sempat menyentuh jarak jangkauan tangan Sandra, dua orang pengawal bertubuh raksasa di dekatnya malah melompat maju dengan kecepatan kilat, akibat panik melihat sang bos besar akan tumbang. ​Grep! ​Dua pasang tangan kekar berotot milik anak buahnya langsung mencengkeram bahu dan pinggang Sean dengan ku

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 37. Demam

    "Sandra!" suara Sean menggelegar, memecah keheningan pagi di dalam mansion. ​Pria itu menyentak selimutnya dengan kasar, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. Kepalanya terasa pening luar biasa, dan seluruh persendiannya mendadak terasa ngilu. Efek dari luka sayatan sedalam sepuluh sentimeter di lengan kirinya ditambah aksi nekat menjahit sendiri di dalam mobil kemarin sore rupanya mulai menagih bayaran. Tubuh tegap itu kini diserang demam tinggi.​Namun, alih-alih memedulikan rasa sakit di tubuhnya, netra elang Sean justru bergerak liar mengitari setiap sudut kamar. Sofa kulit panjang di sudut ruangan tampak rapi, kosong tanpa tanda-tanda keberadaan sang asisten pribadi.​"Sandra!" panggil Sean sekali lagi, kali ini suaranya naik satu oktav, sarat akan nada frustrasi dan amarah yang tertahan. Sialan. Ke mana gadis itu? Apakah dia melarikan diri saat ia tertidur lelap semalam? Mengingat usapan menenangkan Sandra di lengannya, Sean merasa tidak rela jika semua itu hanya bagian dari t

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 36

    Sean terdiam menatap siluet mungil Sandra yang sedang meringkuk ketakutan di lantai kamarnya. Keheningan malam kembali mencekik ruangan itu, hanya menyisakan sisa-sisa kepanikan yang belum reda sepenuhnya. ​Melihat tangisan Sandra yang kali ini murni karena perbuatannya sendiri, ada rasa bersalah yang asing dan sangat tajam menusuk ulu hati Sean. Debaran jantungnya yang berpacu liar sejak terbangun dari mimpi buruk tadi kini terasa berbeda, debaran ini terasa kaku, tidak nyaman, dan dipenuhi oleh rasa tidak rela ketika melihat gadis itu terluka karena tangannya sendiri. Sisi gelap mafianya yang biasa mengabaikan nyawa manusia mendadak lumpuh menghadapi air mata asisten pribadinya. ​Sean menghela napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan lampion berdarah dari kepalanya. Dengan gerakan perlahan agar tidak kembali mengejutkan Sandra, Sean ikut duduk di atas lantai marmer, tepat di hadapan Sandra. Bingung harus memulai kata darimana, saat ia tak mengetahui cara berbicara y

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 35. Dicekik

    Sandra membuka matanya perlahan, di dalam kegelapan kamar utama yang luas dan hanya menyisakan bias cahaya rembulan yang menerobos masuk melalui celah gorden yang tinggi. Ia bangun dari tidur lelapnya ketika samar-samar mendengar sebuah suara asing memecah keheningan malam. ​Suara erangan rendah yang sarat akan siksaan batin. Sebuah suara yang penuh keputusasaan, datang dari arah tempat tidur king-size di seberangnya. ​Itu suara Sean. ​Sandra menolehkan kepalanya. Di atas ranjang mewah di seberangnya, siluet kepala Sean tampak bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Napas pria itu pun terdengar memburu, pendek-pendek, dan terputus-putus seperti orang yang sedang kehabisan udara di tengah kepungan lumpur hisap. ​Sean sedang bermimpi buruk. Seorang mafia kejam, berdarah dingin, dan tak kenal takut yang siang tadi menjahit lukanya sendiri tanpa mengedipkan mata, malam ini tampak begitu rapuh dan tersiksa di balik selimutnya. ​Di dalam tidurnya yang kelam, kesadaran Sean terkun

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 34. Duduk dan Layani Aku

    Malam pun semakin larut, melingkupi mansion mewah itu dalam keheningan yang kaku. Di dalam kamar utama, lampu-lampu temaram dinyalakan, memantulkan bayangan di dinding marmer. ​Sean masih bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada, menampilkan balutan perban putih di lengan kirinya yang kontras dengan warna kulitnya. Tatapannya yang tajam tertuju pada Sandra yang baru saja masuk dari dapur lantai bawah, membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih. ​"duduk di sini," titah Sean, menepuk sisi ranjang di dekatnya. "Dan layani aku makan." ​Sandra menarik napas pendek, mencoba menekan egonya dalam-dalam. Dengan langkah anggun yang kaku, ia mendekat dan duduk di tepi kasur, menaruh nampan itu di atas pangkuannya. Ia menyendok bubur perlahan, meniupnya sedikit sebelum mengarahkannya ke depan bibir Sean. ​Ada yang aneh dari sikap Sean malam ini. Pria yang biasanya memancarkan aura predator yang dominan dan tak kenal takut, kini tampak melepaskan topeng be

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 15. Semakin Takut, Semakin Suka

    Sandra membulatkan mata, tubuhnya menegang di kursi penumpang mobil hitam itu. “A-apa maksudnya, Bos?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar di antara dentuman pelan musik jazz yang mengalun dari speaker.Sean menoleh dengan senyum tipis,, senyum yang lebih mirip ancaman daripada ramah. “Kamu ngg

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 14. Mata Dibalas Mata

    "Berhenti kamu! jangan lagi mundur atau aku patahkan kaki kamu!" ancam Sean.Tubuh Sandra membeku, dibuat tercekat dan terpaku, ia tidak lagi berani bergerak. "Saya sudah berhenti Bos." Sandra terbata, berusaha untuk tenang meskipun kondisi tubuh menegang, karena dipandang oleh Sean dengan sangat d

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 12. Cepat Bersiap1

    Membulatnya kedua mata Sandra. Sambil membekap mulutnya segera, bagaimana bisa ia tetap banyak tanya setelah diancam oleh Sean?"Mak-maksud saya."Tiga menit.Waktu kamu untuk bersiap siap nggak boleh lebih dari tiga menit." dinginnya ucapan Sean.Kian menghenyakkan hati Sandra yang semakin dia buat ter

  • Gairah Terlarang CEO   Bab 11. Sumpah Demi Nyawa?

    Tersentaknya hati Sean, tertutup rapi di balik gurat wajah datarnya. Ia mengangkat tangan kanannya segera dan tak jadi menyentuh rok asisten pribadinya. "Bo-bos mau ngapain saya?" kembali Sandra bertanya. Diantara gemuruhnya rasa. degupan di jantungnya pun sudah bertalu talu tak karuan. "Aku? ngapai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status