LOGINAndrew duduk di dalam cafe, ia memesan secangkir coklat panas. Wangi kopi menguar di udara, membuat atmosfer terasa lebih tenang dan menyenangkan.
Taksi warna biru berhenti tepat di depan cafe, seorang wanita keluar dari taksi. Dia lah Asih. Di tangannya ia menjinjing tas kecil berisi sesuatu yang diminta oleh Andrew.Andrew melambaikan tangan, saat Asih masuk ke dalam cafe. Asih menoleh dan berjalan ke arah Andrew. Mereka duduk saling berhadapan."Aku datang membawa semua yang kau mau." Asih mengeluarkan beberapa lembar foto.Andrew memilih salah satu foto yang dibawa oleh Asih. "Aku ambil yang ini.""Apa hanya ini yang kau minta?""Tentu saja tidak, besok pagi kau akan pergi ke rumah mereka!" Andrew menjawab pelan, tapi nada suaranya terdengar penuh nada penekanan."Aku datang ke rumah Viko dan Ana?"Andrew menggeleng pelan. "Tidak, urusan Ana biarkan aku saja yang mengurusnya. Kau datang saja ke rumah majiAndrew duduk di dalam cafe, ia memesan secangkir coklat panas. Wangi kopi menguar di udara, membuat atmosfer terasa lebih tenang dan menyenangkan.Taksi warna biru berhenti tepat di depan cafe, seorang wanita keluar dari taksi. Dia lah Asih. Di tangannya ia menjinjing tas kecil berisi sesuatu yang diminta oleh Andrew.Andrew melambaikan tangan, saat Asih masuk ke dalam cafe. Asih menoleh dan berjalan ke arah Andrew. Mereka duduk saling berhadapan."Aku datang membawa semua yang kau mau." Asih mengeluarkan beberapa lembar foto. Andrew memilih salah satu foto yang dibawa oleh Asih. "Aku ambil yang ini." "Apa hanya ini yang kau minta?""Tentu saja tidak, besok pagi kau akan pergi ke rumah mereka!" Andrew menjawab pelan, tapi nada suaranya terdengar penuh nada penekanan."Aku datang ke rumah Viko dan Ana?" Andrew menggeleng pelan. "Tidak, urusan Ana biarkan aku saja yang mengurusnya. Kau datang saja ke rumah maji
Jam menunjukkan pukul 3 pagi, setelah melakukan serangkaian tahap pemeriksaan, Dokter keluar sambil membawa laporan hasil pemeriksaan."Bagaimana kondisi anakku?" tanya Sandra dengan tangan dan kaki bergetar, saking paniknya."Tidak perlu khawatir, Bu. Saya justru akan memberikan kabar baik.""Kabar baik?" Sandra mengerutkan kening."Pasien sedang hamil. Tapi karena kondisi sangat lemah, pasien sampai pingsan.""Jadi Ana sedang hamil, Dok?" Wajah Aurelia seperti bunga yang sedang merekah. Mendengar menantunya hamil, ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya."Ana, hamil?" Sandra bergumam kecil. Berbeda dengan besannya, Sandra justru merasa khawatir mendengar Ana sedang hamil.*****Pukul 7 pagi, Ana baru dibawa kembali ke rumah. Semua orang menemaninya, terutama Sandra yang tak ingin terpisah dari putrinya meski hanya sedetik."Viko! Hari ini, kau tidak perlu datang ke kantor. Ana sedang hamil, dan dia
"Status istri dan diakui oleh keluarga besar Viko. Tapi, kamu harus melakukan apa yang aku minta." Andrew menjelaskan, tapi Asih hanya diam. Asih bukannya menolak, ia hanya butuh waktu untuk berpikir. Apakah keputusannya untuk menerima tawaran Andrew, itu benar atau malah sebaliknya."Perutmu sudah membesar. Bayi yang ada di dalam rahimmu, akan segera lahir di dunia.""Ya aku tahu itu. Tidak perlu memberitahuku lagi! Aku sudah punya rumah, status kepemilikan rumah ini atas namaku. Ini bukan rumah kontrakan. Urusan uang belanja, aku mendapatkannya tepat waktu!" seru Asih menjelaskan semuanya. Ia tersinggung akan ucapan Andrew. "Tapi saat mengurus data kependudukan, kamu perlu nama ayahnya. Meski punya rumah, kamu hanya istri simp4nan saja. Kamu tidak bisa mengadu ke keluarga besarnya, kalau kamu ada masalah. Iya, kan?" Wajah Asih tertunduk lesu. Apa yang dikatakan oleh Andrew, memang benar adanya."Anakmu akan disebut sebagai anak h4ram, karena statusnya yang tidak jelas," imbuh Andr
