Partager

Bab 8

Auteur: Sia
Dalam perjalanan pulang, Naura menunggu hingga Galen tidak ada, lalu menghentikan Yasmin.

Sambil membelai tusuk konde berhias mutiara di sisi rambutnya, dia tersenyum manja sekaligus penuh kemenangan. "Kakak, memangnya kenapa kalau kamu adalah putri mahkota? Yang dicintai yang mulia hanyalah aku. Orang yang tidak dicintai adalah orang yang paling menyedihkan."

Naura mendekat ke telinga Yasmin. "Kulihat sampai sekarang kamu masih belum mengerti. Jadi, hari ini ... aku sengaja menyiapkan pertunjukan yang bagus untukmu, agar kamu bisa melihat betapa cintanya yang mulia kepadaku."

Yasmin tiba-tiba merasakan firasat buruk.

Yasmin semula mengira Naura akan mencelakainya, jadi dia sengaja menyembunyikan belati di dalam lengan bajunya. Jika keadaan memburuk, Yasmin sudah siap bertarung sampai titik darah penghabisan.

Namun, yang tidak disangkanya, sepanjang perjalanan kereta kuda melaju, Naura selalu duduk dengan patuh tanpa melakukan apa pun.

Hingga ketika rombongan baru menempuh setengah perjalanan, tiba-tiba terdengar keributan dari luar kereta.

Sebuah anak panah melesat menembus tirai kereta dan menancap di bingkai kayu tepat di samping telinga Yasmin. Kemudian, disusul teriakan para pengawal.

"Ada pembunuh! Lindungi Yang Mulia!"

Yasmin menyingkap tirai kereta dan melihat kilatan pedang di sekitar kereta paling belakang. Para pengawal sudah terlibat perkelahian dengan orang-orang berpakaian hitam.

Sosok Galen tampak sangat mencolok di tengah kerumunan. Dia memegang pedang panjang, bilahnya berkilauan seputih salju. Ke mana pun pedangnya mengarah, para pembunuh pun berjatuhan.

Namun, tepat ketika dia hampir membunuh seluruh pembunuh, Yasmin melihat Naura sengaja berlari ke arah salah seorang berpakaian hitam dan membiarkan dirinya disandera dengan sengaja.

Saat pedang melengkung yang berkilauan itu ditempelkan di lehernya, dia bahkan sempat memberikan senyum penuh kemenangan kepada Yasmin.

Galen mendadak menghentikan langkahnya. Ujung pedangnya terkulai, dan dalam sekejap matanya memerah karena amarah. "Lepaskan dia!"

Galen sebenarnya memiliki ilmu bela diri yang tinggi, tetapi lawannya justru menyandera kelemahannya. Jadi, dia tidak berani bertindak gegabah sedikit pun.

Sang pembunuh mencibir. "Melepaskannya? Boleh saja."

Dia tiba-tiba menarik rambut Naura dan memaksanya mendongakkan wajah. "Tapi kamu harus membayar harganya."

Naura berteriak gemetar dengan air mata berlinang, "Kak Galen ... selamatkan aku ...."

Urat-urat di tangan Galen yang menggenggam pedang menonjol, tetapi dia tetap tidak berani bertindak gegabah.

Sang pembunuh menatapnya dan berkata perlahan, "Kudengar, dia adalah orang yang paling dicintai Yang Mulia Putra Mahkota?"

Galen terdiam, tatapannya terpaku pada Naura.

Sang pembunuh tertawa terbahak-bahak. "Baiklah. Aku ingin satu jarimu!"

Yasmin berdiri tidak jauh dari sana, memandangi semua itu dengan ujung jari yang sedikit gemetar.

Galen tidak ragu. Dia perlahan mengangkat tangan kirinya, membuka kelima jarinya, lalu berkata dengan tatapan dingin dan tegas.

"Yang mana?"

Sang pembunuh menyipitkan mata. "Kelingking."

Galen mencibir. Pedang panjang di tangan kanannya tiba-tiba berbalik, kilatan dingin melintas di matanya.

Cras!

Darah menyembur!

Potongan kelingking itu jatuh ke atas salju dan memercikkan warna merah yang menyilaukan.

Sang pembunuh jelas tertegun. Baru saja hendak mengatakan sesuatu, sekelompok pengawal rahasia langsung menerjang dan menangkapnya.

Naura pun berlari tertatih-tatih menghampiri Galen sambil menangis histeris. "Kak Galen! Kenapa kamu sebodoh ini!"

