공유

Bab 4

last update 최신 업데이트: 2025-09-02 11:39:54

Seorang pria berpakaian rapi turun dari mobil mewah yang baru saja berhenti di depan rumah sederhana itu. Jas hitam yang ia kenakan tampak pas membalut tubuh tegapnya, sepatu kulitnya berkilat, dan wajahnya dihiasi senyum ramah. Tatapannya berwibawa, namun tetap mengundang rasa percaya.

Dania, yang baru saja keluar rumah karena penasaran dengan suara mobil mewah itu, tertegun sejenak. Rumah sederhananya nyaris tak pernah disinggahi tamu, apalagi tamu berpenampilan sekelas pria ini. Dengan langkah hati-hati, ia mendekat.

“Nona Dania?” sapa pria itu sopan, membungkukkan sedikit tubuhnya.

Dania mengangguk ragu. “Ya, dengan saya sendiri.”

“Saya datang untuk menjemput Non Dania. Ada undangan sarapan dari seseorang.”

Alis Dania berkerut. “Dari siapa, Pak?”

Pria itu hanya tersenyum, tidak menjawab dengan jelas. “Nanti, Non Dania akan tahu.”

Dania terdiam. Hatinya menimbang-nimbang. Sempat muncul rasa takut, tetapi keanggunan sikap pria itu menepis sebagian kegelisahannya.

Ia berpikir, mungkinkah kedua kakaknya yang mengundang? Axel atau Davin. Meski hubungannya renggang dengan mereka, kemungkinan itu membuat hatinya sedikit hangat.

Akhirnya Dania menurut. Ia menaiki mobil mewah itu, merasa tubuhnya seakan ditarik kembali pada kehidupan yang dulu sempat ia rasakan, nyaman, aman, dan penuh kemewahan.

Sepanjang perjalanan, ia duduk tenang sambil memandang keluar jendela. Kota terasa berbeda dari balik kaca mobil itu, lebih indah, lebih lapang walaupun kemacetan selalu menjadi pemandangan setiap kali Dania berkeliling dengan mobil mewahnya dulu.

Tanpa terasa, mobil berhenti di halaman sebuah restoran mewah. Bangunan tinggi itu tampak elegan dengan kaca-kaca besar yang berkilau diterpa cahaya matahari pagi. Jantung Dania berdegup lebih cepat.

Dengan sopan, pria itu membukakan pintu. “Silahkan, Nona.”

Dania melangkah turun, menahan rasa kagum yang tumbuh di dadanya. Aroma kopi dan roti panggang tercium samar dari dalam restoran. Pria pengantar itu mengawalnya masuk, menyusuri lorong yang tenang hingga mereka berhenti di depan sebuah pintu ruangan VIP.

“Ini … ruangan makannya?” tanya Dania memastikan.

“Tentu saja, Nona. Tuan sudah menunggu di dalam.”

Dania menahan napas. Axel dan Davin memang selalu langganan sarapan di tempat mewah seperti ini, menambah keyakinan dalam hatinya bahwa yang menunggunya di dalam sana ialah kedua kakaknya.

Di dalam, seorang pria tampak duduk membelakangi pintu. Postur tubuhnya tegap, rambutnya rapi di bagian belakang namun sedikit acak di bagian depan. Dari punggungnya saja, Dania yakin itu Axel. Senyum mulai merekah di bibirnya. Namun, saat pria itu beranjak berdiri dan berbalik, senyum Dania langsung lenyap.

“Samudra …?” gumamnya tak percaya.

Pria itu tersenyum tipis, matanya tajam namun hangat. “Selamat pagi, Nona manis. Duduklah.” Ia menarik salah satu kursi untuk Dania.

Dengan ragu, Dania menuruti.

“Aku ….” ia hendak bicara, tapi Samudra mengangkat tangannya.

“Jangan dulu. Kamu dan calon anakmu pasti lapar. Makanlah dulu. Semua makanan ini sudah kupesan untukmu.”

Dania menunduk, jantungnya tak karuan. Namun aroma makanan yang memenuhi ruangan membuat perutnya meronta.

