Share

Bab 3

Penulis: Fryda
Ponsel mereka berdua diletakkan di atas meja. Tiga detik kemudian, ponsel Veronica berdering. Dia tersenyum dan menekan tombol pengeras suara. Dari seberang sana langsung terdengar suara Jazli yang cemas, "Kamu di mana? Aman nggak? Aku datang sekarang juga."

Veronica menenangkannya, "Jangan panik, cuma terkilir. Aku sendiri juga bisa ke rumah sakit ...."

"Jangan bergerak, tunggu di tempat." Suara di seberang terdengar riuh. "Aku baru mendarat, dua puluh menit lagi sampai!"

Veronica meletakkan ponselnya, lalu tersenyum ke arah Helena. "Kamu kalah."

Helena menggigit bibirnya erat-erat, kukunya menghujam dalam ke telapak tangan.

Veronica mendorong selembar cek ke arahnya. "Seratus miliar. Anggap aku membeli ginjalmu. Aku nggak berutang apa pun padamu."

Setelah itu, dia bangkit dan berjalan keluar. Saat menuruni anak tangga, dia sengaja salah pijak dan terjatuh keras ke tanah, pergelangan kakinya langsung memerah dan membengkak.

Hanya dalam sepuluh menit, mobil Jazli mengerem mendadak di depan pintu.

Melihat Veronica duduk di pinggir jalan, Jazli panik sampai matanya memerah. Dia menggendong Veronica, seolah sedang memeluk harta paling berharga. Helena tidak ingin menangis, tetapi air matanya jatuh satu per satu menghantam permukaan meja.

Padahal, itu adalah akhir yang sudah diketahuinya sejak awal. Namun, hatinya tetap terasa seperti disayat pisau sampai hancur berdarah. Sebelum naik ke mobil, Veronica meliriknya dengan tatapan penuh provokasi.

Helena keluar dari kafe, melepas sepatu yang dulu dibelikan Jazli untuknya dan melemparkannya ke tempat sampah. Lalu, dia berjalan selangkah demi selangkah menuju rumah sakit dengan kaki telanjang.

Aspal yang kasar mengikis telapak kakinya, meninggalkan jejak-jejak kaki berdarah.

Kali ini, bayi di dalam perutnya sangat patuh.

Saat operasi, dokter berulang kali mengonfirmasi keputusannya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan erat, membiarkan air matanya mengalir deras. Meski dadanya terasa terkoyak oleh rasa sakit, dia tidak menarik kembali keputusannya.

Setelah turun dari meja operasi, dia meletakkan bayinya ke dalam peti es yang sudah dipesan sebelumnya, lalu menitipkannya di rumah duka.

Saat pergi nanti, dia akan mengantarnya untuk dimakamkan.

Dua jam kemudian, barulah Helena menerima telepon dari Jazli.

"Sayang, kamu nggak apa-apa? Maaf tadi di pesawat aku nggak lihat pesanmu. Aku baru mendarat, sekarang sedang dalam perjalanan ...."

"Nggak perlu." Helena memotong kepanikan dan kepedulian palsunya. "Aku nggak apa-apa. Kamu urus saja urusanmu."

Di seberang sana hening selama dua detik, lalu terdengar suara Jazli yang terdengar merasa bersalah. "Maaf, Sayang. Aku membuatmu menderita. Tunggu aku selesaikan pekerjaan ini, nanti malam aku akan menemanimu dengan baik untuk menebus hari jadi kita."

Beberapa saat kemudian, pesan dari Veronica masuk.

[ Percaya nggak, asal aku menahannya, beberapa hari ke depan dia nggak akan pulang ke rumah. ]

Setengah jam kemudian, pesan dari Jazli masuk.

[ Maaf, Sayang. Ada proyek luar negeri yang bermasalah dan harus kutangani sendiri. Jaga dirimu dan anak kita dengan baik. Tunggu aku pulang. Aku mencintaimu. ]

Helena menatap dua kata "aku mencintaimu", lalu tersenyum sinis.

Ketukan pintu terdengar.

Asisten Jazli masuk membawa sekelompok orang. "Nyonya, ini hadiah hari jadi pernikahan yang dikirim Pak Jazli untuk Anda."

Berbagai barang mewah dan perhiasan diletakkan satu per satu, segera menumpuk di ruang tamu seperti sebuah bukit kecil. Helena tidak mengatakan sepatah kata pun, juga tidak memiliki keinginan untuk melihatnya.

Malam itu, dia kembali duduk termangu hingga fajar.

Beberapa hari berikutnya, pesan dari Veronica terus berdatangan. Semua unggahan media sosialnya ditangkap layar dan dikirimkan kepada Helena.

