Share

Bab 22 Satu Syarat

last update Last Updated: 2026-01-06 15:31:39

Suara lembut Airin membuyarkan Raditya, perlahan lelaki itu memutar badan. "Nona Airin, tidak di sangka ternyata anda datang ke sini juga."

Airin menelan saliva, tubuhnya gemetar sampai kedua tangannya meremas ujung dress, lalu berusaha mengangkat wajah menatap Radit.

"Iya, bisakah anda menepati janji akan mengembalikan jam itu?" Pinta Airin tanpa ragu, menatap penuh harap.

Raditya menyeringai, dia berjalan mendekati Airin yang berdiri di depannya. Baru kali ini dia melihat seorang wanita begitu effort memohon demi jam tangan untuk suaminya.

"Bagaimana kondisi kesehatan mu nona Airin? Kalau benar jam ini milik mu aku bisa kembalikan, tapi tentu saja ada saru syarat." Bisiknya menatap penuh arti, sembari mendengus harum tubuh Airin yang tak pernah berubah dari dulu.

Kening Airin berkerut rapat, tubuhnya reflek menjaga jarak. Ia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Raditya saat ini.

"Maksud anda apa Dokter? Itu jam tangan saya hak saya kenapa harus ada syarat, dan tolong jangan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 24 Pengusaha Curang

    "Dua hari lagi, aku akan pulang. Ingat Janji mu Airin." Satu pesan dari Adrian membuat Airin terkejut, karena baru ingat ia punya dua janji yang harus di tepati. "Mas Adrian!" Tangan Airin terlihat gemetar saat membalas chat sang suami. Yang bernada sedikit menekan. "I-iya mas, aku senang kamu cepat pulang sudah tak sabar nih," Balas Airin lembut. Pak Hadi pun mulai sadar, lalu perlahan jarinya meraih kepala putri semata wayangnya. "Airin.." Panggil pria itu terdengar lemah. Airin baru tersontak, ia mengulum senyum tipis saat ayah tersayang sudah mulai sadar. "Ayah, ayah akhirnya bangun gimana sekarang apa keadaan ayah sudah mendingan?" Pak Hadi mengagguk pelan, ia berusaha menyahut. Tapi Airin tidak ingin sang ayah banyak bergerak agar tidak mempengaruhi kesehatan lagi. Pria paruh baya itu sekuat tenaga, berusaha melontar satu pertanyaan karena merasa cemas. "Hu-hubungan mu dengan Adrian baik-baik saja kan?" Airin tertegun, dari dulu tidak pernah menyangka jika nalu

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 23 Tidak Ada Pilihan Lagi

    "Astaga! Kemana dia kenapa tidak mengangkat telepon ku?" Inge menggerutu kesal, saat nomor ponsel Airin begitu sulit untuk di hubungi. Pak Hadi yang masih terbaring di atas brankar pun menoleh dengan kening yang berkerut rapat. "Bu, mungkin Airin sibuk biarkan saja." Ucapnya mengingatkan. Inge mendelik, dan tentu saja dia sangat kesal dengan kata-kata sang suami karena bagaimana pun juga menurutnya saat ini panggilan dan chatnya sangat penting. Bahkan tak segan membentak agar pak Hadi tidak usah banyak bicara. Lelaki paruh baya itu termenung, rasanya ia sangat tidak tega jika setiap kali Airin selalu di libatkan dalam rumah tangganya dengan sang istri. Tak ingin menyerah, Inge pun berinisiatif menghubungi nomor rumah besannya dan sama sekali tidak ada jawaban. "Hah, sial. Orang-orang rumah itu pada ke mana sih!" Geram Inge. Tak ingin terganggu dengan ocehan sang suami, Inge akhirnya memutuskan keluar ruangan agar lebih leluasa lagi menghubungi Airin. Sementara Airin yang baru