Wajah Galen pucat pasi, tetapi dia masih memaksakan diri berkata lembut kepadanya, "Asalkan kamu ... baik-baik saja."

Setelah mengatakan itu, dia pun pingsan.

Yasmin berdiri di tempatnya, memandangi jejak darah yang berkelok-kelok di atas salju, memandangi Galen yang bahkan dalam keadaan tidak sadarkan diri masih menggenggam erat ujung pakaian Naura, serta memandangi para tabib yang panik menghentikan pendarahannya.

Tiba-tiba, dia tersenyum.

Ternyata, inilah pertunjukan yang ingin diperlihatkan Naura kepadanya.

Sementara Galen, benar-benar tidak mengecewakan siapa pun.

Galen, kamu begitu mencintai Naura.

Kamu benar-benar tergila-gila kepadanya.

Istana Timur diliputi kesibukan selama berhari-hari. Para tabib keluar masuk tanpa henti.

Rania kembali dengan mata sembap. "Nona, jari yang mulia akhirnya berhasil disambungkan kembali."

Dia terisak. "Tapi begitu sadar, hal pertama yang dilakukannya justru mengusap air mata Nona Naura!"

"Hamba sungguh merasa tidak adil untuk Nona! Belum menikah saja sudah begini. Kalau kelak dia benar-benar masuk ke Istana Timur, entah penderitaan seperti apa yang harus Nona alami."

Yasmin tersenyum, lalu mengambil sebuah bungkusan dari dalam lemari dan menyerahkannya kepada Rania.

"Rania, aku tidak akan menikah ke Istana Timur."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 25

    Ketika padang rumput Beida menyambut salju musim semi yang kesepuluh, Yasmin melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan di dalam tenda berlapis emas.Barra menggenggam tangannya yang basah oleh keringat. Mendengar tangisan bayi yang baru lahir, matanya justru lebih merah daripada saat dia terluka di medan perang dulu.Barra memotong tali pusar bayi itu dengan tangannya sendiri, lalu menggendongnya yang dibungkus kulit cerpelai ke hadapan Yasmin. "Lihatlah putri kita. Dia sangat mirip denganmu."Mata Yasmin memancarkan kelembutan. "Kamu ini, baru melihatnya saja sudah pilih kasih kepada anak perempuan.""Siapa suruh putri kita lebih mirip denganmu!"Yasmin tertawa geli, tetapi tawanya membuat lukanya tertarik hingga dia mendesis pelan.Barra segera membungkuk dengan cemas. "Sakit? Tabib!""Barra, aku tidak apa-apa."Yasmin menggenggam tangan Barra, ujung jarinya mengusap kapalan di telapak tangannya. "Bagaimana dengan Nandu ... belakangan ini ada kabar?"Wajah Barra menggel

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 24

    Barra terkekeh pelan, jakunnya bergesekan dengan tulang selangka Yasmin."Tentu saja. Ini mata air spiritual. Katanya, air ini paling ampuh untuk meredakan pegal-pegal di pinggang."Tangannya bergeser ke pinggang belakang Yasmin, lalu memijatnya dengan lembut."Akhir-akhir ini, aku sering melihatmu berguling-guling di tengah malam. Apa kamu terlalu lelah?"Di tengah kabut yang mengepul, daun telinga Yasmin perlahan memerah.Dia menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu Barra dan berkata dengan suara teredam, "Bukankah itu gara-gara seseorang yang bersikeras harus memelukku saat tidur?""Kalau tidak memelukmu, bagaimana aku tahu kamu menendang selimut atau tidak?" Barra memegang wajahnya dan mengusap bibirnya dengan ibu jari. "Waktu itu, kamu sampai masuk angin dan batuk. Aku benar-benar ketakutan."Ketika ciumannya jatuh, kehangatan pemandian air panas masih terasa. Di antara ciuman yang lembut dan penuh kasih, Yasmin mendengar detak jantung Barra yang bergemuruh di dalam dadanya.Tiba-tib

