Home / Romansa / Gelora Cinta Pria Arogan / 71. Rinjani Tahu Semua

Share

71. Rinjani Tahu Semua

Author: Neza Visna
last update Petsa ng paglalathala: 2025-04-25 19:08:20

Layar komputer Brama memancarkan cahaya biru yang menerpa wajah pria itu. Tangannya mengetik cepat, sementara di sebelahnya, tumpukan laporan keuangan dan dokumen analisis pasar berserakan. Di sudut meja, secangkir kopi yang sudah dingin tak tersentuh.

Wajah Brama sedikit pucat dan perutnya mulai terasa perih tapi dia menolak untuk berhenti.

“Bram, kamu mending istirahat dulu. Wajahnya sudah betul-betul pucat.” Andre mengingatkan.

“Sedikit lagi ini semua selesai. Aku tidak bisa berhenti sekara
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Gelora Cinta Pria Arogan   152. Ayah di Rumah Sakit

    “Ma.”Hari sudah malam saat Brama masuk ke rumah ibunya. Dia sama sekali tidak pulang dulu ke rumah dan masih menggunakan sepeda motor yang tadi dia bawa.“Yang datang, kamu? Kamu bawa motor?”Ibunya langsung berdiri dan berjalan keluar. Dia nyaris melotot melihat sepeda motor di depan rumah itu.“Dari mana kamu? Mama nggak tahu kamu ada hobi begini?”“Dari tempat Rinjani. Bukan hobi, Cuma mau coba sesuatu yang baru.” Itu hanyalah sepeda motor yang diberikan salah seorang teman, yang membuka showroom motor gede. Dia memberikan satu ke Brama karena Brama membantu permodalan tempat itu.Tetapi benda itu udah tergeletak begitu saja di parkiran apartemennya tanpa pernah dipakai. Hingga akhirnya Brama memakainya hari ini karena ingin mencoba sesuatu yang baru, bersama Rinjani.Ibunya melotot kesal menatap Brama. “Brama! Rinjani lagi, Rinjani lagi! Mama nggak pernah sangka anak mama akan diperbudak cinta seperti ini!”“Ma, Rinjani sudah cerai sekarang. Nggak ada lagi alasan aku nggak bis

  • Gelora Cinta Pria Arogan   151. Pagi Manis Berdua

    Ayah Rinjani akhirnya bicara, “Kami tahu siapa kamu, Brama. Dan kami tahu, kadang seseorang tidak bisa memilih dari keluarga mana dia lahir.”Brama menunduk hormat. “Terima kasih, Om, Tante.” Dia benar-benar kecewa dan frustrasi dengan keadaan ini.Di saat dia kira semuanya berjalan lancar, ada saja halangan yang membuat semuanya kacau.Ibu Rinjani menatap putrinya, lalu Brama, kemudian suaminya. Bibirnya sedikit bergetar, tapi tak satu pun kata keluar. Hanya napas pelan yang ditarik, kemudian dihembuskan perlahan seolah mencoba menurunkan segala gejolak emosi.Rinjani sendiri masih diam. Emosinya seperti dikeruk habis, marah, malu, lega, sakit hati, semuanya berdesakan seperti tamu tak diundang. Ia menggigit bibir, menahan air mata yang mulai menggenang.Ayahnya yang lebih dulu bersuara.“Masuklah dulu,” ucapnya singkat sambil berbalik, lalu berjalan ke dalam.Brama ingin menyusul, tapi tangan ibu Rinjani tiba-tiba terangkat menghentikannya. Bukan kasar, tapi tegas.“Ini sudah mala

  • Gelora Cinta Pria Arogan   150. Semua yang Terjadi

    ***“Ini aku bawa ayam bakar. Kata Andre, enak, tapi sambelnya cukup pedas.”“Thanks.”Rinjani hanya bisa menerima makanan yang dibawa Brama itu dengan ekspresi wajah canggung. Ini adalah hari ke sekian pria itu datang ke rumahnya setelah jujur ke orangtuanya kalau ingin mendekatinya.Untuk kesekian kalinya juga, Rinjani belum memiliki keberanian untuk mengaku jujur ke orangtuanya.Rinjani tahu, ia sedang bermain api. Menunda pembicaraan hanya akan membuat bom waktu dalam dirinya makin besar. Tapi ia belum siap. Belum sanggup melihat bagaimana ekspresi ayah dan ibunya jika tahu bahwa ia diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Brama. Hubungan yang mereka anggap berbahaya. Hubungan yang dulu membuat keluarganya harus menundukkan kepala dan menanggung malu di depan keluarga Brama.Namun Brama tidak seperti dulu. Ia datang bukan hanya dengan janji. Tapi juga dengan tindakan. Ia mengunjungi rumah, menyapa orangtuanya, dengan sangat ramah.Bahkan memuji masakan ibunya meski dia kuran

