Share

Bab 3

last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-02 11:39:27

Dania pulang ke rumah kontrakannya dengan langkah tertatih. Matanya sembab, sudah terlalu lama menangis hingga air matanya kini kering. Wajahnya pucat pasi, sementara kedua tangannya tak pernah lepas dari perutnya yang mulai membesar.

Perjalanan menuju kontrakan kecil itu terasa begitu panjang. Satu harapan dalam hatinya, ia hanya ingin anak dalam kandungannya tetap aman dan selamat di tengah badai yang sedang menerpa hidupnya.

“Tolong kuat, Nak … Mama janji akan terus berjuang,” bisiknya, suaranya bergetar di tengah udara malam yang menusuk.

Sesampainya di rumah, kontrakan sederhana itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu temaram di dapur hanya memantulkan bayangan tubuhnya yang kurus.

Ia duduk di kursi reyot sambil menatap kosong meja makan yang kosong. Perutnya kembali berteriak lapar, meski ia mencoba mengabaikannya.

Ia berjalan gontai ke arah tempat sampah dapur. Tangannya gemetar ketika ia meraih bungkusan makanan yang siang tadi sempat ia makan dan dibuang suaminya.

Bau anyir mulai tercium, membuat Dania mual, namun ia tak punya pilihan. Ia membuka bungkus itu, menghela nafas panjang, lalu memutuskan untuk memakan sisa makanan tersebut.

“Maaf ya, Nak. Mama hanya bisa kasih makan kamu seadanya,” ucapnya dengan suara lirih.

Air mata yang tadi sudah kering kini pecah kembali. Seumur hidup, inilah pertama kalinya Dania memakan makanan yang sudah tak layak, bahkan sudah dikerubungi lalat di tong sampah.

****

Keesokan harinya, video saat Reno membela habis-habisan selingkuhannya mendadak viral di media sosial. Semua orang membicarakannya.

Ketika Davin dan Axel baru saja sampai di kantor pagi itu, berita itu menyebar dengan cepat. Namun tak seorang pun berani menghadap langsung pada Axel atau Davin untuk menyampaikan kabar itu.

Meski begitu, mereka tetap mengetahuinya. Davin, yang lebih emosional, langsung murka. Ia merasa darahnya mendidih begitu mengetahui adiknya diperlakukan sekejam itu.

“Aku harus balas perlakuannya sekarang juga!” gumam Davin dengan nada tajam. Tangannya mengepal kuat, matanya penuh api amarah.

Namun Axel yang duduk di sampingnya segera mengangkat tangan sebagai isyarat agar adiknya menahan diri. Tatapan Axel tetap dingin dan tenang.

“Kenapa kau terus halangi aku?! Tak kasihan kah kau pada Dania?!” Davin membentak, napasnya memburu.

Axel hanya tersenyum miring, meski di balik senyum itu ada luka yang tak kalah dalam. “Semua ada waktunya, Davin. Jangan bertindak bodoh di hadapan gembel itu,” jawabnya dingin.

Belum sempat Davin kembali menimpali, pintu ruangan terbuka. Seorang pria berpakaian rapi melangkah masuk dengan penuh wibawa.

Wajahnya tampan, namun sorot matanya dingin dan tajam. Dia adalah Samudra, sosok yang selalu peduli dengan kehidupan Dania. Kehadirannya membuat ruangan itu seakan menegang seketika.

Axel dan Davin segera bangkit dari kursi mereka, memberi penghormatan kecil secara tak langsung.

“Sudah lihat video itu?” tanya Samudra dengan suara datar.

“Tentu saja,” jawab Axel singkat.

“Apa yang akan kau lakukan untuk Dania?” lanjut Davin bertanya.

Samudra tersenyum miring, seolah menikmati gejolak yang sedang melanda keduanya.

“Akan kunaikan jabatannya supaya lebih tinggi di dunia bisnis.”

Axel dan Davin saling berpandangan, kening mereka berkerut bingung. Ada tanda tanya besar yang menggantung di kepala keduanya.

“Siapa yang kau maksud akan naik jabatan?” tanya Axel, akhirnya membuka suara.

