LOGIN"Silahkan Nona," Ujar pelayan resto mempersilahkan. Airin hanya mengangguk lalu mulai masuk ke dalam, langkahnya terlihat pelan dan meragu. "Terima kasih mbak," Balas Airin. Terlihat punggung tegap berbalut jas formal begitu rapih tengah membelakangi, membuat jantung Airin berdegup sangat kencang. "Hmm, maaf apa sudah menunggu lama?" Airin membuka topik pembicaraan terlebih dahulu. Raditya pun memutar badan dan menatap Airin di iringi senyuman smrik penuh arti. "Nona Airin datang juga duduklah," Ucap Raditya menyambut antusias lalu menggeser kursi dan mempersilahkan Airin duduk. Airin masih mematung, perasaannya masih ragu. Karena seharusnya ia tidak menemui pria lain di belakang suaminya tapi demi mengembalikan kepercayaan membuatnya tak ada jalan lagi. "Kenapa terlihat ragu?" Pertanyaan Raditya membuat Airin tersontak kaget, lalu dengan ia berjalan mendekati dan duduk. "Terima kasih." Ungkap Airin terdengar pelan, sampai tak berani menatap wajah lelaki yang ada di depannya.
"Bu, ini makanannya semoga suka." Airin menyiapkan beberapa menu yang telah di masak di meja makan. Nyonya Rosa yang sudah berpenampilan Hedon pun mulai duduk lalu menatap satu persatu dengan raut wajah yang sombong dan arogan. Lalu sedikit demi sedikit mulai mencicipinya. "Gimana rasanya ibu suka tidak?" Tanya Airin memastikan. Seraya mengulum senyum ramah. Bukannya mendapat respon baik, malah ibu mertuanya semakin mencibir dirinya. "Masakan mu tidak pernah istimewa, jangan mengalihkan pembicaraan, katakan gimana pengobatan mu berhasilkan?" Cecar Nyonya Rosa. Airin tersentak, wajahnya memucat bahkan bibirnya seolah terkunci ketika mendapatkan satu pertanyaan yang sulit di jawab. "Kenapa malah diam, jangan bilang pengobatan mu gagal lagi?" Sindir Rosa tersenyum sinis. "Tidak ko Bu, sekarang ada sudah cukup pilih ko," Tukas Airin, tidak mau jika sampai ibu mertuanya lebih membuat hubungannya dengan sang suami semakin buruk. Nyonya Rosa meminta Airin agar memegang kata-katanya, j
"Apa! Kamu ingin mencari Dokter baru lagi? Kenapa Rin. Padahal Dokter di rumah sakit Pramedika itu semua terbaik dan banyak pasien yang sembuh juga." Pekik Tasya sedikit terheran. Setelah mendengar Airin agar di bantu mencari kenalan Dokter lain. Airin sempat terdiam sejenak, karena awalnya sedikit sulit menjawab, tapi ia berusaha mencari alasan yang tepat. "Sya, aku tahu Dokter di sana cukup handal, tapi masalahnya yang nangani aku itu seorang Dokter pria, mas Adrian pasti tidak senang kalau tahu." Keluh Airin. Tasya berpikir sejenak, dan mulai mengerti maksud dan kekhawatiran sahabat sekaligus bosnya itu. Dan dia akan berusaha membantu Airin mencari seorang kenal Dokter lain lagi. Airin merasa senang, dia sangat berterima kasih pada Tasya, meskipun awalnya sempat di desak agar berterus terang tentang identitas Dokter konsultasinya saat ini. SssSuara panggilan kembali terdengar di ponsel Airin, terlihat id penghubung adalah ibu mertuanya membuat Airin tidak ingin membuang waktu
Satu hari kemudian, Airin menghela nafas lega setelah ia selesai membantu sang ayah makan dan meminumkan obat. Mengingat besok Adrian akan pulang, dia memutuskan meminta ijin pada ibu tirinya untuk pulang ke rumah lebih dulu. "Bu, aku titip ayah dulu. Besok mas Adrian akan pulang jadi aku harus menyiapkan beberapa hal di rumah," Kata Airin menghampiri. Inge yang dari tadi sibuk pada layar ponselnya pun perlahan menutupnya, lalu beranjak dari tempat duduk. "Ingat Airin, kamu harus membuat Adrian senang, dan jangan lupa permintaan ibu kemarin, jika kamu masih ingin ayah mu sehat lagi," Bisiknya mewanti-wanti. Tak ingin banyak berdebat lagi, Airin mengangguk patuh dan ia berkata semuanya akan di usahakan. Inge menyeringai, ia cukup puas dengan jawaban putri tirinya. Tak lupa juga bertanya bagaimana tentang pengobatannya juga. Melihat ekspresi wajah Airin hanya diam membuat Inge tersulut emosi. "Airin! Kamu dengar pertanyaan ku? Jangan bilang nanti kalau Adrian pulang protes lagi pa
"Dua hari lagi, aku akan pulang. Ingat Janji mu Airin." Satu pesan dari Adrian membuat Airin terkejut, karena baru ingat ia punya dua janji yang harus di tepati. "Mas Adrian!" Tangan Airin terlihat gemetar saat membalas chat sang suami. Yang bernada sedikit menekan. "I-iya mas, aku senang kamu cepat pulang sudah tak sabar nih," Balas Airin lembut. Pak Hadi pun mulai sadar, lalu perlahan jarinya meraih kepala putri semata wayangnya. "Airin.." Panggil pria itu terdengar lemah. Airin baru tersontak, ia mengulum senyum tipis saat ayah tersayang sudah mulai sadar. "Ayah, ayah akhirnya bangun gimana sekarang apa keadaan ayah sudah mendingan?" Pak Hadi mengagguk pelan, ia berusaha menyahut. Tapi Airin tidak ingin sang ayah banyak bergerak agar tidak mempengaruhi kesehatan lagi. Pria paruh baya itu sekuat tenaga, berusaha melontar satu pertanyaan karena merasa cemas. "Hu-hubungan mu dengan Adrian baik-baik saja kan?" Airin tertegun, dari dulu tidak pernah menyangka jika nalu
"Astaga! Kemana dia kenapa tidak mengangkat telepon ku?" Inge menggerutu kesal, saat nomor ponsel Airin begitu sulit untuk di hubungi. Pak Hadi yang masih terbaring di atas brankar pun menoleh dengan kening yang berkerut rapat. "Bu, mungkin Airin sibuk biarkan saja." Ucapnya mengingatkan. Inge mendelik, dan tentu saja dia sangat kesal dengan kata-kata sang suami karena bagaimana pun juga menurutnya saat ini panggilan dan chatnya sangat penting. Bahkan tak segan membentak agar pak Hadi tidak usah banyak bicara. Lelaki paruh baya itu termenung, rasanya ia sangat tidak tega jika setiap kali Airin selalu di libatkan dalam rumah tangganya dengan sang istri. Tak ingin menyerah, Inge pun berinisiatif menghubungi nomor rumah besannya dan sama sekali tidak ada jawaban. "Hah, sial. Orang-orang rumah itu pada ke mana sih!" Geram Inge. Tak ingin terganggu dengan ocehan sang suami, Inge akhirnya memutuskan keluar ruangan agar lebih leluasa lagi menghubungi Airin. Sementara Airin yang baru







