Share

Bab 4

Author: umi roihan
last update Last Updated: 2022-03-02 16:22:03

"Nad, temenin aku dulu yuk ke toko buku," ajak Salsa.

"Aku mau cepet pulang Sal, udah kangen sama mami."

"Dasar anak mami."

"Iya lah, anak papa sama mami. Emang anak siapa lagi."

"Nad, kok aku ngerasa aneh ya, sama panggilan kamu buat tante Astri."

"Aneh gimana? Biasa aja kayaknya."

"Ya aneh aja gitu. Kamu manggil almarhum om Adnan papa tapi kamu manggil tante Astri mami, kan biasanya tuh mama papa atau mami papi."

"Kok aku nggak nyadar, ya? Namun, dari kecil emang aku panggilnya papa sama mami. Jadi kayak udah biasa aja gitu. Ntar lah aku tanyain sama mami kenapa bisa beda."

"Beneran nih Nad, kamu nggak mau nemenin aku dulu? Buat tugas pak Awan nih. Kalau referensinya cuma dari internet kayaknya masih kurang."

"Besok lagi aja, ya. Aku bener-bener pengen ketemu mami, nggak tahu kenapa."

"Ya udah deh kalo gitu. Mau aku anterin?"

"Nggak usah, aku naik kendaraan umum aja. Aku duluan ya, daah Salsa."

"Dadah Nadia."

Nadia berlari kecil ke luar gerbang dan menuju halte bus yang akan mengantarkannya ke gang menuju rumahnya.

"Teman kamu pulang sendiri?"

"Eh," Salsa terlonjak kaget ketika terdengar suara dari belakangnya.

"Abang ih ngagetin aku," ucap Salsa sambil mengusap dadanya berkali-kali.

"Emang kamu habis ngelamun apa makanya kaget? Latihan sport jantung, lah."

"Ya enggak ngelamun juga sih Bang, cuman 'kan aku lagi lihatin Nadia jadi nggak nyadar ada Abang di sini. Abang udah mau pulang?"

"Baru aja nyampe sini lagi. Masih ada jam ngajar sampai jam empat sore. Kamu mau pulang sekarang?"

"Iya, tapi mau mampir dulu ke toko buku buat nyari referensi. Abang habis dari mana, kok tadi bilang baru nyampe sini?"

"Habis jemput ibu ke konveksi."

"Mama ngapain ke sana? Tumben."

Abangnya hanya mengedikkan bahu acuh.

"Kamu hati-hati pulangnya."

"Iya Bang, nanti pulang ke rumah, kan?"

"Nggak tahu, entah ke rumah atau ke apartemen. Nggak enak juga kalau sering berkunjung sementara aku bukan siapa-siapa di sana."

Salsa menggenggam tangan lelaki dewasa di hadapannya.

"Bang, Abang itu kakak aku, anaknya mama. Jangan ngomong kayak gitu lagi nanti mama sedih. Kita memang nggak punya hubungan darah tapi kita terikat dalam hubungan keluarga."

"Iya, maafin aku. Udah sana, cepetan pulang. Habis dari toko buku jangan kemana-mana lagi, langsung pulang ke rumah."

"Iya Bang, nggak usah protektif banget, lah."

"Aku ngelakuin itu buat ngelindungin kamu."

"Iya, iya Bang, iyaaa, aku nurut. Daah Abang. Aku berangkat dulu."

Lelaki itu hanya tersenyum sekilas pada Salsa. Dia juga tak lupa melambaikan tangan pada gadis manis itu. Bahkan orang lain yang nggak punya hubungan darah denganku pun menyayangiku, kenapa ibu kandungku sendiri malah melupakan dan meninggalkanku.

***

"Assalamualaikum, Mami. Mi ... mami di mana?" teriak Nadia saat tak mendapati Astri menjawab panggilannya.

Bukankah seharusnya mami udah pulang dari konveksi ya tapi kok nggak ada. Batin Nadia bertanya-tanya.

Nadia mengetuk pelan pintu kamar sang ibu tapi tak ada jawaban. Dibukanya pintu yang tak terkunci itu dan tampaklah di matanya sang ibu tergeletak pingsan di dekat ranjang. Nadia langsung berlari kecil mendekati Astri.

