Beranda / Romansa / Gairah Terlarang Calon Mertua / Bab 30 Pertemuan rahasia

Share

Bab 30 Pertemuan rahasia

Penulis: Cynta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-30 12:41:40

l​Audrey akhirnya menuruti permintaan Aiden untuk bertemu. Mereka memilih sebuah restoran tempat mereka dulu sering bertemu saat masih pacaran. Letaknya tidak jauh dari perusahaan tapi cukup tersembunyi, jauh dari keramaian pusat kota karena masuk ke lokasi perkampungan di belakang gedung.

Suasana di antara mereka terasa dingin dan tegang, seperti ada dinding es balok di antara mereka.

​Aiden duduk berhadapan dengan Audrey. Wajahnya keras, matanya memancarkan campuran amarah dan rasa sakit yang dalam. Dia tidak memesan apa pun, hanya meletakkan ponselnya di atas meja.

​"Aku tidak akan membuang waktumu, Audrey," kata Aiden, suaranya tajam. "Aku ingin penjelasan dari mu."

​Aiden menggeser ponselnya ke depan Audrey. Di layar ponsel itu, terlihat sebuah foto yang buram namun masih tampak begitu jelas. Foto itu menunjukkan Audrey di lobi mal, tubuhnya dipeluk posesif oleh seorang pria tinggi yang punggungnya tampak familiar, bagi Aiden.

​Audrey merasakan tenggorokannya tercekat. Meskipun f
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 110 Gairah di dalam perpustakaan

    ​Setelah makan siang keluarga yang penuh dengan tawa, suasana mansion menjadi lebih santai. Trustin kembali ke kamarnya untuk beristirahat, sementara Aksa dan Fiona menghilang, kemungkinan besar mencari tempat privat untuk 'hadiah' yang dijanjikan. ​Denzel menarik Audrey ke dalam perpustakaan pribadi milik mendiang Tuan Besar Shaquille. Ruangan itu kini sudah dibersihkan dari segala kenangan buruk. Denzel menutup pintu dan menguncinya, lalu membalikkan tubuh Audrey hingga punggungnya bersandar pada rak buku yang tinggi. ​"Denzel... di sini? Bagaimana kalau Trustin atau pengawal lewat?" bisik Audrey, napasnya mulai tidak teratur saat Denzel merapatkan tubuh mereka. ​"Pintu ini kedap suara, sayang. Dan aku ingin menghukummu karena membuat ku kesal pagi ini," gumam Denzel. Ia mengangkat tangan Audrey ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mulai menyingkap dress santai yang Audrey kenakan. ​Denzel mencium bibir Audrey dengan penuh gairah, sebuah ciuma

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 209 'Panasnya’ suasana pagi

    ​Pagi itu Denzel bangun lebih dulu, wajahnya tampak tenang dari beberapa hari lalu. Ia mengusap bahu polos Audrey, merasakan kelembutan kulit istrinya yang sehalus sutra. Ia mencium puncak kepala Audrey, lalu turun ke ceruk lehernya, menghirup aroma vanilla yang memabukkan. ​"Ngg... Denzel," gumam Audrey, ia menggeliat pelan. Matanya terbuka, menatap manik mata Denzel yang menatapnya dengan penuh cinta yang nyata. "Jam berapa sekarang?" ​"Masih cukup pagi untuk memulai hari, sayang. Tapi sekarang waktunya untuk mencintaimu lagi, baby," bisik Denzel dengan suara serak khas bangun tidur. Ia menarik selimut lebih tinggi, namun tangannya mulai menjelajah di bawah kain itu, mencari lekukan tubuh Audrey yang selalu membuatnya candu. ​Audrey tertawa kecil, menahan tangan Denzel yang mulai nakal. "Tadi malam kamu janji kalau kita akan kembali ke mansion pagi ini, Denzel. Kita harus melihat Trustin dan... Daan memastikan semuanya benar-benar berakhir." ​Denzel menghela napas, menyandarkan

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 208 Saatnya menerima hukuman

