Share

Bab 2

Author: Fryda
Hal pertama, dia mengeluarkan perjanjian perceraian yang dulu sudah ditandatangani Jazli terlebih dahulu saat mereka rujuk, lalu mengajukan perceraian ke kantor catatan sipil.

Hal kedua, dia mengajukan penghapusan seluruh identitasnya di dalam negeri. Karena Jazli takut dia melarikan diri setelah mengetahui kenyataan, maka Helena memutuskan untuk pergi sejauh mungkin sampai pria itu tidak akan pernah bisa menemukannya lagi.

Hal ketiga, melakukan induksi persalinan.

Bayi di dalam perutnya seolah punya firasat. Ia bergerak jauh lebih aktif daripada sebelumnya. Helena berdiri di depan pintu rumah sakit dengan pikiran yang kacau balau.

Sampai sebuah pesan dari nomor asing masuk ke ponselnya.

[ Aku Veronica. Kita bicara sebentar. ]

Helena melihat lokasi yang dikirimkan, lalu memilih untuk datang.

Di kafe, Veronica tampil dengan riasan sempurna dan wajah berseri. Dengan sikap santai, dia memainkan gelang di pergelangan tangannya. "Gelang pusaka Keluarga Ruslan yang bahkan nggak bisa kamu dapatkan meski Jazli rela menerima 99 cambukan demi dirimu, sekarang malah ada di tanganku."

Dia mengangkat pandangan, tersenyum penuh sindiran. "Helena, dia cuma nggak ingin memberikannya padamu. Aku tahu kamu ada di pesta ulang tahun kemarin."

"Aku melihatmu. Aku nggak menyangkal kalau sekarang dia memang punya sedikit perasaan tulus padamu, tapi kamu harus tahu, meski hatinya terbagi dua, bagian yang diberikan padamu pasti jauh lebih sedikit daripada yang untukku."

"Dia diam-diam mencintaiku selama bertahun-tahun. Dulu aku selalu menganggapnya sebagai adik, aku nggak bisa melewati batas di hatiku sendiri. Sekarang aku sudah memikirkannya dengan jelas, tentu aku nggak mungkin lagi menyerahkannya padamu."

Helena hanya menatapnya dengan tenang.

Veronica tidak merasa kesal. Dia menyibakkan rambutnya, memperlihatkan pesona yang menggoda. Seketika, beberapa pria yang lewat sampai terpaku menatapnya.

"Rumah Keluarga Ruslan ada tepat di sebelah rumahku. Sejak kecil, dia suka mengikuti di belakangku. Dia mulai diam-diam menyukaiku sejak usia 14 tahun. Mimpi basah pertamanya di masa puber adalah karena aku. Bahkan pertama kali dia melampiaskan hasratnya sendiri, dia memanggil namaku."

"Pertama kali dia berkelahi itu karena aku. Pertama kali merebus air jahe gula merah, pertama kali masuk dapur, semuanya juga karena aku. Bahkan ...." Veronica melirik sepatu di kaki Helena, "Pertama kali dia membelikan sepatu hak tinggi untukku, dia mencoba sendiri satu per satu semua merek kelas atas, lalu menetapkan merek ini."

"Selama bertahun-tahun, aku hanya memakai sepatu dari merek ini."

Seiring kata-katanya, wajah Helena makin lama makin pucat.

Seketika dia teringat ketika Jazli mengejarnya. Saat itu, Jazli mengajaknya membeli sepatu hak tinggi pertamanya. Dengan sangat familier, Jazli membawanya langsung ke konter merek ini dan berkata, "Yang ini paling nyaman."

Waktu itu Helena mengangkat alis menatapnya. "Kamu tahu dari mana? Pernah beliin pacar sebelumnya?"

Dia tertawa ringan dan berlutut untuk mencoba sepatu di kakinya. "Aku tahu kamu mau beli sepatu, jadi aku cari tahu dulu."

Ternyata sejak saat itu, Jazli sudah mulai membohonginya.

Hati Helena terasa nyeri, tetapi raut wajahnya tidak menunjukkan emosi sedikit pun.