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 23

    "Kalau begitu, biarkan negeri ini berganti penguasa." Suaranya begitu pelan, tetapi setiap katanya sedingin ujung es.Kenangan tiba-tiba membanjiri benaknya.Saat dalam perjalanan menuju tempat pengasingan, Yasmin pernah menggendongnya menyeberangi sungai yang membeku. Sol sepatu kain kasarnya bergesekan dengan lapisan es, menimbulkan bunyi "krek-krek".Punggungnya yang kurus tertekan hingga melengkung seperti busur, tetapi masih terdengar napasnya yang terengah-engah disertai tawa."Asalkan Yang Mulia baik-baik saja."Kaisar terhuyung dan berpegangan pada sandaran takhta. Rasa amis darah membanjiri tenggorokannya, lalu dia memuntahkan seteguk darah ke lantai ubin batu giok hijau."Anak durhaka .... Kamu anak durhaka ...."Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh kaisar sudah terkulai lemas di atas takhta.Para kasim yang berjaga di luar pintu berbondong-bondong masuk. Galen menyaksikan para tabib istana dengan panik mengangkat tandu kekaisaran.Dia perlahan berdiri, ujung jubah h

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 22

    Selama masa pemulihan Barra, Galen berkali-kali meminta untuk bertemu dengan Yasmin, tetapi selalu ditolak.Baru sebulan kemudian, Yasmin bersedia menemuinya.Galen tampak jauh lebih kurus dan lesu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.Ketika melihat Yasmin bergandengan tangan dengan Barra yang telah pulih, secercah keputusasaan melintas di matanya."Bukan aku yang mengirim pembunuh itu," katanya dengan suara serak, "itu orang-orang dari Keluarga Rahardjo. Mereka membencimu. Tapi, ini juga salahku.""Aku tahu," Yasmin berkata dengan tenang, "Barra sudah menyelidikinya hingga tuntas. Naura sudah meninggal, jadi wajar mereka menyimpan dendam."Galen melangkah maju. "Yasmin, ikutlah denganku. Nandu membutuhkanmu, aku ... lebih membutuhkanmu."Barra mengernyitkan kening dan hendak berbicara, tetapi Yasmin mencubit lembut tangannya. "Biar aku yang mengurusnya."Dia berjalan ke hadapan Galen dengan ekspresi setenang air. "Yang Mulia Putra Mahkota, hubungan kita sudah lama berakhir.

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 21

    Yasmin mengeluarkan jarum perak, lalu kembali melakukan akupunktur untuk mengeluarkan racun dari tubuh Barra.Ini adalah metode yang dia kembangkan dengan menggabungkan ilmu pengobatan Nandu dan ilmu sihir Beida. Meski berbahaya, inilah satu-satunya harapan.Saat jarum perak menusuk titik akupunktur, tubuh Barra seketika bergetar hebat dan urat-urat di tubuhnya menegang.Yasmin menggigit bibir bawahnya erat-erat dan terus menusukkan jarum, hingga tubuh Barra perlahan kembali tenang."Racun di dalam tubuh baginda raja sudah terlalu parah," ujar tabib sambil menghela napas, "kalaupun baginda raja sadar, takutnya juga ....""Diam!" bentak Yasmin dengan suara tegas, "dia pasti akan sembuh!"Saat malam makin larut dan suasana menjadi sunyi, Yasmin yang kelelahan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang untuk beristirahat sejenak.Tiba-tiba, dia merasakan jarinya disentuh lembut."Barra?" Dia segera mengangkat kepala dan berhadapan dengan sepasang mata berwarna amber yang begitu dikenalnya.Bar

  • Galen Tak Lagi Menemui Yasmin   Bab 20

    Keesokan paginya, perundingan perdagangan digelar di padang rumput di luar tenda raja.Yasmin mengenakan pakaian kebesaran Ratu Beida. Hiasan kepala emasnya berkilauan diterpa sinar matahari.Dia menggandeng lengan Barra dan berjalan perlahan menuju tenda tempat perundingan.Galen sudah menunggu di sana. Jubah brokat hitam yang dikenakannya membuat tubuhnya tampak makin kurus.Ketika melihat Yasmin dan Barra yang tampak begitu mesra, secercah kepedihan melintas di mata Galen, tetapi dia segera kembali tenang."Raja Beida." Dia mengangguk tipis, tetapi tatapannya justru tertuju kepada Yasmin. "Yasmin ... Ratu."Wajah Yasmin tetap tenang. "Yang Mulia Putra Mahkota telah menempuh perjalanan jauh, pasti sangat lelah."Perundingan berlangsung sangat lancar. Galen hampir selalu menyetujui semua persyaratan yang diajukan Barra.Saat tengah hari, mereka semua berpindah ke tempat jamuan di padang rumput untuk makan."Maukah Ratu berbicara denganku sebentar?" Galen tiba-tiba berbicara, matanya d

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status