Jazli menggendongnya berjalan di tepi laut, membawanya ke puncak gunung untuk melihat meteor dan berdoa di bawah hujan bintang. Mereka pergi ke studio keramik membuat cangkir pasangan bersama-sama.

[ Semua ini adalah hal-hal yang selama ini ingin dilakukan Jazli bersamaku. Sekarang akhirnya dia mewujudkannya. ]

Helena teringat, semua hal itu pernah dia lakukan bersama Jazli.

Saat itu Helena bersandar di pelukannya, mendongak dengan mata berbinar menatapnya. "Kenapa kamu tahu begitu banyak hal romantis?"

Jazli menatapnya dengan sorot mata yang dalam. "Kalau kita punya lebih banyak kenangan romantis, nanti bisa dikenang sampai tua."

Pada saat itu, untuk siapa sebenarnya ketulusan dalam sorot matanya itu?

Veronica mengirim sebuah video. Di dalamnya, Jazli terlihat mabuk berat. Dia berbaring di pangkuannya sambil menelusuri alis dan matanya dengan ujung jari, pandangannya kabur dan penuh kemesraan. "Veronica, akhirnya aku benar-benar bersamamu. Aku sangat bahagia ...."

Tatapan matanya, kata-kata yang dia ucapkan, sama persis seperti pada malam pertama pernikahan mereka.

Saat itu, Helena percaya bahwa dirinya telah menikah dengan pria yang paling mencintainya di dunia, sekaligus pria yang paling layak dia cintai.

Tangan Helena gemetar. Tiba-tiba dia menghantamkan ponselnya dengan keras ke dinding. Dia menutup wajahnya, berjongkok di lantai, dan memeluk lututnya sambil menangis terisak-isak.

'Jazli, bagaimana kamu bisa bahagia? Atas dasar apa kamu pantas bahagia?'

Helena mengusap keras jejak air mata di wajahnya, lalu memungut kembali ponselnya. Setiap pesan yang dikirim Veronica dia cetak satu per satu dan disimpan. Termasuk rekaman percakapan di kafe hari itu, semuanya dia pindahkan ke alat perekam.

Saat dia pergi nanti, semua itu akan dijadikannya sebagai hadiah dan dia serahkan bersama-sama kepada Jazli.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 22

    Hati Jazli menegang. Dia segera teringat kejadian beberapa hari lalu ketika dia berkelahi dengan Adrian di depan klinik hingga masuk berita. Besar kemungkinan Veronica melihat berita itu dan berniat membalas dendam pada Helena!Sementara itu, Veronica telah tiba di bandara Kota Bridge. Wajahnya tertutup masker, rambutnya kering dan menguning. Dia mengenakan celana panjang dan atasan lengan panjang biasa, menutupi tubuhnya rapat-rapat, tetapi tetap terlihat kurus kerempeng.Saat dia membungkuk memungut tas yang terjatuh, terlihat jelas memar di pergelangan tangannya.Tatapannya suram dan penuh kebencian. Dia naik taksi dan langsung menuju klinik tempat Helena bekerja.Di perjalanan, dia terus mengingat potongan-potongan hidupnya selama tiga tahun terakhir. Keluarga Kartono bangkrut, ayahnya meloncat bunuh diri, ibunya hidup miskin melarat, sementara dirinya dikurung di rumah sakit jiwa dan disiksa siang malam.Kondisi mentalnya sudah lama tidak normal. Satu-satunya hal yang menopangnya

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 21

    Kedua pria itu berdiri di depan pintu mobil.Adrian menyerahkan secangkir kopi kepadanya. "Jazli, aku harap kamu nggak muncul di hadapan Helena lagi."Wajah Jazli menggelap. Dia menepis tangan Adrian dengan kasar. Kopi pun tumpah ke tanah. "Kamu punya hak apa?"Matanya memerah. Kedua tangannya mengepal. "Helena itu milikku! Dia hanya belum memaafkanku! Kami menjalani hubungan delapan tahun! Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali ke sisiku!"Jazli berbicara sendiri, seolah-olah sedang meyakinkan dirinya. "Helena mencintaiku! Cepat atau lambat, dia pasti akan memaafkanku!"Adrian hanya menatapnya dalam diam. Baru setelah Jazli selesai berbicara, dia membuka mulut. "Saat Helena meninggalkanmu dulu, dia menderita depresi berat. Setelah itu dia pernah mencoba bunuh diri dan aku yang menyelamatkannya."Wajah Jazli langsung pucat pasi. Dia tiba-tiba teringat kejadian ketika Helena mencabut bunga mawar di taman. Saat menggendongnya, Jazli menyadari berat badannya turun banyak. Namun, saat i

