Home / Romansa / Sentuhan Terlarang Dokter Tampan / Bab 44 Kamu Akan Menyesal

Share

Bab 44 Kamu Akan Menyesal

last update Last Updated: 2026-01-23 23:41:40

Suasana di dalam ballroom terlihat begitu ramai, para elit tengah bertegur sapa termasuk Adrian dan Airin. Semua mata tertuju pada penampilan Airin karena begitu cantik dan mempesona.

"Tuan Tama, selamat atas pesta ulang tahun pernikahan anda terima kasih karena telah mengundang saya," Kata Adrian sembari mengulurkan tangan.

Pria paruh baya itu pun membalas uluran tangan Adrian. "Tidak usah sungkan, suatu kehormatan anda bisa hadir."

"Wah, wanita cantik ini siapa? Apa istri anda," sambung Nyo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 62 Syarat Dokter Raditya

    "Suster! Kenapa hanya diam?" Airin melontarkan pertanyaan untuk yang kedua kalinya. Wanita berseragam serba putih itu pun terhenyak, lalu menyahut. "Dokter Raditya sudah kembali tapi hari ini beliau ada meeting penting, saya akan coba hubungi beliau dulu ya," Jelasnya lalu segera meraih telepon yang ada di bagian resepsionis. Airin hanya mengangguk seraya mengulum senyum tipis. Berharap Raditya memiliki waktu luang yang tepat untuknya. Sambungan telepon pun terhubung, dengan nada sedikit gemetar, suster Rini menceritakan apa adanya jika saat ini Airin berkonsultasi. Selama sepuluh menit sambungan telepon itu terdengar sunyi, namun jawaban spontan sang Dokter pun membuatnya sangat tercengang. Kening Airin berkerut rapat, menatap penuh keheranan saat melihat ekspresi wajah tenaga medis itu yang membuatnya merasa sedikit aneh. "Suster! gimana Dokter Raditya bisa di temukan?" Airin masih menunggu. Suster Rini pun terkesiap, lalu menyimpan teleponnya lebih dulu. "Nona, maaf hari ini

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 61 Harapan Airin

    Satu minggu kemudian, Airin terlihat begitu antusias saat mendengar desain namanya di panggil oleh manager penyelenggara acara itu. Tak ingin membuang waktu, kini dia pun segera menghampiri salah satu panitia penyelenggara acara itu. "Nyonya Airin kah?" Pria itu memastikan lebih dulu. Sebelum memberikan selembar brosur dan beberapa pemahaman. "Iya benar saya Airin." Sahut Airin menganggukkan kepala pelan. Pria itu pun memberikan berkas penerima Airin untuk ikut kompetisi yang ke depannya akan di laksanakan, bahkan di beri arahan agar desainnya nanti bisa di lirik dan lebih di perhatikan oleh juri internasional. Dengan begitu sigap Airin pun mencerna beberapa peraturan dalam kelas desain itu. "Terima kasih tuan, saya akan berusaha semaksimal mungkin," Ucap Airin terlihat begitu bersemangat. "Tidak usah sungkan Nona, mulai besok perhatikan saja sosmed resmi kami di sana ada kelas desain yang harus anda ikuti," Jelas pria itu mengingatkan. Airin paham, setelah selesai menerima bro

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 60 Merindukan Belaian Mu

    Airin tercengang, tatapannya berkaca-kaca kedua alisnya pun yang berkerut rapat. Sungguh perasaannya sangat kecewa dan sedih saat suaminya begitu perhitungan."Apa kau tuli Airin?" Bentak Adrian semakin meninggi. Airin terkesiap, meski berat sebisa kuat tenaga mengangkat kepala dan mengulum senyum tipis. "I-iya mas, aku akan mengganti semua uang bekas berobat aku," sahut Airin dengan nada lirih. "Bagus! dan itu harus memang harus," Adrian menegaskan lagi, sembari meminum secangkir kopi hangat dan beberapa camilan juga, lalu karena merasa lelah lebih dulu merebahkan diri di atas ranjang mewah berukuran king size itu. Airin masih mematung, berusaha fokus kembali menyelesaikan gambar desainnya yang masih belum selesai. Karena hanya itu satu-satunya harapan untuk membantu sang ayah, mengingat suaminya sudah enggan peduli lagi. "Aku pasti bisa," Airin menghela nafas berat, dan berusaha menyemangati diri sendiri. Terlebih lagi ada misi penting yang harus dia dapatkan. Waktu berjalan de