"Kamu benar-benar membosankan." Veronica tidak puas dengan reaksinya. "Begini saja, kita main satu permainan. Kita lihat, siapa yang lebih penting di hati Jazli, aku atau kamu dan anak di dalam perutmu."

"Main apa?" tanya Helena dengan suara serak.

Veronica tersenyum. "Kamu bilang kamu mengalami kecelakaan mobil, aku bilang kakiku terkilir. Kita lihat siapa yang lebih dulu dia balas, dan siapa yang lebih dulu dia datangi. Kalau kamu kalah, kamu pergi sepenuhnya dan serahkan posisi Nyonya Ruslan padaku."

"Kalau kamu yang kalah?"

"Aku nggak akan kalah!"

Helena menatapnya dengan intens. "Oke."

Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Jazli.

[ Sayang, aku kecelakaan mobil. ]

Menang atau kalah, dia tetap akan pergi. Namun, dia tetap ingin melihatnya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 22

    Hati Jazli menegang. Dia segera teringat kejadian beberapa hari lalu ketika dia berkelahi dengan Adrian di depan klinik hingga masuk berita. Besar kemungkinan Veronica melihat berita itu dan berniat membalas dendam pada Helena!Sementara itu, Veronica telah tiba di bandara Kota Bridge. Wajahnya tertutup masker, rambutnya kering dan menguning. Dia mengenakan celana panjang dan atasan lengan panjang biasa, menutupi tubuhnya rapat-rapat, tetapi tetap terlihat kurus kerempeng.Saat dia membungkuk memungut tas yang terjatuh, terlihat jelas memar di pergelangan tangannya.Tatapannya suram dan penuh kebencian. Dia naik taksi dan langsung menuju klinik tempat Helena bekerja.Di perjalanan, dia terus mengingat potongan-potongan hidupnya selama tiga tahun terakhir. Keluarga Kartono bangkrut, ayahnya meloncat bunuh diri, ibunya hidup miskin melarat, sementara dirinya dikurung di rumah sakit jiwa dan disiksa siang malam.Kondisi mentalnya sudah lama tidak normal. Satu-satunya hal yang menopangnya

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 21

    Kedua pria itu berdiri di depan pintu mobil.Adrian menyerahkan secangkir kopi kepadanya. "Jazli, aku harap kamu nggak muncul di hadapan Helena lagi."Wajah Jazli menggelap. Dia menepis tangan Adrian dengan kasar. Kopi pun tumpah ke tanah. "Kamu punya hak apa?"Matanya memerah. Kedua tangannya mengepal. "Helena itu milikku! Dia hanya belum memaafkanku! Kami menjalani hubungan delapan tahun! Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali ke sisiku!"Jazli berbicara sendiri, seolah-olah sedang meyakinkan dirinya. "Helena mencintaiku! Cepat atau lambat, dia pasti akan memaafkanku!"Adrian hanya menatapnya dalam diam. Baru setelah Jazli selesai berbicara, dia membuka mulut. "Saat Helena meninggalkanmu dulu, dia menderita depresi berat. Setelah itu dia pernah mencoba bunuh diri dan aku yang menyelamatkannya."Wajah Jazli langsung pucat pasi. Dia tiba-tiba teringat kejadian ketika Helena mencabut bunga mawar di taman. Saat menggendongnya, Jazli menyadari berat badannya turun banyak. Namun, saat i

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 20

    "Aku yang menyuruhmu mencariku?" tanya Helena dengan suara dingin, lalu menyunggingkan senyuman sinis. "Jazli, kamu melakukan semua ini untuk diperlihatkan ke siapa?""Kita sudah lama cerai. Aku sudah mengatakan dengan sangat jelas agar kamu benar-benar enyah dari duniaku! Kenapa kamu masih muncul di hadapanku untuk membuatku muak?""Kamu nggak merasa sikapmu ini disebut cinta yang dalam, 'kan? Ini namanya merendahkan diri!"Mendengar kata-kata Helena, kepala Jazli terasa berdengung hebat. Dia tidak menyangka Helena memandangnya seperti ini, membuat tiga tahun pencariannya tampak seperti lelucon.Suaranya tercekat sedikit. "Helena, karena kamu, rambutku memutih dalam semalam ...."Pandangan Helena berhenti dua detik pada rambut putihnya dan tubuhnya yang kurus kering, lalu dia kembali mencibir dingin. "Itu akibat dari perbuatanmu sendiri."Jazli menatap ekspresi sinisnya. Hatinya seakan-akan disobek. Suaranya bergetar menahan sakit. "Helena, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku menci

