LOGINDenzel terdiam sejenak. Bohong adalah hal yang ia benci, tapi melindungi Audrey adalah prioritas mutlak. "Tim forensik sedang bekerja, Baby. Semuanya hancur total. Sangat sulit untuk memastikan apa pun saat ini. Tapi jangan pikirkan itu sekarang, oke? Fokuslah pada dirimu dan... Calon bayi kita, baby.."
Denzel merendahkan tubuhnya, mengecup perut Audrey dengan durasi yang lama, menyalurkan semua hasrat perlindungan yang ia miliki. Sentuhan bibir Denzel di kulit perutnya membuat Audrey sedikit geli sekaligus terharu. "Aku merasa seperti sedang bermimpi, Denzel. Di tengah api dan peluru, Tuhan menitipkan malaikat kecil ini di rahimku," bisik Audrey, air mata bahagia mengalir di pipinya. Denzel mendongak, menatap mata Audrey yang berkaca-kaca. Gairah yang muncul di antara mereka kali ini bukan lagi sekadar nafsu, melainkan cinta yang mendalam. Denzel mengusap air mata istrinya dengan ibu jari, lalu menangkup wajah Audrey.Denzel kembali ke dalam kamar. Suasana kembali sunyi, namun entah kenapa hatinya tidak tenang. Ia kembali berbaring ke atas tempat tidur, menarik tubuh Audrey ke dalam pelukannya lagi.Audrey merasakan kehadiran suaminya, ia menggeliat dan membuka mata sedikit. "Denzel? Kamu dari mana?" suaranya serak, khas orang bangun tidur yang sangat seksi di telinga Denzel."Hanya memeriksa pekerjaan sebentar, baby. Maaf membangunkanmu," bisik Denzel. Ia mencium kening Audrey, lalu turun ke bibirnya dengan lembut, mencoba menghalau pikirannya yang mulai kacau. Audrey melingkarkan lengannya di leher Denzel, menariknya mendekat. "Kamu tampak tegang... Ada masalah?"Denzel tersenyum tipis, tangannya mulai merayap di balik pakaian tidur Audrey, mengusap kulit hangat istrinya yang masih sensitif dari adegan panas mereka beberapa jam lalu. "Hanya masalah kecil di kantor, sayang. Tapi melihatmu seperti ini... Keteganganku rasanya pindah ke tempat lain.. Dibawah sini..” Denzel menarik tangan Audrey
Stella tersenyum tipis, senyuman yang terlihat sangat licik. Ia berdiri, merapikan gaun sutranya yang tersingkap. "Kamu akan menandatangani semuanya, Aiden. Karena jika tidak, aku tidak bisa menjamin keselamatan Audrey. Kamu tahu, kan? Aku punya akses ke orang-orang yang bisa menyelinap ke dalam penthouse Denzel tanpa terdeteksi. Satu kesalahan kecil darimu, dan Audrey akan mengalami 'kecelakaan' yang menyedihkan." Aiden membelalakkan matanya. "Kamu jangan berani menyentuhnya, Stella! Kamu tidak akan bisa melawan Papa Denzel! Kamu akan menyesal!" ”Kita lihat saja, Aiden," sahut Stella sambil berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekilas. "Habiskan supmu. Aku memasukkan obat penguat di dalamnya. Aku ingin suamiku terlihat segar saat kita menandatangani masa depan kita besok pagi." KLIK. Pintu kembali terkunci. Aiden mengepalkan tangannya di bawah selimut, kukunya memutih karena menahan emosi dan rasa sakit yang memuncak. Di dalam ruangan yang sunyi itu, Aiden meras
Di kediaman Stella, Aiden duduk bersandar di ranjangnya, menatap nanar ke arah hutan pinus yang gelap melalui jendela besar. Luka di punggungnya berdenyut, namun luka di hatinya jauh lebih perih saat menyadari ia terkurung dalam ambisi gila Stella. ‘Aku tidak menyangka, dulu bisa terperangkap dalam jebakan Stella.. Wanita ini lebih gila daripada yang aku pikirkan.. Mama dan kakek telah memanfaatkan aku selama ini.. Apakah keluarga Shaquille juga akan membuang ku?’ pikir Aiden, ‘Mungkin inilah karma dari Audrey yang telah aku bohongi.. Memilih Stella hanya untuk kesenangan sesaat tapi kehancuran ku selamanya..’ Tiba-tiba pintu terbuka pelan. Stella masuk membawa nampan berisi sup hangat dan segelas susu. Ia tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai mata apalagi hatinya. "Kamu harus makan, Aiden. Tubuhmu butuh asupan kalau ingin segera menikah denganku dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikmu," kata Stella, suaranya terdengar seperti madu yang mengandung racun. Aiden
