Partager

Bab 9

Auteur: Sia
Rania tertegun. "Apa?"

"Aku sudah memohon dekret kepada yang mulia kaisar. Besok aku akan pergi ke Beida untuk pernikahan politik."

Rania seperti tersambar petir dan langsung berlutut. "Nona! Hamba akan ikut bersama Nona!"

Yasmin menggeleng, lalu membantu Rania berdiri dan berkata lembut, "Surat kontrak budakmu sudah kubakar. Aku juga sudah mencarikan keluarga yang baik di luar kota untukmu. Temuilah mereka. Kalau kamu menyukainya, menikahlah. Kalau tidak, uang kertas yang ada di dalam bungkusan ini cukup untuk membuatmu menjalani hidup dengan tenang sampai tua."

Rania menangis tersedu-sedu dan bersikeras ingin ikut bersamanya.

Namun, Yasmin hanya menggeleng. Ujung jarinya mengusap rambut Rania dengan lembut. "Rania, dengarkan aku."

Rania menangis hingga hampir kehabisan napas. Pada akhirnya, dia membenturkan kepalanya ke lantai tiga kali dengan keras. "Nona ... Anda harus baik-baik saja ...."

Saat pintu tertutup, Yasmin memejamkan mata sejenak.

Kehangatan terakhir yang tersisa di istana yang dalam ini pun telah pergi.

Sehari sebelum pernikahan politik, Galen mendorong pintu kediamannya dan masuk.

Ruangan itu kosong. Baru kemudian dia menyadari sesuatu dan bertanya, "Mana pelayanmu?"

Yasmin menundukkan kepala sambil menyulam pakaian pengantinnya. Dia menjawab dengan tenang, "Aku menyuruhnya mengurus sesuatu."

Galen tidak memedulikannya. Tatapannya jatuh pada pakaian pengantin di tangannya. "Sudah selesai?"

Yasmin mengangguk pelan, ujung jarinya menyentuh jahitan terakhir.

Galen mendekat dan berkata lembut, "Besok malam, di gerbang istana akan ada dua tandu pengantin. Satu untukmu, satu untuk Naura. Kalian akan diantar masuk ke Istana Timur bersama-sama."

Setelah terdiam sejenak, dia menambahkan, "Belakangan ini kondisi kandungan Naura kurang stabil, jadi pada malam pernikahan ... aku akan pergi ke kediamannya terlebih dahulu."

"Jangan mempermasalahkannya." Galen menundukkan kepala dan mencium rambutnya. "Kelak, kita masih punya banyak waktu."

Yasmin tidak berkata apa-apa.

Galen mengira dia telah menyetujuinya, lalu berbalik hendak pergi.

"Galen." Yasmin tiba-tiba memanggil.

Dia menoleh. "Hm?"

"Selamat tinggal," ujar Yasmin dengan suara lembut.

Galen tertegun sejenak, lalu tertawa kecil. "Yasmin, sampai jumpa besok malam."

"Kelak, kita akan bertemu siang dan malam."

Yasmin menatap punggungnya yang tegap dan berkata pelan, "Siang dan malam, kita tidak akan pernah bertemu lagi."

Sayangnya, kalimat itu lenyap bersama suara pintu yang tertutup.

Keesokan harinya, tibalah waktu keberangkatan pengantin.

Istana Timur dihiasi lampion dan hiasan pesta, sementara musik pernikahan bergema ke seluruh penjuru.

Di luar gerbang istana, dua tandu pengantin yang sama persis berhenti berdampingan.

Naura sudah menunggu di depan tandunya. Begitu melihat Yasmin keluar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh kemenangan.

Hari ini, dia juga mengenakan mahkota foniks dan pakaian pengantin. Meskipun hanya menjadi selir sanding, kemegahan prosesi pernikahannya tidak kalah dari istri utama.

"Kakak," panggil Naura dengan suara manja sambil mengusap lembut perutnya yang belum tampak membesar, "Kak Galen sudah berjanji kepadaku. Malam ini, dia akan datang ke kediamanku."

Naura berjalan mendekat dan merendahkan suaranya. "Sedangkan kamu hanya bisa tidur sendirian di kamar pengantin."

Yasmin hanya menatapnya dengan tenang, tanpa sedikit pun riak di matanya.

