“Mau apa kau di sini, Zach?” bisik Liora dengan kepanikan menerpa dirinya. Dia takut kedatangan Zach ke kamarnya terlihat seseorang.
“Ayo ikut aku, Lio,” ucap Zach yang terdengar tidak masuk akal bagi Liora.
Setelah semua yang terjadi semalam, Zach malah tiba-tiba datang ke sini di saat yang lainnya sedang pergi, dan memintanya mengikuti dia?
Ini sungguh tidak masuk akal. Apa yang diinginkan Zach?
Lagipula, kenapa Zach malah di sini, bukannya mengikuti tour bersama keluarganya yang lain?
“Ikut ke mana? Aku tidak akan mengikutimu ke mana-mana, Zach! Kita tidak bisa terus bertemu secara rahasia seperti ini. Aku ini istri adikmu, Zach!”
Kata-kata Liora seperti kapal yang menghantam karang. Zach seperti teringatkan atas hal yang sangat menyakitkan bagi hatinya.
Sorot matanya berubah kelam. Liora tahu, ada perih yang menjalar di sana begitu dalam.
Raut Zach seperti itu membuat sesak di hati Liora pun merambat ke atas. Dia tak sanggup memandangi wajah Zach dengan segala sorotnya yang putus asa.
Liora pun gegas mengalihkan pandangan lalu hendak menutup pintu. Tapi tangan Zach menahannya.
“Please, Lio, aku hanya ingin bicara,” katanya dengan suara seraknya yang bergemuruh rendah bagaikan gulungan ombak yang kembali setelah menghantam karang.
“Tapi untuk apa, Zach? Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!”
“Apa yang tidak ada? Aku masih tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Kenapa kau tiba-tiba memutuskan kontak di antara kita, kenapa kau tiba-tiba menikahi Zidane. Kenapa, Lio? KENAPA?”
Liora terdiam. Sekalipun ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada Zach, tapi tentang semua ini terasa tidak etis untuk dia beritahukan.
Tidak adil bagi Zidane, yang telah mengeluarkan uang hampir berjumlah miliaran agar dirinya terbebas dari terkaman debt collector, tapi malah mendapatkan balasan seperti ini.
Liora sungguh tidak ingin menjadi istri durhaka atau wanita tidak tahu diri, tidak tahu berterima kasih.
“Bagiku tidak ada yang perlu dibicarakan tentang semua pertanyaanmu itu, Zach. Aku menikahi Zidane adalah fakta. Tidak bisa diubah lagi. Jadi, tidak perlu dibicarakan lagi,” ucap Liora tegas seraya hendak menutup pintu.
Tapi lagi-lagi, tangan Zach menahannya.
“Bagiku itu perlu dibicarakan! Kalau kau tidak mau membicarakan itu, aku akan mendobrak dan terus di sini sampai Zidane dan seluruh keluargaku kembali ke sini!”
Liora menatap kesal pada Zach. Zach yang dikenalnya tidaklah seperti ini. Pria itu sama lembut dan sopannya dengan Zidane.
Cinta yang diterimanya dari Zach pada waktu dulu adalah cinta yang dewasa. Cinta yang tanpa hasrat menggebu liar. Cinta yang penuh pengendalian diri dan penuh penghormatan.
Tapi sekarang ... Zach berubah menjadi pria pemaksa? Bahkan baru saja mengancamnya. Benarkah ini Zach? Atau Zach berubah karena dirinya yang berubah.
Liora tidak tahu.
***
“Apa yang mau kau bicarakan, Zach?” tanya Liora akhirnya setelah mengikuti Zach ke pantai.
Awalnya Zach mengajak Liora ke kamarnya, tapi Liora tidak mau. Kejadian semalam saja masih membuat Liora gugup setengah mati, lalu sekarang Zach hendak mengajaknya bicara berdua di kamar lagi?
Mengerti keresahan hati Liora, Zach pun akhirnya mengajak ke pantai. Mereka duduk bersisian, dengan memandang ke arah laut lepas.