Ia menatap meja, ada sup hangat, roti lembut, hingga daging panggang. Semua tampak lezat, berbeda jauh dari lauk seadanya yang biasa ia makan di rumah.

Pelan-pelan, Dania mulai menikmati suapan pertamanya. Rasa hangat menjalar ke tubuhnya, seakan menenangkan jiwanya yang lelah karena menangis semalaman. Di sisi lain, Samudra hanya menatapnya dengan senyum tipis.

“Kenapa tidak makan?” tanya Dania setelah beberapa suap.

“Sudah kenyang. Kamu habiskan saja kalau mau.”

Dania mengangguk, tak melanjutkan pertanyaan. Baginya, kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Ia makan dengan lahap, mencoba tak banyak bertanya pada pria yang sempat ia tolak cintanya sebelum pernikahannya dan Reno terjadi.

Namun, tak lama setelah itu Samudra angkat bicara. “Kapan kamu akan kembali pada Axel dan Davin?”

Dania sontak berhenti menyuap. Pandangannya membeku. “Kenapa bertanya seperti itu?” suaranya pelan, nyaris tak terdengar.

“Jangan egois, Dania. Mau sampai kapan kamu mempertahankan pernikahanmu hanya karena kamu sedang hamil? Justru karena kamu hamil, kamu harus hidup bahagia. Kau berhak berkecukupan, bukan menderita seperti sekarang.”

Kata-kata itu menusuk hati Dania. Ia meneguk air, menelan salivanya dengan susah payah. Ada yang ingin ia bantah, tapi bibirnya kaku. Ia tak ingin perasaan campur aduknya semakin kacau.

Akhirnya, ia bangkit. “Terima kasih untuk makanannya. Aku harus segera pulang.”

Samudra hanya menatapnya, tidak berniat menahan. Tatapannya dingin, namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik matanya, tekad yang tak akan pernah pudar walaupun Dania terus menghindar.

****

Saat Dania sampai di rumah, suasana jauh berbeda dari kehangatan restoran tadi. Rumah sederhana itu penuh dengan aroma alkohol dan asap rokok. Reno sudah ada di sana, dengan langkah gontai dan mata merah.

Yang lebih mengejutkan, Maria ada bersamanya. Tanpa malu, mereka bercumbu di ruang tengah, tepat di hadapan Dania.

“Reno!” suara Dania tercekat, matanya panas oleh rasa marah dan sakit hati.

Reno hanya melirik malas. “Kau diam saja, Dania. Aku sedang bersenang-senang.”

Maria tersenyum sinis, menatap Dania dengan tatapan puas. “Reno dan aku sedang merayakan jabatan barunya. Kami hanya bertingkah … sedikit panas karena alkohol yang baru saja kami nikmati.”

“Dasar perempuan tak tahu malu!” Dania bergetar, menahan air matanya.

Maria tertawa. “Kalau aku tak tahu malu, kau yang terlalu bodoh bertahan dengannya.”

Perdebatan pun pecah. Kata-kata tajam meluncur, menyayat hati. Reno yang mabuk tak tahan mendengar suara Dania meninggi. Tangannya melayang, menampar wajah istrinya keras-keras.

“Diam kau, Dania! Jangan kurang ajar!”

Dania terjatuh, perih merambat di pipinya. Maria hanya berdiri sambil tersenyum puas. Setelah puas melihat penderitaan Dania, Maria akhirnya pamit.

“Aku pulang dulu, Ren. Sampai jumpa nanti malam.”

Reno terhuyung lalu duduk di kursi ruang tengah, kepalanya berat, napasnya terengah. Tak lama, ia terlelap di sana, tak berdaya.

Dania menatapnya dari ambang pintu kamar. Kali ini, ia memilih tak peduli. Luka di wajahnya masih perih, hatinya robek, namun ucapan Samudra kini bergema di kepalanya.

Benar. Ia terlalu egois, terlalu cinta dan terlalu membiarkan dirinya terjebak dalam penderitaan. Dengan langkah berat, Dania masuk ke kamar.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap perutnya yang mulai membesar. Air mata menetes, bercampur dengan rasa takut dan rindu pada dunia yang dulu selalu berpihak baik padanya.