Samudra membenahi dasinya, lalu dengan santai duduk di salah satu kursi. Ia menyilangkan kaki, tubuhnya bersandar santai namun penuh wibawa.

“Tentu saja Reno. Dia ternyata bekerja di salah satu perusahaan cabang Angkara Mitra Group. Dan tentu saja dia tak kenal padaku. Itu poin pentingnya,” jawabnya tenang.

Davin spontan melotot, “Apa kau sudah gila? Dia sudah mempermalukan Dania! Dan kau malah ….”

Samudra mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Davin. “Kalian harus belajar melihat lebih jauh. Akan kubuat dia melayang tinggi dengan jabatan baru itu. Semakin dia melambung, semakin besar pula tekanan yang akan menghantamnya. Dan ketika itu terjadi, Dania akan semakin tak kuat dengan posisinya. Pada akhirnya, dia akan kembali … ke rumah kalian.”

Kalimat itu membuat Axel mengangguk perlahan. Senyum tipis menghiasi wajahnya, seolah ia memahami strategi besar yang dimainkan Samudra.

Sementara itu, Davin masih menahan amarah, meski perlahan ia pun menyadari ada logika di balik langkah itu.

Membiarkan Reno naik, berarti membiarkannya jatuh dari ketinggian suatu saat nanti. Dan di saat itulah, mereka akan berada di sisi Dania untuk menopangnya kembali.

Ruangan itu dipenuhi keheningan. Hanya ada suara detak jam yang terasa begitu jelas. Axel dan Davin menatap Samudra dengan perasaan campur aduk, antara bangga sekaligus kagum.

****

Pagi itu, seperti biasa, Dania mengawali harinya bukan dengan sesuatu yang menenangkan, melainkan dengan amarah Reno yang meledak-ledak.

Lelaki itu berjalan mondar-mandir di ruang tamu, wajahnya kusut, sementara Dania yang masih pucat berusaha menyiapkan sarapan sederhana.

Aroma nasi hangat dan sayur bening semestinya cukup menenangkan, namun tidak untuk Reno yang selalu merasa tidak puas.

“Kenapa cuma ini yang kau masak? Aku ingin sarapan roti dengan susu, bukannya makanan kampung begini!” bentaknya lantang, membuat tubuh Dania sedikit gemetar.

Dania menunduk, mencoba bersuara tenang. “Maaf, Ren. Aku tidak punya uang lebih untuk membeli semua yang kau inginkan. Lagi pula, makanan ini sehat untukmu.”

Namun ucapan itu justru menyulut bara di dalam dada Reno. Ia melangkah cepat, lalu dengan kasar menjambak rambut istrinya. Rambut hitam Dania terulur kasar di genggamannya, membuat wanita itu meringis kesakitan.

“Lepas, Ren … sakit …,” lirih Dania, tangannya berusaha melepaskan cengkraman itu.

Namun Reno jauh lebih kuat, sementara tubuh Dania semakin rapuh karena kelelahan dan kandungan yang kian besar.

Tatapan Reno penuh amarah, nafasnya memburu. “Aku sudah muak dengan dirimu, Dania. Tapi … masih kubutuhkan namamu supaya aku bisa sukses di dunia bisnis.”

Ucapan itu menusuk hati Dania lebih dalam daripada cengkeraman kasar di rambutnya. Air matanya kembali luruh.

“Jahat kamu, Ren! Setelah semuanya kukorbankan untukmu, ini yang kudapat?” suaranya pecah, serak, penuh luka.

Reno mendengus, menolak rasa bersalah sedikit pun. Justru kalimat itu membuat amarahnya semakin meluap. Tangannya hampir terangkat hendak menampar, ketika tiba-tiba ponselnya berdering nyaring di meja ruang tamu.

Reno melepaskan rambut Dania dengan kasar, mendorong tubuh wanita itu hingga terhuyung ke lantai.

Dengan gerakan tergesa, Reno meraih ponsel itu. Wajahnya yang tadinya garang seketika berubah, matanya berbinar saat mendengar suara di seberang.

“Ya, saya segera ke kantor!” jawabnya cepat, nada suaranya kini penuh antusias.

