LOGIN"Sudah Mbak, nggak usah dipikirkan!"
"Kok jadi ngeri begini sih obrolan kita?! Sudah mirip seperti di film film horror!" bentak Novi kesal karena rencananya menaklukkan Rayhan terancam gagal. Dan ia juga jadi ketakutan sendiri dengan Linda, sahabatnya."Ya memang serem mbak. Sudah, ayo saya antar pulang ke rumah Mbak saja. Saya nggak mau terseret kalau sesuatu buruk terjadi sama Mbak," ucap abang ojek.Novi mengikuti ucapan tukang ojek tersebut. Ia meminta tukang ojek itu mengantarkannya ke Rumah Besar Lantana.Beberapa waktu saat berkendara, Novi teringat akan ucapan kakek tua. Ia masih tak percaya dengan ucapan kakek tua tersebut. Tapi ia tak memiliki bukti kuat untuk membela Linda dimata masyarakat yang ada di sana.Sepeda motor akhirnya berhenti tepat di depan pagar. Tukang ojek terpukau melihat desain rumah yang begitu indah dan mewah.Novi turun dari sepeda motor, Ayunda yang saat itu sedang berada di taman, kaget melihatnPria berbadan kekar mengambil amplop coklat, membukanya lalu menghitung jumlah uang di depan pemberinya. "Hanya ini saja uang bayarannya?" Si pria melirik ke arah Viko."Pelunasannya setelah tugasmu selesai." "100 juta." Si pria menyodorkan tangan, mengajak bersalaman sebagai tanda kesepakatan."Baiklah!" Viko menyambut tangan si pria kekar dengan senang hati."Akan aku kerjakan mulai besok pagi." Si pria menyalakan ujung gulungan tembakau yang dibalut kertas. Menghisapnya dalam dalam, sembari mengamati foto Andrew. Viko pun berpamitan pulang.****"Asih, malam ini aku tidak bisa datang. Aku sudah mengirimkan uang ke rekeningmu. Kau bisa membeli makanan kesukaanmu untuk menemanimu malam ini." Tulis Viko di ponselnya. Dengan cepat pesan singkat itu mendapatkan 2 centang hijau. Tanda si penerima telah membaca isinya.Tak ada balasan, karena Asih hanya membaca sekilas lalu meletakkan ponselnya lagi di atas meja. Ana masuk ke dalam kamar, ia melihat suaminya sibuk bermain dengan benda p
Viko sampai di rumah. Ia duduk di ruang tamu, tangannya memegang ponsel tapi matanya menatap ke arah yang berbeda. "Aku membuatkan teh untukmu." Ana menyapa, dengan secangkir teh di tangannya.Viko hanya diam, tatapannya seperti kosong. Seolah suara Ana hanya menggema di udara tak pernah sampai ke telinganya."Viko, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa tegang sekali?" Ana memperhatikan wajah suaminya yang tanpa ekspresi.Viko menoleh, ia menggeleng pelan. Ana menyodorkan gelas berisi teh. "Minumlah, supaya lebih rileks." "Terima kasih, Ana." Viko menatap Ana, dalam. Ucapan terima kasihnya terdengar cukup tulus."Jika ada masalah, katakan saja. Aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu." Meski memiliki segudang pertanyaan dan banyak keraguan terhadap Viko, Ana ingin rumah tangganya baik-baik saja."Tidak ada masalah apa-apa, Ana. Semuanya baik-baik saja." Mana mungkin Viko mengatakan yang sebenarnya pada Ana."Baiklah kalau begitu. Aku harus ke dapur untuk memasak makan m
