Beranda / Romansa / Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku / Bab 9: “Ketika Sunyi Turut Bersuara”

Share

Bab 9: “Ketika Sunyi Turut Bersuara”

Penulis: Liymochiyo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-13 21:31:38

Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Rania duduk di tepi ranjang cukup lama sebelum akhirnya memaksakan diri berdiri. Wajahnya pucat, matanya sembab. Tak ada semangat untuk merias diri seperti biasanya tak ada lipstik lembut, tak ada bedak, bahkan parfum pun tak disentuh. Ia berangkat dengan langkah lesu, pundaknya menunduk seolah beban semalam masih menggantung di sana.

Sesampainya di kantor, beberapa rekan menatap heran. Namun yang paling cepat menyadarinya adalah sahabatnya, Siska.

“Ran… kamu nggak apa-apa? Mukamu pucat banget, loh.”

Rania hanya tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Aku cuma kurang tidur, Sis. Nggak apa-apa, kok.”

Padahal matanya menolak berbohong. Ada sesuatu yang dipendam—sesuatu yang bahkan Siska tak bisa tembus.

Hari itu, semua terasa kacau. Rania melakukan beberapa kesalahan kecil—salah input data, salah cetak dokumen.

“Rania! Fokus sedikit bisa nggak? Ini sudah ketiga kalinya kamu buat kesalahan yang sama!” suara Leodric meninggi, membuat seisi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 24.Sisa Malam yang Terbawa Pagi

    Senin datang tanpa basa-basi.Gedung kantor kembali dipenuhi ritme yang sama, bunyi kartu akses, langkah cepat, suara lift yang naik turun. Namun ada sesuatu yang terasa… salah. Seolah sisa malam di resort belum sepenuhnya tertinggal di sana.Leodric tiba lebih pagi dari biasanya.Wajahnya datar. Rahangnya mengeras. Jasnya rapi, tapi auranya tidak. Ia melangkah melewati lobi tanpa menoleh pada siapa pun, tanpa sapaan singkat yang biasanya masih ia berikan.Dan semua orang merasakannya.Satu per satu karyawan yang berpapasan refleks menunduk. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada yang mendadak mengingat sesuatu lalu berbelok arah.Tidak ada yang menyapa.Tidak ada yang berani.Pintu ruangannya tertutup dengan bunyi yang tidak keras, namun cukup tegas untuk menjadi peringatan.Di dalam, Leodric meletakkan tasnya, membuka laptop, lalu menatap layar tanpa benar-benar membaca. Pikirannya masih berisik. Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur.Bad mood itu belum pergi.Dan ia tid

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 23. Di antara api unggun dan bayangan

    Di Tempat yang Seharusnya Jauh Akhir tahun datang dengan keputusan mendadak dari manajemen. Liburan bersama tim inti. Alasannya sederhana: evaluasi santai, bonding, sekaligus “penyegaran” setelah tekanan panjang. Tidak ada yang bisa menolak tanpa alasan kuat. Termasuk Rania. Termasuk juga Leodric. Resor itu terletak di pinggir kota,tenang, jauh dari gedung kaca dan rutinitas kantor. Udara lebih dingin, langit lebih lapang. Namun jarak yang mereka bawa… tetap ikut. Rania datang bersama beberapa rekan kerja. Ia mengenakan sweater sederhana, rambut terikat rapi. Senyumnya sopan, profesional, sama seperti di kantor. Leodric tiba tak lama kemudian. Tatapannya sempat mencari satu wajah tertentu, lalu berhenti seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka saling melihat. Saling menatap walaupun Sebentar. Lalu berpaling. Suasana siang hari ramai. Beberapa karyawan tertawa, mengambil foto, bercanda,tertawa lepas, seakan melepas semua penat yang terjadi di kantor. Davin ikut di

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 22.Di Antara Profesionalisme

    Pagi datang tanpa kejutan.Kantor kembali berjalan seperti biasa terlalu biasa, bahkan. Rania duduk di mejanya, rapi, fokus, dan tenang. Leodric keluar dari ruangannya dengan langkah terukur, wajah datar, aura atasan yang tak memberi celah untuk ditebak.Tak ada sapaan pribadi.Tak ada tatapan terlalu lama.Namun jarak itu… nyata. Meeting pagi dimulai tepat waktu.Rania mempresentasikan laporan dengan suara stabil. Slide berganti rapi, data tersusun jelas. Leodric mendengarkan sambil sesekali memberi catatan singkat.“Di bagian ini, tolong perjelas asumsi angkanya,” ucap Leodric, profesional.“Baik, Pak. Akan saya revisi,” jawab Rania tanpa ragu.Mereka bekerja seperti dua profesional yang sempurna.Tidak dingin.Tidak hangat.Netral.Namun bagi mata yang jeli, ada sesuatu yang berbeda, tidak ada lagi senyum kecil, tidak ada lagi bahasa tubuh yang lunak. Semua tertata, semua dibatasi.Clara memperhatikan dari sudut ruangan.Ia tersenyum tipis.Setelah meeting usai, Rania membereskan

