Share

Bab 5

Author: umi roihan
last update Last Updated: 2022-03-02 16:27:37

Sesosok tegap dengan bahu kekar itu berdiri membelakangi Astri. Suasana yang tenang dan damai dirasakannya walau tak mengerti ada dimana dia sekarang. Seingatnya tadi dia sedang ada di ruang rawat klinik. Bagaimana tiba-tiba dia ada di sini dan siapa pemuda di depannya itu. Sedang Astri bertanya-tanya dalam hati, pemuda itu berkata sesuatu yang membuatnya tersentak.

"Aku benci sama Ibu. Ibu tega mengabaikan aku selama bertahun-tahun. Ibu tega meninggalkan aku sendiri. Ibu nggak sayang sama aku."

Deg. Siapa sebenarnya lelaki muda itu? Kenapa dia memanggilku ibu dan berkata kalau dia membenciku? Apa jangan-jangan dia ...

Lelaki itu berbalik tapi tak bisa Astri lihat bagaimana rupanya karena posisinya membelakangi matahari.

"Siapa kamu, Nak? Apa aku mengenalmu?" tanya Astri berusaha meraih pemuda itu namun seolah tak ingin disentuh, pemuda itu memiringkan sisi kiri tubuhnya yang hampir tersentuh Astri.

"Tanyakan pada hati Ibu sendiri, masihkah Ibu mengenalku? Ataukah posisiku di hatimu sudah tergantikan? Oh, mungkin saja aku sudah tak berarti lagi buat Ibu makanya Ibu tak lagi mengenalku."

Apakah benar apa yang kuduga kalau dia anakku, batin Astri.

"Ap-apa kamu Dafa? Dafa-ku?"

Pemuda itu tampak menaikkan sebelah bibirnya seolah mengejek. Sebuah tawa kecil keluar dari mulutnya.

"Rupanya masih ada sedikit ingatan tentangku. Tapi, semua itu takkan bisa mengubah apapun. Aku akan tetap membencimu. Ibu tega meninggalkanku bertahun-tahun tanpa kabar. Ibu membuang darah daging Ibu sendiri. Tak ada lagikah artinya aku buat Ibu? Kenapa aku harus dilahirkan jika aku akhirnya Ibu tinggalkan? Ibu tak pernah menyayangiku."

"Tidak Nak, itu tidak benar. Ibu terpaksa pergi dari kehidupanmu dan ayahmu. Bagaimana mungkin ibu melupakanmu? Ibu selalu mengingatmu. Tapi, ibu tak bisa menemuimu. Betapa ingin ibu membawamu pergi Nak, tapi waktu itu ibu tak bisa berbuat apa-apa."

"Aku tak percaya. Ibu pergi meninggalkanku demi uang, kan? Ibu tak tahan hidup miskin bersamaku dan ayah."

"Sama sekali tidak Dafa, justru ibu pergi agar kalian bisa hidup lebih baik daripada bersama ibu."

"Arrrgh, kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini? Kenapa aku tak bisa benar-benar membencimu, Bu. Aku sudah berusaha keras agar melupakan Ibu, tapi sama sekali tak bisa. Bahkan, sudah lama waktu berlalu."

Sosok yang mengaku bernama Dafa itu berbalik kembali menjauh dari Astri.

"Dafa, tunggu Nak, maafkan ibu. Ibu tak bermaksud meninggalkanmu begitu saja. Ibu merindukanmu, Sayang. Jangan tinggalkan ibu."

Dafa semakin menjauh dari jangkauan Astri. Tak ia pedulikan tangisan wanita yang diakuinya sebagai ibu itu.

"Huhuhuhu. Kenapa kamu pergi, Daf? Ibu tak bermaksud mengabaikanmu. Ibu menyayangimu. Ibu tak sanggup jika kamu membenci ibu. Biarlah seluruh dunia membenciku asalkan bukan kamu, Nak."

Langkah Dafa tak berhenti walaupun Astri berteriak-teriak memanggil namanya. Padang rumput yang luas di tepi danau itu menjadi saksi bagaimana perasaan Astri yang bagai tersayat sembilu. Sekian lamanya Astri ingin bertemu dengan Dafa, kenapa sekarang anak itu malah menjauh. Bayangan tubuh Dafa semakin menjauh hingga akhirnya tertelan rimbunan pohon.