Melihat Yasmin sama sekali tidak bereaksi, sedikit rasa kesal melintas di mata Naura. Namun, dia kembali tersenyum. "Tapi Kakak jangan khawatir. Kelak, masih akan ada banyak hari seperti ini."

Yasmin akhirnya membuka suara. Suaranya sangat lembut, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Naura."

"Hm?"

"Semoga kamu dan Galen hidup bahagia bersama selamanya."

Naura tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak. "Kakak sungguh berlapang dada."

Yasmin tidak berkata apa-apa lagi dan berbalik menuju tandu pengantinnya.

"Berangkat!"

Musik pernikahan bergema. Kedua tandu pun diangkat bersamaan.

Tidak seorang pun menyadari bahwa kedua tandu itu bergerak ke arah yang berbeda.

Satu menuju timur, masuk ke Istana Timur, dengan lilin merah menyala terang dan malam pengantin yang penuh kebahagiaan.

Satu lagi menuju utara, meninggalkan ibu kota kekaisaran. Salju dan angin memenuhi langit, mengiringinya menuju pernikahan politik di negeri yang jauh.

Yasmin duduk di dalam tandu pengantin rombongan utusan Beida. Untuk terakhir kalinya, dia menyingkap tirai dan menatap ibu kota.

Galen, mulai sekarang, tahun demi tahun akan berlalu. Kita takkan pernah bersua lagi, terpisah oleh langit dan bumi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 25

    Ketika padang rumput Beida menyambut salju musim semi yang kesepuluh, Yasmin melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan di dalam tenda berlapis emas.Barra menggenggam tangannya yang basah oleh keringat. Mendengar tangisan bayi yang baru lahir, matanya justru lebih merah daripada saat dia terluka di medan perang dulu.Barra memotong tali pusar bayi itu dengan tangannya sendiri, lalu menggendongnya yang dibungkus kulit cerpelai ke hadapan Yasmin. "Lihatlah putri kita. Dia sangat mirip denganmu."Mata Yasmin memancarkan kelembutan. "Kamu ini, baru melihatnya saja sudah pilih kasih kepada anak perempuan.""Siapa suruh putri kita lebih mirip denganmu!"Yasmin tertawa geli, tetapi tawanya membuat lukanya tertarik hingga dia mendesis pelan.Barra segera membungkuk dengan cemas. "Sakit? Tabib!""Barra, aku tidak apa-apa."Yasmin menggenggam tangan Barra, ujung jarinya mengusap kapalan di telapak tangannya. "Bagaimana dengan Nandu ... belakangan ini ada kabar?"Wajah Barra menggel

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 24

    Barra terkekeh pelan, jakunnya bergesekan dengan tulang selangka Yasmin."Tentu saja. Ini mata air spiritual. Katanya, air ini paling ampuh untuk meredakan pegal-pegal di pinggang."Tangannya bergeser ke pinggang belakang Yasmin, lalu memijatnya dengan lembut."Akhir-akhir ini, aku sering melihatmu berguling-guling di tengah malam. Apa kamu terlalu lelah?"Di tengah kabut yang mengepul, daun telinga Yasmin perlahan memerah.Dia menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Barra dan berkata dengan suara teredam, "Bukankah itu gara-gara seseorang yang bersikeras harus memelukku saat tidur?""Kalau tidak memelukmu, bagaimana aku tahu kamu menendang selimut atau tidak?" Barra memegang wajahnya dan mengusap bibirnya dengan ibu jari. "Waktu itu, kamu sampai masuk angin dan batuk. Aku benar-benar ketakutan."Ketika ciumannya jatuh, kehangatan pemandian air panas masih terasa. Di antara ciuman yang lembut dan penuh kasih, Yasmin mendengar detak jantung Barra yang bergemuruh di dalam dadanya.Tiba-tib

