Halo semuanya, jangan lupa mampir ke bukuku ya. Berjudul "Dipaksa Nikah, Malah Kecanduan" (≧◡≦) Jangan lupa tinggalkan ulasan bintang lima dan juga jejak komentar, terima kasih(≧◡≦)
Aurora menutup mulutnya tak percaya melihat ponselnya yang pecah berserakan di lantai kamarnya yang dingin. Lalu membawa tatapan tajamnya lurus pada sang suami. “Kamu apa-apaan sih?!” serunya tak terima. “Sudah berapa kali aku katakan, Rora. Berhenti kerja, berhenti ninggalin rumah, berhenti ninggalin anak kamu!” suara Isandro bergetar menahan emosi yang tertahan di balik suaranya. Tangannya terkepal erat di samping tubuhnya. Senyum sinis tersungging di bibir Aurora. Perlahan dia mendekat pada sang suami, hingga berdiri tepat di hadapan Isandro. “Berapa kali aku bilang sama kamu, Sayang. Aku gak akan pernah berhenti kerja. Aku gak akan ninggalin karir aku sebagai model,” balas Aurora dengan nada tegas, tatapannya lurus pada sang suami. “Gak mudah buat sampe di titik ini, dan aku gak mau ngorbanin semuanya hanya karena ANAK!” tekannya di akhir kalimat. Tatapan Isandro semakin tajam, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menegang mendengar ucapan Aurora. Namun dia diam, membiar
“Mama, nanti kalau Mama antar Arby ke sekolah … mau Arby kenalin sama teman Arby,” celoteh Arby pada sang ibu yang tengah sibuk menyapa para penggemarnya dan membaca satu persatu komentar yang muncul di layar. Mereka amat sangat penasaran dengan suami Aurora. Ada yang bilang mereka hanya melihat sekilas, ada yang penasaran karena belum sempat melihat dan juga penasaran karena suaranya yang deep. Sementara di sebelahnya, Arby terus bicara meski sang ibu tak merespon. “Mama, Arby juga punya ibu guru namanya Bu Delima, orangnya baik dan juga cantik kayak Mama. Nanti kenalan ya, Ma. Soalnya Bu Delima katanya ngefans sama Mama.” “Terus, Ma ... nanti Arby mau kasih tau gambaran Arby ke Mama. Arby gambar Mama, Papa dan Arby di tengah. Kita jalan-jalan, makan-makan dan—“ “Arby!” tegur Aurora dengan nada ketus, tatapannya dingin. Ia menonaktifkan speaker pada live sosmednya dan mengarahkan kamera ke arah lain, berusaha tak menampilkan wajahnya. Arby terdiam begitu melihat tatapan dingin s
“Kamu pulang?” mata Isandro menyipit ketika melihat istrinya duduk di ruang tengah, mengenakan piyama satin berwarna dove. Aurora tersenyum tipis, lalu bangkit dari duduknya menghampiri sang suami yang berdiri tegap di tengah-tengah ruangan. “Kamu yang minta aku pulang, tapi setelah aku pulang kamu responnya malah begini!” ia berdiri di hadapan Isandro dengan kedua tangan terlipat di dada. Isandro menyeringai miring, “Kamu tidak bisa membaca ekspresi suami ketika menemukan istrinya yang katanya sangat sibuk dengan pemotretan, lalu tiba-tiba berada di hadapannya?” sindirnya halus. Aurora menelan ludah berat. “Demi kamu aku pulang cepat, tapi saat aku melakukan pekerjaanku dengan sangat singkat, respon kamu malah seperti ini.” Bibirnya mencebik sebal karena pengorbanannya seolah tak dihargai. “Kamu tidak perlu melakukannya demi aku. Lakukan saja demi Arby, anak kamu!” Setelah melontarkan kalimat sinis dengan nada dingin, Isandro berjalan melewati Aurora tanpa sedikit pun meno
Tatapan Isandro tak lepas dari wajah cantik Yessa yang terlelap di sebelahnya. Napas wanita itu teratur, begitu tenang, seolah seluruh beban hilang dalam tidurnya. Dalam tidur, Yessa tampak damai—dan bagi Isandro, itu adalah pemandangan paling berharga yang ingin selalu ia jaga. “Kaveer brengsek, meleceti tubuh indah kamu dengan tangan kotornya,” gumam Isandro, suaranya dingin dan menusuk. “Harusnya dia jaga kamu dengan baik, dia rawat kamu, dan dia lindungi kamu—bukan malah sebaliknya.” Drrtt. Ponsel Isandro yang terletak di dalam saku celananya berdering. Pria itu menoleh pada celananya yang berada di lantai, lalu meraihnya dengan malas. Nama Kaveer tertera di layar membuat Isandro mengkerutkan keningnya. Ia terdiam sejenak, sebelum menggeser simbol hijau di layar dan menempelkan benda pipih itu ke samping telinga. “Halo, Veer?” sapanya sambil menatap Yessa yang terlelap dengan posisi meringkuk. “Sa, aku ada di depan rumah kamu.” Kening Isandro mengkerut, “Ngapain kamu
Gerakan Isandro kian menggila, hingga tubuh pria itu menegang sempurna. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, lalu sebuah erangan kasar lolos dari bibirnya. “Arghhh—” Ia mencapai klimaksnya dengan sempurna, lalu menjatuhkan tubuh besarnya ke atas tubuh Yessa—memeluk wanita itu. “Mas!” Yessa menepuk tubuh besar Isandro, bukan hanya karena bobot pria itu melainkan karena Isandro mengeluarkan benihnya di dalam. “Mas Isa!” “Hm?” sahut Isandro, suaranya serak dan matanya terpejam efek sisa kenikmatannya. “Kamu keluarinnya di dalem!” panik Yessa yang tak sempat menikmati sisa berhubungannya dengan Isandro karena takut sampai hamil. Isandro menghela napas pendek, lalu menggulingkan tubuhnya ke sisi kanan Yessa. “Saya lupa, dan lagi, saya tidak pernah mengeluarkannya diluar. Saya juga tidak mau mengotori ranjang kamu. Tapi jangan khawatir, benih itu tidak langsung jadi dalam semalam,” balasnya tenang, suaranya lembut dan mampu menghipnotis Yessa yang polos. “Tapi kalau langsung jadi g
“Mmh ... Mas!” Yessa mendorong dada Isandro dengan kuat hingga ciuman mereka terlepas. Napasnya terengah karena sejak ciuman itu terjadi, Isandro tidak memberikan kesempatan untuknya bernapas. Sementara Isandro hanya menyeringai tipis. Dengan gerakan santai, ia menjilat perlahan sudut bibirnya, membersihkan jejak saliva Yessa seakan itu bukan apa-apa. Tatapannya tetap terpasang tenang, dingin, namun justru membuat suasana semakin menegangkan. “Mas kenapa bisa ada di sini?” seru Yessa sambil melirik ke luar kamar, dimana pintu kamarnya tidak ditutup. “Mas ke sini sama Mas Kaveer, ya?” Wanita itu lantas berjalan menuju pintu kamar untuk memeriksa keadaan. Namun belum sempat melangkah jauh, Isandro menarik pinggang ramping Yessa dan menarik wanita itu ke sisinya. “Mas!” Yessa memberontak untuk menjauh dari Isandro. “Yessa ...,” suara Isandro tenang, namun terdengar nada ancaman. “Tidak ada Kaveer, hanya kita berdua di sini.” Yessa menatap pria itu sejenak, sebelum akhirnya tenang d