LOGINLangit sore Jakarta mulai memerah saat Rega menutup rapat pintu ruangannya di kantor barunya. Ia berdiri sejenak di balik jendela besar lantai 15, memandangi hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur. Di belakangnya, terdengar suara langkah kaki Lilyan yang datang membawa dua cangkir kopi hangat. "Istirahat dulu, Pak CEO. Nanti kepalamu kebakar lagi," ucap Lilyan sambil tersenyum lembut. Rega menoleh dan tertawa pelan. "Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah tumbang dari kemarin," jawabnya sambil menerima kopi itu. Mereka duduk berdampingan di sofa kecil di sudut ruangan. Kantor mereka belum semewah perusahaan lama, tapi atmosfernya hangat dan penuh semangat. Sejak memutuskan membangun perusahaan barunya secara diam-diam, Rega hanya mempercayai segelintir orang, termasuk dua sahabat lamanya yang kini menjadi mitra bisnisnya, serta Lilyan yang ia percayai sepenuh hati. "Kamu yakin masih mau sembunyi dari keluargamu?" tanya Lilyan sambil menyeruput kopinya perlahan. "
Pagi itu langit tampak bersih, seolah menyambut semangat baru yang mulai tumbuh dalam diri Rega. Ia berdiri di depan kaca, mengenakan kemeja putihnya.Dulu, kemeja itu biasa ia kenakan saat menghadiri rapat besar dengan para investor Angkasa Mining Corp. Kini, kemeja itu kembali ia kenakan, bukan untuk nostalgia, melainkan sebagai lambang kebangkitan."Kamu tampan sekali Sayang," puji Lilyan sembari memasang dasi suaminya.Rega hanya tersenyum tipis. Ia menatap wajah istri cantiknya yang terlihat lebih segar pagi ini. Setelah semalam mereka melewati malam panasnya lagi."Doakan aku Sayang, agar semua urusan hari ini lancar." Rega meminta doa."Pasti Sayang. Doaku selalu menyertaimu." Lilyan menarik dasi yang telah terpasang di leher Rega dan hal itu membuat Rega menunduk, itu sengaja Lilyan lakukan agar dirinya dengan mudah mencium bibir Rega.Rega tidak menolaknya. Ia langsung me lu mat bibir ranum istrinya dengan lembut."Apa tadi malam masih belum cukup?" tanya Rega sambil tersenyu
Langit sore itu berwarna jingga pucat ketika Lilyan berdiri di depan jendela apartemen Rega. Tangannya refleks mengusap perutnya yang membuncit gerakan kecil yang kini terasa begitu alami baginya. Ada kehidupan yang tumbuh di sana, buah cinta yang lahir dari luka, kehilangan, dan penantian panjang. “Jangan berdiri terlalu lama,” suara Rega terdengar dari belakang. “Aku cuma berdiri sebentar,” Lilyan tersenyum kecil, mencoba menenangkan.Rega tidak peduli ia berjalan dan akhirnya menuntun Lilyan untuk duduk di sofa. Ia lalu berjongkok di depan Lilyan, menempelkan telinganya ke perut Lilyan yang tertutup kain longgar. “Kamu dengar tidak?” bisiknya. Lilyan terkekeh pelan. “Mendengar apa?” “Dia tadi bergerak. Aku yakin.” Rega menempelkan telapak tangannya dengan hati-hati. “Kamu harus makan lebih banyak hari ini. Jangan sampai telat.” Nada suaranya bukan memerintah, tapi penuh ketakutan yang ditahan rapat. Ketakutan kehilangan—lagi.Lilyan terkekeh pelan. Ia mengusap kepala Re
Vano berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap pantulan dirinya di dinding kaca ruang direksi. Jas mahal itu terasa pas di tubuhnya, seolah kursi direktur utama memang sudah lama menunggunya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum kemenangan yang selama ini ia impikan. Rapat dewan direksi baru saja usai. Tak satu pun dari mereka membantah keputusannya. Bahkan beberapa anggota dewan yang dulu terang-terangan mendukung Rega kini mulai condong padanya. Vano tahu, kepercayaan itu belum sepenuhnya tulus, tapi cukup untuk membuatnya berkuasa. “Keputusan yang berani, Pak Vano,” ujar salah satu direktur senior sebelum meninggalkan ruangan. “Perusahaan butuh pemimpin yang fokus, bukan yang sibuk dengan urusan pribadi.” Vano hanya mengangguk tenang, meski di dalam dadanya ada kepuasan yang membuncah. Nama Rega tak lagi disebut dengan hormat—melainkan sebagai contoh kegagalan. Dan itu membuatnya semakin percaya diri. Begitu pintu ruang rapat tertutup, Vano melonggarkan das
Apartemen itu masih sama, megah dan dingin, tetapi bagi Lilyan rasanya begitu asing. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti sejenak. Kenangan lama menyeruak. Dimana ia pernah menghabiskan waktunya bersama Rega di apartemen mewah itu. Dan kali ini dia kembali menjejakkan lagi kakinya di sana. Sebagai kekasih resmi Rega. "Masuklah dan tinggallah di sini, jangan pergi lagi." Rega membawa Lilyan masuk ke dalam. “Pelan,” ucap Rega lirih. “Dokter bilang kamu belum boleh banyak bergerak.” Lilyan mengangguk, meski sebenarnya ia ingin berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi kali ini ia tak boleh egois, mungkin ia kuat tapi bayi dalam kandungannya belum tentu. Bu Laras ikut masuk di belakang mereka. Matanya menyapu apartemen luas itu dengan perasaan campur aduk. Ia masih sulit mencerna kenyataan bahwa putrinya mengandung anaknya Rega. Sebuah kenyataan yang masih sulit ia terima. Saat Rega meminta dirinya ikut tinggal sementara, Bu Laras tak sanggup menolak—demi Lilyan, demi cucuny
Sore itu, Gina duduk di salah satu sudut restoran favoritnya dengan Vano. Sore itu ia sengaja ingin bernegosiasi lagi dengan Vano. Tak lama kemudian, Vano datang dengan ekspresi datar. Ia melangkah menuju meja tempat Gina duduk dan langsung menjatuhkan diri ke kursi di depannya. Tatapannya dingin, tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat. “Ada apa?” tanya Vano sambil membuka jasnya. Gina menelan ludah. Ia mencoba tersenyum, meski gugup tak tertahankan. “Aku sebentar lagi mau melahirkan Mas,” ucapnya akhirnya, lirih tapi jelas. Ia menatap wajah Vano, mencoba menangkap reaksi yang akan keluar dari sana. Namun, bukannya terkejut atau bahagia, Vano malah mengernyit. Wajahnya berubah gelap, dan dagunya terangkat tinggi. "Terus, apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Vano dengan sikapnya yang masih dingin. Gina menahan napasnya sejenak. Melihat sikap Vano yang seperti ini ia ragu apakah ini saat yang tepat untuk meminta pertanggung jawaban atau bukan. Namun Gina masih ingin ber