Malam semakin larut. Reno masih terlelap di kursi panjang dengan suara dengkuran halus. Kesempatan itu akhirnya dimanfaatkan Dania.

Perlahan, ia mengemasi beberapa helai pakaian ke dalam tas kecil. Tangannya gemetar, tapi tekadnya bulat. Dengan uang recehan yang ia simpan, ia akan pergi malam itu juga.

Dania melangkah pelan melewati ruang tengah. Sesaat setelah berhasil keluar dari rumah itu, ia berjalan sedikit cepat. Hanya satu tujuan dalam kepalanya, kembali pada Axel dan Davin, walaupun entah mereka akan menerimanya dengan baik seperti dulu lagi atau tidak.

“Selamat tinggal, Reno. Kita selesai sampai di sini,” gumam Dania. Raut wajahnya terlihat dingin, penuh tekad.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 48

    Julian berdiri di balik kegelapan lorong, memegang ponselnya yang baru saja selesai merekam. Wajahnya tak setenang yang Maria lihat tadi. Ada senyum kecil yang menyeringai tipis.“Permainanmu semakin menarik, Maria,” gumamnya.Ia menutup file rekaman dan bergerak cepat kembali ke kamar mereka. Namun ketika ia melangkah, lantai kayu berdecit pelan. Maria mendongak tajam. Ia khawatir jika ada seseorang yang berani bermain api dengannya di rumah itu.“Siapa di sana?” serunya.Lorong sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar. Maria keluar dari kamar kecil itu, tatapannya menyisir seluruh lantai dua seperti mata predator yang mencari mangsa. Tak ada siapa pun. Hanya ketenangan palsu yang menutupi kecurigaan dalam dadanya.“Aneh …” gumamnya.Ia kembali ke kamar utama. Ketika pintu dibuka, Julian sudah terbaring dengan mata terpejam, napasnya teratur seperti orang yang benar-benar tertidur.Maria menatapnya lama. Semua terlihat aneh, tapi ia tak menemukan alasan kuat untuk mencurigainya. Ia me

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 47

    Langit malam di atas rumah besar itu tampak gelap pekat, tapi suasana di ruang kerja lantai dua justru hangat oleh cahaya lampu yang kuning redup. Samudra yang semula menunduk pada tumpukan dokumen langsung menegakkan tubuh ketika pintu terbuka perlahan.Viska masuk dengan anggun, membawa bau parfum lembut yang langsung memenuhi ruangan. Wanita itu menatap putranya dengan senyum hangat yang tak pernah gagal membuat Samudra merasa dihargai.“Bagaimana hari ini? Dania sehat?” tanya Viska sambil melepas mantel panjangnya. “Mama sudah lama tak mengunjunginya.”Pertanyaan itu saja sudah cukup membuat senyum tipis Samudra muncul tanpa ia sadari. Ingatannya masih segar, tatapan Dania, pipinya yang memerah, dan momen ketika kotak cincin itu ia letakkan di meja kerja Dania, tanpa kata-kata resmi namun penuh makna.“Dania menerima kotak cincin itu, Mah,” jawab Samudra pelan namun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Aku nggak memaksa dia untuk jawab sekarang. Melihat dia menerima itu saja …

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 46

    Maria menatapnya tajam. “Kau tak seharusnya ikut campur urusanku dan keluarga Hartono. Kau bisa kulenyapkan dengan mudah kalau aku mau.”Alih-alih mundur, Reno justru mendekat lebih jauh hingga jarak mereka hanya satu langkah. Ia menunduk sedikit, suaranya nyaris berbisik di telinga Maria. “Silakan, Maria. Tapi sebelum kau melakukannya, ingat sesuatu … aku memegang semua yang bisa menjatuhkanmu.”Maria terdiam, pupil matanya menyempit. “Apa maksudmu?”Reno tersenyum licin. “Kau pikir aku bodoh? Tak perlu bawa dunia bisnis dalam persaingan kita. Kehidupan pribadimu ... aku tahu sesuatu tentang itu. Dan kalau aku kau, aku bisa adukan pada ayahmu tentang dukungan penuhmu pada perusahaan seseorang bernama ... Julian."Maria menelan ludah, mencoba menahan gemetar. “Omong kosong! Kau tidak punya bukti!”Reno mendekat lagi, kali ini menatapnya langsung. “Aku punya. Bukti tak seharusnya kau lihat sekarang, yang pasti ... aku bisa lumpuhkan kehidupan pribadimu secara perlahan. Jadi jangan cob