"Mi, mami, ya Allah, mami kenapa. Jangan tinggalin aku, Mi. Aku sayang mami."

Dengan sekuat tenaga Nadia memindahkan Astri ke tempat tidur. Setelahnya mondar-mandir sambil menggigit ujung telunjuk tangannya bingung apa yang harus dia lakukan.

Nadia berlari keluar rumah mencari bantuan. Untunglah ada keluarga Anggun yang sedang bersantai di teras depan.

"Assalamualaikum Tante, Om," sapa Nadia.

"Waalaikumsalam Nad, ada apa? Kok kamu kayak gelisah gitu?"

"Emm, itu Tante, Om, maaf kalau mengganggu waktunya, apa aku boleh meminta tolong bawa mami ke dokter?"

"Ya Allah, mbak Astri kenapa Nad?" Anggun langsung bangun dari duduknya.

"Itu ... mami pingsan. Aku juga nggak tahu kenapa Tante, aku baru pulang kuliah."

"Ya udah, kamu jangan panik. Om mau keluarkan dulu mobilnya dari garasi," jawab Burhan, suami Anggun.

Nadia cepat kembali ke rumah. Tak lupa memasukkan perlengkapan dan juga dompetnya ke dalam tas. Burhan datang dengan kedua tetangga yang lain untuk membantu memindahkan Astri ke dalam mobilnya.

Tiga puluh menit perjalanan sampailah mereka di sebuah klinik. Sigap petugas kesehatan di sana membantu Burhan membawa Astri ke atas brankar. Nadia tampak cemas menunggu dokter keluar dari ruang pemeriksaan.

Cklek. Nadia langsung berdiri menghampiri dokter bername tag Rianti diiringi Anggun dan juga Burhan.

"Keluarga ibu Astri?"

"Saya anaknya, Dok."

"Bu Astri hanya mengalami tekanan darah rendah yang dipicu kurang tidur dan juga stres. Untuk sementara, hanya itu yang bisa kami sampaikan. Nanti kalau infusnya sudah habis, tolong segera hubungi kami."

"Baik, Dok."

"Kalau begitu, saya permisi dulu."

"Terima kasih, Dok."

"Om, Tante, terima kasih sudah nganter aku kesini," ucap Nadia begitu dokter Rianti berlalu.

"Nggak usah berterima kasih gitu Nad, kamu udah om sama tante anggap anak sendiri. Nggak usah sungkan kalau minta bantuan. Ya kan, Ma?"

"Iya, Sayang, mbak Astri itu udah kayak saudara tante sendiri. Tapi, kamu nggak papa kalau kami tinggal? Tante belum nyiapin makan malam."

"Iya Tante, nggak papa, sekali lagi terima kasih udah nolongin mami."

"Sama-sama, Sayang."

Nadia termenung di kursi samping ranjang tempat Astri dirawat.

"Apa sih yang bikin mami stres? Apa karena mikirin biaya kuliah aku, ya? Semua ini gara-gara om Alvin. Dia udah ngambil semua harta peninggalan papa. Kalo aja dia nggak serakah ngambil semuanya, mami pasti nggak perlu capek kerja buat aku."

Nadia meraih tangan Astri dan menciumnya. "Maafin aku, Mi, aku udah jadi beban buat Mami. Aku akan cari kerja Mi, aku nggak mau cuma ngandelin Mami. Mami nggak boleh kecapekan lagi."

"Enghh," terdengar lenguhan pelan Astri yang membuat Nadia tersadar dari lamunannya.

"Mi, ini aku Mi, Nadia. Mami nggak papa, kan?"

Pelan Astri mengerjapkan mata menahan silau dari lampu di atasnya. Nadia segera memencet tombol untuk memanggil suster jaga.

Seorang suster menghampiri serta memeriksa Astri kembali.

"Gimana keadaan mami saya, Sus?"

"Bu Astri sudah tidak apa-apa. Tinggal pemulihan saja. Obatnya jangan lupa diminum, ya."

"Terima kasih, Sus."

Suster itu mengangguk pelan dan kembali ke tempat kerjanya.