    ​Denzel mengangkat Audrey, melingkarkan kaki jenjang istrinya ke pinggangnya yang kuat. Ia membawa Audrey ke kamar utama, namun langkahnya terhenti di balkon pribadi yang menghadap ke arah pemandangan kota. ​"Di sini, Audrey. Aku ingin seluruh kota tahu bahwa kamu adalah ratu dari raja maut yang paling beruntung," bisik Denzel sensual.Tangan Denzel menurunkan Audrey di atas sofa yang empuk. Dengan tangan yang terampil, Denzel membuka kancing gaun hitam Audrey satu per satu. Setiap inci kulit Audrey yang terekspos langsung diserang oleh ciuman panas Denzel.Saat gaun itu luruh ke lantai, Denzel terpaku menatap perut Audrey yang mulai sedikit menonjol, tempat di mana benihnya sedang tumbuh.​Denzel berlutut, mencium perut Audrey dengan sangat lembut, hampir seperti sebuah ritual. "Terima kasih telah bertahan untukku dan anak kita, sayang."​Gairah Audrey meluap. Ia menarik Denzel berdiri, tangannya dengan berani membuka ikat pinggang suaminya, membebaskan Anaconda yang sudah menegang

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 207 Sisa ketegangan di pemakaman

    ​Prosesi pemakaman berlanjut. Denzel berdiri di samping Trustin yang sejak tadi hanya diam memperhatikan dengan sorot mata yang sulit dibaca. Peti mati Tuan Shaquille dan istrinya akhirnya diturunkan ke dalam liang lahat. Suara tanah yang jatuh menimpa peti mati terdengar seperti detak jam yang menandai berakhirnya sebuah babak panjang penuh dendam dan luka.​Denzel menggenggam tanah, lalu menaburkannya. Di dalam hatinya, ‘Aku berjanji bahwa kekacauan yang diciptakan Papa tidak akan pernah terulang pada anak-anak ku.’ Ia menoleh ke arah jenazah Lorenzo yang sedang dibungkus kantong mayat oleh tim Aksa di kejauhan. Musuh besarnya telah tumbang, namun kedamaian seakan masih belum benar-benar terasa sempurna. ​Setelah doa terakhir dipanjatkan, Trustin mendekatkan kursi rodanya ke arah Denzel.​"Denzel," panggil Trustin pelan. "Aksa baru saja melacak sesuatu dari ponsel Lorenzo yang kita sita. Ada satu panggilan keluar terakhir sesaat sebelum dia mati. Bukan ke Velove, bukan pula ke Aide

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 206 ‘Hukuman’ yang menanti

    ​Langit di atas pemakaman keluarga Shaquille seolah terbelah. Di satu sisi, peti mati orang tua Denzel siap bersatu dengan bumi, namun di sisi lain, genangan darah Lorenzo dan pengorbanan tragis Aiden meninggalkan aroma amis yang menyesakkan. Kabut yang merayap di antara nisan-nisan marmer menambah suasana mencekam, seolah-olah maut masih enggan pergi dari sana. ​Melihat ekspresi wajah Denzel yang berubah menjadi gelap dan dingin seperti malam yang tak berbintang, Audrey segera menggelengkan kepalanya. Ia merasakan cengkraman tangan Denzel di bahunya mengeras, tanda bahwa monster posesif di dalam diri pria itu sedang bangkit. ​“Tidak Denzel, aku... Aku hanya ingin tahu kondisinya... Dia... Menyelamatkan aku...” lirih Audrey. Suaranya bergetar, matanya masih terbayang bagaimana Aiden menerjang belati Velove demi melindunginya. ​“Dia menyelamatkanmu karena masih mencintaimu!” bentak Denzel. Suaranya yang berat bergema di antara kesunyian makam. Ia menatap Audrey dengan tatapan yang

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 205 Tanah pemakaman berdarah

    ​Denzel melangkah maju, perlahan dan pasti. Ia mengambil senjata apinya, menodongkan laras dingin itu tepat ke dahi Lorenzo yang kini bersimbah keringat dingin. "Semua pasukan yang kamu sewa sudah dilumpuhkan dan digantikan oleh orang-orangku satu jam yang lalu. Kamu sendirian, Lorenzo." ​Lorenzo mendongak, matanya merah penuh kebencian. "Kamu pikir ini berakhir di sini? Tidak... Aku sudah menyiapkan sasaran pada kelemahanmu... Lihat ke belakang mu, Denzel!" ​Denzel sempat melirik sekilas ke arah Audrey dan Trustin. Mereka masih berdiri di sana, dijaga ketat. "Mereka aman. Dan sekarang, waktunya kamu menemui Papaku, Lorenzo!" ​Denzel menarik pelatuknya. DOR! Kepala Lorenzo tersentak ke belakang, nyawanya tercabut seketika, di atas tanah pemakaman yang ingin ia hancurkan. ​Sesaat suasana disana terasa begitu hening, tapi keheningan setelah tembakan itu hanya bertahan sedetik karena semua orang tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba.. ​"DENZEL, TOLONG!!!" ​Teriaka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status