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 23

    "Kalau begitu, biarkan negeri ini berganti penguasa." Suaranya begitu pelan, tetapi setiap katanya sedingin ujung es.Kenangan tiba-tiba membanjiri benaknya.Saat dalam perjalanan menuju tempat pengasingan, Yasmin pernah menggendongnya menyeberangi sungai yang membeku. Sol sepatu kain kasarnya bergesekan dengan lapisan es, menimbulkan bunyi "krek-krek".Punggungnya yang kurus tertekan hingga melengkung seperti busur, tetapi masih terdengar napasnya yang terengah-engah disertai tawa."Asalkan Yang Mulia baik-baik saja."Kaisar terhuyung dan berpegangan pada sandaran takhta. Rasa amis darah membanjiri tenggorokannya, lalu dia memuntahkan seteguk darah ke lantai ubin batu giok hijau."Anak durhaka .... Kamu anak durhaka ...."Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh kaisar sudah terkulai lemas di atas takhta.Para kasim yang berjaga di luar pintu berbondong-bondong masuk. Galen menyaksikan para tabib istana dengan panik mengangkat tandu kekaisaran.Dia perlahan berdiri, ujung jubah h

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 22

    Selama masa pemulihan Barra, Galen berkali-kali meminta untuk bertemu dengan Yasmin, tetapi selalu ditolak.Baru sebulan kemudian, Yasmin bersedia menemuinya.Galen tampak jauh lebih kurus dan lesu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.Ketika melihat Yasmin bergandengan tangan dengan Barra yang telah pulih, secercah keputusasaan melintas di matanya."Bukan aku yang mengirim pembunuh itu," katanya dengan suara serak, "itu orang-orang dari Keluarga Rahardjo. Mereka membencimu. Tapi, ini juga salahku.""Aku tahu," Yasmin berkata dengan tenang, "Barra sudah menyelidikinya hingga tuntas. Naura sudah meninggal, jadi wajar mereka menyimpan dendam."Galen melangkah maju. "Yasmin, ikutlah denganku. Nandu membutuhkanmu, aku ... lebih membutuhkanmu."Barra mengernyitkan kening dan hendak berbicara, tetapi Yasmin mencubit lembut tangannya. "Biar aku yang mengurusnya."Dia berjalan ke hadapan Galen dengan ekspresi setenang air. "Yang Mulia Putra Mahkota, hubungan kita sudah lama berakhir.

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 21

    Yasmin mengeluarkan jarum perak, lalu kembali melakukan akupunktur untuk mengeluarkan racun dari tubuh Barra.Ini adalah metode yang dia kembangkan dengan menggabungkan ilmu pengobatan Nandu dan ilmu sihir Beida. Meski berbahaya, inilah satu-satunya harapan.Saat jarum perak menusuk titik akupunktur, tubuh Barra seketika bergetar hebat dan urat-urat di tubuhnya menegang.Yasmin menggigit bibir bawahnya erat-erat dan terus menusukkan jarum, hingga tubuh Barra perlahan kembali tenang."Racun di dalam tubuh baginda raja sudah terlalu parah," ujar tabib sambil menghela napas, "kalaupun baginda raja sadar, takutnya juga ....""Diam!" bentak Yasmin dengan suara tegas, "dia pasti akan sembuh!"Saat malam makin larut dan suasana menjadi sunyi, Yasmin yang kelelahan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang untuk beristirahat sejenak.Tiba-tiba, dia merasakan jarinya disentuh lembut."Barra?" Dia segera mengangkat kepala dan berhadapan dengan sepasang mata berwarna amber yang begitu dikenalnya.Bar

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 20

    Keesokan paginya, perundingan perdagangan digelar di padang rumput di luar tenda raja.Yasmin mengenakan pakaian kebesaran Ratu Beida. Hiasan kepala emasnya berkilauan diterpa sinar matahari.Dia menggandeng lengan Barra dan berjalan perlahan menuju tenda tempat perundingan.Galen sudah menunggu di sana. Jubah brokat hitam yang dikenakannya membuat tubuhnya tampak makin kurus.Ketika melihat Yasmin dan Barra yang tampak begitu mesra, secercah kepedihan melintas di mata Galen, tetapi dia segera kembali tenang."Raja Beida." Dia mengangguk tipis, tetapi tatapannya justru tertuju kepada Yasmin. "Yasmin ... Ratu."Wajah Yasmin tetap tenang. "Yang Mulia Putra Mahkota telah menempuh perjalanan jauh, pasti sangat lelah."Perundingan berlangsung sangat lancar. Galen hampir selalu menyetujui semua persyaratan yang diajukan Barra.Saat tengah hari, mereka semua berpindah ke tempat jamuan di padang rumput untuk makan."Maukah Ratu berbicara denganku sebentar?" Galen tiba-tiba berbicara, matanya d

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status