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 22 Satu Syarat

    Suara lembut Airin membuyarkan Raditya, perlahan lelaki itu memutar badan. "Nona Airin, tidak di sangka ternyata anda datang ke sini juga."Airin menelan saliva, tubuhnya gemetar sampai kedua tangannya meremas ujung dress, lalu berusaha mengangkat wajah menatap Radit. "Iya, bisakah anda menepati janji akan mengembalikan jam itu?" Pinta Airin tanpa ragu, menatap penuh harap. Raditya menyeringai, dia berjalan mendekati Airin yang berdiri di depannya. Baru kali ini dia melihat seorang wanita begitu effort memohon demi jam tangan untuk suaminya. "Bagaimana kondisi kesehatan mu nona Airin? Kalau benar jam ini milik mu aku bisa kembalikan, tapi tentu saja ada saru syarat." Bisiknya menatap penuh arti, sembari mendengus harum tubuh Airin yang tak pernah berubah dari dulu. Kening Airin berkerut rapat, tubuhnya reflek menjaga jarak. Ia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Raditya saat ini. "Maksud anda apa Dokter? Itu jam tangan saya hak saya kenapa harus ada syarat, dan tolong jangan

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 21 Berharap

    Keesokan harinya, di sebuah rumah sakit Dokter Raditya terlihat mulai santai setelah jam istirahat jam praktiknya tiba. Suster Rini yang selalu sigap membantunya tak pernah absen, untuk membantu mengingatkan jam makan siang atasannya itu. "Dokter, maaf jika saya lancang. Sudah jam makan apa perlu saya pesankan makanan untuk anda?" Cetus Suster Rini dengan satu pertanyaannya. Dokter Raditya pun menjeda aktifitasnya sejenak, saat tengah menandatangani beberapa berkas laporan beberapa pasiennya. "Tidak perlu, aku belum lapar. Katakan pada ku suster apa hari ini ada yang datang mencari jam tangan itu?" Raditya melontarkan satu pertanyaan dengan raut wajah sedikit kesal. Suster Rini pun sedikit heran, karena tidak seperti biasanya sang Dokter bertanya tentang hal lain. "Belum dokter, belum ada pemilik jam tangan itu datang." Jelasnya apa adanya. Wajah Raditya terlihat muram dan kecewa. Rasanya ingin Airin datang dan memohon padanya demi jam tangan itu, tapi sampai saat ini belu

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 20 Terpaksa Berbohong

    Airin semakin kesal, pesan anonim itu tidak kunjung membalas malah mengatakan jika ia sudah berhutang Budi untuk yang kedua kalinya. "Sebenarnya siapa ini?" Airin memijat kening, perasaannya semakin gelisah dan tak karuan, terlebih lagi ini menyangkut rahasianya. Tak ingin menyerah siapa yang mengirimkan pesan itu, Airin sengaja meminta agar video itu di hapus dan tidak di sebarluaskan dengan tawaran ia akan memberikan uang. Sayang pengirim pesan malah cepat offline, membuatnya geram. "Astaga! Ini orang kenapa ya, tadi chat tiba-tiba sekarang menghilang." Umpat Airin panik. Karena merasa sangat lelah, Airin memutuskan menghubungi pesan misterius itu besok pagi. Seperti biasa sebelum tidur ia tidak lupa harus minum obat, lalu memutuskan ke dapur dulu mengambil air putih dan beberapa camilan. Saat berjalan menuruni tangga, Airin tidak sengaja mendengar ibu mertuanya sedang berbicara dengan seseorang di dalam panggilan telepon. "Ingat nak, kamu di sana harus jaga kesehatan ya janga

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 19 Pesan Anonim

    Airin berjalan setengah berlari, lalu dia menghentikan taksi dan masuk meminta pak supir mengantarnya ke alamat rumahnya. Disepanjang jalan, wanita cantik itu terlihat sangat gelisah dan merasa sangat bersalah karena apa yang telah terjadi tadi. "Astaga! Kenapa aku datang ke sana? Kalau mas Adrian tahu bisa habis aku." Batin Airin merutuki diri sendiri seraya meremas ujung dress-nya. Suara nada pesan di ponsel terdengar beberapa kali, namun Airin masih fokus dengan jalanan yang tampak macet membuat hatinya semakin cemas. Terlebih lagi hari sudah mulai sore sedikit khawatir karena mungkin nanti sampai ke rumah lebih dari jam pulang dari butik seperti biasanya. Beruntung pak supir bisa memotong ke arah lain, sampai akhirnya setelah kurang lebih satu jam kini Airin telah sampai di rumah. Setelah turun dari taksi, wajah Airin terlihat masih sangat pucat dan tegang apa lagi setelah insiden permainan ciuman tanpa status tadi. "Airin! tenanglah, jangan membuat ibu curiga." Tegasnya mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status