Keduanya membiarkan angin pantai membelai wajah mereka meski terpaan itu mengusutkan rambut mereka.
Liora membiarkan rambut panjangnya yang kecoklatan berterbangan dan sebagian menerpa wajah Zach.
“Kenapa kau menghilang dariku, Lio?” tanya Zach akhirnya dengan suara yang sangat menuntut.
“Aku punya alasan, Zach. Dan kau tak perlu tahu!” sahut Liora tegas, meskipun perih hatinya teramat kental dalam nada suaranya.
“Aku tak perlu tahu?” tanya Zach dengan nada tersinggung. “Enam bulan kita bersama. Enam bulan aku menjagamu, menyayangimu, lalu kau tiba-tiba menghilang dengan alasan yang tak perlu aku tahu?”
Liora menundukkan pandangan, menatap pasir di bawahnya. Ingin rasanya dia menghitung saja jumlah pasir di pantai ini, meskipun mustahil. Tapi itu lebih baik daripada menghadapi Zach dengan segala tuduhan dan cercaannya.
Kemarahan Zach sangat mengiris hatinya. Perih itu melebihi perih akibat apapun juga.
“Apa kau tidak mengerti bahwa waktu itu kau adalah kekasihku, Lio! Lalu kau tiba-tiba menghilang!” Suara Zach menajam, menahan gejolak kemarahan sekaligus perih yang dipendamnya selama ini.
“Tentu saja kau tak pernah mengerti rasanya mau gila! Aku sudah bagai orang gila menunggumu, mencarimu, mengkhawatirkanmu, mengira kau kenapa-kenapa!
Dari Maccau, aku menelponmu ribuan kali meski nomormu tidak aktif! Aku meninggalkan pesan di voice mail mu meski nomormu tak kunjung aktif!
Aku bahkan menyempatkan diri mengambil mencuri waktu weeken, untuk terbang dari Maccau dan mencarimu. Aku ke apartemenmu, tapi apartemenmu kosong! Aku-” Zach mengusap rambut coklatnya dengan kasar, ikut membuang pandangannya yang penuh dengan sakit hatinya, ke lepas pantai.
Pemandangan ombak yang menerpa karang, lalu berlomba menuju pantai, tidak mampu merasuk di benak mereka berdua. Langit yang begitu cerah dan biru bagai tak tampak di mata mereka berdua saat ini.
Apa yang terjadi antara mereka lebih menyesakkan hingga keindahan alam di sekitar mereka tidak mampu mereka rasakan lagi.
Suara Zach kemudian terdengar lebih lunak, tapi di telinga Liora justru itu suara paling putus asa yang pernah didengarnya.
“Aku benar-benar nyaris gila, Lio. Kau tidak ada di mana-mana. Seolah kau benar-benar ditelan bumi!
Aku mendatangi kantor polisi menanyakan adakah kasus kriminal dengan namamu sebagai korban. Ratusan kantor polisi aku datangi! Ratusan, Lio! Bisa kau bayangkan betapa kacaunya aku waktu itu?! Kau sukses membuatku menjadi pecundang!
Tapi lihatlah kau sekarang, kau baik-baik saja. Lecet segores pun tidak!
Aku menjadi gila, menjadi pecundang, sedangkan kau menjadi istri adikku, menjadi adik iparku. Sungguh plot twist tak terkira, Lio. Dan kalau kau berpikir ini hanya sekadar menyedihkan, kau salah.
Ini menyakitiku! Kau mengiris hatiku dan menginjak-injaknya. Sungguh aku tak bisa terima ini!”
Liora tetap diam tak mampu membalas satu patah kata pun. Apa yang diutarakan Zach ikut mengiris hatinya.
Tak bisa dipungkiri Liora, rasa itu masih ada. Cinta di antara mereka sudah mengendap hingga ke dasar hatinya, sehingga tak mungkin bisa lekang hanya dalam waktu tiga bulan.