"Nad, mami dimana?"

"Mami ada di klinik. Mami makan dulu ya biar aku suapin."

"Lidah mami pahit, Sayang."

"Harus dipaksain, Mi. Mami harus cepet sembuh. Emang Mami betah lama-lama nginep sini?"

"Mami mau pulang aja, ya."

"Mami di sini dulu aja. Aku nggak mau Mami kenapa-napa. Urusan konveksi serahin aja sama asisten Mami."

Astri tersenyum sambil mengusap lembut rambut hitam putrinya. Mami sayang banget sama kamu, Nad. Mami nggak mau sampai kita pisah. Mami nggak sanggup kehilangan anak lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gara-Gara Utang   Bab 50

    Awan memutuskan tatapan mereka karena tak ingin perasaannya pada Nadia semakin dalam. Nadia menundukkan kepalanya merasa salah tingkah. Bisa-bisanya dia terpesona pada Awan. "Ayo!" Nadia mengangguk dan mengikuti langkah Awan kelhar dari apartemen. Hilanglah sudah segala kekesalan yang dirasakannya tadi. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Namun kali ini, Nadia menjaga langkahnya agar tak sampai tersandung kakinya sendiri. Bisa malu dia nanti kalau Awan tahu pesonanya menggelitik hati Nadia. Awan berjalan lurus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Nadia. Tak bisa dipungkiri jika hatinya berdebar tak karuan. Semakin lama, Awan semakin menyadari akan perasaannya terhadap Nadia. Perasaan yang seharusnya tak boleh tumbuh. Sepanjang perjalanan ke rumah Astri, tak ada percakapan di antara Awan dan Nadia. Hanya ada suara musik dari radio yang disetel Awan agar perjalanan mereka tak terlalu hening. Sayangnya, musik yang diputar di radio kebanyakan tentang indahnya jatuh cinta. Astri m

  • Gara-Gara Utang   Bab 49

    "Duduk dulu, Nad."Nadia menggeleng pelan."Barang-barang Mas, mana yang mau dikemas?""Emang kamu nggak capek habis kuliah?""Sejam doang, mana mungkin capek. Udah ah, sini bajunya keluarin biar aku masukin koper. Eh iya, sama kopernya dong, Mas."Awan mengangguk dan mengambil koper yang tersimpan di atas lemari. Kemudian, lelaki itu membuka pintu lemari dan mengambil beberapa pakaiannya.Awan meletakkan pakaian miliknya di atas kasur yang kemudian dirapikan oleh Nadia ke dalam koper."Aku tinggal mandi dulu nggak papa, Nad?"Nadia yang sedang asyik dengan kegiatannya mendongak ke arah Awan. Gadis itu mengangguk dan membiarkan Awan berlalu menuju ke kamar mandi di pojok ruangan."Kira-kira, mas Awan pernah ngajak cewek main ke sini nggak ya? Duh, malah jadi overthinking gini. Sadar Nad, kamu harus sadar. Bagi mas Awan, kamu itu bukan siapa-siapa. Hanya seorang istri yang dinikahinya secara terpaksa. Kamu nggak boleh berharap lebih."Nadia mengetuk-ngetuk dahinya, berusaha menyadarkan

  • Gara-Gara Utang   Bab 48

    Nadia mengangguk dan berlari kecil menuju mobil Awan. Kepalanya menoleh ke kanan kiri mengamati jika ada orang yang ia kenali. Nadia mengusap dada merasa lega kemudian masuk mobil Awan dan menutup pintunya. Sementara Salsa yang masih memperhatikan sahabatnya, terkikik geli melihat tingkah Nadia. Kayak orang lagi pacaran backstreet aja takut ketahuan padahal mereka udah sah menikah.Setelah Nadia memasang sabuk pengamannya, Awan melajukan mobilnya kembali. Lelaki itu membunyikan klakson tanda pamit pada Salsa yang kemudian melambaikan tangan pada mereka.Suasana canggung terjadi di dalam mobil hitam yang sedang melaju di antara kemacetan lalu lintas itu."Kamu mau makan siang dulu, Nad?""Bentar Mas, aku telepon mami dulu. Takutnya mami nungguin aku buat makan siang."Awan mengangguk dan kembali fokus pada kemudi."Halo, Mi.""Assalamualaikum, Sayang.""Hehe, waalaikumsalam Mi, maaf lupa.""Bukan lupa, kamu emang kebiasaan kayak gitu.""Iya Mi, maaf. Mami udah makan belum?""Udah barus

