Mag-log inSuara Aksa dibayangi asap hitam yang membumbung tinggi di atas dermaga, belakang Aksa kini mulai rata dengan tanah. Sementara api masih menari-nari di atas permukaan air laut, membakar sisa-sisa bensin dari kapal boat yang baru saja meledak. Denzel berdiri mematung, dadanya sesak oleh campuran adrenalin dan rasa bersalah yang menghimpit. ”Katakan kondisinya Aksa!" bentak Denzel lagi, kali ini dengan suara yang pecah. Aksa tidak menjawab. Ia sedang sibuk menolong wanita yang mengaku sebagai Mama Denzel yang tergeletak pingsan di atas aspal. "Denzel, denyut nadinya lemah! Kita harus membawanya dari sini sekarang!" Audrey memeluk pinggang Denzel dari depan, menyandarkan wajahnya di dada bidang suaminya. "Denzel, lihat... Di sana!" bisik Audrey dengan nada penuh harapan. Mata tajam Denzel memperhatikan permukaan laut yang bergejolak. Di antara puing-puing kayu yang terbakar dan busa laut, muncul satu per satu kepala yang mengenakan perlengkapan selam hitam. Tim penyelamat elit Sha
Dermaga utara tampak seperti wilayah tidak bertuan yang diterangi lampu sorot kuning yang suram. Di ujung dermaga, kapal pesiar mewah The Kraken milik Lorenzo bersandar dengan mesin yang sudah menderu, siap lepas landas. Di dekatnya, sebuah kapal boat kecil terlihat bergoyang dihempas ombak; di sanalah Tuan Besar Shaquille diikat, dijaga oleh dua orang pria bersenjata lengkap. Aksa muncul dari balik bayangan kontainer bersama wanita misterius yang mengaku sebagai ibu Denzel. Wajah wanita itu tampak luar biasa tegang saat melihat kapal boat tersebut. "Denzel! Lorenzo menuntut pertukaran sekarang juga!" teriak Aksa melalui interkom. Denzel turun dari mobil, menarik Velove keluar dengan kasar sementara tim lain membawa Aiden yang duduk di kursi roda otomatis dengan kaki terbalut perban. Lorenzo Moretti melangkah ke balkon kapal pesiarnya, memegang cerutu dengan senyum kemenangan yang memuakkan. "Bawa mereka kesini, Denzel! Dan jangan lupa dokumen pengalihan saham itu!" suara Lor
Ditengah amarahnya yang tertahan dan ketakutannya, Denzel merapatkan tubuh Audrey ke tubuhnya, tangannya meraba punggung Audrey dengan posesif, seolah ingin menyatukan jiwa mereka agar tidak terpisahkan oleh kekacauan yang sedang terjadi saat ini. "Denzel... Sshhh... Kita akan selamat," Audrey membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya masuk ke sela rambut Denzel, menariknya agar sentuhan itu semakin dalam. Di ruangan dingin itu, kehangatan tubuh mereka menjadi satu-satunya kenyataan yang berarti. Denzel melepaskan ciumannya, lalu berlutut di depan Audrey. Ia menempelkan telinganya di perut Audrey yang masih rata. "Dengarkan Papa, sayang... Jangan takut. Papa akan menghancurkan dunia ini sebelum membiarkan seujung kuku kalian terluka." Velove, yang sejak tadi menyaksikan adegan itu dari dalam sel, mendengus sinis. "Satu jam, Denzel. Waktu terus berjalan. Kamu pikir kamu bisa menyelamatkan semuanya? Kamu bodoh." Denzel bangkit, menatap Velove dengan tatapan din
Denzel geram melihat Velove, napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan amarah yang nyaris meledak. Di balik kaca antipeluru, Velove masih tertawa, sebuah suara melengking yang terdengar seperti suara hinaan ditelinga Denzel. Langkah kaki Denzel yang awalnya hendak menerjang pintu sel tertahan tertahan oleh jemari halus Audrey yang melingkar di lengannya. “Denzel, mau ke mana?” Audrey mengerutkan dahi, menatap Denzel yang tampak menahan amarahnya. “Aku akan menghajarnya, Audrey! Dia tertawa seperti borang gula membuat ku muak!” geram Denzel. Audrey mengusap dada Denzel dengan lembut, "Denzel, jangan terpancing. Dia sengaja membuatmu kesal!" bisiknya lembut, matanya menatap Denzel dengan penuh permohonan. "Sekarang, Lorenzo tidak di sini. Kamu harus segera koordinasi dengan tim lain, kan?" Denzel memejamkan mata sejenak, mencoba menetralkan amarahnya yang terasa membakar pembuluh darahnya. Ia menoleh ke arah Audrey, melihat wajah istrinya yang masih pucat namun penuh keteguh
Suara wanita yang mengaku sebagai Mamanya itu memecah ketegangan. Ia melangkah maju dengan tatapan yang memohon namun penuh tekad. “Biarkan aku ikut bersama asisten mu ke dermaga itu, Denzel!” "Tidak! Kamu tetap di sini di bawah pengawasan!" bentak Denzel. "Aku belum sepenuhnya percaya padamu!" "Denzel, aku tahu denah dermaga pribadi itu luar dan dalam karena Lorenzo sering membawaku ke sana sebagai tawanan! Aksa akan kesulitan menembus sistem keamanan mereka tanpa bantuanku!" wanita itu bersikeras. Tiba-tiba, suara derit kursi roda terdengar dari arah belakang. Trustin muncul, dibantu oleh seorang pengawal. Kondisi fisiknya sedikit buruk, ada luka lama yang terinfeksi, karena itu dokter memintanya tetap di kursi roda agar tidak banyak bergerak. Wajah Trustin yang pucat karena luka-luka pasca kecelakaan tampak menegang. Namun, saat matanya tertuju pada sosok wanita berbaju hitam di samping Denzel, Trustin seakan kehilangan napasnya. "Ma... Mama?" suara Trustin bergetar hebat.
Tidak lama muncul sosok Aksa dengan napas tersengal, pakaiannya terlihat sangat kotor dan ada noda darah. Ia berhenti seketika saat melihat sosok wanita misterius itu, namun informasi penting yang akan ia sampaikan seakan mengalahkan rasa terkejutnya. Namun belum sempat Aksa bicara, Denzel memburunya dengan pertanyaan, “Ada Apa Aska..?!” "Denzel! Kami menemukan jejak helikopter yang membawa Tuan Besar! Mereka tidak pergi ke markas utama Lorenzo. Mereka menuju dermaga pribadi di utara!" Aksa sambil menunjukkan layar tabletnya yang menampilkan radar GPS yang bergerak cepat. Denzel beralih menatap Aksa. "Dermaga pribadi? Itu wilayah tak bertuan." "Tepat! Dan ada satu hal lagi," Aksa melirik wanita itu dengan curiga. "Tim forensik menemukan bukti bahwa ledakan di sayap barat sengaja dipicu dari dalam jalur ventilasi untuk membuka jalan keluar bagi seseorang. Seseorang yang sangat mengenal denah lama mansion ini sebelum direnovasi." Denzel kembali menatap wanita yang ia panggil '