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 20

    "Aku yang menyuruhmu mencariku?" tanya Helena dengan suara dingin, lalu menyunggingkan senyuman sinis. "Jazli, kamu melakukan semua ini untuk diperlihatkan ke siapa?""Kita sudah lama cerai. Aku sudah mengatakan dengan sangat jelas agar kamu benar-benar enyah dari duniaku! Kenapa kamu masih muncul di hadapanku untuk membuatku muak?""Kamu nggak merasa sikapmu ini disebut cinta yang dalam, 'kan? Ini namanya merendahkan diri!"Mendengar kata-kata Helena, kepala Jazli terasa berdengung hebat. Dia tidak menyangka Helena memandangnya seperti ini, membuat tiga tahun pencariannya tampak seperti lelucon.Suaranya tercekat sedikit. "Helena, karena kamu, rambutku memutih dalam semalam ...."Pandangan Helena berhenti dua detik pada rambut putihnya dan tubuhnya yang kurus kering, lalu dia kembali mencibir dingin. "Itu akibat dari perbuatanmu sendiri."Jazli menatap ekspresi sinisnya. Hatinya seakan-akan disobek. Suaranya bergetar menahan sakit. "Helena, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku menci

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 19

    Saat itu, Helena baru saja meninggalkan tanah air. Pertama-tama, dia naik kapal pesiar ke Jepang, lalu berkeliling hingga sampai ke Eropa.Dia memiliki aset yang cukup, tetapi telah kehilangan tujuan hidup. Dia berkelana ke beberapa negara di Eropa, hingga perlahan tiba di Finlandia. Sebuah negara yang indah dan romantis, tetapi juga sangat menyesakkan hati.Helena menyewa sebuah homestay. Setiap hari dia duduk di depan jendela memandangi salju dan aurora. Pikirannya terus dipenuhi bayangan anaknya yang telah tiada, pernikahan yang gagal dan penuh tipu daya, serta ayahnya yang telah tiada. Hidupnya kehilangan jangkar. Dia benar-benar kehilangan dorongan untuk melangkah.Suatu kali setelah selesai melihat aurora, Helena tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju danau yang membeku. Saat air sedingin es perlahan menenggelamkan kepalanya, tiba-tiba seseorang melompat ke dalam air, menariknya dengan kuat ke arah daratan.Dia meronta dengan keras, tetapi orang itu menggenggamnya erat, tak mau me

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 18

    "Helena." Dengan mata memerah, Jazli memanggil pelan dengan suara tercekat.Perempuan yang semula menampilkan senyuman profesional itu seketika memasang ekspresi dingin. Dalam sekejap, semua kenangan yang sengaja dia bekukan menyeruak ke benaknya.Meskipun sudah menerima terapi psikologis berkali-kali, emosi Helena tetap bergolak saat ini. Namun, profesionalisme sebagai seorang dokter membuatnya menekan paksa seluruh emosinya.Hanya dalam sesaat, dia kembali mengenakan topeng profesional. "Silakan duduk, Pak Jazli. Konsultasi di bidang apa yang ingin Bapak lakukan?"Sikap memperlakukannya seperti pasien asing itu bagaikan pisau yang menusuk keras jantung Jazli. Nada suaranya sedikit bergetar. "Helena, aku mencarimu selama tiga tahun ...."Helena melirik jam tangannya. "Pak Jazli, kalau nggak ada masalah psikologis untuk dikonsultasikan, silakan pergi. Aku sebentar lagi ada janji dengan pasien lain."Mata Jazli semakin memerah. "Helena, beri aku beberapa menit saja ...."Helena menekan

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 17

    Di hadapannya adalah wajah yang asing.Jazli tertegun. Itu hanyalah seorang perempuan dengan punggung yang mirip.Suami perempuan itu berjalan di sampingnya. Melihat Jazli tak mau melepaskan tangannya, dia maju dan mendorong Jazli dengan keras. "Kamu mau apa?"Seolah-olah kehilangan tenaga, Jazli terdorong olehnya. Seluruh tubuhnya terguling menuruni anak tangga batu dan jatuh menghantam tanah dengan keras.Dia terbaring di tanah dengan tubuh berlumuran darah. Matanya menatap langit dengan tatapan kosong.Di detik-detik sebelum pingsan, di benaknya hanya ada satu pikiran. 'Helena, sebenarnya kamu di mana ....'Jazli mengalami gegar otak berat, dengan banyak patah tulang dan memar di sekujur tubuh. Dia masih ingin memaksakan diri untuk mencari Helena, tetapi orang tuanya yang datang segera memaksanya pulang.Ibunya memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. "Jazli, lihat dirimu sekarang seperti mayat hidup. Apa kamu mau menghancurkan hidupmu demi Helena? Sudah tiga bulan! Kamu harus kemba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status