Di atas meja rias yang dingin, Audrey merasakan kontras yang luar biasa antara permukaan meja yang keras dan telapak tangan Denzel yang panas saat meraba pahanya, menyingkap sisa-sisa kain yang menghalangi penyatuan mereka. Denzel melepaskan tautan bibirnya sejenak, menatap Audrey dengan mata yang menggelap, sebuah tatapan yang penuh dengan rasa lapar dan hasrat cinta. "Kamu adalah candu, Audrey. Setiap inci dari tubuhmu itu wilayah kekuasaanku," bisik Denzel, suaranya serak dan bergetar karena menahan gairah yang sudah di ujung tanduk. Audrey mendesah, tangannya yang gemetar menarik kemeja Denzel hingga kancing-kancingnya terlepas, menampakkan dada bidang yang kokoh. "Maka kuasailah aku, Denzel. Buat aku melupakan segalanya kecuali namamu." Mendengar tantangan itu, Denzel menyeringai. Ia tidak langsung melakukan penetrasi. Ia ingin menyiksa Audrey dengan kenikmatan yang lambat. Denzel berlutut di antara kaki Audrey yang terbuka lebar di atas meja rias. Mata Audrey membelalak
Bau antiseptik yang tajam di ruangan itu terasa menusuk indra penciuman Aiden sebelum ia benar-benar mampu membuka matanya. Rasa nyeri yang luar biasa begitu terasa dari punggung hingga ke dadanya, bekas tusukan belati Velove, Mamanya yang hampir saja merenggut nyawanya. Kelopak mata Aiden yang berat perlahan terbuka sepenuhnya. Ia menatap langit-langit kamar yang asing, dengan lampu gantung kristal yang tidak dikenalnya. Aiden berusaha keras mengingat apa yang terjadi sebelumnya, di pemakaman, tembakan, teriakan Audrey, dan rasa dingin besi yang menembus dagingnya. "Audrey..." gumamnya lirih, suaranya serak dan nyaris tidak terdengar. Aiden mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa lemas membuatnya kembali terkapar. Di saat itulah terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat. Pintu kamar terbuka lebar, menampakkan sosok Stella yang mengenakan gaun sutra merah darah, wajahnya tampak sangat lega, setidaknya itulah yang ingin ia tunjukkan. "Aiden! Astaga, syukurlah ka
Audrey terdiam mendengar kata-kata Denzel, nada bicara suaminya juga tidak terdengar lembut. ‘Denzel sepertinya marah padaku, apa karena aku terlalu banyak membicarakan Aiden? Tapi itu hanya karena Aiden menyelamatkanku, aku gak ada pikiran atau perasaan apapun pada Aiden..’ monolog Audrey. Trustin melihat wajah muram. Audrey setelah peringatan Denzel. Ia melihat wajah Audrey tampak masam saat ini, Trustin pun mengambil alih pembicaraan. “Kita makan pagi dulu, masalah lain kita bicarakan nanti..” Makan pagi pun seketika berubah hening, suasana hangat sebelumnya kini berubah menjadi dingin. Denzel melirik ke arah Audrey, wanita itu menikmati makanannya sambil menunduk. ‘Apa aku terlalu kasar padanya?’ Denzel mulai gelisah melihat Audrey yang tampak diam. ‘Maaf Audrey, aku gak bisa mengontrol emosiku saya kamu terlalu peduli dengan pria lain..’ “Sayang, apa kamu tidak menyukai menu masakan hari ini?” Denzel berusaha membuka percakapan, tapi suasana disana tampak semakin tidak n