Reno menutup telepon itu, lalu menoleh sekilas pada Dania yang masih terduduk di lantai sambil memegangi perutnya.

Senyum puas tersungging di bibirnya. “Hari ini adalah hari besar bagiku. Aku akan dilantik, naik jabatan! Kau dengar itu, Dania? Aku berhasil!”

Tanpa menunggu jawaban, Reno meraih jasnya dan melangkah keluar rumah dengan langkah penuh kebanggaan. Pintu kontrakan dibanting keras hingga meninggalkan gema panjang.

Keheningan menyelimuti ruangan. Dania masih terduduk di lantai, tubuhnya lemas. Tangannya mengusap perutnya perlahan, seolah menenangkan bayi dalam kandungannya.

“Sabar ya, Nak … sabar. Semua ini pasti akan berlalu,” ucapnya lirih.

Saat ia mencoba bangkit, suara deru mesin mobil terdengar di luar kontrakan. Dania menoleh heran. Dari jendela kecil, ia melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumahnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 48

    Julian berdiri di balik kegelapan lorong, memegang ponselnya yang baru saja selesai merekam. Wajahnya tak setenang yang Maria lihat tadi. Ada senyum kecil yang menyeringai tipis.“Permainanmu semakin menarik, Maria,” gumamnya.Ia menutup file rekaman dan bergerak cepat kembali ke kamar mereka. Namun ketika ia melangkah, lantai kayu berdecit pelan. Maria mendongak tajam. Ia khawatir jika ada seseorang yang berani bermain api dengannya di rumah itu.“Siapa di sana?” serunya.Lorong sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar. Maria keluar dari kamar kecil itu, tatapannya menyisir seluruh lantai dua seperti mata predator yang mencari mangsa. Tak ada siapa pun. Hanya ketenangan palsu yang menutupi kecurigaan dalam dadanya.“Aneh …” gumamnya.Ia kembali ke kamar utama. Ketika pintu dibuka, Julian sudah terbaring dengan mata terpejam, napasnya teratur seperti orang yang benar-benar tertidur.Maria menatapnya lama. Semua terlihat aneh, tapi ia tak menemukan alasan kuat untuk mencurigainya. Ia me

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 47

    Langit malam di atas rumah besar itu tampak gelap pekat, tapi suasana di ruang kerja lantai dua justru hangat oleh cahaya lampu yang kuning redup. Samudra yang semula menunduk pada tumpukan dokumen langsung menegakkan tubuh ketika pintu terbuka perlahan.Viska masuk dengan anggun, membawa bau parfum lembut yang langsung memenuhi ruangan. Wanita itu menatap putranya dengan senyum hangat yang tak pernah gagal membuat Samudra merasa dihargai.“Bagaimana hari ini? Dania sehat?” tanya Viska sambil melepas mantel panjangnya. “Mama sudah lama tak mengunjunginya.”Pertanyaan itu saja sudah cukup membuat senyum tipis Samudra muncul tanpa ia sadari. Ingatannya masih segar, tatapan Dania, pipinya yang memerah, dan momen ketika kotak cincin itu ia letakkan di meja kerja Dania, tanpa kata-kata resmi namun penuh makna.“Dania menerima kotak cincin itu, Mah,” jawab Samudra pelan namun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Aku nggak memaksa dia untuk jawab sekarang. Melihat dia menerima itu saja …

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 46

    Maria menatapnya tajam. “Kau tak seharusnya ikut campur urusanku dan keluarga Hartono. Kau bisa kulenyapkan dengan mudah kalau aku mau.”Alih-alih mundur, Reno justru mendekat lebih jauh hingga jarak mereka hanya satu langkah. Ia menunduk sedikit, suaranya nyaris berbisik di telinga Maria. “Silakan, Maria. Tapi sebelum kau melakukannya, ingat sesuatu … aku memegang semua yang bisa menjatuhkanmu.”Maria terdiam, pupil matanya menyempit. “Apa maksudmu?”Reno tersenyum licin. “Kau pikir aku bodoh? Tak perlu bawa dunia bisnis dalam persaingan kita. Kehidupan pribadimu ... aku tahu sesuatu tentang itu. Dan kalau aku kau, aku bisa adukan pada ayahmu tentang dukungan penuhmu pada perusahaan seseorang bernama ... Julian."Maria menelan ludah, mencoba menahan gemetar. “Omong kosong! Kau tidak punya bukti!”Reno mendekat lagi, kali ini menatapnya langsung. “Aku punya. Bukti tak seharusnya kau lihat sekarang, yang pasti ... aku bisa lumpuhkan kehidupan pribadimu secara perlahan. Jadi jangan cob