  • Gelora Cinta Pria Arogan   149. Tanpa Paksaan

    “Aku nggak mau bohong lagi,” ucap Rinjani lirih, duduk di hadapan kedua orangtuanya di ruang tamu. Malam itu udara terasa berat, seperti ada dinding tak kasat mata di antara mereka."Sebenarnya sebelum bercerai, Brama mencoba bicara tapi dia baru serius waktu aku tahu aku pisah tadi.” Rinjani berusaha membentuk citra baik Brama di depan orangtuanya.Dia ingin perlahan jujur pada orangtuanya kalau kemungkinan dia dan Brama itu kembali sama sekali tidak tertutup.Orangtuanya saling pandang. Ayahnya menghela napas panjang sebelum berbicara dengan suara yang tak biasa lembut."Nak, tidak semua cinta harus berakhir di pelaminan. Kegagalan ini harus jadi pelajaran."Rinjani menatap ibunya Kata-kata itu begitu pelan tapi seperti hantaman. Ia tahu, maksud Ibu bukan untuk meremehkan perasaannya, tapi untuk mengingatkan bahwa hidup bukan hanya soal rasa, tapi juga pilihan dan konsekuensi.“Ibu dan ayah cuma berharap,” sambung ayah dengan suara berat, “kegagalan kemarin bisa bikin kamu lebih ha

  • Gelora Cinta Pria Arogan   148. Hati ke Hati

    Brama tak segera menjawab. Dia menatap lurus ke mata ayah Rinjani."Aku bisa, Om!" Kalimat itu diucapkan dengan keyakinan baja. "Selama Rinjani menerimaku, status apapun itu, aku nggak masalah." Ibu Rinjani meletakkan tangannya di paha. "Bagaimana dengan orangtuamu? Apakah mereka merestui hubungan ini?"Mereka masih mengingat jelas, reaksi orangtua Brama saat tahu tentang hubungan itu. Mudah dibayangkan, kalau mereka tidak akan dengan mudah berubah pikiran.Brama menghela napas halus. "Mama sduah membebaskan pilihanku." Ada jeda singkat sebelum dia melanjutkan, "Dan papa ... pendapatnya tidak mempengaruhi keputusanku."Radit yang duduk di sudut ruangan mengangkat alis. "Wah, berani sekali." Ada nada sindiran di suaranya.Sikap Radit terhadap Brama memang masih sangat ambigu. Terkadang, dia terkesan mendukung Brama, tapi terkadang masih terasa kalau dia belum sepenuhnya bisa menerima keberadaan Brama di hidup Rinjani.Setelah membangun sendiri usahanya dia semakin sadar betapa jauh

  • Gelora Cinta Pria Arogan   147. Uninterested

    Orangtuanya yang turun lebih dulu sudah menyambut Brama dengan sikap bingung. Rinjani bisa melihat dari dalam mobil bagaimana Brama menyapa mereka dengan hormat.Sementara itu, Radit mematikan mesin mobil dan langsung membuka bagasi belakang untuk membawa semua barang Rinjani.Dengan ragu, Rinjani ikut turun dari dalam mobil, dan melangkah kaku ke arah Brama. Dia tidak tahuh harus mengucapkan apa."Rinjani? Lama tidak bertemu," sapa Brama dengan nada datar yang sempurna, seolah mereka memang hanya kenalan biasa. Sebuah senyum tipis sopan terukir di bibirnya.Rinjani nyaris tersedak melihat akting pria itu. Dasar aktor ulung, pikirnya sambil memaksa senyum kaku. “Hai ....”Jadi, begini maksudnya mendekati orangtuanya tanpa memberitahu kalau mereka bersama?Mereka harus berbohong lagi?Sungguh Rinjani sudah lelah. Dia tahu, satu kebohongan harus ditutupi dengan kebohongan lainnya, dan akhirnya sama sekali tidak baik.Masalah perceraiannya dengan Jagat adalah salah satu contohnya. Karena

  • Gelora Cinta Pria Arogan   Skandal Pelecehan

    ***Lighting dan kamera tertuju ke arahnya membuat Brama kurang nya,an. Dia menegakkan tubuhnya, di sofa hitam. Wajahnya tenang, meski pertanyaan yang dilontarkan pewawancara itu.“Itu tadi, semua insight yang bisa kita dapatkan dari Brama Abiyasa. Kiranya bisa bermanfaat untuk anak-anak muda ya

  • Gelora Cinta Pria Arogan   Kejujuran Hati

    Rinjani mengabaikan Brama hingga tiba di apartemennya. Mengabaikan tatapan tajam dari pria itu ke arahnya. Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Rinjani menggenggam setir dengan erat, Saat sampai di apartemen Brama dia membawa mobil pria itu ke parkiran dan mematikan mesinnya.“Ng

  • Gelora Cinta Pria Arogan   Wajah Memelas

    Rinjani tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala. Tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan itu.Dia sendiri tidak mengerti hatinya saat ini. Tapi di seberang telepon, Brama sudah mendengar cukup.“Ada panggilan masuk. Aku ke depan dulu." dia berpura-pura, lalu menempelkan ponsel itu di teli

  • Gelora Cinta Pria Arogan   Resiko Brama

    Brama terdiam sejenak, matanya menyipit saat mendengar pertanyaan Andre. "Kamu serius?" suaranya rendah, hampir seperti geram.Andre tersenyum culas, dia tahu ucapannya berhasil menarik perhatian Brama. "cuti berbayar dua minggu?”Brama menggerutu tidak sabar. "Deal! Sekarang jelaskan!"Andre akh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status