Astri masih mengejar dengan sisa tenaganya hingga tersungkur. Tangisan tak jua berhenti dari bibirnya.

Seorang lelaki paruh baya menatapnya sendu dan membantunya berdiri.

"As," panggilnya.

"Mas," Astri mendongak melihat wajah lelaki itu.

"Dia pergi Mas, Dafa membenciku. Dia tak mau lagi bersamaku. Anakku membenciku, Mas. Dia tak mau mendengar semua alasanku meninggalkannya dulu. Huhuhu."

"Sabarlah As, suatu saat nanti kalian akan bersama lagi. Kamu harus yakin sama kata-kata aku. Satu yang aku minta tolong tetap sayangi dan jaga Nadia walaupun kamu bersatu kembali dengan keluarga kamu nanti."

Astri mengangguk dalam tangisnya.

"Dafaaa, kembalilah Nak, maafkan ibu ..."

"Mi, Mami, bangun. Mi ... mi, Mami kenapa?"

Nadia mengguncang tangan Astri agak kencang untuk membangunkan sang ibu. Nadia terbangun tengah malam saat Astri berteriak sambil menangis. Nadia memanggil-manggil Astri namun sang mami tak bangun juga. Tangan Astri terulur seolah hendak menggapai sesuatu.

"Mi, Mami mimpi buruk, ya?" tanya Nadia begitu Astri membuka matanya.

"Haa...us, minum."

Tangan gadis itu sigap mengambil air putih di nakas ketika Astri mengatakan ingin minum. Nadia bahkan membantu Astri untuk memegangi gelas tersebut.

"Udah cukup, Sayang. Terima kasih."

Nadia meletakkan kembali gelas air putih yang isinya tinggal setengah.

"Sama-sama, Mi."

"Kamu pasti kebangun, ya. Maafin mami ya, udah ganggu istirahat kamu."

"Iya, Mami abisnya teriak-teriak. Aku kan jadi takut, Mi. Emang Mami mimpi apa sih, sampe teriak-teriak gitu? Kayak manggil seseorang."

"Mami juga lupa Nad, emang mami teriak apa?" bohong Astri. Wanita itu belum mau menceritakan apa yang selama ini dia rahasiakan.

Gadis cantik itu meletakkan telunjuknya di dagu mengingat-ingat apa yang diucapkan Astri barusan. Bola matanya memutar ke atas dengan begitu cantiknya.

"Hehe, aku lupa, Mi. Abisnya aku panik banget. Nggak biasanya Mami mimpi buruk selama ini."

Astri tersenyum menenangkan. Tangannya menggenggam erat tangan sang putri.

"Udah, nggak usah dipikirin. Mami juga udah tenang sekarang. Apalagi ditemenin putri cantiknya mami."

"Emmm Mi, Mami jangan kecapekan lagi, ya. Aku nggak mau Mami sakit lagi. Kalau soal biaya kuliah, nanti aku nyari kerjaan deh biar bisa bantuin Mami. Biar Mami istirahat."

"Sayang, kamu konsentrasi kuliah aja. Jangan pikirin soal itu. Mami nggak mau kuliah kamu keteteran. Mami masih sanggup kok biayain kamu kuliah. Mungkin karena mami jarang gerak aja makanya mami sampe ngedrop. Sekarang 'kan semua sudah ada yang handle, jadi mami lumayan santai kerjanya."

Nadia sontak memeluk Astri. "Aku sayang banget sama Mami. Aku nggak mau jauh-jauh dari Mami. Aku takut kehilangan Mami. Mi, Mami janji jangan kayak gini lagi, ya."

"Iya, Sayang, mami tahu. Mami juga sayang banget sama kamu. Sekarang, istirahat lagi ya, masih jam dua pagi. Mami takut kamu telat ke kampus."

"Miii, libur sehari aja ya, Mi. Aku mau pastiin mami boleh pulang apa nggak hari ini."

"Ya udah, nanti kalo kata dokter mami boleh pulang pagi-pagi, kamu boleh bolos. Tapi, kalo pulangnya sore, kamu harus tetep kuliah. Nanti sepulang dari kampus kamu boleh jemput mami. Oke?"

