Share

Bab 15 Dilema

Penulis: Dwi Hastuti
last update Tanggal publikasi: 2025-08-10 23:32:57
Anes melihat pesan masuk di ponselnya, setelah sekian banyaknya panggilan tak terjawab. Wanita itu menghela napas panjang.

Huh!

"Kenapa, sih, selalu kamu yang meneror ponselku," gumamnya.

Dengan berat hati Anes membuka pesan yang tidak lain dan tidak bukan dari Bram tersebut.

Ya ... ada tiga pesan di wall chat-nya bersama Bram, di samping belasan panggilan yang tidak terjawab.

[Mbak .... ke mana saja, sih! Sepagi ini emang sudah sibuk apa saja, hingga panggilan Bram tak pernah diangka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Dwi Hastuti
Hai pembaca yang budiman, terima kasih telah berkenan mampir.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Godaan Berondong Nakal   Bab 28 Tak Terduga

    Satu jam penerbangan terasa singkat oleh Bram. Rasanya belum cukup puas dia duduk berdampingan tanpa jarak dengan wanita pujaannya. Namun, tak begitu dengan Anes. Wanita itu menghela napas lega, usai pramugari menginformasikan untuk mengencangkan sabuk pengaman, karena pesawat akan segera landing. "Mohon kepada para penumpang, agar mengenakan sabuk pengamannya, karena sebentar lagi pesawat akan landing." Anes memejamkan netranya sesaat, merasakan debar jantungnya yang perlahan kembali normal. Seolah-olah membebaskan tubuhnya dari kungkungan anakan serigala jantan yang buas. Bagaimana tidak. Di sampingnya duduk seorang berondong yang jahilnya bukan main. Bukan hanya jahil secara verbal tapi juga jahil secara visual. "Buruan berdiri ngapa?" sentak Anes kepada Bram. Bagaimana caranya dia tidak jengkel kepada pemuda yang ada di hadapannya itu, saat semua penumpang bersiap beranjak dari tempat duduknya. Sementara Anes masih terpaku di tempat, karena terhalang oleh Bram yang d

  • Godaan Berondong Nakal   Bab 27 Curi Kesempatan

    Netra Bram memang terpejam. Namun tak demikian dengan hatinya. Lelaki tengil yang enam bulan terakhir menjadi junior Anes itu terlihat sangat gelisah.Sementara Anes yang duduk di sebelahnya, tepatnya di dekat jendela menatap jauh ke luar sana. Sebelum pesawat yang mereka tumpangi benar-benar lepas landas, ibu satu anak itu mengambil gambar di area bandara dari dalam pesawat.Satu jepretan lengkap dengan view jendela pesawat dia unggah ke story wa-nya dengan caption, [Bismillah! Mencari suasana baru.]Bram yang diam-diam menelisik gerak-gerik Anes, tersenyum saat sekali-kali dia mencuri pandang ke arah Anes. Bertepatan dengan itu, notifikasi ponsel Bram berbunyi. Moment ini digunakan oleh Bram untuk melihat story wa Anes.Anes menoleh ke arah Bram dengan kening mengkerut."Loh ... katanya mau tidur? Kok masih main hp?""Belum bisa terlelap. Mau lihat siapa yang chat Bram dulu, sebelum pesawat lepas landas dan kita off."Anes hanya ber'oh' saja mendengar penjelasan Bram. Wanita itu p

  • Godaan Berondong Nakal   Bab 26 Show Must Go On

    Satu gigitan nyamuk di pipinya, membuyarkan hayalan Bram tentang Anes. "Nyamuk sialan!" umpatnya. Entah, ada apa dengannya, hingga keinginan dan obsesinya untuk bersama Anes, begitu kuat di dalam hatinya. "Maaf, ya, semua. Aku sedang ingin menikmati duniaku. Dunia halu yang sengaja kuciptakan sendiri," lirihnya. Bram mengusap wajahnya dengan kasar. Jam yang menempel di dinding kamarnya telah menunjukkan angka dua puluh tiga. Melihat perabotnya yang sudah dia siapkan baik-baik, laki-laki lajang itu berniat ingin melelapkan netranya, sejenak terbang ke pulau kapuk. Namun, belum genap lima menit netranya terpejam, tiba-tiba terdengar notifikasi ponselnya berbunyi. Ting! Ingin rasanya dia mengabaikan saja. Tetapi entah mengapa, dia penasaran saja siapa orang yang hampir tengah malam mengirimkan pesan untuknya. "Semoga Mbak Anes," gumamnya.. Bram mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, di samping tempat tidurnya. Netranya menyipit terkena cahaya lampu ponselnya