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 45

    Samudra mengelus kening Dania setelah mengecupnya cukup lama. Sentuhannya lembut, tapi cukup untuk meninggalkan sesuatu yang berdenyut pelan di dada wanita itu. “Tidur nyenyak malam ini, Nona,” ucapnya lembut, seolah menutup malam itu dengan kehangatan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.Dania tersenyum kecil, matanya menatap Samudra seperti enggan melepas. “Terima kasih,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. Samudra hanya mengangguk, menatapnya sesaat lebih lama sebelum benar-benar berbalik menuju pintu. Ia tahu, masih banyak hal belum terucap di antara mereka, terutama tentang hubungan yang perlahan tumbuh tanpa pernah mereka rencanakan.Begitu pintu tertutup, Dania masih berdiri di tempat. Hujan di luar masih belum berhenti, menetes pelan di kaca jendela. Tangannya menggenggam kotak cincin itu erat-erat, seolah benda kecil itu punya arti besar yang tak bisa ia ungkapkan pada siapa pun.“Dia benar-benar tulus .…” gumamnya pelan, lalu tersenyum sendiri sebelum akhirnya be

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 44

    Hening menyelimuti keduanya. Suara detik jam di dinding terdengar pelan, bersaing dengan deru angin malam yang berhembus melalui celah balkon. Lampu kota dari kejauhan menyorot lembut ke wajah Dania, membuat garis rahangnya tampak tegas namun anggun. Ia berdiri dengan kedua tangan masih menggenggam kotak cincin kecil itu, seolah tak ingin melepasnya. Sementara Samudra, hanya mampu menatap. Pandangan matanya dalam, menelusuri setiap detail wajah wanita yang selama ini hanya bisa ia kagumi diam-diam.Ia tersenyum samar. “Kau tahu,” ucap Samudra pelan, “di antara semua hal gila yang terjadi di dunia bisnis, aku baru sadar… hal paling berbahaya adalah ketika aku mulai memperhatikanmu terlalu dalam.”Dania menoleh, keningnya berkerut, tapi senyum kecil muncul tanpa bisa ia tahan. “Berbahaya karena aku bisa menghancurkan kariermu?” tanyanya setengah bercanda, namun nada suaranya terasa getir.Samudra menggeleng. “Berbahaya karena aku bisa kehilangan fokus. Dan kehilanganmu akan lebih menya

  • Gemerlap Dendam Sang Pewaris   Bab 43

    Samudra tersenyum tipis. “Lebih tepatnya … pengemis. Tapi bukan minta uang, hanya minta perhatian kecil dariku.”Axel tertawa pendek. “Kalau urusannya Reno, jangan ajak aku. Aku gak mau energi buruknya nular ke aku.”Samudra menepuk bahunya sekilas dan terus berjalan tanpa menoleh lagi.Di halaman depan, Reno sudah menunggu. Ia bersandar di mobilnya, r*kok lain di tangan, wajahnya tampak lelah namun penuh dendam. Begitu melihat Samudra mendekat, ia menyeringai sinis.“Apalagi?” tanya Samudra datar.Reno mengangkat wajahnya dengan senyum miring. “Jangan songong dulu. Aku datang karena punya informasi penting.” Ia menatap sekeliling seolah memastikan Dania tak ada. “Mana Dania?”“Dia tak perlu turun tangan. Katakan saja apa informasinya,” jawab Samudra.Reno menegakkan badan, menatap Samudra tajam. “Informasi penting ini … bisa mengubah posisi saya. Bisa mengembalikan jabatan saya di perusahaanmu. Tapi kalau kamu gak kasih apa-apa ...”Samudra memotong cepat, suaranya tegas. “Kalau tida

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status