Sekalipun jika seumur hidup, Liora yakin rasa hatinya untuk Zach akan terus terpatri di sana. Malahan semakin kuat dan membekas.
Wajahnya muram penuh dengan kesedihan.Zach yang melihatnya memintanya datang.“Clint. Terima kasih sudah hadir. Terima kasih juga sudah menemani Zidane selama pengobatannya.” Zach memeluknya, berusaha keras menahan lidahnya untuk tidak mengatakan pikirannya bahwa Clint seharusnya memberitahu keluarga besar mereka tentang penyakit Zidane sebelum semuanya terlambat.Tapi Zach juga tahu, tidak ada gunanya lagi mengatakan itu semua. Zidane telah pergi dan hanya Clint yang berjasa menemani setiap langkah Zidane sampai akhir hayatnya.“Maafkan aku, Zach. Aku seharusnya tidak menutupi kondisinya. Aku menyesal. Tapi ... Zidane patah arang.”Clint menatap Liora, merasa tak enak untuk menceritakannya.Saat itulah, ibu Zach datang dan meminta Clint menceritakan lebih lanjut.“Boss Zidane ... saat perceraian dia masih bisa tegar. Tapi beberapa bulan kemudian, dia kembali terinfeksi virus yang sama. Kondisinya ini membuat keadaan tubuhnya semakin memburuk.Saat itulah dia putus asa.”“Bagaimana b
“Untukmu, Love.”Penuh rasa ingin tahu, mereka membukanya dan ternyata ...Itu adalah surat cerai baru yang sudah ditandatangani Zidane.Di balik sana ada selembar kertas kecil.Zidane menulis:[Kamu mengirim surat pembatalan menikah, aku sudah merobeknya. Tapi ini aku mengirimkan surat perceraian. Aku tidak rela jika pernikahan kita dianggap kesalahan. Pernikahan kita pernah terjadi dan itu atas kemauan ku dan kamu bersama-sama.Jadi, ini adalah perceraian yang kamu mau.Aku sudah merenung dan aku sadar tidak ada gunanya menjadi suamimu jika pada akhirnya tidak akan pernah mendapatkanmu seutuhnya.Jalani hidupmu sebahagia yang kamu bisa.Untuk Zach, aku titipkan cinta yang pernah bersemi dalam hatiku.Aku tidak marah lagi pada kalian, aku hanya marah pada takdir.Jika memang takdir hidupku seperti ini, kenapa takdir membiarkan cinta yang begitu besar tumbuh di hatiku ini teruntuk dirimu, Liora?Andai aku tidak mencintaimu, aku akan lebih mudah menjalani hidup dan sakitku ini.Selamat
“Apa? Kau dan Liora?” Ibunya Zach berteriak histeris ketika mendengar penjelasan Zach.“Apa-apaan ini?”Wanita itu bangun dan menatap garang pada Liora. Tangannya terangkat dan tanpa diduga ...Plak!“Kau keterlaluan! Tidak tahu diri!”“Mom! Jangan menamparnya!” Zach merangkul Liora dan menjauhkannya dari sang ibu. “Dia tidak salah!”“Apa yang tidak salah! Kalian sudah melakukan hal gila! Zidane itu adikmu, Zach! Bagaimana bisa kamu begitu tega padanya?”“Mom! Aku dan Liora sudah berpacaran dari sebelum dia menikah dengan Zidane. Hanya saja waktu itu ada situasi yang membuat Liora terpaksa menikahi Zidane-”“Terpaksa kau bilang?” Kedua mata ibunya semakin melotot. Ayah dan kakeknya pun ikut memelototinya.“Terpaksa atau hanya memanfaatkan Zidane? Kau memang sialan!” ujarnya marah sambil menunjuk ke arah Liora.Lalu dia menatap marah pada Zach. “Aku tidak akan pernah merestui kalian!”Ibunya langsung keluar sedangkan ayahnya tiba-tiba memegangi Grandpa Hank yang lagi-lagi terkena sera