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 59 Diremehkan

    Siang berlalu dengan cepat, matahari pun terlihat sudah condong ke arah barat. Raditya sedang duduk santai di kamar hotel tempatnya menginap. Beberapa pesan masuk dari sahabat, dan juga suster pendampingnya mengabarkan jika tadi ada pasiennya bernama Airin datang mencarinya. Seketika ekspresi wajah Radit berubah menjadi serius, mengingat perdebatan mereka berdua beberapa waktu lalu. "Airin! Kamu akhirnya datang sendiri mencari ku," gumam Radit tersenyum getir. Jauh dalam lubuk hatinya, Radit sama sekali tidak ikhlas saat melihat mantan pacarnya itu menikahi pria lain. Padahal mereka dulu saling mencintai tapi tidak ada hujan atau angin tiba-tiba dia pergi begitu saja. Dimas penasaran sampai dia sengaja video call, karena sebagai sahabat Radit sangat paham dengan sikap rekannya sampai terpaksa mengangkat panggilan saat s aaa es"Ada apa?" Radit memulai topik pembicaraan. "CK, sepertinya Dokter Adrian terlihat sangat lelah, gimana penelitiannya apakah sukses?" Sahut Dimas, suarany

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 58 Tidak Ada Artinya

    "Tuan, ada Nyonya ingin menemui anda," Ujar asisten Adrian yang bernama Doni. Adrian pun mulai merapikan diri, setelah Susan sudah keluar dari ruangannya tadi. "Suruh dia masuk saja," Titahnya dengan nada ketus. Sebagai sang asisten pria itu hanya bisa mengangguk patuh, lalu segera undur diri saat akan melaksanakan perintah bosnya. Melihat pintu ruangan kebesaran suaminya terbuka, dan asistennya keluar Airin segera beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri. "Gimana mas Adrian ada kan?" tanya Airin begitu antusias. "Silahkan nyonya boleh masuk, tuan ada di dalam." Doni mempersilahkan sembari membukakan pintu. Airin terlihat begitu semangat dan tak sabaran, segera memasuki ruangan Adrian seraya membawa kotak makanan. "Mas Adrian!" Panggil Airin, suaranya terdengar sangat manja. Senyuman manis pun terlukis di wajahnya tanpa sungkan menyimpan kotak makanan lalu melingkarkan kedua tangannya di rahang kokoh suami yang sangat dia cintai. Suasana di sana terasa begitu

  • Sentuhan Terlarang Dokter Tampan    Bab 57 Sengaja Membuat Kejutan

    Sesampainya di rumah sakit, Airin seperti biasa ke bagian resepsionis terlebih dahulu untuk meminta jadwal ke ruangan Dokter Raditya. Namun salah satu dari wanita berseragam putih itu pun menjawab, jika saat ini Dokter Raditya sedang tidak ada di ruangannya, namun ada penawaran juga dengan Dokter pengganti sementara yaitu Dokter Dimas. Airin terdiam, tidak mungkin dia harus berkonsultasi lagi dengan Dokter baru mengingat sakit yang dia alami saat ini cukup privat juga."Gimana, apa Nona mau coba Konsul dengan Dokter Dimas?" Tanya sang suster memastikan lebih dulu. Airin reflek menatap lalu menggelengkan kepala, ia dengan tegas menolak dan lebih memilih bertanya kapan Dokter Raditya kembali. Sang suster pun mengatakan jika dinas Dokter Raditya keluar negeri tidak bisa di prediksi. Hal itu membuat Airin cemas sampai wajahnya pun memucat kenapa bisa tiba-tiba Raditya susah untuk di temui padahal kemarin mereka bertemu di pesta itu. "Tidak usah suster, nanti saja kalau Dokter Radity

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status