MasukSuara lembut Airin membuyarkan Raditya, perlahan lelaki itu memutar badan. "Nona Airin, tidak di sangka ternyata anda datang ke sini juga."Airin menelan saliva, tubuhnya gemetar sampai kedua tangannya meremas ujung dress, lalu berusaha mengangkat wajah menatap Radit. "Iya, bisakah anda menepati janji akan mengembalikan jam itu?" Pinta Airin tanpa ragu, menatap penuh harap. Raditya menyeringai, dia berjalan mendekati Airin yang berdiri di depannya. Baru kali ini dia melihat seorang wanita begitu effort memohon demi jam tangan untuk suaminya. "Bagaimana kondisi kesehatan mu nona Airin? Kalau benar jam ini milik mu aku bisa kembalikan, tapi tentu saja ada saru syarat." Bisiknya menatap penuh arti, sembari mendengus harum tubuh Airin yang tak pernah berubah dari dulu. Kening Airin berkerut rapat, tubuhnya reflek menjaga jarak. Ia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Raditya saat ini. "Maksud anda apa Dokter? Itu jam tangan saya hak saya kenapa harus ada syarat, dan tolong jangan
Keesokan harinya, di sebuah rumah sakit Dokter Raditya terlihat mulai santai setelah jam istirahat jam praktiknya tiba. Suster Rini yang selalu sigap membantunya tak pernah absen, untuk membantu mengingatkan jam makan siang atasannya itu. "Dokter, maaf jika saya lancang. Sudah jam makan apa perlu saya pesankan makanan untuk anda?" Cetus Suster Rini dengan satu pertanyaannya. Dokter Raditya pun menjeda aktifitasnya sejenak, saat tengah menandatangani beberapa berkas laporan beberapa pasiennya. "Tidak perlu, aku belum lapar. Katakan pada ku suster apa hari ini ada yang datang mencari jam tangan itu?" Raditya melontarkan satu pertanyaan dengan raut wajah sedikit kesal. Suster Rini pun sedikit heran, karena tidak seperti biasanya sang Dokter bertanya tentang hal lain. "Belum dokter, belum ada pemilik jam tangan itu datang." Jelasnya apa adanya. Wajah Raditya terlihat muram dan kecewa. Rasanya ingin Airin datang dan memohon padanya demi jam tangan itu, tapi sampai saat ini belu
Airin semakin kesal, pesan anonim itu tidak kunjung membalas malah mengatakan jika ia sudah berhutang Budi untuk yang kedua kalinya. "Sebenarnya siapa ini?" Airin memijat kening, perasaannya semakin gelisah dan tak karuan, terlebih lagi ini menyangkut rahasianya. Tak ingin menyerah siapa yang mengirimkan pesan itu, Airin sengaja meminta agar video itu di hapus dan tidak di sebarluaskan dengan tawaran ia akan memberikan uang. Sayang pengirim pesan malah cepat offline, membuatnya geram. "Astaga! Ini orang kenapa ya, tadi chat tiba-tiba sekarang menghilang." Umpat Airin panik. Karena merasa sangat lelah, Airin memutuskan menghubungi pesan misterius itu besok pagi. Seperti biasa sebelum tidur ia tidak lupa harus minum obat, lalu memutuskan ke dapur dulu mengambil air putih dan beberapa camilan. Saat berjalan menuruni tangga, Airin tidak sengaja mendengar ibu mertuanya sedang berbicara dengan seseorang di dalam panggilan telepon. "Ingat nak, kamu di sana harus jaga kesehatan ya janga
Airin berjalan setengah berlari, lalu dia menghentikan taksi dan masuk meminta pak supir mengantarnya ke alamat rumahnya. Disepanjang jalan, wanita cantik itu terlihat sangat gelisah dan merasa sangat bersalah karena apa yang telah terjadi tadi. "Astaga! Kenapa aku datang ke sana? Kalau mas Adrian tahu bisa habis aku." Batin Airin merutuki diri sendiri seraya meremas ujung dress-nya. Suara nada pesan di ponsel terdengar beberapa kali, namun Airin masih fokus dengan jalanan yang tampak macet membuat hatinya semakin cemas. Terlebih lagi hari sudah mulai sore sedikit khawatir karena mungkin nanti sampai ke rumah lebih dari jam pulang dari butik seperti biasanya. Beruntung pak supir bisa memotong ke arah lain, sampai akhirnya setelah kurang lebih satu jam kini Airin telah sampai di rumah. Setelah turun dari taksi, wajah Airin terlihat masih sangat pucat dan tegang apa lagi setelah insiden permainan ciuman tanpa status tadi. "Airin! tenanglah, jangan membuat ibu curiga." Tegasnya mer
Airin sangat dilema, tapi karena sudah terlanjur hadir membuatnya terpaksa melanjutkan challenge itu, toh dalam pemikirannya mungkin hanya sekedar dansa biasa. "Kalian semua apa sudah siap?" Tanya sang MC, kembali memandu setelah semua orang mendapatkan pasangan masing-masing dalam permainan itu. Beberapa dari mereka pun menyahut antusias dan berkata siap, namun tidak dengan Airin masih terlihat bimbang. Tasya dan teman-temannya ikut cemas juga, karena sudah tahu Airin pasti tidak nyaman dengan itu. "Gimana dengan Airin, kenapa malah bersama tuan Radit lagi ya?" Bisik Monica. "Entahlah, aku juga merasa khawatir takutnya nanti ada yang menyalah pahami." Timpal Tasya, seraya menatap ke arah Airin yang berada cukup jauh darinya. Senyum miring terpancar di wajah Radit, sungguh ini kali pertama dia menatap mantan kekasihnya yang sudah lama tak jumpa begitu dekat. "Kenapa kau tegang seperti itu Airin? Keberatan?" Bisik Raditya, tepat di daun telinga wanita yang ada di de
Andre tanpa ragu menegaskan jika permainan tanya jawab untuk Airin itu sudah selesai. Tentu saja awalnya orang-orang di sana sempat protes karena merasa tidak puas dengan jawaban Airin. Sebagai seorang teman tentu saja Monica merasa sangat bersalah, karena pertanyaan malah menjadi sebuah kegaduhan. "Astaga sya, aku merasa bersalah sama Airin karena bertanya seperti itu," sesal Monica berbisik. "Aku ga bisa komentar lagi Monic." Balas Tasya sedikit kecewa. Melihat raut wajah tampan Raditya yang terlihat muram, dia juga menantang semua orang di sana yang ingin tidak patuh dalam aturan permainan itu boleh pergi dari sana. Sontak tidak ada satu orang pun yang berani menentang seorang Radit, karena dulu saat kuliah lelaki itu cukup populer dan punya pengaruh besar akan kharismanya yang membuat semua orang seolah tidak bisa membantahnya. "Okey, tidak ada yang protes lagi ya. Sekarang adalah acara paling special dari reuni ini, yaitu berdansa dan harus berciu-man dengan pasangan yang a







