Se connecter“Di mana cucu saya?” tanya Shofia pada Mala yang melintas di ruang tengah. “Den Arby sejak mulai hari ini sampai satu minggu ke depan menginap di rumah Mamanya seperti biasa, Nyonya. Kalau Non Yessy ada di kamarnya saat ini, sedang tidur siang,” jawab Mala sopan. Shofia mengangguk singkat. “Isandro dan Yessa?” “Tuan Isandro dan Nyonya Yessa sedang berada di kamarnya, Nyonya. Mungkin sedang istirahat siang,” jawab Mala lagi. “Oh, baiklah. Saya ke atas, mau bertemu Yessa.” Shofia lantas melangkah naik ke lantai atas, di mana kamar sang anak dan menantunya berada. Belum ada kesempatan untuk Aurora mengungkapkan permintaan maafnya. Tapi hari ini, dia ingin menyampaikannya pada Yessa. Tapi begitu dia tiba di depan pintu kamar sang anak, langkahnya mendadak terhenti dan ragu untuk mengetuk pintu. “Apa-apaan ini? Tidak bisakah mereka melakukannya nanti malam?” Shofia memutar bola matanya malas, “Apa Isandro ingin buka puasa atau gimana? Istrinya kan sedang hamil.” Ia kemudian
“Entah apa yang kamu katakan pada Isandro waktu itu, Veer. Dan sekarang kamu justru kembali ke jeruji besi,” Salma menghela napas panjang, merasa kalau perjuangannya waktu itu sia-sia. Kaveer hanya diam, kedua tangannya terlipat di dada. Dan tatapan pria itu, kosong. “Usia Mama udah gak lama lagi,” bisik Salma lirih, kali ini membuat Kaveer akhirnya melirik sang ibu. “Dan sampai sekarang, keinginan memiliki cucu itu belum juga terkabulkan.” Kaveer menghela napas panjang. “Harusnya Mama jangan bilang seperti itu. Kalau usia Mama masih panjang ....” “Kamu bahkan masih lama di sini akan keluar. Saat kamu keluar dari penjara, usia Mama sudah tujuh puluh lima tahun, Veer,” potong Salma dengan suara bergetar. Ia menunduk sejenak, sebelum kembali mengangkat pandangannya pada sang anak. “Mama akan cari anak angkat yang seusia kamu.” Kaveer mengerutkan keningnya bingung. “Apa maksud Mama?” “Tapi bukan anak laki-laki, Mama maunya anak perempuan. Kelak dia akan menikah, dan akan memberika
“Memperkosa?” Luke menyeringai miring. “Mana ada kata memperkosa antara suami dan istri, itu justru sudah kewajiban kedua belah pihak memberikan kebutuhan biologis.” Elis menunduk, segera menjauh dari urusan rumah tangga majikannya. Ia hanya babysitter, tak pantas untuknya menjadi saksi kekacauan rumah ini. “Itu namanya memperkosa, kalau salah satu dari kalian menolak melakukannya,” balas Yura, tatapannya dingin dan menusuk. “Jadi itu artinya, kamu melakukan pemaksaan.” “Itu sudah menjadi kewajiban Aurora sebagai istri saya. Dan saya hanya mengambil hak saya sebagai suami. Apa itu salah?” Luke menaikkan satu alisnya sinis. Yura menggeleng tegas, tak mau kalah. “Aurora menikah dengan kamu karena terpaksa. Dia tidak benar-benar menginginkan kamu. Dan jika Aurora tidak mau melayani kamu, sudah ceraikan saja.” Rahang tegas Luke mengeras, sorot matanya dingin dan berbahaya. “Kenapa kamu menatap saya seperti itu, huh?” Yura mengangkat dagunya, seolah menantang. “Kamu pikir saya takut
“Hamil?” Yura membulatkan matanya kaget. Tatapannya bergeser dari wajah Aurora ke testpack yang tergeletak di lantai kamar mandi. “Ya ampun,” tangannya refleks menutup mulut, nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Mama ….” Aurora merengek seperti anak kecil, tubuhnya gemetar. Sementara Arsy yang berada di gendongan sang nenek ikut gelisah, matanya menatap wajah ibunya yang berubah drastis. Belum sempat Yura berkata apa pun, suara langkah kaki terdengar mendekat. Luke muncul di ambang pintu kamar mandi. Wajahnya langsung berubah saat melihat Aurora terduduk lemas di lantai. “Kamu kenapa, Ra?” tanyanya cemas. Ia melewati Yura dan berjongkok tepat di hadapan sang istri. “Ada apa?” Aurora mendongak. Namun tatapan yang ia berikan bukan tatapan lemah, melainkan dingin, tajam, dan penuh amarah. “Ini semua gara-gara kamu, Luke!” bentaknya tiba-tiba. Belum sempat Luke mencerna kalimat itu, tinju kecil Aurora menghantam dada dan bahunya bertubi-tubi. Luke terkejut, refleks men
“Kamu penasaran gak sama jenis kelamin anak kita, Mas?” tanya Yessa lembut sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit. Tatapannya jatuh pada Isandro yang tengah berbaring santai, dengan kepalanya yang disandarkan di atas paha Yessa. Isandro terdiam beberapa detik, matanya terpejam seolah menikmati sentuhan itu. Sudut bibirnya kemudian terangkat tipis. “Penasaran.” Yessa tersenyum lebar. “Mau USG?” tawarnya pelan, meski nada suaranya terdengar ragu—seolah tak benar-benar berharap jawaban itu iya. “Tidak usah,” jawab Isandro tenang. Tangannya terulur, telapak besarnya mengusap perut Yessa dengan gerakan pelan dan penuh kehati-hatian. “Biar jadi kejutan.” Yessa mengangguk kecil. Jemarinya turun, mengusap puncak kepala sang suami, menyibakkan rambutnya ke belakang dengan gerakan lembut “Kalau gitu … kamu berharap anaknya berjenis kelamin apa, Mas?” Isandro menghela napas panjang, lalu membuka mata. Tatapannya naik, bertemu dengan mata Yessa yang sarat harap. “Aku gak peduli ap
“Bukankah aku terlalu baik untuk ukuran manusia yang pernah ditusuk, dilukai, dan istrinya hampir direnggut lagi oleh mantan suami dengan gangguan kejiwaan?” ucap Isandro datar, senyum miring tersungging di sudut bibirnya. Ia mengangkat satu kaki, menyilangkan dengan presisi di atas kaki yang lain. Gerakannya tenang, angkuh, seolah posisi itu memang singgasana baginya. Kedua lengannya terlipat di dada, sementara tatapan dinginnya menancap lurus ke arah Kaveer. Kini ruangan itu benar-benar sunyi. Tak ada polisi. Tak ada Salma. Hanya dua pria dengan masa lalu yang saling terikat oleh satu nama—Yessa. Isandro mengabulkan permintaan itu bukan karena keberanian Kaveer, melainkan karena ia memang tak pernah takut pada siapa pun. “Aku ke sini cuma mau dengar satu hal,” lanjut Isandro, suaranya rendah namun menekan. “Permintaan maaf kamu. Jangan muter-muter. Karena itu yang nentuin, kamu tetap hirup udara bebas, atau menghabiskan sisa hidup kamu membusuk di penjara.” Isandro sendiri te