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 21. Yang Tersembunyi

    Hari itu kantor kembali dipenuhi ritme biasa suara keyboard, telepon yang berbunyi, dan langkah-langkah orang yang lalu lalang. Namun bagi Rania, semuanya terasa lebih… penuh.Pekerjaan menumpuk. Laporan bulanan, revisi legal, meeting dadakan,semuanya datang bersamaan seperti gelombang. Tapi ia fokus. Terlalu fokus.Lebih dari biasanya.Rania menunduk pada layar, jarinya bergerak cepat, menghitung, menulis, mengetik, memeriksa ulang tanpa jeda. Pandangannya tajam, ekspresinya serius. Ia tidak sedang menghindari siapa pun.Ia hanya… mencoba hidup normal lagi.Atau setidaknya berpura-pura.---Di sisi lain ruang kerja…Leodric sedang membaca laporan klien, namun matanya tidak benar-benar mengikuti kalimat di hadapannya. Ia mengetuk meja dengan ujung pena kebiasaan yang hanya muncul ketika pikirannya kacau.Ia mencoba terlihat fokus.Coba tetap jadi atasan yang profesional.Namun setiap kali ia mengalihkan pandangan, matanya selalu… selalu kembali ke arah meja tertentu.Meja yang hari it

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   BAB 20. Jarak yang Sengaja Diciptakan

    Sehari setelah kejadian itu, kantor terasa berbeda.Bukan karena banyak pekerjaan…Bukan karena suasana lebih sunyi…Tapi karena Rania dan Leodric berjalan melewati satu sama lain tanpa sedikit pun kontak.Rania datang lebih pagi dari biasanya. Ia meletakkan tasnya, menyalakan komputer, dan langsung bekerja tanpa mengangkat kepala. Senyum sopan yang biasanya muncul setiap kali ia melihat orang lewat, hari itu hilang.Ia menjaga wajahnya tetap datar.Tidak menunjukkan ekspresi kecewa, marah, apalagi sakit hati.Rania resmi membangun tembok.---“Ran, ini dokumen buat divisi legal,” kata Siska sambil menaruh setumpuk berkas di meja Rania. “Kamu yang revisi ya.” Ucap Siska lagi, sebelum ia menanyakan dengan sikap Rania yang menurutnya aneh.“Siap,” jawab Rania cepat, nada suaranya datar, tanpa ekspresi.Siska mengerutkan dahi. “Kamu nggak apa-apa? Kok kayak… ga bersemangat gitu.”Rania memaksakan senyum, tipis, hambar.“Aku cuma capek.” Jawab Rania dengan datar.Siska menatapnya sejenak,

  • Gara-Gara Bubble Gum, Aku Jatuh Ke Pelukan Bosku   Bab 19. Perang Dingin

    Pagi itu datang terlalu cepat.Rania mengerjapkan mata pelan. Punggungnya terasa hangat… anehnya. Saat ia mengangkat kepala dari lengannya, selimut tipis itu melorot perlahan dari pundaknya.Rania membeku.Selimut?Ia bahkan tidak mengambil selimut semalam.Jantungnya berdetak panik ketika ia melihat layar monitor yang masih menyala. Jam kecil di pojok kanan menunjukkan 05:42.“Ya Tuhan…” bisiknya. “Aku ketiduran?”Ia buru-buru merapikan kertas yang berserakan. Tangannya baru menyentuh stabilo saat sesuatu di samping keyboard membuatnya terdiam.Segelas kopi dingin dalam kaleng... masih meninggalkan embun samar.Rania mengerutkan kening.Itu bukan punyaku…Sebelum pikirannya melayang lebih jauh, terdengar suara pintu dari arah ruang kerja Leodric.Rania langsung menegang.Perlahan seperti adegan yang muncul di kepalanya, yang justru ingin ia hindari, pintu itu pun terbuka. Leodric keluar sambil merapikan kemejanya. Rambutnya sedikit kusut, ekspresi lelah, namun ada sesuatu yang tersis

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status