  • Gara-Gara Utang   Bab 47

    Awan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah selesai melakukan panggilan. Diliriknya pergelangan tangan kirinya yang dihiasi jam tangan berwarna hitam."Sudah hampir jam satu. Nadia sudah selesai belum ya, kuliahnya?" tanya Awan pada dirinya sendiri.Awan beranjak dari duduknya dan menunggu Nadia di parkiran. Awan duduk di kursi samping kemudi dengan pintu mobil yang terbuka. Tak lama, tampaklah Nadia dan Salsa yang berjalan beriringan menuju gerbang kampus. Awan membuka ponselnya dan melakukan panggilan pada gadis itu. Nadia berhenti berjalan karena merasakan getaran pada ponselnya di dalam tas."Sal, bentar dulu, ada yang telpon.""Eciee, siapa tuh?"Nadia mengedikkan bahu. "Mami mungkin," sahut Nadia cuek sambil mengambil ponselnya. Saat melihat nama pemanggil sontak Nadia melotot dan melihat sekeliling."Kenapa, Nad?" tanya Salsa kemudian."Mas Awan," ucap Nadia tanpa suara karena banyak orang di sekitar mereka."Angkat aja."Dengan ragu, Nadia menggeser layar ponselnya

  • Gara-Gara Utang   Bab 46

    Awan memasuki ruangan dosen yang sedang sepi karena beberapa di antara mereka sedang mengajar. Hanya ada dua orang dosen yang mejanya terletak jauh dari Awan. Lelaki itu menganggukkan kepalanya sekilas sambil tersenyum menyapa kedua rekannya. Hari ini sebenarnya Awan tak ada jam mengajar, tapi daripada dia harus menunggu Nadia di taman yang banyak mahasiswa berlalu lalang, lebih baik dia menunggu di ruangan dosen.Awan merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Diusapnya layar ponsel dan mencari nama seseorang di sana. Awan menempelnya benda persegi panjang itu ke telinga kanannya begitu terdengar nada dering dari telepon seberang. Sampai dering ketiga belum juga diangkat tapi Awan tetap sabar menunggu."Assalamualaikum.""Waalaikumussalam, maaf Tante, apa aku ganggu?""Nggak kok, kamu nggak ganggu. Ada apa? Mau bicara sama ayah kamu?""Emm, sama tante aja lah. Nanti tolong tante yang sampein sama ayah.""Nak, sampai kapan kamu bersikap seperti ini sama ayah kamu? Tante tahu, kamu

  • Gara-Gara Utang   Bab 45

    "Mas, sampai halte aja, ya," pinta Nadia saat mobil yang dikendarai Awan hampir sampai ke area kampus. Awan mengernyitkan dahi sambil menoleh sekilas. Kemudian Awan menepikan mobilnya sejenak."Kenapa kamu mau turun di sini?" tanya Awan sambil memiringkan badannya menghadap Nadia."Aku nggak mau jadi bahan gosip di kampus, Mas. Mas Awan kan udah janji mau nyembunyiin hubungan kita. Aku belum siap jadi sorotan, Mas. Selama ini hidup aku tenang-tenang aja jadi aku nggak mau sampai tiba-tiba bikin banyak orang penasaran. Kalau aku turun dari mobil Mas Awan dan ada yang mergokin apalagi kalau orang itu fans beratnya Mas Awan, bisa-bisa hidup aku nggak tenang. Aku mau orang mengenalku sebagai Nadia yang biasa, bukan karena Nadia yang dekat sama dosennya."Awan mengangkat tangan hendak mengusap surai hitam Nadia tetapi tangannya hanya menggantung di udara. Awan merasa ragu bahkan takut kalau Nadia malah marah dengan perlakuannya."Maaf ya Nad, aku malah buat kamu jadi serba salah.""Bukan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status