LOGINTombak biru dengan ujung tombak menyala merah itu bergetar hebat setelah melihat Bara Sena yang mendekat kearahnya. "Kau menciptakan kehancuran seperti ini, siapa sebenarnya dirimu manusia?" tanya roh senjata yang ada di dalam tombak tersebut."Aku Bara Sena. Orang yang akan mengambil dirimu sebagai senjata milikku. Apakah sekarang kau sudah menyerah?" sahut Bara Sena. Tombak itu bergetar hebat mengeluarkan aura warna merah."Pertarungan tadi masih belum selesai. Apa kau berpikir aku sudah kalah? Serangan mu memang kuat, tapi tetap tidak mampu menembus pertahanan Dewa Bintang Merah milikku." kata sosok roh bernama Astra.Bara terdiam."Benar juga...Dia baik-baik saja setelah ledakan Pukulan Sakti milikku...meski gunung harta ini lenyap..." batinnya."Pertarungan yang sesungguhnya akan dimulai...Jika kau berhasil mengalahkan diriku, maka...Aku akan menjadikan dirimu sebagai Tuanku yang baru," ucap Astra lalu dari dalam tombak tersebut muncul bayangan samar yang kemudian memadat dan me
Bara Sena melesat kearah tombak yang masih terikat oleh rantai cahaya miliknya. Tangannya langsung memcengkram tombak tersebut tanpa ragu-ragu. Torun yang menyaksikan hal itu pun hanya bisa berdecak kagum dengan keberanian Bara.Begitu pemuda itu menyentuh tombak tersebut, saat itu juga kekuatan yang luar biasa dahsyat menghempaskan tubuhnya. Bara bertahan sekuat tenaga agar tubuhnya tidak terpental oleh gelombang yang sangat kuat tersebut. "Ugh! Kuat sekali!" serunya dalam hati."BERANI KAU MENYENTUH SENJATA INI!?" terdengar suara yang sangat dalam dari arah Tombak Pashupata Astra tersebut.Bara menyeringai lalu mengerahkan kekuatan cahaya yang dia miliki. Sinar kuning keemasan menyeruak dari tubuhnya menekan aura merah. Namun ternyata tombak itu tidak diam saja. Saat itu juga aura merah yang menyelimuti senjata tersebut merebak dengan kuat sehingga dua kekuatan itu saling bertabrakan.Drrrttt! Blar!"KAU HEBAT JUGA BISA BERTAHAN SETELAH MENYENTUH SENJATA INI. KALAU BEGITU, BIAR KAU
Bara menatap sosok Kera raksasa yang kini mengubah ukuran tubuhnya menjadi sebesar manusia biasa. Setelah Torun menyerah, Dewa Cahaya itu sedikit mempertanyakan alasan Makhluk tersebut menyerah begitu saja di saat-saat terakhir dia menyerang. Torun pun menceritakan tentang Pedang Dewa Matahari yang Bara Sena miliki. Dan semua perkataannya tidak ada yang meleset sama sekali. Semuanya benar bagi Bara Sena."Jadi kau adalah penjaga yang ikut dibawa oleh Resi Karmapala ke tempat ini?" tanya Bara setelah Torun menjelaskan semuanya. Kera tersebut mengangguk."Harta yang aku jaga di tempat ini adalah Mata Langit." kata Torun sambil menancapkan tangannya ke dada. Jleb!Darah muncrat dari luka yang Torun ciptakan di dadanya sendiri. Bara terkejut dan sempat ingin melarang. Namun Kera iu sudah terlanjur melakukanya."Apa yang kau lakukan!?" seru pemuda itu yang mengira Torun akan bunuh diri karena tidak mampu menjaga harta yang ada di tempat itu.Kera berbulu lebat itu menyeringai lalu menarik
Ledakan yang sangat besar tercipta setelah Torun menghantam tameng Angkara dengan kedua tinjunya. Bara Sena masih bertahan di balik tameng tersebut meski dia bisa merasakan kehebatan Torun, sang penjaga."Hanya dengan serangan fisik sudah menciptakan kehebohan seperti ini...Dia memang hebat..." batin Bara.Kedua tangan Torun yang besar mencengkram tameng yang menjadi perisai andalan Bara Sena. Dia berniat merebut harta tersebut dan membuangnya. Tapi sayangnya tameng itu bukanlah tameng sembarangan. Begitu dia berniat untuk meraih tameng Angkara, tiba-tiba saja aura merah keluar dari dalam tameng lalu kemudian melilit kedua tangannya dengan sangat kuat membuat Torun terkejut setengah mati.Bara tersenyum melihat hal itu."Indira tidak terima tameng ini disentuh oleh orang lain...Hahaha!" batinnya."Aaaarrrrrggghhh!"Kera raksasa itu meraung setinggi langit saat kedua tangannya dililit aura yang membentuk sulur (tanaman merambat).Bara mengangkat tameng besar itu kemudian melepaskan ten
KRAAAAAKKK!!!BLAAARRRRRR!!!!Ledakan yang sangat besar mengguncang gunung berukuran sangat besar tersebut. Perlahan gunung raksasa itu terbelah menjadi dua oleh Pedang Es yang berukuran tak kalah besar.Perisai merah dan Kiraya yang ada di dalamnya tentu saja tidak selamat setelah menerima serangan mengerikan seperti itu. Seketika itu juga, lahar di dalam gunung itu berubah menjadi es yang membeku.Xue Ruo dan yang lainnya bergerak menjauh saat pedang mulai amblas membelah tempat itu hingga hancur berkeping-keping.Guo Jiu dan Manguntur sempat membawa tubuh Athena sebelum pedang itu menciptakan ledakan yang luar biasa. Jika mereka terlambat sedikit saja, Dewi Perang itu akan ikut hancur oleh serangan tersebut. Dan mereka bisa kena hukuman dari Bara Sena karena tidak mampu menjaga salah satu kekasihnya yang berharga.Setelah keadaan menjadi tenang kembali, mereka semua menatap kearah pedang raksasa yang kini menancap di atas lahar beku. Xue Ruo menyipitkan mata saat melihat seorang wa
Pria bertubuh besar dengan ikat kepala merah itu menerjang dengan sangat cepat. Athena yang berada di barisan paling depan terkejut saat melihat sosok tersebut sudah ada tepat di hadapannya. Dengan cepat dia menggunakan tameng miliknya untuk menahan serangan tinju dari pria itu.Wut!Tinju melayang dengan sangat cepat.DANG!Tameng emas Athena menahan serangan pria itu. Meski Athena sudah mengerahkan semua kekuatan yang dia miliki, ternyata itu tak cukup mampu bertahan dari hantaman tinju sosok pria besar tersebut. Tubuhnya terpental sejauh ratusan tombak dan berhenti setelah menghantam salah satu bangunan istana merah hingga membuatnya hancur luluh lantak.Melihat Athena dipukul sekeras itu, Guo Jiu dan Manguntur pun berteriak keras menyerang sosok itu secara bersama-sama. Manguntur dengan tombak hijau nya menyerang secepat kilat. Sementara Guo Jiu dengan kekuatan darah miliknya berguna untuk menahan pergerakan sosok pria besar tersebut.Dewi Yu Jie yang mengetahui hal itu segera iku