"Kalau tidak, apa? Apa kau mulai mengancamku? Apa kau lupa siapa dirimu? Apa kau lupa siapa orang yang selalu mendukungmu? Apa kau lupa, hidupmu mewahmu berasal dari mana?" Viko menyela perkataan Asih. Setiap kalimat yang dikatakan oleh Viko membuat Asih terdiam. "Apapun yang kau mau, aku berikan. Kemewahan, kemudahan, perhiasan, rumah dan makanan enak. Apa itu masih kurang?"Asih mulai menangis, ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya. "Aku ingin diakui. Aku tidak mau dijadikan wanita simpan4n." Suara Asih terdengar lirih di telinga."Aku tahu itu Asih. Aku tahu. Dan aku sedang berusaha. Semuanya butuh waktu. Karena perbedaan kita yang terlalu jauh. Keluarga besarku butuh waktu untuk bisa menerimamu." Viko menjelaskan, ia berharap agar Asih bisa percaya dengan kata-katanya.Asih terduduk di atas kursi. Ia tak mampu lagi berdebat, hanya air mata yang bisa mengekspresikan bagaimana perasaannya sekarang."Maafkan aku, karena masih be
Viko pergi meninggalkan ruangannya. Ia menuju ke ruangan ayahnya yang saat ini sedang berbicara dengan klien. Viko yang panik, mulai kehilangan akal. Ia masuk tanpa permisi bahkan tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Saat Viko datang, semua mata tertuju ke arahnya. "Viko! Kenapa kau masuk tanpa mengetuk lebih dulu!" Johan yang tak suka dengan sikap anaknya, langsung menegur."Aku butuh uang. Ada hal penting yang harus aku lakukan." "Uang? Untuk apa? Dan berapa banyak? Lagipula kau kan punya rekening sendiri. Kenapa meminta uang padaku?" Johan menggeleng pelan. Ekspresi wajahnya datar, nada suaranya juga datar tapi penuh dengan nada penekanan."Uang di rekeningku habis. Aku tidak punya uang lagi." Viko terpaksa bicara jujur.Johan melihat ke arah langit-langit sambil menarik nafas dalam, ia mengatur emosinya. "Kita bicara ini, nanti setelah aku selesaikan urusanku!" Viko keluar dari ruang kerja ayahnya. Ia berdiri di depannya. Berj
"Aku bisa jelaskan. Jangan salah paham dulu!" Viko memegang tangan Ana, berusaha untuk memeluknya agar tenang."Lepaskan aku!" seru Ana. Ia menarik tangannya menjauh."Ana, aku tahu kalau kau pasti cemburu. Jangan cemburu, sayang. Dia itu asistenku di kantor. Dia meneleponku untuk memintaku datang lebih cepat." "Kenapa nama kontaknya tokoh pelengkap?" Ana tetap curiga."Ya, karena memang dia tokoh pelengkap. Dia kan asisten di kantor, yang membantu pekerjaanku. Orang yang aku anggap melengkapi atau membantuku mengerjakan tugas kantor. Hanya itu saja." Viko berbohong. Yang sebenarnya menelepon adalah Asih, bukan asistennya di kantor.Ana terdiam untuk untuk beberapa detik. Ia mencoba untuk mempercayai kata-kata suaminya. Ia juga tidak ingin bertengkar dengan suaminya."Aku harus ke kantor. Aku sudah terlambat. Apa aku boleh meminta ponselku?" ucap Viko."Aku harap, apa yang baru saja kau katakan itu benar adanya." Ana mengembalikan ponsel milik Viko."DRrrt!" Ponsel kembali berbunyi.