Nadia mengangguk semangat dan kembali menuju sofa untuk melanjutkan tidurnya. Sementara Astri masih melamun memikirkan mimpi yang tadi menghampirinya.

Bagaimana bisa setelah sekian lama papa Nadia mendatanginya dalam mimpi. Bahkan bersamaan dengan datangnya Dafa dalam mimpinya. Apa arti dari semua ini? Apakah Dafa saat ini ada di dekatnya? Seandainya saja aku bisa menemuinya, aku akan minta maaf atas semua yang telah kulakukan dulu. Sayang sekali, aku tak bisa mendekatinya karena terhalang oleh janjiku sendiri pada ibu Halimah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gara-Gara Utang   Bab 50

    Awan memutuskan tatapan mereka karena tak ingin perasaannya pada Nadia semakin dalam. Nadia menundukkan kepalanya merasa salah tingkah. Bisa-bisanya dia terpesona pada Awan. "Ayo!" Nadia mengangguk dan mengikuti langkah Awan kelhar dari apartemen. Hilanglah sudah segala kekesalan yang dirasakannya tadi. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Namun kali ini, Nadia menjaga langkahnya agar tak sampai tersandung kakinya sendiri. Bisa malu dia nanti kalau Awan tahu pesonanya menggelitik hati Nadia. Awan berjalan lurus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Nadia. Tak bisa dipungkiri jika hatinya berdebar tak karuan. Semakin lama, Awan semakin menyadari akan perasaannya terhadap Nadia. Perasaan yang seharusnya tak boleh tumbuh. Sepanjang perjalanan ke rumah Astri, tak ada percakapan di antara Awan dan Nadia. Hanya ada suara musik dari radio yang disetel Awan agar perjalanan mereka tak terlalu hening. Sayangnya, musik yang diputar di radio kebanyakan tentang indahnya jatuh cinta. Astri m

  • Gara-Gara Utang   Bab 49

    "Duduk dulu, Nad."Nadia menggeleng pelan."Barang-barang Mas, mana yang mau dikemas?""Emang kamu nggak capek habis kuliah?""Sejam doang, mana mungkin capek. Udah ah, sini bajunya keluarin biar aku masukin koper. Eh iya, sama kopernya dong, Mas."Awan mengangguk dan mengambil koper yang tersimpan di atas lemari. Kemudian, lelaki itu membuka pintu lemari dan mengambil beberapa pakaiannya.Awan meletakkan pakaian miliknya di atas kasur yang kemudian dirapikan oleh Nadia ke dalam koper."Aku tinggal mandi dulu nggak papa, Nad?"Nadia yang sedang asyik dengan kegiatannya mendongak ke arah Awan. Gadis itu mengangguk dan membiarkan Awan berlalu menuju ke kamar mandi di pojok ruangan."Kira-kira, mas Awan pernah ngajak cewek main ke sini nggak ya? Duh, malah jadi overthinking gini. Sadar Nad, kamu harus sadar. Bagi mas Awan, kamu itu bukan siapa-siapa. Hanya seorang istri yang dinikahinya secara terpaksa. Kamu nggak boleh berharap lebih."Nadia mengetuk-ngetuk dahinya, berusaha menyadarkan

  • Gara-Gara Utang   Bab 48

    Nadia mengangguk dan berlari kecil menuju mobil Awan. Kepalanya menoleh ke kanan kiri mengamati jika ada orang yang ia kenali. Nadia mengusap dada merasa lega kemudian masuk mobil Awan dan menutup pintunya. Sementara Salsa yang masih memperhatikan sahabatnya, terkikik geli melihat tingkah Nadia. Kayak orang lagi pacaran backstreet aja takut ketahuan padahal mereka udah sah menikah.Setelah Nadia memasang sabuk pengamannya, Awan melajukan mobilnya kembali. Lelaki itu membunyikan klakson tanda pamit pada Salsa yang kemudian melambaikan tangan pada mereka.Suasana canggung terjadi di dalam mobil hitam yang sedang melaju di antara kemacetan lalu lintas itu."Kamu mau makan siang dulu, Nad?""Bentar Mas, aku telepon mami dulu. Takutnya mami nungguin aku buat makan siang."Awan mengangguk dan kembali fokus pada kemudi."Halo, Mi.""Assalamualaikum, Sayang.""Hehe, waalaikumsalam Mi, maaf lupa.""Bukan lupa, kamu emang kebiasaan kayak gitu.""Iya Mi, maaf. Mami udah makan belum?""Udah barus