  • Godaan Berondong Nakal   Bab 25 Ingin Nakal Sebentar

    Dengan malas Bram membuka pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Bram mengkerutkan keningnya. "Panjang umur dia. Baru saja aku batin, dia udah nongol," gumamnya. Bram membuka pesan dari Ana. Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kasar. Ada perasaan lega tapi juga merasa bersalah. [Jika memang Mas Bram sudah tidak menginginkan hubungan ini, lebih baik kita break dulu saja. Silakan meyakinkan hati Mas dulu.] Bram mendengkus panjang. Lalu kembali melempar ponselnya ke atas kasur. Sejurus kemudian, sudah terdengar dia bersenandung di kamar mandi. "Bram ... buruan makan malam. Sudah ditunggu ayahmu." Terdengar suara Bu Mira memanggil anak bujangnya untuk makan malam. "Ya, Bu. Bram baru ganti baju. Nanti segera ke menyusul ke meja makan." Mendengar jawaban anaknya, Bu Mira gegas kembali ke meja makan. Di sana suaminya tengah minum teh hangat usai dia pulang dari masjid untuk salat Isya berjamaah. Bu Mira mengambil piring, lalu menuangkan nasi dan lauknya ke atas piring. Se

  • Godaan Berondong Nakal   Bab 24 Kecewa yang Terabaikan

    Saat Bram hendak mengejar Ana, tiba-tiba saja seorang pengendara motor ojek berhenti tepat di depan Ana. Tanpa pikir panjang lagi, Ana langsung naik begitu saja di punggung motor tersebut. "Antarkan saya ke jalan Anggrek, Mas," ucapnya singkat. Tanpa menunggu lama, motor itu langsung melesat begitu saja, meninggalkan kafe di mana Bram dan Ana yang baru saja hendak kencan tetapi berantakan di tengah jalan. "Shit!" gerutu Bram sambil mengepalkan kedua tangannya. Pemuda itu sempat berlari bermaksud mengejar Ana, tetapi naas hanya bayangan Ana yang naik motor ojek yang masih terlintas dalam pikirannya. "Dasar perempuan. Mengapa susah sekali dimengerti," lirihnya seraya kembali masuk ke dalam kafe. Bram kembali menyeruput kopinya yang belum sepenuhnya habis. Dilihatnya kopi Ana dan pisang cokelat pesenannya yang belum tersentuh oleh kekasihnya itu. "Apakah aku keterlaluan, ya? Ana sampai semarah itu padaku. Padahal hari ini hari terakhir aku ketemu dengannya." Bram menghemb

  • Godaan Berondong Nakal   Bab 23 Pisah Untuk Sementara

    Lima belas menit kemudian, Bram telah sampai di bengkel tempat dia meninggalkan mobilnya pagi tadi. Bram berhenti sejenak di depan bengkel. Dia sengaja membiarkan saja, saat Anes menyandarkan kepalanya di punggungnya. "Mbak masih betah mau senderan begitu, apa mau turun?" ucap Bram tanpa basa-basi. Spontan Anes membuka matanya yang memang dari tadi terpejam. Entah, karena sedang mengantuk atau memang sedang menikmati kebersamaan bersama Bram. Anes menabok punggung Bram, lalu gegas meluncur turun dari punggung joknya. Bugh! "Auuuww ... sakit tahu!" "Bodo! Udah tahu udah nyampe dari tadi, masih saja diam di atas jok. Turun!" ucap Anes ketus seraya mengusir Bram dari punggung jok motornya. "Siapa yang salah. Siapa yang marah." "Biarin! Mbak mau pulang duluan." "Hati-hati, ya. Jangan kangen dulu. Ditahan hingga esok pagi kita ketemu dalam perjalanan penuh cinta." Anes melotot. Lalu gegas balik arah dan melajukan motornya untuk pulang. Setelah beberapa saat mengecek

  • Godaan Berondong Nakal   Bab 5 Rindu Itu Berat

    Bab 5 Rindu Itu BeratUsai sejenak celingak-celinguk di sana, dan tidak mendapati siapa-siapa, Bram hanya mampu mengkerutkan keningnya."Kok dia tahu, ya, kalau aku mengantarkan Mbak Anes pulang? Jangan-jangan dia masih di rumahku. Ah, shit!" gumamnya.Pemuda lajang yang kini sedang bermain hati de

  • Godaan Berondong Nakal   Bab 4 Candu

    Bram hanya bergeming saja. Dia menatap Anes dengan sangat tajam. Pemuda lajang yang umurnya setengah dari umur Anes itu, seperti sedang menikmati indahnya panorama senja di antara alam berkabut dan berembun di hadapannya."Bram!" sentak Anes untuk yang kedua kalinya, hingga membuat Bram terbangun d

  • Godaan Berondong Nakal   Bab 3 Kebetulan yang Tak Direncanakan

    "Kok kaget begitu?" tanya seorang gadis dengan perawakan tinggi besar, berhijab, kulit putih bersih, berkacamata yang dengan sumpringahnya telah berdiri di balik pintu ruang kerja Bram."Emm ... nggak, sih. Cuma ... dari mana kamu tahu, kalau aku kerja di sini dan di sini ruanganku?""It's easy pro

  • Godaan Berondong Nakal   Bab 2 Rasa yang Salah

    "Heh! Kamu?" ucap Anes sambil membelalakkan kedua bola matanya. "Loh, kok kaget begitu? Bukankah Bram biasa keluar masuk ruangan Mbak Anes?" jawabnya seraya duduk di sofa di mana Anes tepat menghadap ke sana. "Emm ... i-iya, sih. Lalu kenapa kemari? Bukankah jam istirahat sudah usai? Balik sono

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status