“Aku sudah melihat semuanya. Lagipula kau masih istriku, Lio!”Zidane tertawa mengejek melihat tingkah Liora yang buru-buru memakai dalamannya. Bahkan di saat seperti itu Liora masih teramat manis.Wajah Zidane berubah masam mengejek dirinya sendiri.‘Cintamu tidak memiliki harga diri lagi, Zid!’Begitu yang dia pikirkan dalam benaknya.“Kau menaruh sesuatu di minumanku!” tuduh Liora setelah dia berusaha mengingat hal terakhir yang dia lakukan tadi. Tangannya spontan mengelus perutnya.“Kau tahu aku mengandung, tapi kau memberiku bius? Zid, kau bisa mencelakai janinku. Bayiku ini juga keponakanmu, Zid!”Zidane hanya tertawa. “Justru itu! Kalian keterlaluan! Apa yang aku lakukan ini hanya untuk membalas sedikit rasa sakit hatiku!”Seketika Liora jadi teringat alasan kenapa dia berada di sana.“Maafkan aku, Zid. Aku tahu aku sudah menyakiti hatimu. Tapi ... jika kita meneruskan ini, aku akan semakin melukaimu, Zid. Aku ... kau adalah temanku. Aku ...”Liora kehilangan kata-katanya. Dia
Di dalam kamar, Zidane menatap tubuh Liora dengan pandangan tergiur.Sungguh tubuh istrinya ini sangatlah menggiurkan.Walau tidak sebahenol Janet, tapi Liora memiliki tubuh idealnya sendiri. Tubuh yang seharusnya menjadi miliknya.Zidane mulai mengelus bagian-bagian yang menggiurkan. Dia memulainya dari pinggul.Sungguh halus dan mulus pinggul Liora. Berbeda dengan kulit Janet yang kasar dengan sedikit bersisik.Di benaknya dia berpikir bahwa Liora masih sah istrinya. Dia bisa dan berhak atas tubuh Liora.Zidane semakin menggila dan mulai mengendus leher Liora.Dia mengecup lembut seraya merayapkan bibirnya menuruni leher hingga ke bahu terbuka Liora.Aroma Liora sangat menggiurkan baginya.Tangannya pun tak tinggal diam, meremas dada Liora dan mulai berusaha melepaskan tali bra.Klik!Kaitan bra terlepas, kini saatnya mulai melepas bra dan menikmati hidangan utama tubuh Liora.Tepat saat itu,Teriakan Zach membahana dari balik pintu yang telah dikunci Zidane.Dia memang membiarkan k
“Duduk dulu, Honey,” kata Zidane dengan suara lembut yang di telinga Liora seperti dibuat-buat.Sedikit bingung Liora mendengarnya. Setelah lama Zidane memanggilnya dengan nama, kenapa sekarang tiba-tiba Zidane memanggilnya honey lagi.Liora pun duduk sementara Zidane ke dapur dan membuatkannya minum.Mendengar bunyi gelas dan air, Liora pun gegas menyusul. “Tidak perlu, Zid. Tidak perlu repot-repot padaku.”“Tidak apa-apa.”Zidane selesai membuatkan minum untuk Liora segelas teh chamomile kesukaan Liora.“Diminum,” kata Zidane lagi saat melihat Liora hanya memegangi gelas itu.Tak enak pada Zidane, Liora pun meminumnya dua teguk. Lalu meletakkan di meja dapur.“Enak?”“Enak. Terima kasih, Zid.”“Kau mau sekalian mengambil baju-bajumu? Masih banyak bajumu di sini.”Berpikir ada Zach di tempat parkir yang menungguinya, Liora pun setuju. Setidaknya dia bisa mengambil setengah pakaiannya saja sudah sangat bagus.“Silakan,” kata Zidane seraya mengulurkan tangannya ke arah kamar.Liora mel