  • Gara-Gara Utang   Bab 47

    Awan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah selesai melakukan panggilan. Diliriknya pergelangan tangan kirinya yang dihiasi jam tangan berwarna hitam."Sudah hampir jam satu. Nadia sudah selesai belum ya, kuliahnya?" tanya Awan pada dirinya sendiri.Awan beranjak dari duduknya dan menunggu Nadia di parkiran. Awan duduk di kursi samping kemudi dengan pintu mobil yang terbuka. Tak lama, tampaklah Nadia dan Salsa yang berjalan beriringan menuju gerbang kampus. Awan membuka ponselnya dan melakukan panggilan pada gadis itu. Nadia berhenti berjalan karena merasakan getaran pada ponselnya di dalam tas."Sal, bentar dulu, ada yang telpon.""Eciee, siapa tuh?"Nadia mengedikkan bahu. "Mami mungkin," sahut Nadia cuek sambil mengambil ponselnya. Saat melihat nama pemanggil sontak Nadia melotot dan melihat sekeliling."Kenapa, Nad?" tanya Salsa kemudian."Mas Awan," ucap Nadia tanpa suara karena banyak orang di sekitar mereka."Angkat aja."Dengan ragu, Nadia menggeser layar ponselnya

  • Gara-Gara Utang   Bab 46

    Awan memasuki ruangan dosen yang sedang sepi karena beberapa di antara mereka sedang mengajar. Hanya ada dua orang dosen yang mejanya terletak jauh dari Awan. Lelaki itu menganggukkan kepalanya sekilas sambil tersenyum menyapa kedua rekannya. Hari ini sebenarnya Awan tak ada jam mengajar, tapi daripada dia harus menunggu Nadia di taman yang banyak mahasiswa berlalu lalang, lebih baik dia menunggu di ruangan dosen.Awan merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Diusapnya layar ponsel dan mencari nama seseorang di sana. Awan menempelnya benda persegi panjang itu ke telinga kanannya begitu terdengar nada dering dari telepon seberang. Sampai dering ketiga belum juga diangkat tapi Awan tetap sabar menunggu."Assalamualaikum.""Waalaikumussalam, maaf Tante, apa aku ganggu?""Nggak kok, kamu nggak ganggu. Ada apa? Mau bicara sama ayah kamu?""Emm, sama tante aja lah. Nanti tolong tante yang sampein sama ayah.""Nak, sampai kapan kamu bersikap seperti ini sama ayah kamu? Tante tahu, kamu

  • Gara-Gara Utang   Bab 45

    "Mas, sampai halte aja, ya," pinta Nadia saat mobil yang dikendarai Awan hampir sampai ke area kampus. Awan mengernyitkan dahi sambil menoleh sekilas. Kemudian Awan menepikan mobilnya sejenak."Kenapa kamu mau turun di sini?" tanya Awan sambil memiringkan badannya menghadap Nadia."Aku nggak mau jadi bahan gosip di kampus, Mas. Mas Awan kan udah janji mau nyembunyiin hubungan kita. Aku belum siap jadi sorotan, Mas. Selama ini hidup aku tenang-tenang aja jadi aku nggak mau sampai tiba-tiba bikin banyak orang penasaran. Kalau aku turun dari mobil Mas Awan dan ada yang mergokin apalagi kalau orang itu fans beratnya Mas Awan, bisa-bisa hidup aku nggak tenang. Aku mau orang mengenalku sebagai Nadia yang biasa, bukan karena Nadia yang dekat sama dosennya."Awan mengangkat tangan hendak mengusap surai hitam Nadia tetapi tangannya hanya menggantung di udara. Awan merasa ragu bahkan takut kalau Nadia malah marah dengan perlakuannya."Maaf ya Nad, aku malah buat kamu jadi serba salah.""Bukan s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status