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 45

    Samudra mengelus kening Dania setelah mengecupnya cukup lama. Sentuhannya lembut, tapi cukup untuk meninggalkan sesuatu yang berdenyut pelan di dada wanita itu. “Tidur nyenyak malam ini, Nona,” ucapnya lembut, seolah menutup malam itu dengan kehangatan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.Dania tersenyum kecil, matanya menatap Samudra seperti enggan melepas. “Terima kasih,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. Samudra hanya mengangguk, menatapnya sesaat lebih lama sebelum benar-benar berbalik menuju pintu. Ia tahu, masih banyak hal belum terucap di antara mereka, terutama tentang hubungan yang perlahan tumbuh tanpa pernah mereka rencanakan.Begitu pintu tertutup, Dania masih berdiri di tempat. Hujan di luar masih belum berhenti, menetes pelan di kaca jendela. Tangannya menggenggam kotak cincin itu erat-erat, seolah benda kecil itu punya arti besar yang tak bisa ia ungkapkan pada siapa pun.“Dia benar-benar tulus .…” gumamnya pelan, lalu tersenyum sendiri sebelum akhirnya be

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 44

    Hening menyelimuti keduanya. Suara detik jam di dinding terdengar pelan, bersaing dengan deru angin malam yang berhembus melalui celah balkon. Lampu kota dari kejauhan menyorot lembut ke wajah Dania, membuat garis rahangnya tampak tegas namun anggun. Ia berdiri dengan kedua tangan masih menggenggam kotak cincin kecil itu, seolah tak ingin melepasnya. Sementara Samudra, hanya mampu menatap. Pandangan matanya dalam, menelusuri setiap detail wajah wanita yang selama ini hanya bisa ia kagumi diam-diam.Ia tersenyum samar. “Kau tahu,” ucap Samudra pelan, “di antara semua hal gila yang terjadi di dunia bisnis, aku baru sadar… hal paling berbahaya adalah ketika aku mulai memperhatikanmu terlalu dalam.”Dania menoleh, keningnya berkerut, tapi senyum kecil muncul tanpa bisa ia tahan. “Berbahaya karena aku bisa menghancurkan kariermu?” tanyanya setengah bercanda, namun nada suaranya terasa getir.Samudra menggeleng. “Berbahaya karena aku bisa kehilangan fokus. Dan kehilanganmu akan lebih menya

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 43

    Samudra tersenyum tipis. “Lebih tepatnya … pengemis. Tapi bukan minta uang, hanya minta perhatian kecil dariku.”Axel tertawa pendek. “Kalau urusannya Reno, jangan ajak aku. Aku gak mau energi buruknya nular ke aku.”Samudra menepuk bahunya sekilas dan terus berjalan tanpa menoleh lagi.Di halaman depan, Reno sudah menunggu. Ia bersandar di mobilnya, r*kok lain di tangan, wajahnya tampak lelah namun penuh dendam. Begitu melihat Samudra mendekat, ia menyeringai sinis.“Apalagi?” tanya Samudra datar.Reno mengangkat wajahnya dengan senyum miring. “Jangan songong dulu. Aku datang karena punya informasi penting.” Ia menatap sekeliling seolah memastikan Dania tak ada. “Mana Dania?”“Dia tak perlu turun tangan. Katakan saja apa informasinya,” jawab Samudra.Reno menegakkan badan, menatap Samudra tajam. “Informasi penting ini … bisa mengubah posisi saya. Bisa mengembalikan jabatan saya di perusahaanmu. Tapi kalau kamu gak kasih apa-apa ...”Samudra memotong cepat, suaranya tegas. “Kalau tida

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status