Viko dengan enggan harus mengakhiri permainan panasnya. Ia meraih celananya yang ada di sisi ranjang. "Siapa yang datang malam - malam begini?" Viko mengomel sembari berpakaian. "BRak!" Tamu yang ada di luar rumah, tampaknya tak sabar menunggu sang empunya membuka pintu.Viko akhirnya membuka pintu rumah. Ia melihat wajah tak asing berdiri tepat di depannya."An- Andrew? Sedang apa kau di sini? Dan bagaimana kau bisa tahu, kalau aku ada di sini?" Mata Viko melotot, hampir keluar dari tempatnya."Mobilmu ada di depan rumah. Dan aku tinggal tak jauh dari sini." "Kau tinggal dimana?""Sedang apa kau di sini?" Andrew tak menjawab pertanyaan dari Viko, ia malah balik bertanya."Aku, ini adalah rumah temanku. Ada urusan yang harus ku kerjakan di sini.""Jadi ini adalah rumah temanmu?" Kedua mata Andrew memindai bagian luar rumah dengan cepat."Aku sudah selesai. Aku harus pulang sekarang." Viko keluar dari pintu dan langsung menutup pintu rumah. Sementara Asih, dia hanya berdiam diri di
Makan malam hari ini dimasak oleh Aurelia. Ana juga membantunya untuk menyelesaikan menu makanan penutup. Semua orang duduk di kursi dengan canggung. Johan sudah mendengar soal Asih yang dipecat oleh istrinya tanpa bermusyawarah dulu padanya, ia hendak bertanya tapi ada ragu yang membelenggu. Ia tak mau bahasan soal pembantu, membuatnya dan sang istri berdebat atau mungkin malah bertengkar hebat."Aku sudah memecat Asih." Tanpa diduga, obrolan Aurelia setelah makan malam langsung ke arah sana."Ya, Viko sudah menceritakannya. Papa hanya ingin tahu, kenapa Mama begitu marah hanya karena Asih pergi keluar sebentar.""Pergi ke toko perhiasan lebih tepatnya. Toko perhiasan langganan Mama! Seorang pembantu pergi ke toko perhiasan mewah, apa yang akan dia gunakan untuk membayar?" "Ma, dia kan sudah menikah. Sudah ada suami. Jadi wajar saja kalau dia pergi berbelanja perhiasan." Jawaban Johan masih terkesan membela Asih."Suaminya hanya karyawan biasa di perusahaan kita. Gajinya 2 bulan, ba
Aurelia memindai ke seluruh ruangan dan dengan cepat, ia menemukan Asih yang sedang bicara dengan kasir."Benar benar keterlaluan!" Aurelia geram, ia berjalan menghampiri Asih. "Jadi, ini lah yang kau kerjakan jika tak ada orang di rumah. Kau keluar dari rumah dengan memperdaya anakku?!" Aurelia melotot, tatapannya membuat nyali Asih menciut.Semua orang yang ada di sana, melihat ke arah mereka berdua. Viko melongo, melihat Aurelia telah berhasil menemukan Asih. "Ma, kenapa Mama berteriak di tempat umum? Semua orang sedang melihat ke arah Mama, sekarang." Viko berusaha untuk mendinginkan hati ibunya."Benar sekali Nyonya. Lagi pula, aku datang ke sini bersama dengan suamiku," ucap Asih dengan suara bergetar."Suami? Mana suamimu? Ha! Mana suamimu!" Aurelia berteriak makin kencang. Dan satu t4mpar4n melayang ke wajah Asih."PLak!" Telinga Asih berdengung karenanya. Ia menutupi wajahnya, berusaha untuk melindungi diri."M
"Asih! Semalam Andrew meneleponku! Dia bilang, ponselmu tidak bisa dihubungi!" Tiba tiba Viko datang dan menyela pembicaraan.Aurelia menoleh ke arah Viko, begitu juga dengan Asih. Pembicaraan yang sempat terjadi di antara mereka berdua pun, terhenti. Aurelia kembali ke kamarnya untuk mandi. "Asih, ingat jangan pernah bocorkan rahasia kita kepada siapapun. Jika tidak, anak yang ada di dalam perutmu itu, mungkin akan kehilangan ayah untuk selamanya." Viko mengancam.Asih hanya bisa mengangguk setuju. Viko pun pergi dari hadapan Asih, kembali ke lantai atas.*****Jam 7 pagi, semua orang berkumpul di ruang makan. Viko makan dengan lahap, begitu juga dengan Johan. Kemampuan memasak Ana, tidak diragukan lagi. Semua orang yang menikmati sarapan, memuji makanan buatannya."Wah! Sarapan hari ini, enak sekali! Asih memang pintar memasak!" Johan bicara sambil mengunyah sisa makanan di mulutnya."Bukan dia yang memasak! Dia mana