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 19

    Saat itu, Helena baru saja meninggalkan tanah air. Pertama-tama, dia naik kapal pesiar ke Jepang, lalu berkeliling hingga sampai ke Eropa.Dia memiliki aset yang cukup, tetapi telah kehilangan tujuan hidup. Dia berkelana ke beberapa negara di Eropa, hingga perlahan tiba di Finlandia. Sebuah negara yang indah dan romantis, tetapi juga sangat menyesakkan hati.Helena menyewa sebuah homestay. Setiap hari dia duduk di depan jendela memandangi salju dan aurora. Pikirannya terus dipenuhi bayangan anaknya yang telah tiada, pernikahan yang gagal dan penuh tipu daya, serta ayahnya yang telah tiada. Hidupnya kehilangan jangkar. Dia benar-benar kehilangan dorongan untuk melangkah.Suatu kali setelah selesai melihat aurora, Helena tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju danau yang membeku. Saat air sedingin es perlahan menenggelamkan kepalanya, tiba-tiba seseorang melompat ke dalam air, menariknya dengan kuat ke arah daratan.Dia meronta dengan keras, tetapi orang itu menggenggamnya erat, tak mau me

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 18

    "Helena." Dengan mata memerah, Jazli memanggil pelan dengan suara tercekat.Perempuan yang semula menampilkan senyuman profesional itu seketika memasang ekspresi dingin. Dalam sekejap, semua kenangan yang sengaja dia bekukan menyeruak ke benaknya.Meskipun sudah menerima terapi psikologis berkali-kali, emosi Helena tetap bergolak saat ini. Namun, profesionalisme sebagai seorang dokter membuatnya menekan paksa seluruh emosinya.Hanya dalam sesaat, dia kembali mengenakan topeng profesional. "Silakan duduk, Pak Jazli. Konsultasi di bidang apa yang ingin Bapak lakukan?"Sikap memperlakukannya seperti pasien asing itu bagaikan pisau yang menusuk keras jantung Jazli. Nada suaranya sedikit bergetar. "Helena, aku mencarimu selama tiga tahun ...."Helena melirik jam tangannya. "Pak Jazli, kalau nggak ada masalah psikologis untuk dikonsultasikan, silakan pergi. Aku sebentar lagi ada janji dengan pasien lain."Mata Jazli semakin memerah. "Helena, beri aku beberapa menit saja ...."Helena menekan

  • Ginjalku, Untuk Cinta Pertama Suamiku   Bab 17

    Di hadapannya adalah wajah yang asing.Jazli tertegun. Itu hanyalah seorang perempuan dengan punggung yang mirip.Suami perempuan itu berjalan di sampingnya. Melihat Jazli tak mau melepaskan tangannya, dia maju dan mendorong Jazli dengan keras. "Kamu mau apa?"Seolah-olah kehilangan tenaga, Jazli terdorong olehnya. Seluruh tubuhnya terguling menuruni anak tangga batu dan jatuh menghantam tanah dengan keras.Dia terbaring di tanah dengan tubuh berlumuran darah. Matanya menatap langit dengan tatapan kosong.Di detik-detik sebelum pingsan, di benaknya hanya ada satu pikiran. 'Helena, sebenarnya kamu di mana ....'Jazli mengalami gegar otak berat, dengan banyak patah tulang dan memar di sekujur tubuh. Dia masih ingin memaksakan diri untuk mencari Helena, tetapi orang tuanya yang datang segera memaksanya pulang.Ibunya memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. "Jazli, lihat dirimu sekarang seperti mayat hidup. Apa kamu mau menghancurkan hidupmu demi Helena? Sudah tiga bulan! Kamu harus kemba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status